Rempong Day -_-”

Standard

Okay, I already passed my rempong day, last Friday. Tidak akan terjadi rempong sebenarnya jika aku mempersiapkan dengan matang keperluanku hari itu. Tapi apa daya, terlanjur mepet deadline. Maka kerja kilat yg dibutuhkan,yg dalam hal ini pantas disebut: tergesa2 : (

Well,apa jadinya? Sungguh deh,kesusu atau buru2 atau tergesa2 itu adalah dari setan,yg membuat kami (aku dan suami) kala itu jadi kurang konsen, kurang teliti, dan emosional mempersiapkan keperluan.hufftt.. Dan satu lagi aku jadi mendapat hikmah,bahwa dalam ketergesaan itu,terselip suudzon dalam batin. Ada prasangka2 kurang baik saat tergesa2,misalnya aku berpikir..waduh jangan2 aku telat,jangan2 ada berkasku yg kurang,gimana nanti kalau dah tutup..bla3. Astaghfirullah,syukurlah di tengah perjalanan aku bisa menenangkan diri,pun suami menyemangati. Okay,kita stay calm aja yaaa..husnudzon pada semua,pada Allah terutama. dan kami pun melanjutkan langkah dengan sakinah : )

Inilah hari yg melelahkan,tapi adalah kenikmatan dan kesyukuran luar biasa aku memiliki dia,suami yg super sabar dan setia. Dia lelah,aku tau itu,tapi tak pernah mengeluh saat harus naik turun,bolak balik,wira wiri ngeprint melengkapi berkasku -lha adaa aja lho yg kurang. A great love and thanks for you, Cint..

Yg kedua adalah memiliki anak ganteng,cute,dan ceria seperti Rafa,yg selalu bersikap manis pada semua orang. Mengajaknya antri berjam2 dari jam 11 siang sampai maghrib,dan dia always stay happy n cheerful..really makes me so grateful. Mengajak Rafa justru menjadi hiburan,bagiku,suami,para mahasiswa yg mengantri,dan pegawai2 kampus. Rafa yg elon (mau diajak siapa saja),ramah,dan murah senyum membuat bpk2 pegawai gemas dan menggendongnya diajak ke dalam ruangan,lantas pada rame di dalam ngudang Rafa *emaknya melongo di ruang tunggu.
Begitupun mbak2 dan mas2 yg ngantri,serasa ada hiburan dengan ngliling Rafa. Alhamdulillah, Rafa sangat curious dan ceria, sehingga sampai selesai tidak rewel : )

That is my rempong day, akhirnya beres di jam 7 malam. One step done. Great appreciation for my lovely Fachri n Rafa! Love u both :’)

Everything do Change

Standard

Waktu selalu membuktikan. Selalu menunjukkan ada perubahan dalam diri seiring berjalannya masa. Jika itu baik,pantaslah disyukuri. Tapi jika tidak,layaknya dikhawatiri.

Mengamati orang2 sekeliling,beragam pula perubahan yg nampak. Yg kupikirkan sekarang sich adalah perubahan2 yg menggalaukan hati. Mereka yg dulu menyampaikan,sekarang justru mengingkari sendiri. Mereka yg dulu mencontohkan,sekarang berubah haluan. Yg dulu menutup rapat aurat dengan pakaian yg syar’i,perlahan memudar batas2 pakaiannya. Yg dulu pandai menasehati,seakan2 lupa pada bunyi2 nasehatnya dulu. Ah,hidup. Pasti sudah banyak hal yg mereka lalui,yg bisa jadi menjadi faktor perubahan diri. Entah kesulitan yg menghimpit atau justru kelapangan yg melenakan,sehingga sedikit goyah prinsip2 yg pernah erat digenggam. Hati manusia memang berbolak balik sifatnya.

Halo,sudah cukup donk mengoreksi orang lain. Sekarang giliranku bercermin. Benar saja, waktu pun membuktikan padaku tentang bagaimana perubahan yg ada padaku, tentang menjadi seperti apa aku sekarang. Tentu saja,selalu ada yg naik-turun pada kualitas diri. Dulu aku begitu,sekarang aku begini. Dan aku tidak tau akan menjadi seperti apa besok,akan berubah bagaimana beberapa bulan atau beberapa tahun lagi. Semoga Allah memudahkan setiap perubahan baik yang diniatkan. Allohumma ya muqollibal qulub,tsabbit qolbiy ‘ala diinik.amin

assalamu’alaykum

Standard

Ini pertama kalinya aku ngepost blog via mobile.kurang leluasa sich..tapi cukup lah buat tombo ati yg lagi kangen ma writing world *ah lebay : )

Lamanyooo aku tak menuangkan cerita di sini.Padahal ide2 berkelebatan hadir menyertai hari2ku,but I dont know why..jemariku tak tergerak menuliskannya.sampai akhirnya menguaplah ide2ku tersebut..giliran dah ngadep layar gini jadi lupa mau nulis apaan.ha3

Sebetulnya aq punya kebiasaan baik dulu,ya sekarang masih,tp tak seintens dulu.yakni:kemana2 kalo bepergian kupastikan aku membawa pulpen dan buku catatan kecil.selain buat men-check list agenda biar gak lupa,dua sahabatku itu juga menemaniku menyimpan kenangan2 bermakna di sepanjang perjalanan atau kegiatan.u can believe or not,banyak pelajaran berharga,pengalaman berkesan,kejadian inspiratif etc..yg bisa kita temui sepanjang perjalanan or activity.Nantinya itu jg bisa jadi kerangka buat bahan nulis.Kenapa suka menulis?bagiku,tulisan menyimpan banyak rasa yg mungkin di kemudian hari bisa kita kenang lagi maknanya saat membacanya kembali.

At least,dah lumayan lah ya,aku dah menjajar beberapa huruf di sini,sebagai itikad baik mau menghidupi kembali blog ini.alhamdulillah,setidaknya masih untung pula aku ingat paswordnya.hehehee

Menatapmu sayang, menghadirkan berjuta rasa…

Standard

Setiap kali merenung dan memandangi Rafa terlelap dengan wajah cakepnya, terlintas kembali bagaimana beratnya (situasi) saat aku mengandungnya, dan hebohnya saat melahirkannya. Kalau sudah begitu, trenyuuuh hati ini, dan mbrebes lah mata ini…T.T…Itulah kenapa aku sangat menghargai hari lahir. Bukan untuk menjadikannya hari yang dikultuskan denga perayaan2 khusus, melainkan hanya ingin merasai dan memaknainya sebagai hari istimewa dimana Allah mengizinkanku menatap dunia pertama kalinya, hari dimana ibuku berjuang melahirkanku, hari dimana bapakku mengusahakan kelahiran terbaik untukku. Ternyata setelah merasakan sendiri bagaimana melahirkan itu, pantaslah rasanya aku menghargai dan bersyukur atas hari lahirku :’)

“Somethings do change as the time goes by, but some others don’t” (my fren’s wise words)

Saat bernostalgia dengan foto-foto jaman muda (sekolah dan kuliah maksudnya) yang masih unyu-unyu, merenung… trus ngaca, oh ternyata waktu terasa begitu cepat berjalan, and here I am now, living my life as a mom. Serasa baru kemarin2 rame2 gokil sama temen2 n adik2 kontrakan, baru kemarin2 hahahihi sama temen2 kuliah, KKN, baru kemarin2 berkutat dengan kesibukan dakwah kampus… sekarang di pelukanku sudah ada bayi imut lagi ayeeemmm banget pulas di gendongan. Ya Allah… aku sudah sampai pada tahapan dimana kata-kata menjadi doa yang tak terhijab: menjadi ibu.

Katanya, surga itu di telapak kaki ibu. Hah? Jadi sekarang di telapak kaki gw ada surganye donk…???!! :lol:

Quote

“ASI adalah cairan positif, bukan cuma kandungannya, tapi juga emosi yg terkandung di dalamnya. ASI akan keluar maximal jika ibu dalam keadaan senang, santai, dan keadaan positif lainnya, dan akan terhambat keluar ketika ibu dalam keadaan sebaliknya. Tuhan seperti tidak rela ada unsur2 negatif masuk ke tubuh bayi lewat ASI. Itu sebabnya ASI lancar kalau ibu berfikir positif.”

>buku catatan ayah ASI<

Setiap Anak selalu Membawa Cerita Berharga

Standard

Aku punya waktu untuk menulis di sela-sela waktu mengurus Rafa dan melakukan pekerjaan rumah. Tapi ternyata, aku tidak punya waktu (dan kesabaran) untuk menunggu loading internet yang entah kenapa menjadi so much lemot. Mending aku ngapain yang lain daripada nungguin loading lama. Entah apa yang terjadi dengan modemku??!! Tiba-tiba gak mau diajak log in wordpress, always failed. Kadang bisa buat buka fesbuk, itupun lola sekaleee.

Nah, barulah ini aku bisa log in wordpress lagi.

Telah berlalu satu bulan usia Rafa, masa adaptasi yang lumayan menyita tenaga dan konsentrasi. Merawat bebi newborn itu, sungguh sebuah adaptasi besar bagi seorang ibu… apalagi anak pertama. Bagiku, terutama masalah jam tidur. Aku yang ngantuk’an, tidak hobi dan tidak kuat begadang, kadang susah juga dibangunkan, harus menyesuaikan dengan jam tidur  Rafa yang terbangun tiap 2 atau 3 jam atau kadang semaunya dia. Tetapi menjadi ibu adalah tidak bisa egois, ada makhluk mungil yang masih lemah yang sangat banyak bergantung pada kita, ibunya. Walhamdulillah, secapek-capeknya badan plus sambi nahan nyeri dalam masa penyembuhan jahitan, selalu masih bisa (dan rela) jasad ini beranjak dan bekerja (menyusui, menimang, menggendong) di kala Rafa bangun. Hal ini juga demi satu tujuan mulia: ASIX (ASI ekslusif). Kalau pake susu formula (sufor) mungkin lebih gampang, tinggal suruh suami atau siapa untuk membuatkan susu, dimimikkan, beres. Ibunya tinggal terlelap istirahat tidak perlu ikut bangun saat bayinya bangun. Tapi sebagai ibu yang ingin mempersembahkan yang terbaik, tak rela lah Rafa mengkonsumsi sufor selama aku masih mampu. Lebih rela badanku remuk redam menahan lelah daripada enak-enakan istirahat sementara Rafa minum sufor. Kumenyadari sesadar-sadarnya, Allah menitipkan payudara pada wanita adalah disiapkan untuk anak-anak mereka (bukan cuma buat hiasan, kalo seorang bidan). ASI ini hak-nya anak-anak kita :’) maka berikanlah. Eh, lebih tepatnya, BERJUANGLAH untuk ASIX. Karena mayoritas ibu baru mengalami hal yang sama: ASI belum lancar di hari-hari awal. Begitupun aku. Tapi karena sudah pernah membaca tentang ini, santai-santai saja aku menanggapi komentar macam-macam dari beberapa orang, “Kok belum keluar to?… Biyuh, belum bisa nyusui? Blablabla…” aku dan suami selalu cuma senyum-senyum saja, karena kami yakin, nanti lak lama-lama lancar, pokoknya tetap semangat disusukan ke bayi dan terus makan makanan yang menunjang. Kata orang sich macam-macam, ada yang bilang kacang tanah, kacang mete, pepaya, daun pepaya, katuk, mbayung, habatussauda, dll. Halah, pokoknya segala macam makanan yang bernutrisi kutelan juga, yang suka atau tidak suka. Sebagai ikhtiar atas permohonan doa sejak aku hamil, “Ya Allah karuniailah aku ASI yang melimpah, ASI yang cukup untuk anakku.” Alhamdulillah benar hari ke-5 mulai lancar jaya, melimpah ASI untuk Rafa.

Suami, adalah orang kedua yang harus beradaptasi dengan kelahiran si kecil. Meskipun dia tidak menyusui, malam saat aku terbangun dia ikut pula menemani, membantu mengambilkan ini itu, mengganti popok, dan menimang Rafa. Meskipun jelas tampak kadang dia terkantuk-kantuk menemaniku menyusui Rafa. Kadang saat Rafa bangun dia bersedia menimang dan menenangkan Rafa sendiri, membiarkanku beristirahat. Kalimat, “Sudah, aku saja, kamu istirahat…” bagiku adalah sama rasanya dengan kata “I love you” dan lagi dia selalu menyelimutiku dan menatakan bantal untukku saat aku mulai merebahkan diri, agar aku senyaman mungkin. Dukungan dan bantuan yang dia berikan benar-benar sangat membantu, dari urusan merawat Rafa sampai urusan perawatan diri-ku pasca melahirkan yang macam-macam. Masalah ritme tidur, alhamdulillah, lama-lama kami terbiasa. Setiap kali terasa payah, selalu kuingat dan kuucapkan dalam batin, “Ah, hari ini tak akan terulang. Di kemudian hari aku pasti akan merindukan saat-saat ini.” mengingat itu, alhamdulillah bisa membuatku menikmati segala lelah.

Selain itu, adalah wajib bagi orangtua baru untuk belajar memahami bayinya. Bagaimana menemukan style menimang yang sukses untuk menenangkannya, bagaimana posisi yang nyaman menggendong atau menyusuinya, bagaimana menemukan ragam hiburan yang membuatnya tenang dan tertarik memperhatikan, bagaimana mengerti arti tangisnya. Eh, ternyata benar lhoh tangis bayi itu macam-macam, beda antara tangis lapar atau haus, tangis sakit, takut, kesepian ditinggal sendiri, atau sekedar tangis manja minta diperhatikan atau digendong. Alhamdulillah Rafa ini tipikal bocah yang tangisnya ringan, tidak menjerit-jerit atau istilah jawa-nya ‘gero-gero’. Jadi tangisnya tu malah lucu.. hanya seperti rengekan gitu sambil mewek-mewek lucu, kadang intonasi tangisnya terdengar seperti dia ingin mengoceh dengan tangisnya. Lucunya lagi, sejak masih bayi merah Rafa ini sangaaat suka mandi. Dia tidak menangis sama sekali saat dimandikan, ayeeem banget wajahnya. Sampai selesai didandani dia tetep anteng saja menikmati, baru kalau sudah selesai dandan dan dia kerasa kok gak segera diangkat ditimang atau dimimiki, dia akan mulai protes dengan rengekan kecil dan menggerak-gerakkan tangan kakinya. Nyenengin banget pokoknya.

Makhluk ketiga yang tak kalah luar biasa beradaptasi ya si kecil Rafa ini. Menghadapi dunia pertama kalinya tentu ada hal-hal yang membuatnya shock. Dulu waktu di dalam kandungan apa-apa sudah dijamin sama Allah, lapar haus tinggal disuply melalui plasenta, tak perlu mencari-cari puting ibunya dan perlu usaha lagi (ngenyot), bobok tinggal bobok sudah nyaman dan pas hangatnya di dalam rahim, pipis pun tak membuatnya terganggu, kemana-mana dia merasa aman dan nyaman bersama ibundanya, setiap waktu nyaman terayun di dalam ketuban, all is comfortable settled. Tentu kemudian bayi baru lahir masih belajar dan berusaha menyesuaikan dirinya. Di minggu pertama bayi biasanya sukaaa tidur dan susaaah dibangunin, apalagi Rafa kalau habis mandi dan dibedong, biyuh… diapain aja susah banget bangunnya, padahal jadwalnya ngASI. Trus waktu disusui, dia geleng-geleng nyari puting, kalau lama ketemunya, merengeklah dia, hehehe. Itu di minggu pertama, selanjutnya lancar saja dia menyusu. Masa adaptasi ini juga yang menyebabkan berat badan bayi biasanya menyusut di minggu awal kelahirannya.

Oya, ngomong2 bab melahirkan, aku termasuk tipikal yang tidak pengen neko-neko. Maksudnya,  kan banyak tuh inovasi teknik melahirkan seperti water birth, lotus birth, home birth, unassistened birth, pake ILA, dll. Tertarik sich iya, tapi belum terpikir mau mencoba. Bagiku, yang penting persalinan yang kuhadapi bisa berjalan sealami mungkin, normal, sehat, selamat, nyaman, bisa IMD. Selainnya aku berdoa semoga terhindar dari induksi atau intervensi medis lainnya yang bisa jadi berefek samping men-trauma-kan ibu dan bayi. Alhamdulillah, begitu adanya kelahiran Rafa. Meski mungkin tak cukup disebut sebagai gentle birth, tapi aku sangat bersyukur poin-poin terpenting yang kuharapkan dalam persalinan dapat kesampaian.

Oya, aku ni sedikit tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa jihad yang sesungguhnya wanita itu kalau melahirkan normal. Menurutku, sesar atau normal, keduanya sama-sama jihad besar seorang ibu. Kalau persalinan normal merasakan sakit pra melahirkan, bukankah ibu yang sesar juga berjihad merelakan perutnya dibelah, dibedah, dan merasakan sakit pasca melahirkan –yang katanya lebih lama daripada sakit normal. Ada juga kadang ucapan, “Wah hebat ya hamil tanpa mabok (mual muntah)”, atau “Hebat ya pembukaannya singkat sekali.” menurutku ibu yang mabok justru lebih hebat karena dia harus berjuang menghadapi ke-mabok-annya dengan tetap memperhatikan nutrisi bayinya, dan ibu yang proses pembukaannya lama justru hebat karena menghadapi gelombang rahim yang lebih lama. Meskipun aku termasuk yang mengalami kehamilan sangat nyaman dan persalinan normal, aku ingin tetap menghargai setiap detail perjuangan para ibu mengandung dan melahirkan.

Karena bagiku, ibu hebat bukan yang mabok atau tanpa mabok, yang proses pembukaannya cepat atau hemat, bukan yang normal atau sesar. Ibu hebat adalah yang mencintai setiap proses yang mengantarkannya menjadi seorang ibu dan mempersembahkan yang terbaik untuk sang buah hati. Kalau bisa normal tak perlu minta sesar, kalau harus sesar tak perlu memaksa normal dengan resiko tinggi yang justru membahayakan, kalau bisa ASIX tak perlu sufor. Karena setiap anak selalu membawa cerita berharga, dan pasti berbeda.

 

 

* Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks for abi Fachri, for the super support!