Category Archives: parenting

Lahirnya Si Ganteng yang Anteng

Standard

Rabu, 14 Januari 2015

Syahiiid, pemuda kecilku. Ini cerita tentang kelahiranmu. Sebenarnya sudah pernah kutulis beberapa hari setelah lahirmu. Tapi ummi lupa draft nya dimana. hihihi.

Sama dengan Kakak Rafa, ummi suka menuliskan cerita kelahiran kalian. Untuk dikenang, untuk diambil pelajaran. Untuk selalu disyukuri betapa melahirkan kalian adalah sejarah besar dalam hidupku.

♡♡♡

Saat itu, Ahad sebelum si adek lahir, abi sudah ambil cuti kerja. Karena memang rasanya sudah ada kontraksi dan pembukaan. Ternyata setelah abi datang dan periksa, baru bukaan satu. Jadi pulang lagi deh. Besoknya kontraksi malah tidak terasa atau sangat jarang.

Hari Rabu ba’da subuh, terasa kontraksi yang intens dan semakin menguat. Siap-siap deh ke Bu Bidan kesayangan. Naik motor berdua sama si abi, sedangkan kakak di rumah sama simbah.

Sampai sana masih santai-santai, dipakai jalan-jalan ringan dan ngobrol. Lalu masuk ruang bersalin saat kontraksi mulai semakin kuat, biar bisa rehat dan hemat energi. Alhamdulillah sesuai harapan, pengennya melahirkan jangan pas malam hari, karena aku ini ngantukan. Nanti kalau ngantuk gimana bisa ngejan. Wkwkwk

Di ruang bersalin, si abi membawa serta buku-buku dari rak Bu Bidan. Sambil abi asik baca buku, sesekali dia mengajak diskusi dan menyuruhku ikut baca. Hemmmh, semacam di perpus wae. Tapi baguslah, untuk mengalihkan rasa.

Proses melahirkan Syahid ini beda sama kakak dulu. Selain karena prosesi bukaan lebih cepat (karena anak kedua kali ya) juga feel ku beda. Aku gak pengen dipegangi, gak usah dielus-elus, gak usah di aba-aba ambil nafas. Saat kontraksi datang, butuh ketenangan, tolong diam, jangan berisik atau ajak bicara. Just let me face it myself.

Alhamdulillah 2 kali melahirkan gak pernah sampai menegang atau menggenggam kuat-kuat atau bahasa Jawanya ‘nggeget’ saat kontraksi datang. Jadi gak pernah ada adegan meremas tangan suami atau apa untuk melampiaskan rasa sakit. Berusaha rileks, jangan melawan rasa. Biarkan tubuh menerima rasa sakitnya. Begitu justru lebih meringankan. Let it go, let it flow.

Setelah bukaan lengkap, berusaha mengejan yang pertama dan kedua, belum keluar si bayi. Lalu rehat dulu. Pas fase rehat sejenak ini, abinya dadak yo ijin ke kamar mandi. Eeh beberapa menit kemudian, udah kerasa si bayi mau keluar. Bu Bidan lantas memanggil abinya “Mas Fachriii…!” Wkwkwk. Untunglah, pas abinya buka pintu, bayinya pas crowning (kepala sudah keliatan). Lantas begitu suami sedia di sisiku, twiiing…adek Syahid lahir menghirup udara pagi. Jam 9 pagi.

Welcooome cute Baby! Dia kecil, mungil, basah kuyup. Wkwkwk. Lalu nangis oek oek sambil IMD. Beratnya 3,2 kg, panjang 52 cm. Wah, lumayan gedhe juga. kupikir gak sampai 3kg. Karena pas hamil udah diet karbo di bulan-bulan terakhir. Karena kakaknya dulu besar (3,7kg/53cm) jadi khawatir adeknya kebesaran. Hehehe

Berharap di lahiran kedua ini tanpa episiotomi, yes alhamdulillah lolos. Tapi masih dijait dikit, hiksss. Fase penjahitan itu lebih mengerikan daripada melahirkannya. Rasa-rasanya, gimana ya. Sakitnya melahirkan itu bisa ikhlasss, ridho, legowo. Tapi justru sakit dijahitnya itu rasanya hwuaaa..! Tapi yasudahlah, setidaknya jahitan tidak seheboh saat kelahiran kakaknya. Alhamdulillah.

Sore harinya si Kakak datang bersama simbah. Ekspresi Rafa lucuuu sekali. Dia semacam malu-malu menahan senyum. Mungkin berpikir “Kok ada makhluk kecil ini apa…eh siapa…?” hihihi. Saat menatap keduanya, dalam sekian detik saya mengalami momen ‘zong’. Tetiba terdiam dan di benak ada rasa bingung dan pertanyaan “Anakku dua. Apa aku bisa mencintai keduanya dengan sama? Selama ini hanya Rafa dan Rafa. Apa aku bisa adil menyayangi mereka.” Mungkin itu termasuk sindrom baby blues ya. Ternyata saat dijalani, rasa sayang itu sama. Tidak ada beda. Sayang dan cinta semuanya.

Melahirkan secara alami (tanpa induksi) itu jelas lebih nyaman dan tenang. Dan saya niteni, bayi yang dilahirkan dengan gentle, tenang, tanpa frustasi atau trauma, jadinya bayi yang tenang juga. Tidak rewelan. Baby Syahid ini yang saya amati. Biasanya kan bayi itu ngajak begadang dan ronda malam. Udah kayak hansip aja wira wiri gendong keliling di dalam rumah. Semacam Rafa dulu. Hihihi

Tapi Syahid enggak. Dia tuh anaknya tenang, anteeeng sekali. Malam gak pernah ngajak begadang atau rewelan. Hanya bangun, mimik, bobok. Begitu terus. Jadi simboknya nyamaaan banget bisa nyenyak pula tidurnya. Wkwkwk. Saya menyebutnya bocah yang ithmi’nan (tenang).

Meskipun tidak begadang, tiap kali Syahid bangun abinya juga ikut bangun. Kadang malah dia yang membangunkanku karena Syahid mau mimik. Ya gimana, saya kan kalau tidur nyenyaknya semacam Snow White habis makan apel dari nenek sihir. Wkwkwk. Abimu itu Nak, sosok yang memperlakukan orang yang dicintai dengan sebaik-baik perlakuan. Meskipun dia tidak romantis dan tidak rajin bilang ‘I love you’, tapi sikapnya adalah perwujudan bahwa dia mencintai.

♡♡♡

Dear Syahid, ruhul jadiid. Kamu membawa keceriaan baru, kekuatan baru, dan mimpi-mimpi baru. Di Alqur’an itu disebutkan husnayain (dua kebaikan) dalam jihad fisabilillah yaitu: syahid atau kemenangan. Dan pada namamu, kusematkan keduanya. Ibrahim Syahid Ranu Filfath.

♡♡♡

Tak ada orang yang menanti-nanti rasa sakit kecuali seorang ibu yang menanti kelahiran anaknya. Rasa sakit yang membahagiakan. Karena sakit itu berarti datangnya gelombang rahim, pertanda anaknya segera hadir ke bumi. Luar biasanya wanita. Satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Allah sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Setiap anak punya cerita, setiap kisah kelahiran selalu berharga. Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks pada bidan kesayangan: Bu Siti ♡

Advertisements

Saat Kakak Minta Sekolah

Standard

Sebenarnya aku dan abinya ingin Rafa belajar di rumah saja. Tapi ternyata kakak Rafa kembali teringat pada sekolah dan terucap olehnya minta sekolah. Suatu saat pas mau kupakaikan kaos, mintanya baju batik dan bilang “Umi, Yapa mau olaaah… Mauuu…mi.”

Aku jadi berpikir, memang bagaimanapun, main sama umi tu beda feel nya dengan main sama teman sebaya. Sesenang apapun main sama umi, anak tetaplah pengen punya teman main sebaya. Yang gaya bahasanya sama, pola pikirnya serupa, ide2nya sejalan, itu adalah teman sebaya. Bagi orangtua, bermain itu adalah main-main tapi bagi anak bermain itu serius. Tentulah feel asiknya beda.

Akhirnya pas ajaran baru kemarin mulailah dia bersekolah di Paud. Jadi udah sekitar satu semester ini dia sekolah. Hari pertama masuk kutemani dia, meskipun sebenarnya aku yakin dia berani tanpa ditunggui, seperti biasanya. Rafa adalah anak supel pemberani dengan daya adaptasi yg sangat2 bagus alhamdulillah. Dimanapun, dengan siapapun, dia cepat sekali adaptasinya, selalu enjoy, akrab dan pintar bergaul. Ramah dan sumringahnya itu jaaan tenan masyaAllah. Dulu pertama kali dia di daycare sekitar umur 11 bulan, di Jogja. Ketika itu aku hendak sekolah lagi (ah…cerita ini, skip!). Di hari pertama, pengalaman pertama dia di daycare bersama bunda guru dan teman2 yg baru dikenal…dia langsung enjoy, asik sekali. Ketika kami antar dia ceria, tanpa tangis. Pun saat kami jemput. Ceria. Sumringah. Selalu begitu. Maka jika ada tempat dimana dia kok kurang ceria, motor berhenti kok tidak segera turun (padahal tiap kami berhenti dimana saja dia selalu minta turun), diantar masuk kok flat ekspresinya, pas dijemput raut mukanya beda, maka kami perlu memberi tanda tanya. Ada apa dengan tempat itu??? (dan cerita bagian ini juga di-skip saja).

Hari kedua dia diantar mbahnya. Pas mau berangkat dia pamit “Umi, aliim.. (salim). Yapa olah, umi.” Riang gembira dia pamit, salim, dan salam. Berseragam, menggendong tas, lalu berlari unul..unul..unul. Haha…trenyuh atiku. Padahal belum juga genap tiga tahun saat itu. Semangat banget pengen sekolah.

Aku jarang menyaksikan bagaimana dia saat sekolah. Karena paling aku hanya antar dan jemput. Hanya kadang aku menjemput lebih awal pengen tau kayak apa dia di sekolah. Ya begitulah dia…asik dengan idenya sendiri. Saat temannya duduk diam, dia panjat2 meja. Temannya nyanyi2…dia merangkak2 pura2 jadi dinosaurus. Teman2nya belajar membaca, dia lompat2. Haha. No matter Boy, take ur joy.

Suatu waktu, aku juga menemukan hal2 yg mengagumkan darinya saat di sekolah. Suatu saat pas mau pulang, di tengah keriuhan ada mbak kecil yg menangis. Setelah Rafa mengambil lukisannya yg dijemur…dia masih diam saja memandangi lukisan2 teman2 yg berjejer di halaman. Ternyata dia mencari lukisan mbak kecil yg menangis, dan memberikan pada mbak kecil itu. Dia mungkin berpikir…dikasih lukisannya biar diem. Tapi btw, kok dia hafal ya lukisan mbaknya yg mana.

Suatu saat yg lain, ada mas2 anak TK yg celananya kedodoran sampai menyentuh lantai. Tiba2 Rafa mendekati lalu melipat celana mas kecil yg sedang terpaku berdiri. Mungkin dia risih liat celana masnya kedodoran..hihi. Inisiatifnya itu lho, masyaAllah. Padahal tidak kenal juga sama masnya itu.

Kapan hari ibu guru bercerita bahwa Rafa ini pintar banget main puzzle. Cepat dan tepat. Belum ada temannya yg secepat Rafa mainnya. Kadang dikumpulin 5 puzzle, lalu disusun dengan cepat dan tepat.

Haha. Ya begitulah lucunya Kakak Rafa :D

Nasehat untuk Orangtua

Standard

Ditulis oleh: Ustadz Fauzil Adzim

Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara, mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayup-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.  

Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka lapangkanlah hatimu untuk ridha terhadap kerepotan itu. Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari Kiamat setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafaat.

Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuk anak-anakmu, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu, setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah, dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ’Azza wa Jalla.

Kalau setiap kali ada yang kauinginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta. Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mereka tidak mengiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang disebut dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menakjubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.

Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insya Allah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang penuh semangat.

** Suatu sore ketika merasakan betapa kurangnya diri ini sebagai orangtua. Semoga Allah Ta’ala ampuni diriku.

Harta karun nih, save!

Standard

Oleh-Oleh Dari Seminar ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’

Oleh: thasya sugito

Ceritanya, april yang lalu, saya berkesempatan berada sepanggung dengan beberapa ibu hebat, dalam sebuah seminar parenting yang temanya adalah ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’. Para ibu hebat itu adalah:Ibu Siti Oded (Istri wakil walikota Bandung), Bunda Ria Mulianti (Istrinya Kak Eka Wardhana-Rumah Pensil Publisher), dan Teh Ninih Muthmainnah (Istri Aa Gym).
Masya Allah…

Bunda Ria Mulianti…menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik keempat putranya. Beliau adalah seorang yang cukup sibuk diluar rumah…karena punya amanah di Rumah Pensil Publisher , sanggar gambar rumah pensil, dan juga menggawangi creative women community.
Tapi,kesibukan beliau tidak membuat beliau lupa untuk mendidik anak-anaknya untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dan sahabat2nya. Hasilnya…anak pertama beliau adalah anak yang sangat ingin berjihad ke palestina, bahkan di usia 12 tahun, bilang ke bundanya: “bun, aku sudah menabung…ini celengan aku, tolong izinkan aku berangkat ke palestina ya. Aku sedih melihat anak-anak palestina tidak bisa sebahagia aku disini.” Bunda Ria akhirnya mengarahkan anaknya, untuk berjihad dengan pena…anak tsb diarahkan untuk menulis buku, dan ia akhirnya menulis satu seri buku cerita anak tentang jihad dan anak2 palestina. Buku tersebut sudah habis terjual 1000exp dalam 10 hari saja!! Menurut pengalaman bunda Ria, cara paling efektif untuk mengajarkan anak nilai2 kebaikan adalah dengan cara mendongeng (selain keteladanan tentunya). Sehingga beliau tidak pernah melewatkan malam tanpa mendongengkan kisah rasul dan para sahabat kepada anak-anaknya. Mendongeng, tidak harus dengan style pendongeng yang sangat ekspresif, yang mungkin sulit kita tiru….tapi lakukanlah dengan cinta….sehingga dongeng kita akan sampai ke hatinya..
Prinsipnya, kalau anak-anak sudah mengenal Tuhannya, Rasulnya (melalui dongeng)…maka insya Allah mereka akan mencintai Allah dan RasulNya. Bukankah itu yang kita harapkan?? Anak-anak yang mencintai Allah dan RasulNya, sehingga mereka tidak akan melakukan hal yang tidak disukai oleh kekasihnya itu?
Disini, yang terpikir oleh saya adalah “duh….sudah sejauh mana saya mengenalkan Allah dan juga Shiroh kepada anak-anak? Mengenalkan mungkin sudah…tapi sudahkah saya secara konsisten berikhtiar menumbuhkan cinta mereka pada Allah dan Rasul serta para sahabat?? (hiks…tamparan pertama)’”

Lalu…Umi (Bu Siti Oded), menceritakan dahsyatnya dampak rumah cinta. Beliau menceritakan fenomena anak2 di sukabumi (kota kecil) yang 60% dari 200 anak usia remaja yg dijadikan objek penelitian, ternyata sudah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Astaghfirullah….astaghfirullah…..kalau di kota kecil saja begitu? Gimana kabarnya dengan anak2 kita yang hidup di kota2 besar? Tambahannya…Umi cerita, bahwa ketika berkunjung ke beberapa pesantren, lalu bertanya kepada para SANTRI tentang siapa idola mereka….rata2 jawabannya adalah para artis (lokal dan korea). Duh….apakah mereka tidak mengenal Rasulullah? Sang manusia mulia nan sejati cintanya…
Itulah sebabnya….Umi menekankan…bahwa cinta, adalah dasar dari pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan bangunan cinta yang kokohlah, anak tidak akan keluar dari pakem yang disepakati dalam keluarga. Sehingga, kata-kata “membentengi” anak….sejatinya bukanlah membentengi secara fisik (memproteksi fisik anak dari lingkungan yang tidak baik, dll)…melainkan membangun benteng tsb dalam diri anak, sehingga tercipta resiliensi (kemampuan anak untuk selalu berada dalam pakemnya, dalam koridor yang ditetapkan menjadi nilai terbaik untuk dirinya dan keluarganya) dimanapun anak berada…dengan siapapun anak bergaul. Resiliensi ini hanya akan terkokohkan dalam diri anak, bila di rumah cintanya sudah terbangun, sehingga tidak ada tempat lain yang lebih nyaman bagi si anak, selain di rumahnya sendiri.

Berikutnya, yang selalu harus menjadi pegangan utama dalam mendidik anak, dan kembali diingatkan oleh teh Ninih: “Yaa Bunayya…Laa Tusyrik Billah”. Teteh cerita….sebelum ke hal lainnya, pastikan dulu bab ini sudah mantap. Bab ketauhidan, yang menjadi dasar dari agama islam. Sehingga, insya Allah pertanggung jawaban kita kelak akan lebih ringan.
Lalu…yang orangtua sering lupa: TAUBAT!!

Kita sering merasa anak sulit diatur…anak banyak membantah…anak tidak sesuai harapan. Lalu saat perasaan itu hadir, seringkali kita merasa, itu adalah ‘salahnya’ anak. Padahal….sejatinya, itu adalah kesalahan kita dalam mendidik. Maka,TAUBAT adalah bagian terpenting dalam proses mendidik anak. Jangan hanya banyak harapan thdp anak….tapi, perbanyak taubat, perbanyak tafakur.

Teteh cerita, bagaimana dulu Ghaza (putra ke-6 tth), adalah anak yang kerjanya main PS…gak semangat belajar….sampai harus mengenakan kacamata dengan silindris 6 karena hobinya itu. Teteh saat itu merasa berdosa….karena tidak tegas dan tidak banyak menghabiskan waktu bersama Ghaza. Lalu…saat berkesempatan umroh, teteh menangis di multazam….bertaubat…mengakui kesalahannya dalam mendidik anak, dan memohon agar Allah mengampuni. Sepulang umroh….Ghaza ditanya oleh salah seorang ustadz di DT, mau tidak Ghaza menghafal qur’an? Ghaza langsung jawab mau…tanpa ba-bi-bu. Padahal, sebelumnya….sulit sekali tth mengarahkannya. Singkat cerita….dalam waktu 6 bulan…Ghaza menyelesaikan 27 juz hafalan qur’annya….dan tuntas 30 juz hanyadalam waktu 8 bulan saja.

Sehingga, benarlah…taubat kita, adalah pembuka jalan. Ketika kita bertaubat…memohon ampunan Allah atas kefakiran ilmu kita dalam mendidik anak, Allah akan bukakan jalan.

Selain itu…mencintai anak, artinya mendoakannya dengan penuh cinta. Bukan sekedar kata-kata tak berarti….melainkan kata-kata yang lahir dari hati. Saya mempraktekkannya sejak punya anak pertama 11 tahun yang lalu….ilmu ini pun saya peroleh dari teh Ninih, waktu saya masih nyantri di DT: Setiap Sholat malam….usahakan sholat dengan rakaat 2-2-2-2-…., agar kita memiliki banyak waktu untuk mendoakan anak dan suami. Ba’da dua rakaat pertama…doakan orang tua dan suami dengan penuh cinta.

Lalu…ba’da dua rakaat kedua, doakan anak yang pertama. Ba’da dua rakaat ketiga, doakan anak yang kedua, dst….

Perhatikan….setiap kali iman kita sedang baik, cinta kita sedang penuh….anak akan menjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebaliknya….setiap kali iman kita sedang lemah….kita sedang futur, anak pun akan terasa sulit diatur, dll. Maka….penuhi diri dengan energi iman….sehingga cinta akan lahir tanpa diminta.

Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta, insya Allah akan menjadi pribadi yang penuh cinta pula.
Dengan Cinta kita mendidik anak….dengan ilmu kita mengasuhnya….

Sungguh, berada disana bersama para ibu luar biasa ini, menyadarkan saya betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikit ilmu yang sudah saya tahu dan amalkan..
Semoga bermanfaat ^_^

Pear

Standard

Anakku mau dua. Boya mau punya adik, insyaAllah. Kami sebut si adik janin ini dengan nickname: Pear. Now 17weeks insyaAllah. Terakhir USG pas UK 13w, dia udah mbentuk kepala, tangan, kaki, gerak2 macam nonjok n nendang gitu. Trus mulet2, dari mlumah jadi murep angkat2 badan gitu. Batinku,polahe atraktif juga ni bocah, macam kakaknya aja. Padahal baru juga dia tumbuh 4,5cm, hihi..imut ya, baru sepanjang jempol tanganku dia.

Dia datang di saat aku memang mupeng pengen punya bebi. Pas magang di LHI rasanya fall in love banget liatin bebinya temen2. Dan saat2 itu juga, porsi makanku tambah dahsyat aja. Sampe temen magang bilang: mbak Hanis ini kurus, tapi makannya banyak ya. Udah makan, masih ngemil lagi, ada aja yg dimakan. hahaha *malu2 gimana gitu* Baru beberapa minggu kemudian kuketahui bahwa ternyata ada makhluk lain yg ikut makan di perutku, yaitu si Pear ini.wkwkwk

Kuhitung2 pas lah jarak Boya dengan Pear nanti 2,5tahun. HPLnya 15 Januari 2015 (16 Januari aja dunk Nak..biar kembaran sama umi *penting gak si? ) Semoga saat itu nanti,atau better sebelumnya, si Kakak Boya udah sapih. Karena sekarang belum je..

Every Pregnancy has its story. Termasuk dalam hal ujian. Kalo tentang permabukan, alhamdulillah aman. Sy gak didera morning sickness, hanya kembung sickness -,-. Nah ngobras tentang ujian saat kehamilan, ada saja deh, dan bentuknya beda2 juga. Kalo dulu jaman hamil Rafa kami diuji dgn abi yg sering sakit, berkali2 berurusan dgn ICU, opname, check up, obat, dan ujian mental lainnya. Yg ini trjadi berkali2 di rentang usia kehamilanku muda sampai tua, bahkan mendekati lahiran juga abinya sakit lagi. Subhanallah pokoknya. Cukup menguras energi dan emosiku saat hamil Rafa. Hingga sempat terbersit khawatirku, jika beban emosiku membekas pada anakku..khawatir ia jadi anak pemurung atau gimana. Alhamdulillah not at all. Rafa adalah anak yg ceria bahagia, murah senyum, tidak rewelan, tidak penakut, tidak nangisan. Tak ada bekas trauma.

Sedangkan saat hamil Pear ini, ujiannya beda lagi. Mau dibilang ujian berat, tapi alhamdulillah masih banyak yg bisa disyukuri. Yg jelas, Ramadhan tahun ini dan tahun kemarin tema untukku masih sama. Tentang kerelaan kehilangan salah satu mimpiku, atau mungkin tertunda. Wallahua’lam. Lalu, yg jelas lagi, just believe tiap anak itu tertakdir dgn jatah rezekinya. Alhamdulillah juga Allah menganugerahi kehamilan yg kuat, karena petualangan saat hamil Rafa dan Pear, sama2 wonderful juga.

Well, akhirnya tak boleh lepas berdoa mohon anugerahi kami sabar dan syukur yg tak putus2 ya Allah..amin.

Rafa 2 tahun..!!

Standard

Hari ini tanggal 20 Ramadhan 1435 H,milad hijriyahnya anak kami Rafa. Ya Allah, sudah 2 tahun hamba menjadi seorang ibu. Rasanya tu,haru bangettt,telah melewati perjuangan yg berdarah-darah. 2 tahun yg lalu di hari Ramadhan yg ke 20, pukul 09.20. Masih ingat gimana dulu kepayahan sehabis prosesi melahirkan si bocah dengan BB 3,7kg dan panjang 53cm ini, jg masih canggung segala hal untuk mengurusnya..ya cara menyusui lah, cara memangku, cara menggendong, canggung semua. Ewuh, ra pener2…bahasa jawanya. Kupandangii dia saat lelap, sambil mbatin takjub Ya Allah, kok bisa ada makhluk lucu ini dalam jasadku, hidup dalam satu nafas, dalam satu denyut darah yg sama…dan sekarang dia menampakkan wujudnya. Yg bikin aku penasaran banget saat hamil kan pengen liat penampakan si bocah: dia seperti apa, wajahnya mirip siapa, seperti apa matanya, hidungnya, senyumnya, hehehe. Trus kupandangi dia, sambil mikir…bocah sebongsor ini, kok muat ya di perutku, Allah Maha Kuasa ‘melipat’ dia sedemikian rupa sehingga aman dan nyaman bersemayam di rahim ibu selama 9 bulan.hihi

Hari ini, genap usianya 2 tahun Hijriyah. Dia sudah tumbuh dan berkembang pesat jadi anak sehat, sholih, smart, ceria, lincah, pemberani, empatik. Dia sudah lebih banyak berkata2, manisnya saat dia memanggil2 “ummiii…bbiii…”, empatiknya dia, lincah motoriknya, pintarnya menirukan gerak gerik dan ucapan di film atau lagu, menirukan expresi gambar di buku, menghafal doa2 meskipun baru bs melanjutkan satu atau dua suku kata terakhir, mengikuti gerakan sholat dengan caranya yg lucu, dan banyak lagi asosiasi logikanya yg menampakkan kecerdasannya. Memang anak2 usia segini banyak membuat kita feel amazing. Surprise2 yg happily surprising.

2 tahun menjadi ibu, yes im not perfect yet. Ada kekeliruan2 yg kualami, penyesalan2 juga ada. Semua itu adalah pelajaran berharga sebagai seorang ibu. Termasuk dalam hal penyesalan, keteledoran adalah salah satu pelajaran besar buatku. Contoh: pernah suatu saat Rafa terjatuh, saat dia berjalan dan membawa piring plastik. Itu piring kebentur ke giginya sampai patah 1 gigi seri atas. Berdarah tentu, menangis pasti. Dan yg nangisnya lama dan berhari2 justru emaknya. Meskipun abinya selalu menenangkan, “Sudahlah lah cint, sudah terjadi. Lihatlah Rafa juga baik2 saja, dia ceria..” Haah,, sudah2 gimana. Ini hatiku masih pedih oleh sesal rasanya. Jd biarin nangis, pokoknya pengen nangis *dasar wanita, kalo udah pake perasaan dikasitau yang logis realistis juga gak trima. Emang menyesal banget rasanya tuh,, kenapa tidak menunda pekerjaan yg lain saat itu. Memang kami tidak punya ART, jadi semua kerjaan dikerjakan disambi2 momong. Sehabisnya jadi refleksi, ya Allah…pekerjaan bisa ditunda nanti. Yg tidak sempat bisa dicari lain solusi: nyapu bisa nanti2, cucian bisa dilaundry, makanan bisa beli…tapi 1 detik yg lalu saat anakku jatuh, aku tidak bisa meng-undo-nya. Waktu adalah waktu. Sekejab dia pergi, tak kan pernah kembali. Yg ada adalah menerima takdir dan mengambil hikmahnya. Nangis bombay bener pas momen ini. Yg ditangisi justru santai2 aja, dengan wajah empatiknya dia ambilkan jilbabku. Kupikir disuruh pakai, ternyata dia sodorkan buat ngelap air mata uminya. *antara nangis haru dan pengen ngakak*

Pelajaran lain masih tentang gigi Rafa. Di usianya ini gigi seri atas sudah mengalami caries. Padahal sedari awal punya gigi, aku rutin membersihkan, dulu pakai kasa sampai sekarang sudah bs pakai odol dan sikat gigi. Tapi giginya tetap saja rapuh. Aku tidak terlalu paham tentang distribusi kalsium dalam tubuh, apakah benar ada tipikal anak yg distribusi kalsiumnya lebih ke tulang daripada gigi? Ah, apapun itu. This is a lesson for me as a mom.

Another great lesson menjadi ibu adalah KESABARAN. Tak capslock itu kata supaya notice banget poin ini. Kata orang, sabarnya seorang ibu itu harus selautan. Etapi laut itu ada pasang surutnya juga ya. Begitu juga dengan kesabaran ini, aku masih terus berlatih. Karena waktu demi waktu, si bocil ini semakin menguji kesabaran juga. Sejujurnya poin ini, aku kalah sama suami, yg sabar dan lembutnya luar biasa *mewarisi sifat sang ibu* termasuk dalam menghadapi Rafa. Nadanya bicaranya, caranya bersikap pada Rafa, bikin aku malu sendiri pas aku lagi bete (dalam hati bergumam..ya Allah, kenapa aku tak bisa seperti dia). This is it, im so grateful having him. Seperti yg dia katakan suatu waktu, “Cint, anak yg dibesarkan dengan cinta dan kesabaran, insyaAllah dia akan tumbuh dgn optimal” Juga saat dia menasehatiku “Cint, kalo aku pas pengen marah tu, mesti kutahan dgn diam, diamkan aja dulu sebentar. Pokoknya jangan sampai keluar jadi kata2 atau perbuatan yg disesali.” Resepnya adalah: diam. Kata2nya ini, menancap dalam di relung hatiku *ceileh

Pengennya, start 2tahun ini program edukasi untuk Rafa mulai dirutinkan dan terjadwal macam habit training gitu. Etapi kok belum bisa terlaksana ya *krik..krik.. -,-

Mengingat milad anak, bagi kami letak pentingnya bukan pada selebrasi, tapi lebih menjadi momen refleksi kami sebagai orangtua dan mensyukuri nikmat2 Allah untuk kami. Ramadhan 2 tahun lalu, Allah memberi kami hadiah terindah, menghadirkan engkau sebagai qurrota a’yun kami…anakku Muhammad Rafa Ranu Albanna. Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan atasmu selalu.

“Allohummaj’alhu minassholihin,waj’alhu robbiy rodhiyya,waj’alhu min ahli faqqihu fiddiin,waj’alhu min ahli faqqihu qur’an,waj’alhu minal mujaahidiina,wa minas syuhadaa’ wamin ahlil jannah..amin.

*great love,pride,n prayer-abi.umi

Ajari Anak Membela Diri

Standard

Tambah 1 poin plus dalam hal sosialisasinya.Mulai hari ini gadis kecil ‘istimewa’ itu sudah bisa membela diri saat digoda/diejek teman2nya.Kemarin2,sering sekali teman2nya mengejeknya,”Ayaaam..kamu ayam ya?” dia selalu menjawab,”Ya, ayam.Very good” dengan mengacungkan dua jempol tangannya.Kata2 itu juga teman2nya yg mengajari.Mulanya karena dia kurang jelas untuk mengeja huruf R,maka kalau menyebut namanya yg terdengar seperti ‘Mayam’.Sehingga teman2nya menjadikan lelucon Ayam..ayam.Dengan begitu,tertawa puaslah teman2nya yg mengejek.Puas mengerjai dan menjadikan lelucon anak itu.Anak autis yang lugu.

Meskipun dia bukan anakku,sebel juga rasanya dia dipermainkan begitu.Mentang2 anak itu punya kekurangan tidak lantas jadi lelucon begitu tiap hari.Lantas hari ini pelajaran bela diri sukses dia terapkan.Kuajari dia berkata,”Bukan.”sambil memberi isyarat tangan pada teman2nya.Walhasil, saat teman2nya menggodai: kamu ayam? Dia tegas menepis:bukan! Eh dasar bocah cilik,teman2nya jadi ganti pertanyaan usil: Kamu bebek?Kamu kucing?Hhh..-,- Untunglah alhamdulillah dia faham untuk menjawab dengan tegas”Bukan. Bukan. Bukan.” Jadinya,teman2 yg menggoda nyengir,yg dalam bahasa Jawa istilahnya ‘kisinan’ alias ‘kecele’ hahaha. Ada juga beberapa yg protes kepadaku,”Ah..gara2 miss,sich.Ahh..ajarannya miss sich.” dan lain2. Aku yg ganti senyum2 puas ke mereka yg protes,”Bagus ituuuh..” ehee.Lama2 teman2nya ogah2an mengejek lagi.Gak seru dan gak lucu,pikir mereka, ehehe.

Well,aku jadi ingat tentang pelajaran penting parenting,bahwa kita harus mengajari anak membela diri sejak dini. Karena memang perilaku bullying itu rentan sekali terjadi dalam pergaulan anak2. Macam2 bentuknya,mulai dari mengejek,mengancam,membentak,mengucilkan,merebut,sampai memukul dan lain2 bisa dalam bentuk verbal maupun nonverbal.Yg harus kita usahakan untuk anak2 kita adalah: pertama,jangan sampai anak2 kita menjadi pelaku bullying,na’udzubillah. Kedua,tentu saja jangan sampai anak2 kita menjadi korban bullying yg tak berdaya.Maka,mereka harus kita ajari teknik bela diri. Pake teknik apa donk?Silat?Karate?Kungfu?hehe

Jadi kalo mengintip kutipan buku Perfect Parenting dari Elizabeth Pantley,bahwa cara mengajari anak untuk menghadapi bullying antara lain seperti ini:
Pertama,sang anak disarankan untuk menghindar dari si bully dengan menjauhi tempat2 di mana si bully biasa mangkal,atau bermain dalam kelompok (karena biasanya bully pun segan menghadapi beberapa anak sekaligus).Kedua,menghentikan bullying dengan sikap asertif.Ketiga,melaporkan pada orang dewasa jika bullying terus berlanjut dan mereka tidak mampu menghentikannya sendiri.Untuk mengajari anak bagaimana bersikap asertif,buku itu menyarankan kita berlatih role play dengan si anak untuk mengatasi the bully.Intinya,si anak harus berani menghentikan perbuatan nakal tersebut dengan bersikap percaya diri,berkata dengan tegas pada si bully ‘STOP’ atau ‘Leave me alone!’ atau ‘Jangan Nakal!’. Menurut buku tersebut,biasanya the bully akan kaget dengan reaksi yang tak disangka.Logikanya,seorang ‘penyerang’ mengharapkan korbannya untuk menangis atau membalas.Ketegasan dan autoritas ‘seorang korban’ akan memberi semacam shock terapy yang membuat si anak yg membully berhenti,bahkan menaruh respek.Nice tips ini dapat dari theurbanmama.com :D

Pernah baca juga artikel di grup,tapi aku lupa grup yg mana (kebanyakan grup :|) dan nyari2 gak ketemu lagi,tentang bagaimana mengajari anak membela diri.intinya adalah dengan ‘melawan’ secara positif.misalnya berani bilang tidak suka atau menolak perlakuan teman yang kasar.Misal,”Jangan begitu,itu sakit.” Kemudian jika si anak masih menyerang,si korban boleh menepis misalnya dengan tangan,mengibaskan,atau mendorong pelaku yg hendak menyerang. Bukan mengajari anak balas dendam,tapi mengajarinya berani membela kebenaran dan membasmi kejahatan, macam ninja Hattori,jehehe. Jadi tidak hanya kita terus menerus mendorong anak untuk bersikap baik dan manis pada teman,tapi juga diajari jika ada teman yang menyakiti,agar ia bersikap tegas dan berani.So,it’s balance.

Lain2 tips tentang bullying bisa dibaca disini dokteranakku.net/articles/2011/08/tips-menghadapi-bullying.html

Ahh,aku jadi sudah membayangkan kalau Rafa nanti dah besar atau sekolah akan kuajari dia dengan petuah begini,”Sayangku Rafa, bersikaplah baik pada semua orang.Sayangi dan hargai semua teman,apapun kekurangan dan kelebihannya. Jangan menyakiti,merusak,atau merugikan orang lain, karena itu dzolim namanya. Allah tidak suka. Jika kau berbuat khilaf,bersegeralah minta maaf.Jika kau lihat temanmu menyakiti,merusak,atau merugikan,ingatkan dia, jadilah pembela. Karena kata Rosul,cegahlah kemunkaran, dengan tangan dan lisan,baru jika tak mampu,cukup diam dan doakan.Jika ada teman yang menyakitimu,cegahlah,beranilah membela diri dan nasehati,agar ia jera.Serta jadilah kau anak yg pemaaf dan baik hati.Sesungguhnya orang yg akhlaknya mulia itu, akan dekat dengan Rosululloh nanti di surga.amin.” huhuuu…co cwiiitt :p

ehe…ehe…ayo kita lanjut ngobrasnya.Nah,kalau anak masih bayi,belum bisa ngomong atau membela diri gimana cara ngajarinya?Kalau aku biasanya kalau Rafa dipukul teman yg lebih besar,aku akan bertindak sebagai dubber alias pura2nya yg ngomong Rafa,kukatakan perlahan ke anak yg mukul “Tidak begitu mas Fulan/mbk Fulanah,yang baik yaa.. kan sakit kalau dipukul.Okey?”Harapannya,dengan kucontohkan kalimat tu bisa melatih Rafa agar dapat asertif kelak.

Fine,thats all sharing sonten meniko^^
~jogja.20.09.2013