Kena TOMCAT??!!!

Standard

Sekitar tiga minggu lalu, saat usia kandungan si ranujunior ini 22 minggu, you know what happened to us? huhu… diserang tomcat! Ah, kok seram amat kata diserang, kena tomcat lah gitu pokoknya. Tak kusangka si bintang media massa yang sedang naik daun ini turut menghampiriku, semakin membuatnya populer saja.

Mulanya hanya kutemukan sebuah tanda samar seperti bekas goresan di pelipis dekat kelopak mataku, vertikal hingga ke pipi. Saat ditanya suami, ah, kupikir mungkin kena garuk pas aku tidur siang harinya. Eh tapi lama-lama garis itu jadi semakin keliatan dan dua hari menjadi melepuh dan perih. Kukira herpes, oh no! Tapi masa herpes bentuknya langsung memanjang begitu. Sore harinya barulah mendapat informasi dari teman ngaji bahwa itu gejala kena tomcat, memang mirip bentuk goresan cakaran begitu. Padahal si tomcat tidak menggigit lho, apalagi mencakar. Dia hanya ‘berbagi’ cairan tubuhnya yang ‘tajam’ dan melukai itu saat dia menyentuh kita. Pertanyaannya, darimana aku ketemu si tomcat ini??? Padahal rumah kami tidak dekat dengan sawah juga. Kabarnya, dia memang ‘menyerang’ saat kita tidur. Nah, berarti dia habis gentayangan di kamar donk? Ya Allah, semoga dia tlah sirna. Katanya sehabis mengeluarkan cairan tubuh si tomcat ini akan lemah atau mati.

Yasudahlah, tak usah mencela siapa-siapa, toh si tomcat adalah makhluk Allah juga yang pasti keberadaannya tak sia-sia. Kata bapakku, dia sahabatan sama tomcat di sawah, “Mangkane aku gak diganggu tomcat,” katanya. hahaha, ada-ada saja. Eh tapi iya lho, tomcat ni berguna memangsa hama wereng, diberitakan bahwa seekor tomcat dapat memakan wereng cokelat per hari mencapai tujuh hama wereng. Oh, ya bener kalo gitu, sahabatnya petani, hee… Setelah tanya pada Bu Siti, bidan desa yang biasanya ku jadikan curahan konsultasi via sms, beliau memberi saran: dioles getah/lendir lidah buaya, katanya itu juga bisa menyembuhkan herpes dan insya Allah tidak menimbulkan bekas. Ah ya, baiklah, dicoba.

Jadam atau lidah buaya atau bahasa kerennya aloe vera, dulu waktu kecil aku mengenalnya dengan nama cadam. Setelah celingukan ngeliatin rumah-rumah tetangga, alhamdulillah lumayan banyak juga ternyata yang masih setia memelihara lidah buaya. Sambil belanja (on foot, program jogging :D), pulangnya mampir ke bapak toko langgananku, pamit mau minta lidah buaya, secuiiilll aja. Alhamdulillah, boleh… dapat sebatang. Pemakaiannya simpel saja, oleskan getah/lendir lidah buaya ke luka tomcat, biarkan mengering. Ulangi sampai kira-kira lukanya kering. Alhamdulillah, dalam 2 hari kuobati dengan lidah buaya ini, luka tomcat di wajahku mengering. Tapi jangan berhenti dulu, teruskan penyembuhan sampai bekasnya memudar. Alhamdulillah benar, lidah buaya ni justru tidak menimbulkan bekas luka. Sembuh deh. Sisa lidah buaya nya juga masih ada sampai sekarang. Dia punya daya tahan yang cukup lama, tidak mudah layu/kering meski sudah lama dipetik. Selain aman (untuk bumil terutama), ini juga obat yang gampang dan murah (karena bisa minta tetangga, hee), dan bermanfaat dalam proses penyembuhan sebagai antiseptik dan antibakteri (lihat info selengkapnya di sini). Begitulah tragedi tomcat yang terjadi padaku, yang kemudian membuat ibuku kembali mengingatkan pada sebuah doa: a’udzubikalimatillahittaammati min syarri maa kholaq… aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaanNYA.

7 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s