Menempuh Jalan Pulang

Standard

Ini kali kedua aku lewati jalan ini. Yang pertama? Ya saat berangkat tadi. Sampai pertigaan besar aku galau. Ini harusnya belok kanan apa kiri. Sedangkan derasnya hujan menghalau ingatan. Padahal biasanya aku punya daya navigasi yang bagus. Apalagi sekedar menghafal jalan pulang.

Dua lelaki duduk di emperan toko sebelah kiriku. Salah satunya seperti menangkap galauku yang memaku di tepian, lantas memberi isyarat pada temannya semacam “Hei lihat. Sepertinya orang itu bingung.” Memang iya aku bingung, lantas kutanya kemana arah jalan pulangku. “Oo…kesana mbak. Sanaa teruuus.” Bersahutan mereka menjawab sambil memberi isyarat belok kanan. Oke wusss, Revo melaju lagi.

Jalanan naik turun khas pegunungan. Kadang bingung ini tanah atau aspal. Oh ternyata aspal yang tercover genangan air kecoklatan serupa warna tanah. Semakin suram dan seram dengan kilatan petir serta dentuman guruh di langit.

Sepi. Kebanyakan area persawahan. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Ada dua orang pejalan kaki yang kutemui di jalan yang sepi. Satu, bapak yang berjalan sambil ‘nyunggi kawul’ (bahasa Indonesia yang pas apa ya). Mungkin untuk pakan ternaknya. Dua, bapak tua yang berjalan sambil membawa arit (sabit). Keduanya sama, berjalan santai dan pelan, tidak terburu. Seperti menikmati langkahnya yang basah.

Perjalanan terasa berat. Hujan benar-benar deraaasss. Tetes-tetesnya di wajah seperti menusuk-nusuk. Anggap saja refleksi wajah ya. Hari mulai gelap, mata minus dua koma tujuh lima dengan lensa yang terus buram diguyur hujan. Remang-remang pandangan. Belum lagi sorot lampu kendaraan yang berpapasan menambah keburaman yang serius dalam sekian detik. Silaunya memaksa mengurangi kecepatan. Komplit sudah.

Galau sungguh galau. Mana masih jauh, sekitar 10 kilometer. Apalagi si bocah di dalam lindungan jas hujan mulai gusar. Kedinginan. Karena meskipun pakai jas hujan kami tetap kebasahan. Kuhibur dia dengan lafal Annaba, surat yang dia hafal. Meski tidak mau meniru, lumayan dia dengar. Barangkali bisa sedikit menenangkan.

Tetiba terlintas ingatan bahwa bocah ini bocah pejuang. Dia menemani kami di masa-masa perjuangan di awal rumah tangga. Di masa sakit, sulit, dan ngirit. Dan dia, bocah dalam lindungan jas hujan ini tetap enjoy di segala suasana. Ketika kontrakan kami sangatlah mini, dia sering ‘menghilang’ keluyuran kemana-mana. Yang disasar biasanya rumah tetangga. Pernah bingung nyari, ternyata dia lagi asyik jagongan sama mbah-mbah di depan toko. Umurnya sekitar dua tahun waktu itu dan dia suka sekali menyapa tetangga “Mbah, ondo…” (monggo) sambil nunduk-nunduk ala orang dewasa.

Dia yang selalu menemaniku dari bayi sampai sekarang. Menemani ubek omah, hangout, liqo, sampai bekerja. Ngomong-ngomong, bagaimanalah simbok-simbok bisa meneladani para sahabat nabi yang kalau bermajlis adabnya seolah-olah ada burung di kepalanya (anteeng, ora useeek ae). Lha wong simbok-simbok itu ya, bisa banget liqo atau pengajian sambil kejar-kejaran dan ‘petak umpet’ sama bocah.

Dan bocah ini, sampai hari ini hujan-hujanan begini, dia yang ada bersamaku. Baru kali ini dia sering merengek dalam perjalanan. Pasti dirasa sangat dingin dan melelahkan. Tiba-tiba dia berkata “Umi maaf aku tadi main aja.” Lhoh? Memang tadi hujan sempat agak reda di lokasi tapi dia masih asyiiik main tidak mau pulang. And now he feels guilty? Oh no, I said not ur fault.

Kurang sekitar tiga kilo lagi perjalanan, dia kembali merengek, mau pecah tangisnya. Ya Allah, seorang dia tak kan sebegitu tertekan kalau tidak sangat kewalahan. Sepanjang sisa jarak kutenangkan “Sabar ya, sudah mau sampai.” Tentu saja. Jarak yang kita tempuh selalu mendekatkan kita pada tujuan. Itu berarti semakin ‘sudah mau sampai’.

Sampai di rumah beberapa menit sebelum adzan magrib. Badannya gemetar kedinginan dan menangis. Oh dear. Thanks for being my super boy. Perjalanan kita akan lebih panjang lagi nanti. Selalulah kuat.

Petang disambut sayup adzan bersahutan. Mengagungkan Sang Pencipta, mengingatkan kita untuk kembali menghadap-Nya. Karena dalam setiap perjalanan kita selalu ingin kembali pulang. Maka sejauh dan seberat apapun perjalanan, kita harus terus berjalan untuk pulang. Dan adzan selalu mengingatkan, kemana harusnya kita menempuh jalan pulang.

♡ petang, 28/11/16
♡ menulis adalah mendramakan pengalaman

Advertisements

People Nowadays a.k.a Kekinian

Standard

Ini jaman kekinian dimana kalau kita kepo tentang sesuatu, tinggal ketik di google search, dan muncullah opsi-opsi informasi.

Ini jaman kekinian dimana orang lebih pandai menyindir di status daripada mengingatkan langsung. Eh ternyata menasehati atau mengingatkan itu emang butuh kesiapan mental. Kadang pahit di lisan mau ngomong, mending dibikin status.

Ini jaman kekinian dimana olshop bisa bahas rempongnya customer atau sebaliknya, dengan tinggal poskan screenshoot chating.

Ini jaman kekinian dimana momen-momen diabadikan dengan cekrek kamera, trus upload dan kasih bahasan atau komen di medsos. Dari momen yang menyentuh empati sampai perihal kena tilang polisi.

Kadang bisa panjang urusan kalau tidak pandai menahan diri posting sana sini.

Ada kalanya kecanggihan jaman juga membantu saya (sok-sok-an) jadi detektif Konon.

Dulunya nemu nama seorang penjahat (iya, jahat banget!) dari kepo googling nama beliau. Eh ternyata super ini orang. Penipu kelas ulung yang keluar masuk penjara. Penjahat kelas bandeng. Tau kan bandeng itu durinya buanyaaak lembut-lembut, makanya kebanyakan dimasak presto biar gak ribet makannya. Nah seperti itulah tipu daya beliau, soft but deadly. Tssaaaah…

Duhai Nyonya, nama Anda bahkan masih nempel di riwayat mobile banking saya. Rasanya pasca kejadian saya pengen pos itu nama, nomor rekening, dan tipu dayanya. Biar kekinian gitu. Ah tapi buat apa. Saya belajar dari mereka yang berhati samudera. Bukan memaafkan beliaunya, tapi menerima bahwa ini jatah takdir kita. Cukup didoakan saja. Doa yang mulia ya didoakan beliau dapat hidayah lah ya. Tapi kok yang menonjol doa semoga dapat balasan yang setimpal. Wkwkwk

Barusan kemarin rasanya maknyess seorang adik manis berkata “Mbak, ajari aku hijrah.” MasyaAllah. Lalu tersebut sebuah nama yang menginspirasi dia. Saya kepo telusuri nama itu via FB gak nemu. Googling, kesana kemari otak atik gathuk. Sampaaai akhirnya nemu nama FBnya. Saya cocokkan antara respon WA dan inbox FB. Yup. Valid. Lalu kami chating kesana kemari. Adek shalihah ini terbuka sekali berkisah tentang dirinya. Bukan pertama kali saya nemu orang yang mudah terbuka gini. Kapan hari customer baru kenal berkisah perjalanan rumah tangganya thats so dramatic. Hiks…

Ini tulisan intinya: kepo itu ada gunanya dan kalau kepo googling aja.

Selamat datang di jaman kekinian. Kalau kamu ingat, coba jawab dimana kita pertama kali bertemu? :p

Amal Mengajar

Standard

img-20161125-wa0011

Hari Guru.

Suka rasanya dengan kata itu. Guru. Melekat padanya amal mengajar. Amanat pendidikan. Amanat yang tertera di kitab suci dan sabda nabi. Juga termaktub dalam undang-undang negara yang salah satunya berbunyi: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengajar berarti menjadi washilah tersampaikannya ilmu, membuka kesempatan amal jariyah yang tak putus setelah kematian: ilmu yang bermanfaat.

Mengajar berarti menjadi faktor peubah: dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak faham menjadi faham, menjadi bisa, menjadi mahir, bertambah kemampuan, berubah tabiat dan perilaku.

Mengajar berarti menjadi washilah tarbiyah, tersampaikannya hidayah, kesempatan mendapati janji di hadits nabi.

Salam cinta kepada semua guru dan murobbi. Salah satu tugas peradaban ada di pundakmu. Semoga segala bakti tercatat sebagai amal sholih. Barokallohu fiikum.

Salam belajar dan mengajar ♡

Fiksi yang Bisa Diteladani

Standard

Beberapa waktu ini, AAC 2 sedang mode on di kepala saya. Terutama bab akhlak. Tetiba sering terlintas sikap ramah dan sabarnya Fahri. Salah satunya pada tetangganya yang resek. Yang bahkan berkata ‘f*ck u’ padanya, yang mengganggu, dan mencuri. Tapi Fahri tetap 5S: senyum salam sapa sopan santun. Banyak menolong pula.

Lha saya? Liat orang manyun-manyun, melengos, dan gebrak pintu aja rasanya geregetan sendiri. Ini orang kenapa pula. Sikapnya kok ngeselin. Rasanya jengah, pengen berkata begini begitu, kalau lewat pengen manyun dan melengos juga. Lhah, kalau begini mah bukan mirip Fahri, tapi lebih mirip Paman Hulusi yang rempong. Wkwkwk

Saat leyeh-leyeh, mikir atau nglamun gak jelas, eh tetiba ingat Fahri yang saat rehatnya saja dia berdzikir. Saat malas, kok ya ingat gigihnya Fahri menegakkan punggung untuk ibadah dan konsisten murojaah.

Fahri dan kawan-kawan, selesai bercengkrama dan mengobrol dengan rekanan, lantas ditutup dengan doa kafaratul majlis sebelum bubar. MasyaAllah. Saya gak kepikiran segitunya. Yang ada doa itu dibaca pas habis halaqoh, habis kajian, atau pelajaran sekolah. Gak kepikiran kalau habis nimbrung ngobrol atau diskusi trus ditutup doa kafaratul majlis.

Hanya fiktif belaka, tapi teladannya berputar-putar di kepala saya. Begitu lho harusnya muslim yang baik itu. Begitu lho harusnya sikap seorang da’i. Begitu lho aplikasi 10 muwashofat yang kamu hafal itu. Katamu kamu suka bidang syiar. Mana akhlak yang kamu syiarkan sebagai cermin wajah indah Islam? Tau kan kalimat yang mengatakan “Al Islamu mahjubun bil muslimin” (kemuliaan Islam itu terhijab oleh kekerdilan orang-orang muslim). Nah, jangan kamu menjadi bagian dari hijab itu.

Merendahlah, bersabarlah, dan tegaslah pada tempatnya. Jangan lupa, miliki emosi yang mandiri. Yang tidak tergantung atau mudah terpengaruh emosi orang lain. Mau orang manyun, tetaplah tersenyum. Mau orang marah, tetaplah ramah.

Terimakasih Kang Abik menghadirkan sosok Fahri. Perkara banyak kisah yang ‘so sinetron’ di novel AAC 2, abaikan saja. Saya pilih ambil yang oke-oke saja.

… … …

~ Preferensi ~

Ngomong-ngomong, perkara memilih bacaan, kita pasti punya preferensi tipe bacaan dan tujuan membaca. Tipe bacaan biasanya tergantung passion kita. Jaman sekolah MTs saya kenal majalah Annida, yang iconnya gadis berjilbab lebar berkacamata, dikasih setumpuk sama ummahat teman ibuk. Trus pas SMA sukanya baca (pinjem temen) novel Aisyah Putri, Elang, Topan Marabunta, Jadian 6 Bulan, Ayat-ayat Cinta, Hafalan Shalat Delisa, dll apalagi lupa. Bacaan remaja islami itu bagus, memberi hikmah dan penanaman nilai. Remaja jadi punya gambaran pengen jadi sosok seperti apa. Seiring perjalanan tarbiyah dan pendidikan, preferensi genre bacaan pun lebih punya arah.

Sedangkan preferensi tujuan, bisa jadi tergantung misi. Misal: saya baca buku aliran kiri tentu bukan sebagai hiburan atau untuk diinternalisasi, tapi untuk tau alur pemikirannya. Sebelum membaca tentu perlu siapkan screening map di kepala. Di rumah kami punya beberapa buku yang mengandung pemikiran menyimpang. Dibaca untuk diketahui penyimpangannya. Salah satunya yang suami dapat dari sebuah sekolah. Buku golongan syi’i. Bisa-bisanya nangkring cantik di perpus SD itu. Kemungkinan include dengan buku-buku lain hibah dari penerbit ‘itu tuh’. Level sekolah dasar kok dihibahi buku macam itu. Mereka perlunya diisi dengan nilai-nilai basic yang nantinya menjadi filter skill or values standard mereka dalam menilai, memilah, dan memilih.

Jangan sepelekan bacaan. Ada bacaan-bacaan yang di dalamnya mengandung ruh. Ruh halus, yang menelisip ke akal dan hati. Menjadi hidayah, menjadi penguat langkah. Atau sebaliknya, mengandung kontaminasi yang meracuni. Karena selain sebagai propaganda kebaikan, ada juga tulisan/buku yang disisipi propaganda penyimpangan. Pandai-pandailah menyaring. Jika kita pakai ‘lensa kacamata’ yang tepat, insyaAllah tidak mudah tersesat.

Selamat sarapan ^^

Dear, Kamu

Standard

Iya, kamu.

Masih ingat tidak saat kita kelas 3 SMA, kelompok kita presentasi agama. Waktu itu ada teman yang tanya “Kenapa dikatakan Alquran itu hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa? Jadi hanya orang yang bertakwa saja yang dapat petunjuk?” Kurang lebih begitu kalimatnya.

Kamu yang waktu itu belum berjilbab, maju menjawab: “Iya. Kan orang bertakwa itu melaksanakan perintah Allah, jadi ketika ada petunjuk di Alqur’an dia mau mengikuti. Maka dia akan dapat petunjuk dari Alqur’an. Kalau orang tidak bertakwa, Alqur’an bilang apa dia tidak akan mengikuti.” Kurang lebih begitu jawabmu. Momen itu kuingat sampai sekarang.

Tahun pertama setelah kelulusan aku senang mendapatimu berjilbab. Wajah ayu khas gadis Jawa semakin dipermanis dengan jilbab sebagai penanda kasat mata bahwa kamu muslimah.

Kabar mengejutkan beberapa tahun berikutnya. Kau tanggalkan semua yang berbau Islam, mulai dari atribut sampai keimanan. Jalan cinta yang kau pilih membawamu jauh dari keimanan yang sejak berpuluh tahun kau yakini.

Pernah kukirim inbox dan tidak pernah kau jawab. Ya sudah lah. Aku tau itu hakmu. Bahkan dilindungi undang-undang. Aku hanya ingin menanam harapan. Selama belum habis nafas, doa tetap bisa bekerja bahkan untuk orang yang keimanannya berbeda. Dan kamu pasti tau, doa itu penanda sayang.

Syukurlah sampai sekarang kita masih berteman baik. Kubiarkan status-statusmu tampil di berandaku. Termasuk statusmu bernada dukungan atau geram pada isu terkini. Sekarang pagar kita: lakum diinukum waliyadiin. Berhubungan baik dalam hal yang kita sepakat, dan aku memilih menahan tanggapan pada tema yang kita pasti susah untuk mufakat.

Oya, terimakasih. Aku senang kamu sering mampir di posting-ku. Karena saat namamu muncul, aku selalu membatin doa untukmu. Iya, namamu. Nama salah satu surat di Alqur’an.

Tulisan ini kubuat bukan untuk kau baca. Tapi untuk suatu saat kubaca ulang sambil tersenyum. Semoga. :)

Hadanallahu waiyyakum ajma’in. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan kamu sekalian.

♡ Dzuhur, di kampung halaman

Today’s Themes

Standard

Sometimes, silence is the highest level of ignorance.

Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa.

Bisa jadi orang yang nyebelin untuk kita, untuk orang lain dia kesayangan, kebanggaan. Karena apa? Karena kita yang sebel ini hanya tau nyebelinnya saja. Sedangkan orang dekatnya tau banyak baiknya.

Jadi sebenarnya siapa yang nyebelin? Kamu. Iya, aku.

Ada banyak pilihan respon dan makna. Kamu pilih yang mana.

*logoterapi
*menulis adalah afirmasi

Pesona Sejoli #RS

Standard

30177_1475675218520_2877848_n

MasyaAllah. Kisah mereka berdua luar biasa. Pak Rahman Sudiyo dan Bu Siti Syamsiah. Pasangan PhD yang ternyata dulunya bertemu di bangku kuliah. Bu Siti yang lebih senior 10 tahun adalah dosen Pak Rahman di Teknik Kimia UGM. Mereka bertemu dan menikah di jalan dakwah, hingga akhir hayatnya mereka wafat ketika masih aktif di jalan dakwah. Membaca tulisan-tulisan orang yang mengenang beliau berdua, baik di Swedia maupun Indonesia, satu hal yang terasa: dimana mereka berada, kebaikan yang mereka bawa. Kebaikan yang dirasakan oleh sekitarnya, dan kebaikan yang akhirnya dikenang dari mereka.

Orang-orang baik, sepeninggalnya selalu ramai menjadi buah bibir yang baik. Serupa pewujudan doa Ibrahim dalam Alqur’an “Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. As-Syu’ara:84). Dan tentu tak ada buah bibir yang lebih baik daripada doa.

Tahun lalu Pak Rahman meninggal tersebab kanker hati, dan kemarin sang istri menyusulnya tersebab sakit lupus. Semoga Allah ampuni dan merahmati keduanya. Semoga husnul khotimah, dilapangkan alam barzakh, kelak disatukan kembali di jannah.

Beberapa waktu selepas Pak Rahman wafat, saya tetiba ingat beliau dan iseng ketik nama beliau di google search dan menemu tulisan disini: https://afrinalaksmiarti.wordpress.com/2015/03/26/obituari-alm-bapak-rahman-sudiyo/ Nangiisss. Rasanya, jika Fahri (dalam novel AAC 2) adalah cermin wajah indah Islam di Edinburgh, maka Pak Rahman dan Bu Siti bukan kisah fiksi, mereka menjadi bagian cermin wajah indah Islam di Gothenburg, Swedia. Sosok yang simpel, supel, humble, visioner, intelek, dan penuh dedikasi. Spirit dai dan murobbi menyala pada diri mereka.

Di profil WA dulu Pak Rahman menulis namanya dengan nickname: RS. Ah ya, singkatan itu cocok sekali untuk beliau berdua. Rahman&Siti. Mereka tidak bisa jauh. Kini mereka kembali dekat dalam pusara. Terkabar, berdasar hadits bahwa arwah orang-orang yang mendapatkan kenikmatan itu dilepas, tidak ditahan. Sehingga bisa saling berjumpa, saling berkunjung, saling menyebutkan keadaannya ketika di dunia, dan keadaan penduduk dunia. Sehingga setiap ruh, bersama rekannya yang memiliki amal semisal dengannya. Wallahua’lam.

Saya bukan siapa-siapa, hanya kenal dan bertemu sejenak lalu. Takkan juga cukup terangkum dalam tulisan, segala kenangan dan kekaguman. Sejoli yang mempesona #RS (Rahman Sudiyo & Siti Syamsiyah).

Dua bocah yang mereka tinggalkan (mas Wafi 12 tahun, Arum 8 tahun) semoga tumbuh hebat jadi investasi dunia akhirat untuk orangtuanya.

Cerita lain dari Ustadz Salim A Fillah: https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10208774803181456&id=1054044544&set=a.2191826789233.2111007.1054044544&_rdr

Daan baru tau tulisan apik Pak Rahman:
http://m.eramuslim.com/oase-iman/a-day-with-the-prophet.htm#.WCtUQ9KLTIV

http://m.eramuslim.com/oase-iman/refleksi-akhir-tahun-mengapa-cinta-itu-tak-jua-menetap.htm#.VQQ7dht0zIU

Dengan gaya berkisah seperti ini harusnya Bapak bisa nulis novel. Perjalanan cinta, studi, dan dakwah di Gothenburg, Swedia :,)