Membeningkan Pikiran

Standard

Dulu aku sering bersamanya. Dalam suka duka, tangis dan tawa. Menggenggam banyak kesamaan pikiran dan perasaan, saling membagi cita dan rahasia. Sama-sama terlahir di Januari, saling memompa semangat dan membangun mimpi-mimpi.

Lalu, pada hari telah genap usia 30 kami, aku kembali bersamanya. Meski hanya lewat suara, tersambung lewat semesta. Berkisah, berbagi, mendengar, untuk saling mengerti. Masih seperti dulu, penerimaannya terhadap baik burukku. Masih seperti dulu, penuturannya membangkitkan jiwaku. Masih seperti dulu, dekat dengannya meluaskan sudut pandangku.

Masih seperti dulu, aku menyebutnya: Si Bening πŸ’™

Advertisements

Ternyata Bikin Resolusi itu Ngaruh

Standard

Takcritani. Ceritanya sih ya judul di atas itu intinya. Haha…

Setelah mengenali diri lahir batin, lalu menuangkannya dalam oret-oretan kertas, akhirnya saya nulis juga resolusi tahun ini. Terasa manfaatnya buat mengenali diri dan menentukan pijakan langkah ke depan #tsaaahhh

Kondisi saya kemarin, hari ini, dan pengennya nanti. Itulah acuannya.

Maka tertulislah beberapa resolusi diri yang diantara garis besarnya adalah:
1. Self healing.
2. Nulis, nerbitkan buku, ngikut lomba ini itu.
3. Merapikan dan mengembangkan rumah ngaji.
4. De el el… biar saya saja yang tau. Biar kalau gagal ya cukup saya aja yang tau (dan melas) wkwkwk.

Btw yah, dua bulan ini menarget diri 3 event. Tapi nyatanya pikiran bercabang kemana-mana, malah mandeg tengah jalan semua yang dirancang. Kebanyakan yang dipikir, kebanyakan tagihan, malah endingnya gak ada yang dikerjakan. Belum lagi kerjaan dunia nyata yang menuntut perhatian. Anak-anak yang sakit gantian, dibarengi abinya dinas ke Jakarta sepekan. Jadinya pas si kakak yang sakit, harus ke dokter bawa tiga anak. Dua anak sendiri, satu anak tetangga takminta nemeni dan momong si Cuid. Karena disuruh di rumah sama si mbake kagak mau dia. Trus acara-acara di luar yang harus didatangi, anak-anak yang harus diajar ngaji sore hari. Jadilah lelah juga Hayati. Proyek nulis yang sudah digadang-gadang di resolusi pun mandeg dulu lah. Nanti kalau otak dan jiwa raga sudah fresh lagi, semoga bisa kelar happy ending πŸ’™

Kadang saya tu cuma butuh cerita, butuh ngeluarkan isi otak dan hati. Dengan jujur. Bukan dengan gaya sok kuat sok tegar, tapi justru dengan mengakui kelemahan diri, rasanya lebih lega. Lantas selesai jadi katarsis dan kemudian bangkit. Pas buntu ide nulis pun demikian, seringnya sharing or tanya ke suami itu nihil hasilnya. Ngomong ngalor ngidul bahas sana sini… jebul sing ditulis dan diterbitkan ide yang lain. Trus ngapain juga diobrolin tadi? Ya buat melegakan tenggorokan aja. Ehh, melegakan pikiran maksudnya. Lega karena kebuntuan telah diutarakan. Lantas kalau sudah keluar sumpel-sumpelnya, bisa ngalir lah ide jernihnya.

Oke deh. Sekian dulu curhatan simbok yang menyepi ditinggal tidur dua bocah. Mari sekarang kita tunaikan petuah bijak: tidur dulu, pikir kemudian πŸ˜‚

Lupa Mengaca?

Standard

Dear, kamu. Oh sungguh sindiranmu itu mengenai sudut hati yang baper. Mengena pada orang yang kamu tuju. Tapi juga mengena pada dirimu sendiri. Sebenarnya sih gitu, kalau kamu nyadar.

Udah lah. Hidupmu hidupmu. Hidupnya hidupnya. Kamu mau tebar pesona senusantara, melevelkan diri ala-ala tokoh ternama, silakan weh. Trus kamu nyindir komenin orang lain, padahal kamu juga gak jauh beda. Di depan kamera ala-ala. Rekaman siaran ala-ala.

Stoplah merendah untuk meroket. Stoplah menjatuhkan untuk melambung. Pamormu di depan banyak orang so super. Cuma kadang kita gak nyadar aja ada orang-orang yang ilfil sama kita. Kita, iya kita. Sebab segala kalimat ini sebelum kutujukan kepadamu, pantasnya memang kutujukan kepada diriku sendiri. #KacaManaKaca

Satu lagi: stoplah kepo. Sudah mau nikah, eh sudah nikah pula, masa masih kepo ‘grup sebelah’? Kalau berujar sudah move on dan menilai tak pantas, kenapa masih kepo?

Oh mungkin karena baiknya kamu memastikan dia bahagia tanpamu. Begitu? Oh atau kamu pengen tau jangan-jangan dia nyindir-nyindir kamu?

Hello fellas. Pikiran macam itu tak akan ada ujungnya kalau dituruti. Dan akhirnyanya kepo lagi n kepo lagi. Dan apakah menjadi tenteram hatimu dengan kepo macam itu? Ora. Tenan, ora.

Jadi kalau benar move on, unfren saja, blokir saja. Atau bersumpah tak akan tengok lagi akun dia. Toh kamu sudah punya pasangan sendiri yang warbiasah lahir batin mulia membahana. Biarlah itu jadi bagian indah hidupmu dan cukupkan. Gak sah kepo tengok-tengok si itu masa lalumu yaaang… kamu nilai mengecewakan wkwkwk.

Hei you, fella. You are great, yes everybody knows. I tell u that, move on sesungguhnya adalah ketika kita stop kepo ‘grup sebelah’ dan menikmati setiap jengkal hidup sendiri. Menulis atau memposting apapun tanpa embel-embel niat “sambil nyindir si itu ahhh”. Ngono kuwi move on ki. Pokoke rasah mbok dilok lan rasah mbok lebokne pikiran lan ati segala apik eleke wong kae. Wes ngono.

Silakan baper karena segala kalimat ini berlaku untuk siapa saja (oh yes termasuk saya). Dah, ndower nih bibir ngecibris. #GincuManaGincu

Setahun Sudah

Standard

Kadang kita memang butuh jarak dan waktu, butuh jeda untuk tak bersama. Agar ada ruang terbitnya rindu, juga menguatnya doa.

Seperti kita, yang sudah setahun pisah tak saling sapa. Tepatnya aku yang beranjak meninggalkanmu. Karena bosan. Iya, alasan bosan itu bisa sekali menjadi alasan kepergian. Aku bosan denganmu yang begitu-begitu saja. Macam tak tambah mutu. Macam tak beranjak lebih bergairah. Macam tak menghasilkan faedah. Aku bosan lalu pergi. Meninggalkanmu dan tak peduli. Sebab jika alasan sudah dicari, pasti ketemu dan jadi.

Hai kamu. Terimakasih masih di sini. Di sudut yang sama. Menerimaku kembali. Dear, kamu. Blog haniself…Β 

Tralalaaa… bismillah ngeblog lagi yuk, wahai simbok yang sibuk sana sini. Sibuk nguber anak juga nguber setoran. Padahal diri sendiri diuber jadi buronan setoran ODOJ dan talaqqi Quran πŸ˜ͺ

Setahun sudah mendiamkan blog ini. Setahun juga tinggal di rantau nun jauh di timur nusantara. Lantas tak terasa waktu sudah beranjak cepat, tahun baru sudah berjalan, Januari tinggal sehari, Ramadhan sudah mau datang lagi di bulan Mei, anak sulung sudah mau sekolah, tanaman depan rumah sudah pada bertumbuh dan bertambah. Alhamdulillah… πŸ’™

Awal tahun baru orang-orang biasa punya resolusi. Target-target tahunan yang dibikin sebagai acuan mimpi. Tapi aku? Oalah, saya ini orangnya lempeng. Seringnya hidup ngalir aja macam anak sungai. Seringnya kalau nulis-nulis mimpi or resolusi gitu malah kok nggak tercapai-capai ya? Ini apa yang salah? Kurang realistis kah? Atau realistis tapi kurang usaha dan doa?

Seringnya apa yang saya dapatkan justru jauh dari yang saya angan-angankan. Tahun 2017 contohnya. Saya gak nulis resolusi blahblahblah apapun harus begini begitu. Eh, ada sih beberapa target di angan-angan tapi nyatanya juga gak kesampaian (kakehan mikir lan kurang eksyen we ki mbok wkwkwk). Namun alhamdulillah surprise demi surprise berdatangan. Omzet olshop (yang meskipun dijalankan dengan moody πŸ˜‚) tiap bulan selalu ada 7 digit, rumah ngaji yang ramai oleh santri, tulisan-tulisan yang lolos lomba dan jadi buku (padahal gak narget mau jadi penulis), juga hal-hal lain yang tak perlu disebutkan di muka infotainment.

See? Hidup saya gak sesuai angan-angan di awal, tapi gak nyangka juga melebihi ekspektasi. Jadi kadang saya berpikir, gak usah lah bikin-bikin resolusi tahunan yang tertulis. Daripada terkungkung dalam kerangka target-target yang kita buat sendiri, padahal hidup ini luaaasss sekali peluang-peluang kejadiannya. Ajiiib sekali lika liku misteri dan kejutannya. Jadi mending let it go, let it flow aja. Daripada nulis-nulis tapi nanti endingnya nyesek juga, “Huaaa, wishlist ku kok kagak ada yang tercentang ya??? Alias zong gak tercapai???” *Curhat, wkwkwk

Yang dia atas itu adalah pikiran emak males wkwkwk. Baiknya ya kita sempatkan waktu untuk memutabaah dan muhasabah diri. Apa yang sudah kau lakukan, apa yang sudah kau hasilkan. Apa yang kau harapkan dan belum tercapai. Apa yang kau impikan kemudian, lalu apa yang hendak kau lakukan.

Okeh, berbekal bismillah. Bar iki insya Allah aku tak nulis ahhh πŸ˜‰

Kolase Hikmah

Standard

~ Dompet yang Tak Pernah Penuh

Terkisah, suatu hari uang jatah persiapan kelahiran anaknya ia sumbangkan untuk seorang aktivis dakwah yang terserang sakit berat. Sang istri agaknya keberatan karena nominal tujuh digit rasanya terlalu besar untuk ‘sekedar’ donasi. Donasi kan biasanya berslogan ‘semampunya, seikhlasnya’. Terlebih kepada orang yang belum dikenal. Tapi ia berkata “Anak kita belum lahir, dan sekarang ada orang yang lebih membutuhkan. Beritanya sampai pada kita, barangkali ini jatah rezeki dia.”

Lain waktu, konon setiap kali dompetnya terisi banyak, akan ada orang yang datang butuh pertolongan. Sampai ada satu nominal uang yang jika sudah dikembalikan, akan ada lagi orang lain yang datang meminjam. Persis dengan nominal yang sama. Begitu terus. Semacam uang memutar. Datang dan pergi silih berganti seperti tidak mau berhenti.

Sedangkan si empunya berprinsip: “Jika punya harta diam (yang belum dibutuhkan atau belum akan digunakan dalam waktu dekat) kemudian ada orang membutuhkan, barangkali kitalah yang dipilih sebagai washilah pertolongan. Biarkan dia mengalir.”

Maka barangkali, celah kosong di dompet itu sebenarnya tidak kosong. Tapi terisi sesuatu yang tak kasat. Semoga saja pahala.

β™‘ β™‘ β™‘

~ Satu Masuk Satu Keluar

Ada seorang ummahat yang punya kebiasaan baik. Setiap kali dia beli baju atau jilbab baru, maka harus ada yang hengkang dari lemari. Satu masuk, satu keluar.

Benarlah. Karena jika terus bertambah akan menambah sesak. Bukan hanya sesak lemari, barangkali juga sesak hati (karena hubbud dunya atau kikir). Maka diluaskan dengan sedekah, memberi dari apa yang dimiliki.

“Lepaskan apa yang ada di genggamanmu agar tangan kosongmu bisa menerima lagi.” Kata seorang ibu motivator bisnis, lupa siapa namanya.

β™‘ β™‘ β™‘

~ Selalu Ada Untuk Dakwah

Sepasang sejoli yang telah berlalu dari tugas di muka bumi, memberi teladan bagaimana berkorban untuk dakwah. Dikisahkan oleh saudaranya bahwa mereka selalu ada untuk dakwah. Kalau tidak ada, akan diada-adakan. Sampai kalau uang sudah habis barulah nyengir sendiri.

Salah seorangnya pernah berkisah: “Dalam perjalanan saya merenung. Saya kok mau-maunya ya tandatangan akad hutang itu. Padahal bisa saja saya menolak atau berkilah, tapi Allah menggerakkan hati dan tangan saya. Kalau dipikir, kenapa saya mau menanggungnya? Demi apa? Tak lain demi cita-cita pendidikan dan dakwah yang saya cintai ini.” Kurang lebih intinya demikian yang masih lekat di ingatan.

β™‘ β™‘ β™‘

Sejatinya harta yang akan kita ‘bawa’ justru bukan harta yang bersama kita. Tapi itu, harta yang meringankan penderitaan dhuafa, yang mengenyangkan perut fakir miskin, yang menyambung hidup anak-anak yatim, yang memudahkan jalan para santri, da’i, dan mujahid fi sabilillah, yang menghangatkan musim dingin anak-anak Palestina dan Suriah, dan lainnya.

Maka ini menjadi pengingat diri sendiri. Jangan bingung kemana menyimpan uang, tapi bingunglah kemana ‘melepas’ uang.

β€œJika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS At-Taghabun:17)

Kata ‘pinjaman’ ini terasa motivatif. Karena manusia seringnya merasa yang dimiliki adalah kepunyaannya, maka Allah menghibur seolah-olah kita meminjamkan. Allah ‘pinjam’ saja kok. Kamu tidak akan kehilangan, nanti juga pasti dikembalikan. Maksudnya, pasti akan mendapat balasan yang bahkan tak terkira jamaknya.

“Alangkah indah orang yang sedekah, dekat dengan Allah, dekat dengan surga. Takkan berkurang harta yang sedekah, akan bertambah, akan bertambah.” (Lirik lagu Opick)

Hadanallaahu waiyyakum ajma’in. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kami, dan kamu sekalian.

Menempuh Jalan Pulang

Standard

Ini kali kedua aku lewati jalan ini. Yang pertama? Ya saat berangkat tadi. Sampai pertigaan besar aku galau. Ini harusnya belok kanan apa kiri. Sedangkan derasnya hujan menghalau ingatan. Padahal biasanya aku punya daya navigasi yang bagus. Apalagi sekedar menghafal jalan pulang.

Dua lelaki duduk di emperan toko sebelah kiriku. Salah satunya seperti menangkap galauku yang memaku di tepian, lantas memberi isyarat pada temannya semacam “Hei lihat. Sepertinya orang itu bingung.” Memang iya aku bingung, lantas kutanya kemana arah jalan pulangku. “Oo…kesana mbak. Sanaa teruuus.” Bersahutan mereka menjawab sambil memberi isyarat belok kanan. Oke wusss, Revo melaju lagi.

Jalanan naik turun khas pegunungan. Kadang bingung ini tanah atau aspal. Oh ternyata aspal yang tercover genangan air kecoklatan serupa warna tanah. Semakin suram dan seram dengan kilatan petir serta dentuman guruh di langit.

Sepi. Kebanyakan area persawahan. Hanya sesekali ada kendaraan dari arah berlawanan. Ada dua orang pejalan kaki yang kutemui di jalan yang sepi. Satu, bapak yang berjalan sambil ‘nyunggi kawul’ (bahasa Indonesia yang pas apa ya). Mungkin untuk pakan ternaknya. Dua, bapak tua yang berjalan sambil membawa arit (sabit). Keduanya sama, berjalan santai dan pelan, tidak terburu. Seperti menikmati langkahnya yang basah.

Perjalanan terasa berat. Hujan benar-benar deraaasss. Tetes-tetesnya di wajah seperti menusuk-nusuk. Anggap saja refleksi wajah ya. Hari mulai gelap, mata minus dua koma tujuh lima dengan lensa yang terus buram diguyur hujan. Remang-remang pandangan. Belum lagi sorot lampu kendaraan yang berpapasan menambah keburaman yang serius dalam sekian detik. Silaunya memaksa mengurangi kecepatan. Komplit sudah.

Galau sungguh galau. Mana masih jauh, sekitar 10 kilometer. Apalagi si bocah di dalam lindungan jas hujan mulai gusar. Kedinginan. Karena meskipun pakai jas hujan kami tetap kebasahan. Kuhibur dia dengan lafal Annaba, surat yang dia hafal. Meski tidak mau meniru, lumayan dia dengar. Barangkali bisa sedikit menenangkan.

Tetiba terlintas ingatan bahwa bocah ini bocah pejuang. Dia menemani kami di masa-masa perjuangan di awal rumah tangga. Di masa sakit, sulit, dan ngirit. Dan dia, bocah dalam lindungan jas hujan ini tetap enjoy di segala suasana. Ketika kontrakan kami sangatlah mini, dia sering ‘menghilang’ keluyuran kemana-mana. Yang disasar biasanya rumah tetangga. Pernah bingung nyari, ternyata dia lagi asyik jagongan sama mbah-mbah di depan toko. Umurnya sekitar dua tahun waktu itu dan dia suka sekali menyapa tetangga “Mbah, ondo…” (monggo) sambil nunduk-nunduk ala orang dewasa.

Dia yang selalu menemaniku dari bayi sampai sekarang. Menemani ubek omah, hangout, liqo, sampai bekerja. Ngomong-ngomong, bagaimanalah simbok-simbok bisa meneladani para sahabat nabi yang kalau bermajlis adabnya seolah-olah ada burung di kepalanya (anteeng, ora useeek ae). Lha wong simbok-simbok itu ya, bisa banget liqo atau pengajian sambil kejar-kejaran dan ‘petak umpet’ sama bocah.

Dan bocah ini, sampai hari ini hujan-hujanan begini, dia yang ada bersamaku. Baru kali ini dia sering merengek dalam perjalanan. Pasti dirasa sangat dingin dan melelahkan. Tiba-tiba dia berkata “Umi maaf aku tadi main aja.” Lhoh? Memang tadi hujan sempat agak reda di lokasi tapi dia masih asyiiik main tidak mau pulang. And now he feels guilty? Oh no, I said not ur fault.

Kurang sekitar tiga kilo lagi perjalanan, dia kembali merengek, mau pecah tangisnya. Ya Allah, seorang dia tak kan sebegitu tertekan kalau tidak sangat kewalahan. Sepanjang sisa jarak kutenangkan “Sabar ya, sudah mau sampai.” Tentu saja. Jarak yang kita tempuh selalu mendekatkan kita pada tujuan. Itu berarti semakin ‘sudah mau sampai’.

Sampai di rumah beberapa menit sebelum adzan magrib. Badannya gemetar kedinginan dan menangis. Oh dear. Thanks for being my super boy. Perjalanan kita akan lebih panjang lagi nanti. Selalulah kuat.

Petang disambut sayup adzan bersahutan. Mengagungkan Sang Pencipta, mengingatkan kita untuk kembali menghadap-Nya. Karena dalam setiap perjalanan kita selalu ingin kembali pulang. Maka sejauh dan seberat apapun perjalanan, kita harus terus berjalan untuk pulang. Dan adzan selalu mengingatkan, kemana harusnya kita menempuh jalan pulang.

β™‘ petang, 28/11/16
β™‘ menulis adalah mendramakan pengalaman

People Nowadays a.k.a Kekinian

Standard

Ini jaman kekinian dimana kalau kita kepo tentang sesuatu, tinggal ketik di google search, dan muncullah opsi-opsi informasi.

Ini jaman kekinian dimana orang lebih pandai menyindir di status daripada mengingatkan langsung. Eh ternyata menasehati atau mengingatkan itu emang butuh kesiapan mental. Kadang pahit di lisan mau ngomong, mending dibikin status.

Ini jaman kekinian dimana olshop bisa bahas rempongnya customer atau sebaliknya, dengan tinggal poskan screenshoot chating.

Ini jaman kekinian dimana momen-momen diabadikan dengan cekrek kamera, trus upload dan kasih bahasan atau komen di medsos. Dari momen yang menyentuh empati sampai perihal kena tilang polisi.

Kadang bisa panjang urusan kalau tidak pandai menahan diri posting sana sini.

Ada kalanya kecanggihan jaman juga membantu saya (sok-sok-an) jadi detektif Konon.

Dulunya nemu nama seorang penjahat (iya, jahat banget!) dari kepo googling nama beliau. Eh ternyata super ini orang. Penipu kelas ulung yang keluar masuk penjara. Penjahat kelas bandeng. Tau kan bandeng itu durinya buanyaaak lembut-lembut, makanya kebanyakan dimasak presto biar gak ribet makannya. Nah seperti itulah tipu daya beliau, soft but deadly. Tssaaaah…

Duhai Nyonya, nama Anda bahkan masih nempel di riwayat mobile banking saya. Rasanya pasca kejadian saya pengen pos itu nama, nomor rekening, dan tipu dayanya. Biar kekinian gitu. Ah tapi buat apa. Saya belajar dari mereka yang berhati samudera. Bukan memaafkan beliaunya, tapi menerima bahwa ini jatah takdir kita. Cukup didoakan saja. Doa yang mulia ya didoakan beliau dapat hidayah lah ya. Tapi kok yang menonjol doa semoga dapat balasan yang setimpal. Wkwkwk

Barusan kemarin rasanya maknyess seorang adik manis berkata “Mbak, ajari aku hijrah.” MasyaAllah. Lalu tersebut sebuah nama yang menginspirasi dia. Saya kepo telusuri nama itu via FB gak nemu. Googling, kesana kemari otak atik gathuk. Sampaaai akhirnya nemu nama FBnya. Saya cocokkan antara respon WA dan inbox FB. Yup. Valid. Lalu kami chating kesana kemari. Adek shalihah ini terbuka sekali berkisah tentang dirinya. Bukan pertama kali saya nemu orang yang mudah terbuka gini. Kapan hari customer baru kenal berkisah perjalanan rumah tangganya thats so dramatic. Hiks…

Ini tulisan intinya: kepo itu ada gunanya dan kalau kepo googling aja.

Selamat datang di jaman kekinian. Kalau kamu ingat, coba jawab dimana kita pertama kali bertemu? :p