Author Archives: hanis

About hanis

love learning, teaching, and writing

Parfum, Jangan Diminum

Standard

Hujan-hujan gini enaknya curhat ya hikiki. Disambi ngawas bocah si Boya n Cuid, disambi ngemil juga. Pernah saya punya pikiranย jail. Andai tangan kiri bisa nulis, saya pengen bisa nulis sambil ngemil bersamaan. Wuahaha… *maruk ๐Ÿ˜‚

Jadi curhatnya begini. Kok saya puyeng juga ya punya banyak akun. Ada akun pribadi fesbuk, punya fanpage juga. Ada IG (buat jualan, trus nyoba bikin 1 lagi buat upload foto2 bebas), trus ada wattpad, ada blog juga. Beuh.

Bingung juga akhirnya memilah dan memilih posting ini itu pasnya ditaruh mana. Yang lebih jelas lagi, emang menyita perhatian dan menarik perhatian. Nah, poin ini nih.

Barusan tadi pagi nemu lagi bahasan pro kontra emak vs emak yang beda pendapat tentang upload foto-foto anak, beserta pujian atas perkembangan anak. Satunya nuduh “pamer lu”, satunya nuduh “kamu sih yang hasad”. Nah lho.

Jadi siapa sebenarnya yang salah? Hasembuh. Saya sendiri tipikal selow. Ada yg hobi majang foto ya silakan. Barangkali bermanfaat sekedar katarsis untuk diri sendiri, atau butuh apresiasi sebagai motivasi syukur-syukur menginspirasi. Saya sendiri ya seneng aja ada posting-posting lucu nan awesome tentang anak.

Ada yang kontra, ya itu bagus juga. Kehati-hatian tentu lebih menyelamatkan. Sebab tak dipungkiri, saya sendiri pun selain takjub, pernah juga baper karena posting orang lain. “Ahh, anakku gak gitu. Ahh, rumah situ kok rapih rumahku acakadut. Ahh, aku kok gak secakep mbak Dian Sastro sih #ehhh.” En blablabla. Kalau diturutin, ada aja kok yang bisa bikin wanita baper itu. Serius. Itulah hebatnya wanita wuahahaha ๐Ÿ˜œ

Ada orang yang baper terhadap posting kita, itu sangat mungkin sekali. Terlebih jika ada hasad di hati, nah dari sinilah sebab munculnya penyakit ain. Pernah gak ngalami kena ain? Saya pernah.

Makanya kan, di surat Alfalaq kita diajari untuk berlindung salah satunya adalah dari kejahatan orang hasad (dengki). Wamin syarri hasidin idzaa hasad (dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia mendengki).

Saya sendiri tipe yang kadang masih suka upload foto entah foto diri dan keluarga atau foto hal-hal yang saya suka. Tapi kadang juga pas pengen upload ini itu, ingat khawatir ada yang baper jika liat posting saya. Semisal satu deh. Ada sosok dekat yang saya tahu rumah tangganya sungguh perjuangan batiniyah. Itu membuat saya gak tega mau show off di medsos tentang betapa happy nya saya berumah tangga (padahal neh aslinya gak happy mulu, ngenesnya teteup ada aja).

Jika pun bukan karena menjaga perasaan orang lain, tetap saja ada ganjalan di hati ketika keseringan show off di medsos. Sebab, yang saya sadari, pujian itu berat lhoh. Kadang bisa bikin kepleset. Khawatir jatuhnya pada ujub. Juga kadang yang jadi beban adalah macam disangka baik banget padahal buruk-buruknya saya manalah orang tahu.

Beratnya pujian, makanya sampai di hadits dikatakan taburlah pasir pada wajah orang-orang yang memuji. Kalimat tersebut untuk menegaskan larangan memuji orang lain secara berlebihan. Sebab dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi yang dipuji. Jadi yang benar itu adalah, puji sanjung-sanjunglah kebaikan dan kemuliaan orang di belakang. Bukan kok kebalik. Di depan manis manja bertabur pujian, di belakang menggunjing dengan caci makian. Naudzubillahi min dzalik.

Beratnya pujian, makanya ketika dipuji Abu Bakar sampai berdoa:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูู†ูู‘ู‰ ุจูู†ูŽูู’ุณูู‰ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู†ูŽูู’ุณูู‰ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ูู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู…ูŽู‘ุง ูŠูŽุธูู†ูู‘ูˆู’ู†ูŽ ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู‰ ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุคูŽุงุฎูุฐู’ู†ูู‰ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ููˆู’ู†ูŽ

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.”

Maka, tips perihal upload medsos sih barangkali ini: pertama, tidak berlebihan alias mengambil sikap pertengahan saja. Kedua, selain perlu tahan caci kami, perlu juga tahan diri untuk tidak berlebihan memuji. Ketiga, jaga hati. Jaga baper dan hasadmu pada orang lain, jaga ujubmu pada diri sendiri.

Barangkali banyak sekali hal yang bisa kita tunjukkan pada dunia sebagai bukti bahwa kita shalih, sukses, ataupun bahagia. Tapi di sisi lain, ingat lagi deh. Pujian itu berat, bisa menggelincirkan niat dan amal. Pun beresiko menjadikan orang lain baper or hasad.

Tsumma naudzubillahi min dzalik.

โ™กโ™กโ™ก

“PUJIAN. Meski tulus & harum, ia cuma parfum. Boleh dicium, jangan diminum. Lima dari 6 hurufnya pun UJIAN. Luluslah dengan ‘AlhamduliLlah’…”. (Ustadz Salim A. Fillah)

Parfum, jangan diminum. Nanti keracunan ๐Ÿ˜‰

โ™กโ™กโ™ก

*menulis adalah bercermin ๐Ÿ’™

Advertisements

Masya Allah Today

Standard

Masya Allah, I was proposed to write.ย For me, as a amateur, this is amazing. Really my first writing job. From hobby becomes salary aka fee. Laa haula walaa quwwata illa billah.

So I say, bismillahi tawakkaltu. Writing for syiar ๐Ÿ’™ย 

Screenshot_20180210-200702

Membeningkan Pikiran

Standard

Dulu aku sering bersamanya. Dalam suka duka, tangis dan tawa. Menggenggam banyak kesamaan pikiran dan perasaan, saling membagi cita dan rahasia. Sama-sama terlahir di Januari, saling memompa semangat dan membangun mimpi-mimpi.

Lalu, pada hari telah genap usia 30 kami, aku kembali bersamanya. Meski hanya lewat suara, tersambung lewat semesta. Berkisah, berbagi, mendengar, untuk saling mengerti. Masih seperti dulu, penerimaannya terhadap baik burukku. Masih seperti dulu, penuturannya membangkitkan jiwaku. Masih seperti dulu, dekat dengannya meluaskan sudut pandangku.

Masih seperti dulu, aku menyebutnya: Si Bening ๐Ÿ’™

Ternyata Bikin Resolusi itu Ngaruh

Standard

Takcritani. Ceritanya sih ya judul di atas itu intinya. Haha…

Setelah mengenali diri lahir batin, lalu menuangkannya dalam oret-oretan kertas, akhirnya saya nulis juga resolusi tahun ini. Terasa manfaatnya buat mengenali diri dan menentukan pijakan langkah ke depan #tsaaahhh

Kondisi saya kemarin, hari ini, dan pengennya nanti. Itulah acuannya.

Maka tertulislah beberapa resolusi diri yang diantara garis besarnya adalah:
1. Self healing.
2. Nulis, nerbitkan buku, ngikut lomba ini itu.
3. Merapikan dan mengembangkan rumah ngaji.
4. De el el… biar saya saja yang tau. Biar kalau gagal ya cukup saya aja yang tau (dan melas) wkwkwk.

Btw yah, dua bulan ini menarget diri 3 event. Tapi nyatanya pikiran bercabang kemana-mana, malah mandeg tengah jalan semua yang dirancang. Kebanyakan yang dipikir, kebanyakan tagihan, malah endingnya gak ada yang dikerjakan. Belum lagi kerjaan dunia nyata yang menuntut perhatian. Anak-anak yang sakit gantian, dibarengi abinya dinas ke Jakarta sepekan. Jadinya pas si kakak yang sakit, harus ke dokter bawa tiga anak. Dua anak sendiri, satu anak tetangga takminta nemeni dan momong si Cuid. Karena disuruh di rumah sama si mbake kagak mau dia. Trus acara-acara di luar yang harus didatangi, anak-anak yang harus diajar ngaji sore hari. Jadilah lelah juga Hayati. Proyek nulis yang sudah digadang-gadang di resolusi pun mandeg dulu lah. Nanti kalau otak dan jiwa raga sudah fresh lagi, semoga bisa kelar happy ending ๐Ÿ’™

Kadang saya tu cuma butuh cerita, butuh ngeluarkan isi otak dan hati. Dengan jujur. Bukan dengan gaya sok kuat sok tegar, tapi justru dengan mengakui kelemahan diri, rasanya lebih lega. Lantas selesai jadi katarsis dan kemudian bangkit. Pas buntu ide nulis pun demikian, seringnya sharing or tanya ke suami itu nihil hasilnya. Ngomong ngalor ngidul bahas sana sini… jebul sing ditulis dan diterbitkan ide yang lain. Trus ngapain juga diobrolin tadi? Ya buat melegakan tenggorokan aja. Ehh, melegakan pikiran maksudnya. Lega karena kebuntuan telah diutarakan. Lantas kalau sudah keluar sumpel-sumpelnya, bisa ngalir lah ide jernihnya.

Oke deh. Sekian dulu curhatan simbok yang menyepi ditinggal tidur dua bocah. Mari sekarang kita tunaikan petuah bijak: tidur dulu, pikir kemudian ๐Ÿ˜‚

Lupa Mengaca?

Standard

Dear, kamu. Oh sungguh sindiranmu itu mengenai sudut hati yang baper. Mengena pada orang yang kamu tuju. Tapi juga mengena pada dirimu sendiri. Sebenarnya sih gitu, kalau kamu nyadar.

Udah lah. Hidupmu hidupmu. Hidupnya hidupnya. Kamu mau tebar pesona senusantara, melevelkan diri ala-ala tokoh ternama, silakan weh. Trus kamu nyindir komenin orang lain, padahal kamu juga gak jauh beda. Di depan kamera ala-ala. Rekaman siaran ala-ala.

Stoplah merendah untuk meroket. Stoplah menjatuhkan untuk melambung. Pamormu di depan banyak orang so super. Cuma kadang kita gak nyadar aja ada orang-orang yang ilfil sama kita. Kita, iya kita. Sebab segala kalimat ini sebelum kutujukan kepadamu, pantasnya memang kutujukan kepada diriku sendiri. #KacaManaKaca

Satu lagi: stoplah kepo. Sudah mau nikah, eh sudah nikah pula, masa masih kepo ‘grup sebelah’? Kalau berujar sudah move on dan menilai tak pantas, kenapa masih kepo?

Oh mungkin karena baiknya kamu memastikan dia bahagia tanpamu. Begitu? Oh atau kamu pengen tau jangan-jangan dia nyindir-nyindir kamu?

Hello fellas. Pikiran macam itu tak akan ada ujungnya kalau dituruti. Dan akhirnyanya kepo lagi n kepo lagi. Dan apakah menjadi tenteram hatimu dengan kepo macam itu? Ora. Tenan, ora.

Jadi kalau benar move on, unfren saja, blokir saja. Atau bersumpah tak akan tengok lagi akun dia. Toh kamu sudah punya pasangan sendiri yang warbiasah lahir batin mulia membahana. Biarlah itu jadi bagian indah hidupmu dan cukupkan. Gak sah kepo tengok-tengok si itu masa lalumu yaaang… kamu nilai mengecewakan wkwkwk.

Hei you, fella. You are great, yes everybody knows. I tell u that, move on sesungguhnya adalah ketika kita stop kepo ‘grup sebelah’ dan menikmati setiap jengkal hidup sendiri. Menulis atau memposting apapun tanpa embel-embel niat “sambil nyindir si itu ahhh”. Ngono kuwi move on ki. Pokoke rasah mbok dilok lan rasah mbok lebokne pikiran lan ati segala apik eleke wong kae. Wes ngono.

Silakan baper karena segala kalimat ini berlaku untuk siapa saja (oh yes termasuk saya). Dah, ndower nih bibir ngecibris. #GincuManaGincu

Setahun Sudah

Standard

Kadang kita memang butuh jarak dan waktu, butuh jeda untuk tak bersama. Agar ada ruang terbitnya rindu, juga menguatnya doa.

Seperti kita, yang sudah setahun pisah tak saling sapa. Tepatnya aku yang beranjak meninggalkanmu. Karena bosan. Iya, alasan bosan itu bisa sekali menjadi alasan kepergian. Aku bosan denganmu yang begitu-begitu saja. Macam tak tambah mutu. Macam tak beranjak lebih bergairah. Macam tak menghasilkan faedah. Aku bosan lalu pergi. Meninggalkanmu dan tak peduli. Sebab jika alasan sudah dicari, pasti ketemu dan jadi.

Hai kamu. Terimakasih masih di sini. Di sudut yang sama. Menerimaku kembali. Dear, kamu. Blog haniself…ย 

Tralalaaa… bismillah ngeblog lagi yuk, wahai simbok yang sibuk sana sini. Sibuk nguber anak juga nguber setoran. Padahal diri sendiri diuber jadi buronan setoran ODOJ dan talaqqi Quran ๐Ÿ˜ช

Setahun sudah mendiamkan blog ini. Setahun juga tinggal di rantau nun jauh di timur nusantara. Lantas tak terasa waktu sudah beranjak cepat, tahun baru sudah berjalan, Januari tinggal sehari, Ramadhan sudah mau datang lagi di bulan Mei, anak sulung sudah mau sekolah, tanaman depan rumah sudah pada bertumbuh dan bertambah. Alhamdulillah… ๐Ÿ’™

Awal tahun baru orang-orang biasa punya resolusi. Target-target tahunan yang dibikin sebagai acuan mimpi. Tapi aku? Oalah, saya ini orangnya lempeng. Seringnya hidup ngalir aja macam anak sungai. Seringnya kalau nulis-nulis mimpi or resolusi gitu malah kok nggak tercapai-capai ya? Ini apa yang salah? Kurang realistis kah? Atau realistis tapi kurang usaha dan doa?

Seringnya apa yang saya dapatkan justru jauh dari yang saya angan-angankan. Tahun 2017 contohnya. Saya gak nulis resolusi blahblahblah apapun harus begini begitu. Eh, ada sih beberapa target di angan-angan tapi nyatanya juga gak kesampaian (kakehan mikir lan kurang eksyen we ki mbok wkwkwk). Namun alhamdulillah surprise demi surprise berdatangan. Omzet olshop (yang meskipun dijalankan dengan moody ๐Ÿ˜‚) tiap bulan selalu ada 7 digit, rumah ngaji yang ramai oleh santri, tulisan-tulisan yang lolos lomba dan jadi buku (padahal gak narget mau jadi penulis), juga hal-hal lain yang tak perlu disebutkan di muka infotainment.

See? Hidup saya gak sesuai angan-angan di awal, tapi gak nyangka juga melebihi ekspektasi. Jadi kadang saya berpikir, gak usah lah bikin-bikin resolusi tahunan yang tertulis. Daripada terkungkung dalam kerangka target-target yang kita buat sendiri, padahal hidup ini luaaasss sekali peluang-peluang kejadiannya. Ajiiib sekali lika liku misteri dan kejutannya. Jadi mending let it go, let it flow aja. Daripada nulis-nulis tapi nanti endingnya nyesek juga, “Huaaa, wishlist ku kok kagak ada yang tercentang ya??? Alias zong gak tercapai???” *Curhat, wkwkwk

Yang dia atas itu adalah pikiran emak males wkwkwk. Baiknya ya kita sempatkan waktu untuk memutabaah dan muhasabah diri. Apa yang sudah kau lakukan, apa yang sudah kau hasilkan. Apa yang kau harapkan dan belum tercapai. Apa yang kau impikan kemudian, lalu apa yang hendak kau lakukan.

Okeh, berbekal bismillah. Bar iki insya Allah aku tak nulis ahhh ๐Ÿ˜‰

Kolase Hikmah

Standard

~ Dompet yang Tak Pernah Penuh

Terkisah, suatu hari uang jatah persiapan kelahiran anaknya ia sumbangkan untuk seorang aktivis dakwah yang terserang sakit berat. Sang istri agaknya keberatan karena nominal tujuh digit rasanya terlalu besar untuk ‘sekedar’ donasi. Donasi kan biasanya berslogan ‘semampunya, seikhlasnya’. Terlebih kepada orang yang belum dikenal. Tapi ia berkata “Anak kita belum lahir, dan sekarang ada orang yang lebih membutuhkan. Beritanya sampai pada kita, barangkali ini jatah rezeki dia.”

Lain waktu, konon setiap kali dompetnya terisi banyak, akan ada orang yang datang butuh pertolongan. Sampai ada satu nominal uang yang jika sudah dikembalikan, akan ada lagi orang lain yang datang meminjam. Persis dengan nominal yang sama. Begitu terus. Semacam uang memutar. Datang dan pergi silih berganti seperti tidak mau berhenti.

Sedangkan si empunya berprinsip: “Jika punya harta diam (yang belum dibutuhkan atau belum akan digunakan dalam waktu dekat) kemudian ada orang membutuhkan, barangkali kitalah yang dipilih sebagai washilah pertolongan. Biarkan dia mengalir.”

Maka barangkali, celah kosong di dompet itu sebenarnya tidak kosong. Tapi terisi sesuatu yang tak kasat. Semoga saja pahala.

โ™ก โ™ก โ™ก

~ Satu Masuk Satu Keluar

Ada seorang ummahat yang punya kebiasaan baik. Setiap kali dia beli baju atau jilbab baru, maka harus ada yang hengkang dari lemari. Satu masuk, satu keluar.

Benarlah. Karena jika terus bertambah akan menambah sesak. Bukan hanya sesak lemari, barangkali juga sesak hati (karena hubbud dunya atau kikir). Maka diluaskan dengan sedekah, memberi dari apa yang dimiliki.

“Lepaskan apa yang ada di genggamanmu agar tangan kosongmu bisa menerima lagi.” Kata seorang ibu motivator bisnis, lupa siapa namanya.

โ™ก โ™ก โ™ก

~ Selalu Ada Untuk Dakwah

Sepasang sejoli yang telah berlalu dari tugas di muka bumi, memberi teladan bagaimana berkorban untuk dakwah. Dikisahkan oleh saudaranya bahwa mereka selalu ada untuk dakwah. Kalau tidak ada, akan diada-adakan. Sampai kalau uang sudah habis barulah nyengir sendiri.

Salah seorangnya pernah berkisah: “Dalam perjalanan saya merenung. Saya kok mau-maunya ya tandatangan akad hutang itu. Padahal bisa saja saya menolak atau berkilah, tapi Allah menggerakkan hati dan tangan saya. Kalau dipikir, kenapa saya mau menanggungnya? Demi apa? Tak lain demi cita-cita pendidikan dan dakwah yang saya cintai ini.” Kurang lebih intinya demikian yang masih lekat di ingatan.

โ™ก โ™ก โ™ก

Sejatinya harta yang akan kita ‘bawa’ justru bukan harta yang bersama kita. Tapi itu, harta yang meringankan penderitaan dhuafa, yang mengenyangkan perut fakir miskin, yang menyambung hidup anak-anak yatim, yang memudahkan jalan para santri, da’i, dan mujahid fi sabilillah, yang menghangatkan musim dingin anak-anak Palestina dan Suriah, dan lainnya.

Maka ini menjadi pengingat diri sendiri. Jangan bingung kemana menyimpan uang, tapi bingunglah kemana ‘melepas’ uang.

โ€œJika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantunโ€. (QS At-Taghabun:17)

Kata ‘pinjaman’ ini terasa motivatif. Karena manusia seringnya merasa yang dimiliki adalah kepunyaannya, maka Allah menghibur seolah-olah kita meminjamkan. Allah ‘pinjam’ saja kok. Kamu tidak akan kehilangan, nanti juga pasti dikembalikan. Maksudnya, pasti akan mendapat balasan yang bahkan tak terkira jamaknya.

“Alangkah indah orang yang sedekah, dekat dengan Allah, dekat dengan surga. Takkan berkurang harta yang sedekah, akan bertambah, akan bertambah.” (Lirik lagu Opick)

Hadanallaahu waiyyakum ajma’in. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kami, dan kamu sekalian.