Category Archives: fiktif syalala

Secuplik

Standard

Cinta sejati selalu menemukan jalan.
Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Termasuk “kebetulan2” yang menakjubkan.
–Tere Liye, novel “kau, aku & sepucuk angpau merah”

Orang2 yg merindu, namun tetap menjaga kehormatan perasaannya, takut sekali berbuat dosa, memilih senyap, terus memperbaiki diri hingga waktu memberikan kabar baik, boleh jadi doa2nya menguntai tangga yg indah hingga ke langit. Kalaupun tidak dengan yang dirindukan, boleh jadi diganti yg lebih baik.
–Tere Liye

Ramadhan dimulai…

Standard

Adzan maghrib berkumandang, hitungan Ramadhan dimulai.
Termasuk hitungan poin plus2 pahala di bulan ini, dimulai :)

Selalu ada yg special di Ramadhan, selalu ada yg istimewa dan luar biasa dalam banyak hal. Sepertinya di bulan Ramadhan, hawa2 surga makin dekat saja, nuansa2 khusyu’ semakin terasa, aura2 sholih makin terlihat, suasana2 islami lebih mencuat, bau2 masakan sedap juga makin tajam tercium mengundang para FPI (Front Pemburu Ifthor,huehee) untuk menjelajahinya. Kubayangkan, mungkin gambaran Islam berjaya itu salah satunya seperti pada saat Ramadhan begini, dimana shaf shalat di masjid selalu penuh, dengung tilawah Alqur’an terlantun, para muslimin berduyun2 meramaikan masjid, memenuhi kotak infak, berlomba dalam amal sholih. Itulah salah satu alasan kenapa Ramadhan selalu dinanti, selalu dirindukan. Selalu syahdu, selalu mendalam. Dan kami pun bersyukur sedalam2nya, dipertemukan kembali dengan bulan ini.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Allah menjadikan kita hamba2 yg semakin bertakwa.amin

*salam Ramadhan dari kami,
hanis,fachri,rafa :D

BLW in my view is…

Standard

To give u a chance and a challenge to explore the pure taste and textures,
to encourage u the real process u’ll face later,
to train u having best attitude and manner in the future,
to teach u how to be independent,
to experience u naturally,
to make u understand and having awareness to do happily.
For all that reason we chose this way.
and for all messy u made..that’s okay..we do love and proud of every single way u learn, Son :)

~BLW,we find so many advantages of this way

Masih Saja Sama

Standard

Telah terjeda beberapa lama, namun kudapati dia tidak banyak berubah. Kebaikannya, yg kumaksud. Dalam pandanganku. Karena apa yg luput dari inderaku tentu saja tak bisa kunilai. Yang kutangkap tentu apa yang kudengar dan lihat. Dan itu cukup membuatku bergumam lirih: dia tidak berubah, masih saja sama.

Dia yg selalu berpikir lebih dari yg lain, dia yg selalu punya daya peka dan peduli lebih dari yg lain, dia yg selalu berinisiatif lebih dulu. Yang membuatku tetap saja terpesona pada akhlaknya adalah: bahkan pada hal2 sepele, kebaikan kecil pun dia begitu care, dia istimewakan sesuatu yang remeh. Dari sekian orang lainnya, hanya dia yg punya ide untuk sedemikian peduli. Cuma perhatian sederhana sebenarnya, bukan juga kepadaku. Tapi itu cukup membuatku tetap mengaguminya.

Dia tidak berubah. Masih saja istimewa. Maka kami pun, tak berubah mengistimewakanmu, dan mendoakanmu semoga senantiasa dijaga oleh Allah dengan sebaik2 penjagaan, dijadikan baik segala urusan, dijodohkan dengan sosok yg baik pula.

~aku dan bening, saat mengenangmu..kawan :)

Rafa itu…suka men-cilukba orang

Standard

Ini adalah salah satu kebiasaan ramah anakku: ngliling orang. Sejak kecil (sekarang masih kecil juga sich) dia suka menyapa orang dengan tersenyum bahkan sebelum orang tersebut menyapanya. Jadi bikin orang gemes sama dia. Kata orang Jawa: bocah sumeh, grapyak, atau murah senyum dan ramah bahasa indonesianya. Tapi tak jarang juga sapaannya bertepuk sebelah tangan. Pas dia sudah senyum2 manis, saat itu belum punya gigi, eh orang yg dia pandang tidak menggubrisnya. hi3. Tapi nyatanya dia tak pernah jera.

Semakin besar ini, Rafa makin ada2 saja polahnya. Suka main cilukba ngliling abi dan uminya. Misalnya dia tutupi wajahnya pakai kelambu atau kain, lalu dibuka sambil bilang ‘Baaa…’ sembari menunjukkan senyum tembem dan giginya yg lucu. Lebih menggemaskan lagi karena Rafa juga suka men-cilukba orang yg tidak dikenal. Seperti kemarin di kereta, saat berjalan mencari nomor tempat duduk di dalam kereta, tiba2 Rafa yg sedang kugendong memajukan badannya dan menarik2 lengan baju mbak2 yg di depanku. Mungkin mbaknya kaget juga, kemudian si mbak menoleh ke belakang dan Rafa langsung senyum lebar sambil bilang ‘Baaaa…’ ya Allah, sontak aku dan si mbak pun ketawa. Akhirnya si mbak tadi ngudang Rafa sambil jalan cari kursi.ha3. Begitupun cerita serupa di dalam kereta, dia sering tiba2 menyapa orang2 dengan cilukba-nya, senyum ganteng plus pamer 6 giginya, kemudian dia ketawa2 nyengir sambil tepuk tangan riang. Hmmmh, anakku subhanallah. Hati siapa yg tak terpesona disapa bocah unyu begini.. :)

K-mie di Jogja

Standard

Saya bukan K-pop lovers, hanya saja malam itu pengen nyobain mie korea deket rumah, Kotagede, Jogja. Ancer-ancernya, kalau dari arah Warungboto ke selatan terus, sampai ketemu perempatan lampu merah jalan gambiran, pas pojok kiri jalan disitu warung K-mie.

Desain warungnya cukup simple tapi elegan, dan bernuansa korea gitu. Menunya diberi nama dengan grup band-grup band korea semacam SNSD mie, DBSK mie, dll. Porsinya ada dua macam: super junior dan big bang, dengan harga kisaran 7000 sampai 13.000. Kemarin kami nyoba yang rasa Hot Spicy dan Black Pepper, ternyata yang Black Pepeer (pilihan suami) lebih enak., aroma dan rasa blackpepper nya krasa banget. Mak nyusss tenan! Memang, dia selalu tepat memilih… *termasuk memilihku, wkwkwk*

Ini dia K-mie…

k-mie jogjaTapi fotonya kurang keren, heheeh.

Na yang ini, artis K-mie nya lagi begaya. eheheehhhh…

artis k mie

Ternyata Begini Rasanya Dipoligami :D

Standard

Sepertinya ini suasana ba’da isya’, sepulang dari mushola. Kita berjalan menaiki sebuah tangga tinggi. Tak tau kenapa rasanya aku lelah sekali menapaki anak-anak tangga ini. Kenapa sih jalannya setinggi ini, pikirku. Aku berjalan di depan mendahuluimu yang masih di anak tangga bawah, kau berjalan perlahan sambil menyapa dan menanggapi sapaan tetangga. Meski aku di di depan, masih bisa kudengar jelas sapaan dan ucapan dari mereka untukmu. Memberi selamat. “Selamat ya ustadz, semoga bahagia..”  “Selamat menempuh hidup baru ustadz..” dan ucapan-ucapan senada, kau pun sibuk mengucap terimakasih dan mengamini. Padahal aku berharap kita cepat sampai rumah. Bersamaan.

Aku yang memasuki pintu rumah terlebih dahulu. Dan terbersitlah ingatan bahwa malam ini akan terjadi hal besar itu. Dadaku mulai sesak, mungkin wajahku juga mulai tampak merengut. Tak bisa kupungkiri sebuah rasa: aku bersedih! Mulai kudengar tapak kakimu memasuki ruangan. Sebenarnya aku tak ingin kau mendapati wajahku yang sekarang. Aku ingin kau bahagia malam ini, pun aku. Aku ingin kita sebahagia dulu saat melalui hal serupa. Berusaha kusenyum-senyum maniskan wajahku, berharap kau akan bahagia malam ini, bukan sebaliknya.

Sedang kutatap cermin besar di dinding, sembari menatap bayanganmu yang mendekatiku dari arah belakang. Kutepis-tepis pilu agar sedikit menyingkir dari batinku, setidaknya tak perlu terukir di wajahku.

Kurasakan kau mendekat memelukku. Dapat tercium jelas olehku aroma wangi melati yang menghiasi gaun hijau muda-mu, yang mengalung indah melengkapi riasanmu malam ini. Harum yang menyesakkanku.

“Malam ini ya?” tanyaku. Jika tak kumulai bicara mungkin air mataku yang akan mendahului.

“Iya.” Singkat jawabmu.

“Cepat sekali.” Datar…sehambar hatiku yang semakin memilu. Kupejamkan mata, sungguh tak mampu menatap matamu, tak kuasa jika harus kau temui mataku yang menyiratkan rasa tak rela.

“Prosesnya sudah dua bulan. Mereka minta disegerakan.” Jelasmu.

Memang tak perlu banyak kata, karena kita sudah sama2 tahu untuk apa ini harus terjadi. Mataku memanas. Teringat janji pernikahan kita: tak boleh ada ‘orang ketiga’. Tapi sekarang? Tiba-tiba kita merubah arah kesepakatan kita. Aku tau ini karena mereka, bukan inginmu sendiri. Atas nama jamaah, demi dakwah, dengan rasionalisasi yang complicated, kau pun menyetujuinya. Dan aku, menyetujuinya pula. Tapi rasanya sekarang meski kuusahakan sekuat hati mengikhlaskan, tapi tetap saja… tak bisa kutahan gejolak rasa yang membuncah. Jelas kurasa tanpa bisa kutepis: aku cemburu! Kupastikan aku tak kan mampu menyaksikan akadmu, dengannya.

Oh Allah…dadaku terasa sesak…sesak sekali. Masih memejam mataku, berharap bisa membendung lelehan air mata. Tapi nyatanya tak bisa. Sembari sesenggukan, meskipun kutahan-tahan tetap saja membuat badanku bergetar. Kita berdua masih berada di depan cermin besar di dinding. Kau hanya diam, mungkin juga dengan campur aduk perasaan. Aku masih yakin, aku masih merasakan, akulah yang kau cinta, tapi ini harus terjadi. Angan dan ingatanku melayang ke berbagai penjuru. Padahal aku berharap bisa tegar, ternyata nihil.

Dalam sekejab aku merasa seperti tak sadarkan diri, hanya sayup-sayup kudengar suaramu dan si kecil. Sepertinya berada di dekatku. Perlahan kubuka mata, masih kurasakan sesak dadaku, panas mataku, terasa seperti habis menangis tersedu-sedu. Sekarang benar-benar terbuka mataku, terkumpul kesadaranku, dan ternyata… kudapati kau sedang bercanda ria dengan si kecil, di sampingku.

Aku terbangun dari tidur. Kau dan si kecil tersenyum manis bersamaan ke arahku.

Ya Allah… ternyata AKU HANYA BERMIMPI!! hahaahaaa… jadinya ketawa2  geli sendiri (ada sebel juga sich).

Huuufffttt, alhamdulillah hanya mimpi. Tapi kenapa pula mimpinya macam itu..?!! Wallohua’lam, tapi setidaknya di dalam mimpi itu aku bisa merasakan hal: ternyata begini rasanya dipoligami. hahaahaaa…

Quote

“ASI adalah cairan positif, bukan cuma kandungannya, tapi juga emosi yg terkandung di dalamnya. ASI akan keluar maximal jika ibu dalam keadaan senang, santai, dan keadaan positif lainnya, dan akan terhambat keluar ketika ibu dalam keadaan sebaliknya. Tuhan seperti tidak rela ada unsur2 negatif masuk ke tubuh bayi lewat ASI. Itu sebabnya ASI lancar kalau ibu berfikir positif.”

>buku catatan ayah ASI<