Tag Archives: Rafa Albanna

Saat Kakak Minta Sekolah

Standard

Sebenarnya aku dan abinya ingin Rafa belajar di rumah saja. Tapi ternyata kakak Rafa kembali teringat pada sekolah dan terucap olehnya minta sekolah. Suatu saat pas mau kupakaikan kaos, mintanya baju batik dan bilang “Umi, Yapa mau olaaah… Mauuu…mi.”

Aku jadi berpikir, memang bagaimanapun, main sama umi tu beda feel nya dengan main sama teman sebaya. Sesenang apapun main sama umi, anak tetaplah pengen punya teman main sebaya. Yang gaya bahasanya sama, pola pikirnya serupa, ide2nya sejalan, itu adalah teman sebaya. Bagi orangtua, bermain itu adalah main-main tapi bagi anak bermain itu serius. Tentulah feel asiknya beda.

Akhirnya pas ajaran baru kemarin mulailah dia bersekolah di Paud. Jadi udah sekitar satu semester ini dia sekolah. Hari pertama masuk kutemani dia, meskipun sebenarnya aku yakin dia berani tanpa ditunggui, seperti biasanya. Rafa adalah anak supel pemberani dengan daya adaptasi yg sangat2 bagus alhamdulillah. Dimanapun, dengan siapapun, dia cepat sekali adaptasinya, selalu enjoy, akrab dan pintar bergaul. Ramah dan sumringahnya itu jaaan tenan masyaAllah. Dulu pertama kali dia di daycare sekitar umur 11 bulan, di Jogja. Ketika itu aku hendak sekolah lagi (ah…cerita ini, skip!). Di hari pertama, pengalaman pertama dia di daycare bersama bunda guru dan teman2 yg baru dikenal…dia langsung enjoy, asik sekali. Ketika kami antar dia ceria, tanpa tangis. Pun saat kami jemput. Ceria. Sumringah. Selalu begitu. Maka jika ada tempat dimana dia kok kurang ceria, motor berhenti kok tidak segera turun (padahal tiap kami berhenti dimana saja dia selalu minta turun), diantar masuk kok flat ekspresinya, pas dijemput raut mukanya beda, maka kami perlu memberi tanda tanya. Ada apa dengan tempat itu??? (dan cerita bagian ini juga di-skip saja).

Hari kedua dia diantar mbahnya. Pas mau berangkat dia pamit “Umi, aliim.. (salim). Yapa olah, umi.” Riang gembira dia pamit, salim, dan salam. Berseragam, menggendong tas, lalu berlari unul..unul..unul. Haha…trenyuh atiku. Padahal belum juga genap tiga tahun saat itu. Semangat banget pengen sekolah.

Aku jarang menyaksikan bagaimana dia saat sekolah. Karena paling aku hanya antar dan jemput. Hanya kadang aku menjemput lebih awal pengen tau kayak apa dia di sekolah. Ya begitulah dia…asik dengan idenya sendiri. Saat temannya duduk diam, dia panjat2 meja. Temannya nyanyi2…dia merangkak2 pura2 jadi dinosaurus. Teman2nya belajar membaca, dia lompat2. Haha. No matter Boy, take ur joy.

Suatu waktu, aku juga menemukan hal2 yg mengagumkan darinya saat di sekolah. Suatu saat pas mau pulang, di tengah keriuhan ada mbak kecil yg menangis. Setelah Rafa mengambil lukisannya yg dijemur…dia masih diam saja memandangi lukisan2 teman2 yg berjejer di halaman. Ternyata dia mencari lukisan mbak kecil yg menangis, dan memberikan pada mbak kecil itu. Dia mungkin berpikir…dikasih lukisannya biar diem. Tapi btw, kok dia hafal ya lukisan mbaknya yg mana.

Suatu saat yg lain, ada mas2 anak TK yg celananya kedodoran sampai menyentuh lantai. Tiba2 Rafa mendekati lalu melipat celana mas kecil yg sedang terpaku berdiri. Mungkin dia risih liat celana masnya kedodoran..hihi. Inisiatifnya itu lho, masyaAllah. Padahal tidak kenal juga sama masnya itu.

Kapan hari ibu guru bercerita bahwa Rafa ini pintar banget main puzzle. Cepat dan tepat. Belum ada temannya yg secepat Rafa mainnya. Kadang dikumpulin 5 puzzle, lalu disusun dengan cepat dan tepat.

Haha. Ya begitulah lucunya Kakak Rafa :D

Rafa 2 tahun..!!

Standard

Hari ini tanggal 20 Ramadhan 1435 H,milad hijriyahnya anak kami Rafa. Ya Allah, sudah 2 tahun hamba menjadi seorang ibu. Rasanya tu,haru bangettt,telah melewati perjuangan yg berdarah-darah. 2 tahun yg lalu di hari Ramadhan yg ke 20, pukul 09.20. Masih ingat gimana dulu kepayahan sehabis prosesi melahirkan si bocah dengan BB 3,7kg dan panjang 53cm ini, jg masih canggung segala hal untuk mengurusnya..ya cara menyusui lah, cara memangku, cara menggendong, canggung semua. Ewuh, ra pener2…bahasa jawanya. Kupandangii dia saat lelap, sambil mbatin takjub Ya Allah, kok bisa ada makhluk lucu ini dalam jasadku, hidup dalam satu nafas, dalam satu denyut darah yg sama…dan sekarang dia menampakkan wujudnya. Yg bikin aku penasaran banget saat hamil kan pengen liat penampakan si bocah: dia seperti apa, wajahnya mirip siapa, seperti apa matanya, hidungnya, senyumnya, hehehe. Trus kupandangi dia, sambil mikir…bocah sebongsor ini, kok muat ya di perutku, Allah Maha Kuasa ‘melipat’ dia sedemikian rupa sehingga aman dan nyaman bersemayam di rahim ibu selama 9 bulan.hihi

Hari ini, genap usianya 2 tahun Hijriyah. Dia sudah tumbuh dan berkembang pesat jadi anak sehat, sholih, smart, ceria, lincah, pemberani, empatik. Dia sudah lebih banyak berkata2, manisnya saat dia memanggil2 “ummiii…bbiii…”, empatiknya dia, lincah motoriknya, pintarnya menirukan gerak gerik dan ucapan di film atau lagu, menirukan expresi gambar di buku, menghafal doa2 meskipun baru bs melanjutkan satu atau dua suku kata terakhir, mengikuti gerakan sholat dengan caranya yg lucu, dan banyak lagi asosiasi logikanya yg menampakkan kecerdasannya. Memang anak2 usia segini banyak membuat kita feel amazing. Surprise2 yg happily surprising.

2 tahun menjadi ibu, yes im not perfect yet. Ada kekeliruan2 yg kualami, penyesalan2 juga ada. Semua itu adalah pelajaran berharga sebagai seorang ibu. Termasuk dalam hal penyesalan, keteledoran adalah salah satu pelajaran besar buatku. Contoh: pernah suatu saat Rafa terjatuh, saat dia berjalan dan membawa piring plastik. Itu piring kebentur ke giginya sampai patah 1 gigi seri atas. Berdarah tentu, menangis pasti. Dan yg nangisnya lama dan berhari2 justru emaknya. Meskipun abinya selalu menenangkan, “Sudahlah lah cint, sudah terjadi. Lihatlah Rafa juga baik2 saja, dia ceria..” Haah,, sudah2 gimana. Ini hatiku masih pedih oleh sesal rasanya. Jd biarin nangis, pokoknya pengen nangis *dasar wanita, kalo udah pake perasaan dikasitau yang logis realistis juga gak trima. Emang menyesal banget rasanya tuh,, kenapa tidak menunda pekerjaan yg lain saat itu. Memang kami tidak punya ART, jadi semua kerjaan dikerjakan disambi2 momong. Sehabisnya jadi refleksi, ya Allah…pekerjaan bisa ditunda nanti. Yg tidak sempat bisa dicari lain solusi: nyapu bisa nanti2, cucian bisa dilaundry, makanan bisa beli…tapi 1 detik yg lalu saat anakku jatuh, aku tidak bisa meng-undo-nya. Waktu adalah waktu. Sekejab dia pergi, tak kan pernah kembali. Yg ada adalah menerima takdir dan mengambil hikmahnya. Nangis bombay bener pas momen ini. Yg ditangisi justru santai2 aja, dengan wajah empatiknya dia ambilkan jilbabku. Kupikir disuruh pakai, ternyata dia sodorkan buat ngelap air mata uminya. *antara nangis haru dan pengen ngakak*

Pelajaran lain masih tentang gigi Rafa. Di usianya ini gigi seri atas sudah mengalami caries. Padahal sedari awal punya gigi, aku rutin membersihkan, dulu pakai kasa sampai sekarang sudah bs pakai odol dan sikat gigi. Tapi giginya tetap saja rapuh. Aku tidak terlalu paham tentang distribusi kalsium dalam tubuh, apakah benar ada tipikal anak yg distribusi kalsiumnya lebih ke tulang daripada gigi? Ah, apapun itu. This is a lesson for me as a mom.

Another great lesson menjadi ibu adalah KESABARAN. Tak capslock itu kata supaya notice banget poin ini. Kata orang, sabarnya seorang ibu itu harus selautan. Etapi laut itu ada pasang surutnya juga ya. Begitu juga dengan kesabaran ini, aku masih terus berlatih. Karena waktu demi waktu, si bocil ini semakin menguji kesabaran juga. Sejujurnya poin ini, aku kalah sama suami, yg sabar dan lembutnya luar biasa *mewarisi sifat sang ibu* termasuk dalam menghadapi Rafa. Nadanya bicaranya, caranya bersikap pada Rafa, bikin aku malu sendiri pas aku lagi bete (dalam hati bergumam..ya Allah, kenapa aku tak bisa seperti dia). This is it, im so grateful having him. Seperti yg dia katakan suatu waktu, “Cint, anak yg dibesarkan dengan cinta dan kesabaran, insyaAllah dia akan tumbuh dgn optimal” Juga saat dia menasehatiku “Cint, kalo aku pas pengen marah tu, mesti kutahan dgn diam, diamkan aja dulu sebentar. Pokoknya jangan sampai keluar jadi kata2 atau perbuatan yg disesali.” Resepnya adalah: diam. Kata2nya ini, menancap dalam di relung hatiku *ceileh

Pengennya, start 2tahun ini program edukasi untuk Rafa mulai dirutinkan dan terjadwal macam habit training gitu. Etapi kok belum bisa terlaksana ya *krik..krik.. -,-

Mengingat milad anak, bagi kami letak pentingnya bukan pada selebrasi, tapi lebih menjadi momen refleksi kami sebagai orangtua dan mensyukuri nikmat2 Allah untuk kami. Ramadhan 2 tahun lalu, Allah memberi kami hadiah terindah, menghadirkan engkau sebagai qurrota a’yun kami…anakku Muhammad Rafa Ranu Albanna. Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan atasmu selalu.

“Allohummaj’alhu minassholihin,waj’alhu robbiy rodhiyya,waj’alhu min ahli faqqihu fiddiin,waj’alhu min ahli faqqihu qur’an,waj’alhu minal mujaahidiina,wa minas syuhadaa’ wamin ahlil jannah..amin.

*great love,pride,n prayer-abi.umi

Begitulah ibu :)

Standard

Baru selesai sholat, baru juga menengadah tangan, si bayi bangun dan merengek. Tak jadi lah doa dilanjut, apalagi sholat sunnah, pun tak sempat berlama2 untuk dzikir panjang. Ganti meraih si bayi.

Kadang, belum juga salam mengakhiri sholat, si bayi rewel menangis. Jadilah sholat dipercepat, seusainya langsung menangani si bayi, tanpa sempat tengadah tangan berdoa.

Suatu ketika, baru juga takbiratul ihram memulai sholat, si bayi menangis pula tak mau ditinggal. Maka dibatalkanlah sholat, digendong sang bayi sembari sholat. Atau ditunda hingga si bayi tenang.

Wudhu pun, berkejaran dengan waktu, khawatir kalau2 si bayi lincah yg baru belajar duduk atau merangkak tiba2 bergerak kesana kemari dan jatuh.

Begitulah ibu. Banyak urusannya terjeda oleh prioritas menangani si bayi lucu, termasuk urusan ibadah. Kadang berpikir, tak lagi bisa jenak sejenak dulu untuk berlama2 terpekur sholat, berdoa, atau berdzikir. Kecuali saat si bayi tidur lelap lapp. Padahal banyak daftar permohonan yg ingin terlampir dalam doa2.

Tapi kemudian merenung-renung… Untunglah Allah itu Maha Baik memberikan kita banyak kesempatan untuk berdoa. Bahwa waktu2 pengabulan doa yg mustajab tak hanya selepas sholat. Tapi juga saat2 setelah adzan sebelum iqomat, saat malam hari/ sepertiga malam, saat turun hujan, saat mendengar ayam berkokok, saat hari Jum’at, saat safar, saat berbuka puasa. Bahkan setiap saat kita berdoa, sambil ngeloni atau momong anak, bisa2 saja. Bahkan di tengah kerepotan2 ibu, Allah mengistimewakannya, bahwa doa2 seorang ibu itu tak terhijab. Maka menjadi keberuntungan lah bagi ibu, untuk berdoa kapanpun ia mau, kapanpun ia sempat. Berdoalah kapanpun kita ingat deretan permohonan kita. Begitulah ibu :)

Catatan si Boya: Cerita BLW Selanjutnya

Standard

*ini juga postingan yang tertunda*

 

Hello moms, dads. Okkeh..dilanjut ya cerita tentang BLW Rafa.

Jadi, setelah saya dan abinya menggali ilmu pengetahuan per-MPASI-an dan memutuskan akan menempuh metode BLW, tahap persiapan selanjutnya, jauh-jauh hari sebelum start MPASI saya lakukan juga pillow talk kepada Rafa. Pillow talk itu…ngomong sama bantal? hehehee… Bukan. Pillow talk itu metode hipnosis dalam, bentuk dari metode hypnosleep, semacam sugesti oleh orangtua kepada anak saat tidur. Jadi kan, manusia itu saat-saat hendak tidur, gelombang otaknya akan turun dalam kondisi alpha, theta, dan delta. Sedangkan gelombang otak untuk sugesti hipnosis adalah alpha dan theta, kira-kira pada 1-5 menit pertama saat anak baru mulai tertidur. Kondisi ini merupakan saat-saat dimana alam bawah sadar manusia mudah merekam informasi/sugesti. Simpelnya, kondisi yang tepat untuk menerima sugesti dan diharapkan nantinya termanifestasi dalam bentuk perilaku *ingatkan ya klo teori yang saya pahami kurang tepat, maklum baru belajar. Nah, momen ngeloni si kecil adalah momen pillow talk itu. Sambil nyusui, usap-usap kepalanya, belai lembut, sambil bacakan doa-doa, kemudian ucapkan padanya kalimat-kalimat sugesti kita. Pastikan berupa kalimat positif dan deskriptif.

Pillow Talk untuk Rafa

Menuju hari H MPASI, saya mencoba menerapkan teori di atas. Setiap ngeloni Rafa, selesai membacakan doa-doa, saya mulai ucapkan kalimat2 sugesti tentang BLW. Step by step. Mulanya saya jelaskan tentang apa itu BLW, kenapa saya dan abinya memilih BLW, apa rasioalisasinya, keunggulannya, dll yang teoritis. Memang menyalahi aturan pillow talk ini, kebanyakan kalimat dan complicated, tapi saya pikir…no matter lah, toh sebelum2nya juga kami sering bercerita panjang lebar ke Rafa saat dia sudah tidur sekalipun, hehee. Setelah beberapa hari pillow talk dengan konten teoritis ini, beranjak ke arah teknis. Berubah tema sugesti: tentang apa yang perlu dilakukan Rafa dalam BLW. Antara lain saya ucapkan kalimat2 motivasi: “Mas Rafa anak hebat…suka makanan sehat, main aktif bersemangat, maem mimik lahap…boboknya bobok lelap.” Berlanjut hari-hari berikutnya menambahkan kalimat tentang apa-apa yang perlu dilakukan Rafa saat makan nanti: “Mas Rafa ambil makanan, pegang, masuk mulut…hap! Gigiiiit…trus…kunyah-kunyah-kunyah, kalau sudah lembut…ditelan. Hmmmm…! Kalau ada yang tidak bisa ditelan, mas Rafa lepeh…dikeluarkan, didorong pakai lidah.” Kurang lebih demikian kalimat yang saya ulang-ulang tiap harinya, setiap menidurkan Rafa. Well, mungkin kalimat saya kadang kurang tepat secara teori, karena kadang saya mix antara rasionalisasi, motivasi, dan aplikasi. Jadi panjaaaang sugestinya, hahaha. But see, it really works! Biidznillah, of course :D

Hari Pertama Rafa BLW: GREAT!

This is it! Tau gak sich, rasanya anak mau start MPASI tuh ada rasa deg-degan ternyata di hati ini. Rasanya kayak ngerasain anak kita mau ujian kenaikan gituuuh, antara was-was dan harap-harap bahagia, sukses gak ya…? Gituh!

And the day comes…

Prinsip BLW so simple, manfaatkan sumber daya sekitar, gak perlu repot-repot juga memproses makanan untuk bayi. Nah, karena niat awal nyoba melon buat Rafa gak nemu, adanya pisang ambon…yaudah deh, MPASI sekaligus BLW episode 1 dimulai dengan pisang. Saya potong kulit bagian atas, dan menyisakan kulit bagian bawah supaya tidak licin dipegang. Bismillah, sajikan di depan Rafa. Apa yang terjadi pemirsaaaa…? Dia langsung meraih tuh pisang, dipegang sebentar, lalu langsung masuk mulut. Memang dia dalam masa oral, masa emut2 segala benda dan makhluk. Tapi ini…dia bisa gigit tuh pisang, potongan besar lagi, lalu dikunyah2. Wowww! Impressed laaah. Secara dari sharing mama2 di grup, macem2 polah bayi menghadapi makanan pertamanya. Ada yang cuma dilirik, dipelototin, dilempar2, atau dibejek2 sampai luluh lantak di tangan, tray, dan lantai…ada yang dibuat masker, lulur, dan kramas, ada yang hanya digigit lantas dilepeh2, dan lain2 tingkah lucu bayi2, hihiiii *gemeeessssh! Dan itu variasi, ada yang terjadi di usia 6,7,8, bahkan 9 atau 10 bulan lebih, memperlakukan makanan sedemikian unyu-nya. Nah ini Rafa, di hari pertama dia menghadapi makanan, langsung bisa meraih, memegang, masuk mulut, gigit, dan kunyah. So appreciated! But wait, what happened next…?

Gagging…the first and no more!

Hari pertama Rafa menghadapi makanan pertamanya (non ASI), dia melahap potongan besar sekali di mulutnya. Belum juga halus dikunyah dan ditelan, dia masukkan lagi potongan berikutnya. Dia belum mampu mengontrol kapasitas makanan yang bisa diproses di dalam mulut dan yang bisa ditelan. Nah, saat berusaha menelan kumpulan makanan di mulutnya, terjadilah: gagging alias keselek (bukan tersedak ya, beda itu). Hwuaaaa…Rafa keselek, saking kebesaran makanan yang mau ditelan, lantas nyangkut di tenggorokan. Saya dan abinya stay calm, menepuk pelan punggungnya sambil mengarahkan…ayo, dikeluarkan dek. Dia masih berusaha dan tampak kesulitan, lalu…berlakulah mekanisme alami tubuhnya untuk mendorong makanan keluar: Rafa gumoh, dan meluncur potongan-potongan makanan yang mengganjal tadi. Subhanallah, jujur saya sempat panik dan khawatir, karena Rafa juga agak mewek, yaiyalah…gak enak kan rasanya muntah itu. Setelah baikan, saya gendong dia. Sempat mengajukan opsi ke abinya, “Tak coba suapin ya…” tapi terpatahkan oleh sergahan lembutnya, “Cint, ini hari pertama Rafa, baru saja Rafa mencoba belajar, kita liat sendiri kan dia sudah bisa apa…hanya kurang menelan yang dia belum bisa. Ini sudah bagus sekali…ini hari pertamanya, Cint. Ayolah, yakin Rafa pasti bisa. Jangan patah semangat!! Ya…?” well done, I’m so motivated! Okkeh sayang, i’ll trust you Son :D

Benar saja, alhamdulillah…Rafa sangat cepat belajar. Percaya atau tidak, peristiwa keselek dan gumoh tadi hanya terjadi di hari pertama Rafa BLW. Selanjutnya sampai hari ini, dia selalu berhasil menelan makanan, dan mendorong remah2 yang dia tidak bisa telan. Alhamdulillah, tidak pernah sampai nyangkut apalagi muntah. Dia memperlakukan makanan persis seperti yang saya sugestikan (dan kami doakan), dia langsung mampu mempraktekkan kelima skill makan: meraih, memegang, menggigit, mengunyah, dan menelan, serta mengeluarkan makanan yang tidak bisa ditelan. Benar2 saya dan abinya terkagum dan bersyukur sekali pada Allah yang telah memudahkan. Dan kami memberinya nilai GREAT sebagai pemula BLW. Mungkin saat keselek itu dia mikir, ooh…aku gak boleh gigit terlalu banyak makanan, secukupnya ajja di mulut. Trus aku harus kunyah lembut dulu sampai bisa kutelan, biar engga nyangkut yah… klo gak bisa mending kulepeh ajja maemku… hihihiii, imajinasi saya atas pikirannya. Ohya, pillow talk terus berjalan yaa, seiring perkembangan Rafa. Kami memaknai ini sebagai sebuah ikhtiar : )

Challenge!

Fine, BLW berjalan lancar, alhamdulillah. Tapiiii…sebagai seorang emak2, haduuuh…emak mana sich yang gak gatel pengen nyuapin anaknya. Ini hasil survei saya ya, rata2 ibu2 tuh gemesss banget pengen nyuapin. Saya pun demikian, rasanya kayak enggak sempurna gitu menjadi ibu tanpa menyuapi sang anak *hehey…lebay nggak sich. Namun alhamdulillah, suami saya yang berperan menjadi sosok yang super sabar dan disiplin yang selalu mengingatkan, “Ummi, ingat prinsip2 BLW. Biarkan Rafa belajar dan eksplorasi. Konsisten yaa…” heheee…*malu sendiri* Di saat banyak ibu yang galau karena minim dukungan suami untuk BLW, eh ini suami mendukung penuh, malah saya nya yang rempong, wkwkwk. BLW memang bukan berarti no suap-menyuap sama sekali lhoh, tapi prinsipnya, boleh menyuapi selama si anak yang minta, tanpa pengalihan perhatian, tanpa ada paksaan. Uniknya, Rafa ini malah susah disuapi, banyakan malah mingkem. Jadi cara saya mencoba, misalnya kemarin pas maem nasi plus kuning telur, saya arahkan tangan saya di depannya (tidak ke mulutnya ya), kalau dia memang mau maem, ternyata dia akan menarik tangan saya ke arah mulutnya, dan…nyamm, hap…hap. Begitu sampai selesai makan, saya yang memegang suapan nasi, dia yang mengarahkan tangan saya. Pinter…dia mengambil cara praktis, hehehe. Nah, ada lagi yang wow, ternyata selanjutnya dia punya mekanisme penolakan. Kalau sedang tidak mau disuapi atau tidak mau disajikan makanan, pasti: langsung ditepis tangan saya atau piring yang saya sajikan. Saya ulangi beberapa kali, dia menolak dengan cara yang sama, tidak mengijinkan tangan saya atau piring mendekatinya, wkwkwk.

Tantangan selanjutnya: tentang noda! Inilah efek samping BLW, belepotan dimana2. Di badan Rafa, di baju Rafa (sebenernya dah pake celemek, tapi ya namanya improvisasi bayi begitu lah yaa), di baju saya atau abinya, dan di lantai. Berantakan juga. Messy is always! Okkeh, jadi efek samping berikutnya adalah ibunya bisa langsing karena harus ngepel tiap habis maem, cucian abi tambah banyak dan membandel karena harus ganti baju tiap habis maem, dan butuh stok tissu serta “super pel” yang banyak, hehe. Tapi kami bahagia, kami terkagum dengan progresnya. We’re all very fun. Apalah artinya kotor, noda, dan berantakan, apalah artinya sering ngepel, apalah artinya cucian makin banyak, apalah arti korban banyak tissu dan lap, apalah arti memunguti dan memakan remah2 makananmu di lantai (karena eman terbuang), jika itu demi perkembangan buah hati, jika itu membuatnya mampu dan enjoy bereksplorasi optimal, belajar agar mempunyai attitude makan yang baik dan benar di kemudian hari, serta menguasai kemampuan lainnya yang dia dapat dari proses makan BLW ini. Fine, Son…abi n ummi love every single way you learn.

Tantangan berikutnya adalah mbah2nya Rafa. Ya emang BLW ini adalah metode yang menyelisihi adat leluhur yaaa, hehe. Kalo pada umumnya bayi kan dikenalkan dengan makanan cair, kemudian bubur lembut, bubur kasar, dan seterusnya bertahap. Kalau BLW kan tidak. Jadi saat mbah2nya Rafa tau kami ngasih makan langsung makanan padat, pada heran lah, yang rata2 tanya,”Emang gakpapa?” hehe. Namun seiring perkembangan Rafa yang saya tunjukkan di depan mereka, mereka malah terpesona heran. Rafa bisa pegang dan makan singkong rebus sendiri, menghabiskan beberapa kuntum brokoli, mengunyah dan hisap2 jeruk tanpa keselek, dan lain2. Saat saudara2 kami liat Rafa gigit apel besar2 pun pada heboh mereka, “Awas lho mbak nek keselek” namun saya yakinkan, “Gakpapa Om, Bulik, dek, mas…dll…kalau tidak bisa ditelan pasti dikeluarkan kok,” dan begitulah adanya. Namun saat mbah2 Rafa ingin menyuapi ya saya biarkan saja, toh tidak setiap saat disuapi dan tidak dengan paksaan juga. Dengannya kami dan Rafa belajar tentang menghargai orang lain (menghargai suapan dan kasih sayang embah, hehe).

Dan, kamipun belajar darinya

Sejujurnya, BLW ini menjawab galau saya dulu. Saking seringnya melihat anak2 tetangga yang harus digendong, diajak jalan2, liat ikan atau burung agar mau makan, bahkan yang sudah balita (di atas 3 tahun) pun harus dikejar2 untuk makan, saya jadi mikir: gimana ya caranya biar anak2 tu punya kesadaran untuk makan, tanpa perlu pengalihan perhatian, dan bisa makan dengan duduk (tidak dikejar2 disuapi sambil dia main). Pun sering juga mendengar komentar ibu sang anak “Makannya susah…” Ternyata, jawabannya ada di sini, di BLW ini. Memang secara psikologis, BLW mengajari anak untuk memiliki kesadaran terhadap makanan, tau dan sadar bahwa dia sedang menghadapi makanan, dia perlu untuk makan, dengan keinginannya sendiri, melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Bukan dengan pengalihan atau paksaan. Maka dengan mengenal metode ini, terjawablah galau saya. Oke, kita coba dengan metode ini, semoga ke depannya benar2 tercapai manfaat BLW ini yang antara lain: anak sadar makan, tidak pilih2 makanan, suka makanan sehat, dan mandiri.

Banyak hal yang saya dan abinya justru mengambil pelajaran dari proses belajar makan Rafa ini. Salah satunya, saya yang picky eater ini (suka pilih2 makanan) jadi belajar sama Rafa bahwa makanan itu enak atau nggak enak tergantung mindset dan kebiasaan lidah kita. Soalnya menurut saya, makanan hambar terutama sayur itu nggak enak, apalagi yang tanpa diapa-apain (cuma dikukus atau direbus saja). Saya ini baru doyan banget sama sayur sejak kuliah lho, parah kan *jangan ditiru! Tapi ketika kami membelajarkan Rafa untuk makan sayur2an yang cuma dikukus, otomatis saya dan abinya pun memberi contoh untuk memakannya. Ya…rasanya ya gitu, tapi rasa itu tergantung mindset. Dan Rafa yang masih zero value ini lah yang hendak kami ajari mindset bahwa sayur itu enak, sehat, meski tanpa bumbu. Nyatanya, dia doyan banget. Ya buncis, kacang panjang, sawi, wortel, apalagi brokoli…he like the most. Bahkan saat kami nyoba buah bit kukus, hwaduuuh…rasanya subhanallah *bikin kami nggak doyan* aneh2 gimana gitu, yang kata ibu saya “Ambune koyo tikus berit, Nis” (baunya kayak tikus curucucut, haha#ngakak guling2) padahal khasiatnya handal sekali. But see…my Rafa so enjoy it, suka banget dia. Apalagi waktu dibikin jus campur apel, tambah lahappp. Kami pun terpana… @.@

Kemudian tentang attitude makan. Salah satu manfaat BLW ini kan membiasakan anak untuk mengunyah makanan, makanya sejak pertama kali dikenalkan makanan dia harus berusaha mengolah secara mekanik itu makanan padat meskipun dia belum punya gigi. Dan bayi ternyata hebat lho, bisa mengunyah tanpa gigi. Nah ini kelemahan saya dalam makan, saya tidak bisa (terlanjur tidak biasa) mengunyah dengan optimal (katanya 33 kali ya). Makanya saya tu kalau makan cepat sekali, karena asal telan aja, wkwkwk. Hasil latihan BLW ini sangat terlihat pada Rafa, sampai sekarang Rafa usia 10 bulan alhamdulillah tidak pernah yang namanya ngemut makanan, seperti yang biasanya dialami para bayi. Always dikunyah nyam nyam.

Saya belajar, abinya pun belajar. Tentang awareness. Kalau makan itu ya sadar kita lagi makan, disadari, dinikmati, fokus, dan tidak disambi2. Nah ini, kebiasaan abinya makan sambil ngadep buku atau browsing ngenet via HP, atau nonton bola. Makanya waktu makan jadi lama, karena ter-distruck oleh kegiatan lain. Eh saya juga sering ding gitu, makan sambil ngadep HP. Makanya sekarang kami saling mengingatkan agar kelak jadi teladan waktu makan, “Hayo, anak BLW makan ya makan.” Mungkin untuk orang dewasa seperti kami makan sambil disambi tidak menjadi masalah berarti ya, tapi untuk anak2, hal ini harus dibiasakan sejak dini salah satunya dengan tidak mengalihkan perhatian anak dari makanan, misalnya sambil digendong, “Eh liat tuh ada burung…aa…aaa…hap.” *suapan sendok masuk mulut. Si anak dikelabui dengan burung, mainan, atau hal lain agar mau mangap dan makan. Suasana baru untuk variasi memang perlu, tapi tidak dengan mengalihkan perhatian anak dari makanan yang sedang dihadapinya.

Mmmm, sekian dulu cerita BLW dari saya ya. Ntar2 kalau ada tambahan saya note-kan lagi, sebagai catatan pengalaman. Tentang apa itu BLW, kenapa, bagaimana, dan serba-serbinya, mohon maaf terlalu panjang jika saya paparkan bareng2 disini ya. Jadi silakan gali informasi yang seabreg tentang BLW, bisa join di grup fecebook: Baby Led Weaning Indonesia, atau baca di bukunya Gill Rapley.

Happy MPASI (^_^)/

Catatan si Boya: Memilih BLW

Standard

*Ini adalah posting yang tertunda, karena saya lupa menulis draftnya dimana dan baru ketemu ini, hehe. Padahal sudah ditulis lumayan lama, saat Rafa usia 7 bulanan*

Asiiiikkk…gini nich serunya kalo kita dah berstatus ganda: istri dan ibu. Means that: we have much more story to tell. Dan sekarang saya sedang ingin cerita tentang anak kami, si Boya Rafa.

Akhirnya dia lulus ASIX 6 bulan lho, beranjak naik marhalah dari mihwar ASIX ke mihwar MPASI (bahasanyaaa… -_-). Seiring dengan itu pula, status pipis Boya naik juga tingkatan fiqihnya, dari najis mukhofafah (yang cukup diciprat air saja sudah bisa mensucikan) menjadi najis mutawasithoh (kudu ilang bau, rasa, dan warnanya barulah suci), karena si Boya sudah mulai makan makanan selain ASI.

Eh, ada yang menarik lhoh dari pengertian fiqih najis mukhofafah ini, bahwa yang termasuk najis ini hanya satu: pipisnya bayi laki-laki di bawah usia dua tahun, yang hanya minum air susu ibunya. Nnaaahh…ada satu isyarat menarik di sini, berarti dulu jaman Rosulullah, ada bayi-bayi yang hanya disusui ASI SAJA sampai usia 2 tahun. Maka tak heran ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa bayi di bawah 2 tahun belum butuh MPASI, cukup ASI saja sampai 2 tahun, baru start MPASI. Tapi kalau menurut WHO, bayi usia 6 bulan sudah siap pencernaannya untuk mulai MPASI, sudah butuh supleman makanan tambahan selain ASI, berdasarkan penelitian ilmuwan2 itu.

Terserah sich mau setuju dan mengaplikasikan yang mana, tergantung mana yang kita yakini baik untuk anak kita. Kalau dalam pemahaman saya, pengertian najis mukhofafah “yang hanya minum air susu ibunya” tersebut justru mengindikasikan dua hal: jaman Rosulullah dulu ada bayi2 yang disusui FULL ASI sampai 2 tahun, ada juga yang tidak (mungkin sudah diberi makanan pendamping pada usia tertentu). Wallohua’lam, afwan…belum nemu tafsir haditsnya. Jadi sejauh ini, saya masih memahami dan menerapkan bahwa bayi usia 6 bulan perlu diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Emang sich, WHO sendiri berubah2 dalam menetapkan standar start MPASI. Dulu 2 bulan wajib full ASI, kemudian penelitian berikutnya jadi 4 bulan harus full ASI. Lalu, sampai detik ini hasil penelitian yang dipakai: full ASI 6 bulan. Well, jadi kepanjangan cerita kemana-mana. Tadi kan mau ngobrol tentang Boya yang mulai MPASI toh..

Persiapan MPASI, apa saja?

Mencari ilmu. Itu yang kami siapkan sedemikian utamanya, dengan membaca, bertanya, sharing/diskusi. Katanya kan: al ‘ilmu qoblal ‘amal (ilmu dulu baru amal). Nah, salah satu yang asik, menarik, dan seru selain searching2 artikel di web adalah: join grup perMPASIan. Ada dua grup MPASI di facebook yang saya ikuti: Homemade Healthy Baby Food (HHBF) dan Baby Led Weaning (Indonesia). Baca2 dokumen dan sharing ibu2 di grup tersebut…membuka wawasan banget. Apalagi yang menggiurkan adalah tentang resep2 menu MPASI. Awal2 baca diskusi ibu2 di HHBF saya ngrasa minder…secara ngrasa ‘gaptek’ tentang menu2 asik, seru, dan bermutu buat buah hati, apalagi membaca nama2 bahan yang disebutin ibu2. Haduuuh…itu bahan yang kek apa saya gak ngerti…trus belinya dimana, trus cara masak yang bagus n bener gimana…trus itu nama alat yang disebutin kek apa bentuknya, gimana makenya…? Aaaaaa…aku ketinggalan jauh ni sama diskusi2nya. Hiks hiksss. Lalu, ada sesosok pangeran sabar, sholih, dan smart yang setia mendampingi saya belajar, dia berkata menenangkan, “Cint, ya wajar kamu tu belum ngerti, belum paham, belum kenal benda2 itu…kamu tu baru belajar, baru mau nyemplung. Ntar lama2 juga faham…” eaaaa… oke2 *senyum2 cengengesan* emang agak lebay obsesi nich, rasanya pengen ‘mak cling!’ langsung kukuasai ntu smua ilmu2 per-emak-an serta per-anak-an. Baiklah, istrimu kembali bersemangat belajar!! Dan harus sabar yo sinaune!

Mulanya hanya grup HHBF yang saya tengok, sampai kemudian hari…penasaran sama cerita mbak kos, namely: mbak Rike, yang cerita kalau anaknya pake metode BLW. Hah? Apa itu BLW? Saya taunya WBL nih (wisata bahari lamongan, wkwkwk). Ada grupnya juga? Cari aaaahhh… daaaan… wow, I’m totally impressed of the knowledge in that group, it’s really a new one I just know, then I start to learn much more about the theme: BLW (Baby Led-Weaning). Sesungguhnya penasaran adalah salah satu anak tangga menuju pengetahuan. Tertarik sekali dengan metode BLW ini, akhirnya saya bela2in beli bukunya juga. Biar mantap untuk aplikasi. Sekaligus sebagai rasionalisasi dan advokasi jika ada yang complain (eaaa…ini amunisi ceritanya, heheheee). Eh betewe ni ya, emang bener ternyata, menjadi orangtua adalah pelajaran sepanjang hayat. Materinya jauuuuuhhhh lebih berat, banyak berlipat2, dan beraneka rupa dari sekedar materi kuliah sarjana, S2, bahkan S3. Okenya lagi ni, pelajaran menjadi orangtua ni gak boleh berhenti pada teori, langsung harus aplikasi karena di depan kita sudah menanti anak-anak tercinta generasi yang butuh sentuhan pendidikan dan pengasuhan. Karenanya, menjadi orangtua ternyata menuntut kita untuk membeli buku paket juga akhirnya. Parenting books, childhood books, tarbiyah books, etc. Dulu waktu kita mau nikah, aduduuu…ceile kumpulan buku munakahatnya banyak amiirrr, sebagai bekal pernikahan gitu (ya nggak? ya nggak?). Nah giliran mempersiapkan kelahiran, kehadiran, dan tumbuh kembang buah hati…yuk mari kita kumpulin juga buku2nya (dibaca juga maksudnya) sebagai bekal mengemban amanah Allah untuk mengasuh anak2 kita. Jadi ingat kata murobbi (guru ngaji) saya dulu: “Salah satu pertanyaan yang perlu ni kita tanyakan ke ikhwan calon kita: bagaimana konsep mendidik anak? Karena insya Allah kebersamaan kita berdua saja tu nggak lama, paling terhitung bulan.. selanjutnya, kita akan berlama-lama sepanjang hayat menjalani kebersamaan bersama anak. Maka pendidikan anak adalah konsep priority yang harus difahami.” (mbak M***Y)

Oke guys, back to theme! Finally, dengan berbagai diskusi panjang, proses pencarian, pertimbangan, prediksi, seleksi dan eliminasi (gak pake audisi)…saya dan abi Boya sepakat menjatuhkan pilihan pada BLW. Setelah mempertimbangkan banyak faktor, kami cenderung lebih sreg dengan metode ini. Sekali lagi, ini pilihan ya. Toh memang ada beberapa teori tentang MPASI, yang masing2 punya kelebihan dan kekurangan, tinggal kita sebagai orangtua mantap dengan teori yang mana. Mau ngikut panduan WHO apa FC (food combining), mau puree atau BLW…it’s a choice : )

Nah, begitu ceritanya tahapan saya dan abi Boya mencari ilmu di dumay (dunia maya) fesbuk.

Next step..? Apa yaa…?

Oh, perabot makan bagaimana? Mmmm… saya termasuk gak ribet mikirin perabot sich, karena pada dasarnya BLW itu simpel, gak butuh macam2 amunisi semacam mangkok khusus, sendok khusus, botol pure khusus, blender khusus, food pcocessor khusus, saringan khusus, de el el. Kita hanya butuh menyiapkan makanan dalam bentuk finger food (makanan yang bisa dipegang bayi) dan memposisikan bayi dalam keadaan tegak saat proses makan.

High Chair butuh kah? Karena saat 6 bulan Rafa belum bisa duduk sendiri, jadi belum butuh high chair, masih dipangku saja awal2 BLW. Apa nanti selanjutnya butuh HC? Mungkin… dan biasanya, sebelum kami memutuskan beli2 barang mihil buat perabot si Boya, kami biasa fit n proper test dulu dengan menyewa. Seperti dulu kami nyoba sewa stroller, ternyata jarang kepake juga, enakan menggendong aja  lebih fleksibel dan anak lebih akrab dalam dekapan ayah/bunda *kata penelitian, anak yang digendong will be smarter than yang ditaruh di stroller. Nah sampai sekarang (usia 7 bulanan) Rafa masih enjoy makan sambil dipangku, kadang juga duduk sendiri lesehan. Hanya saja godaannya kalau duduk sendiri…dia lebih mudah  tergoda untuk ngeluyur main. hehehe

Mmm, kayaknya itu saja sich persiapan MPASI yang kami lakukan kemarin. Ohya, hampir lupa. Pillow talk juga, ini masuk agenda preparation for MPASI.

Well, saya sudah ngantuk sekarang, mari kita tunaikan hak badan dulu. Besok dilanjut cerita seru BLW Rafa.

Nice to see you : )

Cerita Kelahiran Rafa

Standard

Ingin kutulis cerita ini, sebagai catatan manis yang akan selalu terkenang mendalam… kelahiran putra kami yang pertama: Muhammad Rafa Ranu Albanna.

Ramadhan kemarin menjadi momen yang sangattt indah dan luar biasa bagiku. Merasai sebuah pengalaman pertama yang sungguh mengesankan: melahirkan, yang mengantarkanku meraih gelar luar biasa: IBU, yang tak akan dialami dan dirasai kecuali oleh seorang WANITA, satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Yang Maha Kuasa sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Hal kedua yang paling membahagiakan bagi seorang istri selain memiliki suami belahan hati adalah melahirkan buah hati. Dan ternyata melahirkan itu… amazingggg rasanya!! Di usia kehamilan yang sudah cukup matang (40weeks) adalah saat-saat mendebarkan menanti hari H kelahiran si kecil. Seumur-umur baru sekali itu aku menanti-nanti rasa sakit. Biasanya tentu saja tak ada orang yang mengharap-harap sakit. Tapi rasa sakit yang kunanti-nanti itu tentulah bukan sakit penyakit, melainkan sebuah rasa sakit gelombang rahim yang menandakan anak kami akan segera lahir, rasa sakit yang kehadirannya sungguh membahagiakan.

Selasa sore kala itu, 7 agustus 2012, hang out sama suami ke matahari Madiun, jalan2, blanja-blinji (dengan ngerem-ngerem ati biar gak kalap belanja karena lapar mata saja, apalagi liat diskon-diskon lebaran), trus buka puasa di emperan matahari. So swiit deh. Tengah malam menjelang dini hari, kurasakan kontraksi yang rasanya beda kayak biasanya, sepertinya bukan kontraksi braxton hicks. Mulailah tidur rasanya tidak nyenyak, sesekali terbangun karena rasa gelombang rahim.

Rabu 8 agustus, waktu sahur tiba-tiba bapakku memandangi motor revo kami yang sedang parkir manis dan mendapati angka yang menunjukkan tanggal deadline pajak, 9 Agustus. Setelah di cek STNK, benar ternyata, kamis tanggal 9 terakhir pajak motor. Karena STNKnya masih atas nama ibu Ndoro, jadinya ibu datang ke rumah Takeran untuk mengantarkan KTP dan BPKB sebagai syarat pajak, sekalian sorenya mau menemaniku dan suami untuk kontrol, kebetulan hari itu jadwalku kontrol dan merupakan HPL berdasarkan itungan bu bidan desaku (UK 40w3d). Rabu pagi sempet hilang rasa kontraksi semalam, baru siang sampai sore sesekali terasa lagi tiap 10 menit sekali.

Rabu sore kontrol, dicek dalam ternyata sudah bukaan 2. Disuruh pulang lagi sama bu bidan sambil beliau menyiapkan alat-alat katanya. Wawaw… benarkah si boya (panggilan sayang kami buat si bebi) bentar lagi mau lahir??? Sebelum pulang dikasih beberapa wejangan sama bu bidan, diantaranya: kalau pas datang kontraksi, jangan nggeget (merekatkan gigi-gigi dan tegang) karena bisa menyebabkan ketuban pecah dini (kata dokter KPD sering terjadi pada rahim yang selaput ketubannya tipis), ambil nafas aja yang panjang dan usahakan rileks. Trus diberi tips juga biar kontraksi pembukaannya lebih cepet, tapi yang ini cuma beberapa kali kulakukan, hehee. Sampai di rumah, aku semacam dilanda euforia kecil di tengah kontraksi yang datang dan pergi. Sebelum maghrib, kusempatkan masak kerang dari matahari kemarin, mumpung masih sempet, keburu lahiran ntar kelupaan gak dimasak.

Buka puasa bersama rame-rame sekeluarga plus ibu mertua. Semula beliau mau pulang malam ini, eh kok pas juga gara-garanya masalah pajak motor sehingga beliau harus datang dan menemani proses kelahiran si boya. Sembari menunggu orang-orang rumah selesai tarawih, kuiisi waktu di rumah dengan mendengarkan lagi video relaksasi dari bu Yessie (owner bidankita.com), sembari mengajak si boya ngobrol dan mensugesti diri, plus mencatat frekuensi kontraksi (tiap berapa menit sekali dan dengan durasi berapa). Menjelang jam 9 malam, bu bidan SMS gimana perkembangan kontraksinya. Lumayan, antara 5 sampai 6 menit sekali dengan durasi rata-rata 60 detik. Langsung deh diundang untuk mabit (nginep) di rumah beliau. Jam 9 berangkat ke rumah bu bidan, sewa mobil tetangga yang kadang berbunyi glodak-glodak (hehe) saat melewati jalan desa yang bergeronjal. Kebetulan rumah bu bidan beda desa, agak jauh.

Sampai di depan rumah bubid, beliau menyambut, “Lha  sik iso ngguya-ngguyu nho lho…” selanjutnya dicek, bukaan 3, disuruh istirahat. Sementara ibu dan ibu mertua beranjak tidur, aku dan suami masih mengobrol sambil aku jalan-jalan di dalam rumah, sesekali juga pelvic rocking dengan birthing ball. Malam semakin larut, suami mulai mengantuk, plus kontraksi mulai lebih intens. Jadilah mataku tak bisa terpejam. Jam 12 malam, bu bidan mencek lagi, bukaan 4. Wew, ini hemat juga ya pembukaannya, kukira sudah bukaan diatas 5 gitu (kataku dalam hati). Baiklah, menikmati setiap kehadiran gelombang rahim yang mulai membutuhkan relaksasi lebih. Suami menemani terjaga, hanya sesekali dia undur diri minta ijin memejamkan mata. Tapi ya cuma bobok-bobok ayam, istilahku: tidur siaga. Suami siaga, tidurpun siaga, hehe.

Kamis jam 5, bukaan 5. Nah, setelah itulah dimulai kontraksi yang mulai menguat, yakni pembukaan 6 sampai lengkap. Ada suami di sisiku benar-benar hal yang sangat kubutuhkan. Dia selalu di sisiku sambil terus menenangkan dan mengingatkan “Jangan tegang, ambil nafas, rileks… ingat Rafa, dia mau segera ketemu kita… Tenang, itu sinyal cinta dari Rafa, dia bilang Umi, aku mau ketemu Umi… Rafa mau segera ketemu kita… blablabla…” Setiap kali dia menghibur dan memberi sugesti, aku mengangguk sambil mengiyakan “Iya, demi Rafa… sakit sedikit, cuma sebentar. Ayo sayang, kita bisa!!! Bla bla bla…” meng-afirmasi diri sendiri, kuucapkan apapun yang bisa membuatku trenyuh dan bahagia menanggapi gelombang rahim yang semakin menguat. Demikian pula setiap kali kwalahan dan kukatakan padanya bagaimana rasanya, dia pun kembali menenangkan, “Gakpapa, penggugur dosa ya…sabar…sebentar lagi…” haaah… damai rasanya mengiyakan ucapannya. Sebisa mungkin kuusahakan terus mengatur nafas , dzikir, dan rileks, bahkan sejak awal tanganku tak pernah menggenggam kuat, hanya terus menggenggam lembut tangannya. Beberapa kali saat memandang wajahnya memicuku untuk usil, karena mengusilinya membuatku bahagia, dan lumayan lah kebahagiaan itu sedikit mengalihkan perhatian dari kontraksi. hehehe.

Sekitar jam 8an kontraksi semakin heboh. Mulai ngos-ngosan mengatur nafas, hampir kwalahan rasanya, sampai aku meminta suami untuk memberi aba-aba agar nafasku teratur. Jadi dia semacam dirigen gitu memberiku aba-aba dengan tangannya, hehe. Pasca melahirkan dia baru cerita, saat itulah puncak ngantuk melandanya, sebisa mungkin dia menahan kantuk yang sangat, demi aku…istrinya tercinta. Ya Allah… kasiannya… T.T. Seingatku, selama datangnya kontraksi ini, hanya tiga kali aku berhasil rileks se rileks-rileksnya tanpa sedikitpun desahan suara, hanya dengan nafas yang ringan dan memejamkan mata. Hanya tiga kali itu, selebihnya ngos-ngosan bernafas sembari terus melafalkan dzikir setiap datang gelombang rahim yang semakin heboh seperti tak ada jeda. Sekitar jam 9 kurang, pembukaan lengkap, ketuban masih utuh sehingga dipecahkan oleh bu bidan. Ternyata begitu rasanya, benar-benar tanpa diminta atau direncanakan tiba-tiba refleks dorongan mengejan sangat kuat. Subhanallah Allah menciptakan mekanisme alami tubuh wanita saat melahirkan.

Yup, dimulailah tahap puncak melahirkan: mengejan. Bu bidan memberi arahan cara mengejan, dan disuruh baca basmalah serta bertakbir sebelum mengejan, begitupun ibu, mertua, dan suamiku yang membantu di ruang bersalin. Yang terasa sich bener-bener seperti ingin BAB, seperti ingin mengeluarkan pup yang buesar banget. Tapi ternyata aku berkali-kali salah teknik dalam mengejan, ditambah kekurangan tenaga karena dua malam tidak tidur. Uniknya, di saat-saat genting inilah muncul kantuk. Setiap kali beristirahat dari mengejan, rasanya ngantuuukkk banget. Berulang kali mengejan belum berhasil, mencoba beberapa posisi dan menggunakan birthing ball juga belum berhasil. Bu bidan terus memotivasi, “Ayo dheeekkk… pinter kok ngejannya… ayo terus berusaha. Kurang sedikiiit sekali, ujung kepala dan rambutnya sudah keliatan terus lho pas kamu ngejan…” ibu dan ibu mertuaku juga terus menyemangati dengan perasaan dag dig dug. Suami tak ada suara, dia terlalu campur aduk perasaannya antara terpana dan tidak tega. Puluhan menit berlalu sudah, entah berapa kali aku sudah mencoba mengejan dan belum berhasil. Padahal aku mulai faham cara ngejan, yaitu fokus pada perut, mendorong perut seperti mau BAB, tapi dasar aku lelah, tenaga kurang kuat mendorong. Well, bu bidan menawarkan bantuan episiotomi. Kuiyakan saja supaya Rafa cepat lahir, kasian dia jalannya tersendat-sendat karena emaknya gak paham cara ngejan (huhuuu… maafkan umi sayang T.T). Saat terasa lagi dorongan mengejan, kurasakan sebuah sayatan, kupikir akan pedih sekali rasanya, ternyata tidak, hampir tak terasa karena otakku terus berkonsentrasi mengejan. Subhanallah, sudah di epis belum berhasil juga, karena aku semakin kelelahan. Mencoba mengejan yang kedua, belum berhasil juga. Tentulah darah segar mulai banyak keluar. Bu bidan mulai panik. Dan… mengejan yang ketiga setelah diepis, bismillahi Allahuakbar… berhasil! Saat semua berseru Allahuakbar lebih nyaring, kutengok, lhoh…sudah ada kepala kok gak kerasa keluarnya (batinku), langsung aku bersemangat menyambung nafas dan mengejan sekali lagi, daaan…pada jam 09.20 WIB…mak prucul… yang ini terasa keluar badannya, beberapa detik kemudian disusul kelahiran plasenta. Ternyata pas keluarnya ini tidak sakit sama sekali!! Ya Allah… legaaa rasanya, plooong sekali! Dalam sekejab hilang semua rasa sakit selama proses pembukaan. Blas tidak bersisa secuil pun. Pertama kalinya kulihat makhluk kecil suci itu terbaring di atas perutku, dalam beberapa detik si kecil Rafa tenang sekali, wajahnya damai dan belum menangis, baru setelah bu bidan melakukan sesuatu seperti membuka mulutnya (aku tidak tau namanya, mungkin membantu jalan nafas) dia seperti tersedak lalu menangis.

Selanjutnya IMD. Bahagia campur haru tak karuan,takjub memandangi makhluk mungil di pelukanku. Utuh badannya, mungil dan imut kesemuanya. Matanya melek sempurna. Tangan mungilnya putih pucat seperti orang habis kelamaan berendam di air (yaiyalah, dia habis 9 bulan berendam ketuban). Kubisikkan ta’awudz dan syahadat di telinga kanan-kirinya. Setelah beberapa menit dia menangis, dia diam sendiri… hanya kedip-kedip dan bergerak-gerak tangan kakinya, sesekali mengangkat bokong dengan kakinya yang mancat ke perutku. Sekitar setengah jam IMD, Rafa sudah bisa menghisap ASI dengan kuat (meskipun belum ada yang keluar). Bahagia berlipat rasanya. Ajaib sekali anugrah Allah, ketika bayi lahir hilang sudah segala rasa sakit saat kontraksi. Benar-benar sirna. Selama IMD tak henti kupandangi dia, masih seperti mimpi rasanya makhluk mungil imut ini keluar dari rahimku, ini dia yang membersamaiku selama 9 bulan 8 hari. Ya Allah… ini anakku… buah hati kami… dia sudah lahir, melihat dunia untuk pertama kalinya. Baru mengerti, begini ternyata rasanya melahirkan, begini ternyata indahnya menjadi ibu, begini rasanya menatap buah hati… trenyuuuuh sekali atiku :nangis:. Rasa bahagia tak terhingga, hadiah dari Allah yang hanya bisa dirasakan oleh seorang ibu.

Bersama abinya, kami terus mengajaknya bicara, mengalihkan perhatianku dari nyeri jaitan yang masih in process T.T. Bu bidan tampak gugup, tangannya bergetar karena ternyata aku pendarahan deras. Beliau meminta ibuku untuk keluar kamar bersalin mengambil es batu di kulkas (dan kok yo pas tinggal satu tok til. Alhamdulillah). Lalu masing-masing manusia di dalam ruang itu melakukan peran tugasnya. Bu bidan melakukan tugas jahit menjahit, ibuku memegangi es mengompres perutku, ibu mertua diminta memijat perutku, suami mendampingi IMD sambil menyodorkan tangannya untuk kupegangi menahan sakit jahitan. Mungkin biusnya belum terlalu bereaksi karena bu bidan harus segera menjahit untuk mengurangi pendarahan, sehingga rasanya dijahit so WOW banget. Semua yang ada di ruang bersalin serasa sport jantung melihat darah segar mengucur, kecuali aku dan Rafa tentunya. Kami hanya terus diminta bertakbir oleh bu bidan, sampai proses menjahit selesai. Kupikir, seperti apa sich parahnya, sampai ibuku juga berwajah miris mengamati bu bidan menjahit. Kerasa sich darah mengucur, dan lagi aku pernah baca bahwa pendarahan adalah salah satu sebab terbanyak kematian ibu saat melahirkan. Tapi subhanallah, tak ada rasa khawatir sama sekali saat itu, sudah sangat plong aku melahirkan Rafa, sampai aku berpikir, kalau Allah menghendaki matiku, aku hanya berharap syahid… T.T …aku berharap terhitung syahid di sisiMu ya Allah…

Sekitar setengah jam mungkin, prosesi penjahitan selesai. Entah berapa banyak, bu bidan hanya bilang sambil senyum-senyum, “Banyak, gak itung.” Dan lagi beliau komentar setelah usai semuanya, “Termasuk tahan sakit ya kamu, ngeluhnya (waktu kontraksi) cuma begitu.” Hah? Cuma begitu? Kupikir aku sudah heboh. Tapi memang sich awalnya aku sempat mbatin, ternyata rasanya kontraksi prapersalinan begini ya, mirip rasa sakitku waktu kena gastritis (luka lambung) dulu. Tapi pas pembukaan semakin banyak, ya rasanya berlipat-lipat donk. Alhamdulillah aku melewatinya dengan cukup manis(dramatis dan romantis juga, hoho…). Jadi heran, sering dapat cerita orang melahirkan sampai bisa teriak-teriak, memaki, atau memukuli suaminya (yang ini anarkis, hehee), kok ya kuat amat tenaganya. Aku saja buat bernafas rasanya sudah pol ngos-ngosan.

Rafa lahir dengan berat 3,7 kg (pantesan heboh keluarnya) dan tinggi 53 cm. Setelah dibersihkan dan dibedong, Rafa dikumandangkan adzan dan iqomah oleh abinya. Lalu, karena semua pada puasa, jadi aku yang mentahniknya dengan kurma sembari membisikkan doa untuknya, menunaikan sunah Rosul.

Allahumma baarik fiih,

A’udzu bikalimatillaahittaammati min kullisyaithonin wa hammatin wa min kulli ‘ainin laammatin… (HR. Bukhori dari Ibnu Abbas)

Selamat datang sayang, semoga kehadiranmu membawa kebaikan dunia-akhirat :’)

Love you so much, Rafa.

..abi & umi..