Tag Archives: sahabat

Membeningkan Pikiran

Standard

Dulu aku sering bersamanya. Dalam suka duka, tangis dan tawa. Menggenggam banyak kesamaan pikiran dan perasaan, saling membagi cita dan rahasia. Sama-sama terlahir di Januari, saling memompa semangat dan membangun mimpi-mimpi.

Lalu, pada hari telah genap usia 30 kami, aku kembali bersamanya. Meski hanya lewat suara, tersambung lewat semesta. Berkisah, berbagi, mendengar, untuk saling mengerti. Masih seperti dulu, penerimaannya terhadap baik burukku. Masih seperti dulu, penuturannya membangkitkan jiwaku. Masih seperti dulu, dekat dengannya meluaskan sudut pandangku.

Masih seperti dulu, aku menyebutnya: Si Bening 💙

Dear, Kamu

Standard

Iya, kamu.

Masih ingat tidak saat kita kelas 3 SMA, kelompok kita presentasi agama. Waktu itu ada teman yang tanya “Kenapa dikatakan Alquran itu hudan lil muttaqin, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa? Jadi hanya orang yang bertakwa saja yang dapat petunjuk?” Kurang lebih begitu kalimatnya.

Kamu yang waktu itu belum berjilbab, maju menjawab: “Iya. Kan orang bertakwa itu melaksanakan perintah Allah, jadi ketika ada petunjuk di Alqur’an dia mau mengikuti. Maka dia akan dapat petunjuk dari Alqur’an. Kalau orang tidak bertakwa, Alqur’an bilang apa dia tidak akan mengikuti.” Kurang lebih begitu jawabmu. Momen itu kuingat sampai sekarang.

Tahun pertama setelah kelulusan aku senang mendapatimu berjilbab. Wajah ayu khas gadis Jawa semakin dipermanis dengan jilbab sebagai penanda kasat mata bahwa kamu muslimah.

Kabar mengejutkan beberapa tahun berikutnya. Kau tanggalkan semua yang berbau Islam, mulai dari atribut sampai keimanan. Jalan cinta yang kau pilih membawamu jauh dari keimanan yang sejak berpuluh tahun kau yakini.

Pernah kukirim inbox dan tidak pernah kau jawab. Ya sudah lah. Aku tau itu hakmu. Bahkan dilindungi undang-undang. Aku hanya ingin menanam harapan. Selama belum habis nafas, doa tetap bisa bekerja bahkan untuk orang yang keimanannya berbeda. Dan kamu pasti tau, doa itu penanda sayang.

Syukurlah sampai sekarang kita masih berteman baik. Kubiarkan status-statusmu tampil di berandaku. Termasuk statusmu bernada dukungan atau geram pada isu terkini. Sekarang pagar kita: lakum diinukum waliyadiin. Berhubungan baik dalam hal yang kita sepakat, dan aku memilih menahan tanggapan pada tema yang kita pasti susah untuk mufakat.

Oya, terimakasih. Aku senang kamu sering mampir di posting-ku. Karena saat namamu muncul, aku selalu membatin doa untukmu. Iya, namamu. Nama salah satu surat di Alqur’an.

Tulisan ini kubuat bukan untuk kau baca. Tapi untuk suatu saat kubaca ulang sambil tersenyum. Semoga. :)

Hadanallahu waiyyakum ajma’in. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan kamu sekalian.

♡ Dzuhur, di kampung halaman

Teman Lama ^^ Selamanya Teman

Standard

Buka-buka file foto lama, ada 5 teman yang paling banyak muncul bersamaku. Here they are…

♡♡♡

ARLIA
Anak ini perawakannya mirip denganku: tinggi, kurus, berkacamata. Sehingga kami sering disebut kembar. Temanku pertama di kampus sejak jaman ospek. Terkesan sejak awal kenal, karena anak ini akhwat banget, ceria, rapih, dan pede banget. Kalau bareng dia, isinya cerita-cerita dan ngakak aja. Dia selalu bisa membuat banyak hal jadi cerita lucu dan jadi tawa. Pernah pas seminar kami duduk paling depan dan ketawa cekikikan. Rupanya pemateri merasa ‘terganggu’ dan menegur “Itu mbaknya berdua kenapa kok ketawa terus?” Ceppp! Langsung diam. Haha

Banyak kesamaanku dengan dia. Mulai hal-hal sepele bahwa kami punya block note yang digambari separuh badan gadis berjilbab dengan mata terpejam. Cuman bedanya, gambar dia agak centil dikasih bulu mata lentik gitu. Hihi. Dan kesamaan cerita-cerita lain dari yang remeh temeh sampai yang prinsip. So surprise, kami sering berseru “Kok sama siih..?!”

Dia teman pertamaku di kampus yang menemani tangisku. Inget banget jaman ospek hari terakhir aku nangis karena gagal tes ‘sesuatu’ (ya ampyun cengeng!) dia yang menghampiri dan menenangkanku.

Suatu hari habis walimah, Bapaknya berkunjung ke rumah dan berkata kalau sudah lama sebenarnya pengen tau yang namanya Hanis, karena Arlia suka cerita. Wah, terharu. Beda sekali denganku. Aku bukan tipe yang terbuka pada orangtua. Tidak asertif lah aku ini pokoknya.

Banyak momen unforgetable bersamanya, banyak pula yang kuambil pelajaran dari dia.

♡♡♡

YANI
Waaah, anak ini lovable banget banget banget. Dia prodi psikologi dan kepribadiannya memang terapeutik sekali. Sering menjadi washilah penyelesaian masalah banyak orang. Dia dianugerahi daya pemahaman dan pemaknaan yang sangat sangat bagus.

Dia itu kecil, tapi bermanfaat besar. Seperti bintang kecil, tapi cahayanya benderang. Dia adalah orang yang banyak mengajariku memaknai sesuatu dengan brilian. Dia banyak mengajakku merenung dan menjawab pertanyaan. Khas sekali caranya berpikir dan bicara.

Aku mulai dekat dengannya saat aku down karena suatu masalah. Dia disana menemaniku, menunjukkan kesalahanku “Kira-kira itu salahmu Han. Aku juga sempat heran kenapa Hanis begitu.” Pahit rasanya dibuka jeleknya kita, tapi melegakan setelahnya. Itu adalah momen pertama dimana aku disadarkan olehnya untuk menerima bahwa aku salah, aku menyakiti orang. Aku tidak bisa menghindar kecuali harus kuat hati untuk mengaku. Setiap kita punya cela, harus diakui dan diterima. Diterima bukan untuk dipertahankan tapi diperbaiki.

Sejak saat itu kami dekat dan ‘didekatkan’ oleh rutinitas. Dia ada bersamaku menghadapi banyak rasa dan peristiwa.

Satu hal yang aku takjub dari kepribadiannya. Aku menangkap bahwa: setiap orang yang dekat dengannya merasa nyaman, merasa bahwa dirinyalah yang paling disayang. Ahhh, inget banget kisah Amr Bin Ash yang mirip ini.

♡♡♡

ANTIS dan IRNA
Sepaket mereka ini denganku, disingkat namanya menjadi: HanTizNa. Mereka teman hidup satu atap selama 4 tahun di kontrakan. Kami saling bertukar cerita, berbagi, dan hore-hore bersama. Bertengkar pasti pernah juga lah ya. Karena saat kebersamaan semakin dekat dan hijab tersingkap, yang tampak bukan hanya kelebihan tapi juga kekurangan.

Antis anak yang super kreatif, berbakat dan tertata. Dia gudangnya hal-hal unik dan nyentrik. Antistainment lah. Dia sering sekali menolongku dengan kelebihannya.

Irna anak yang riang dan ceriwis. Suka memasak macam-macam. Pas dia KKN aku sms tanya gimana kabarnya di sana, aku ingat saat itu dia menjawab: “Makin lama aku makin tau, ukhuwah kita adalah yang terindah.” Swiiit.

Kami bertiga pernah sekamar, menyulap sudut ruang tamu menjadi tempat tidur dan ruang kerja (skripsi) yang nyaman. Saat itu ruangan kami paling dekat dengan pintu rumah barangkali tandanya kami harus segera keluar berhijrah.

Meskipun nyatanya kami tidak bisa ‘keluar’ bersamaan. Antis, aku, baru kemudian Irna yang lulus sarjana. Ingat jargon rumah kontrakan kita, “Baitul Izzah sparkling house. Where ukhuwah can be fun.” Yes, we’re fun.

♡♡♡

FIDYA
Anak ini nggemesin. Tapi aku sayang. Orangnya kritis, analitis, dan idealis. Suka cerita dan membahas banyak hal dari sudut pandang paling remeh sampai yang ideologis. Lucu, bijak, seringnya koplak. Wkwkwk. Suka bertualang macam Dora.

Tetiba kami pernah tertakdir satu kosan. Dia yang paling tau betapa jijiknya aku pada “ulil”! Juga tertakdir lulus bersamaan. Innoceeent ikut pelatihan skripsi sampai 2 kali. Hihi

Dia suka tantangan dan memang layak ditantang. Dia punya nyali yang kadang di luar perkiraan. Kadang tiba-tiba dia ngeWA mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Kalau gak begitu, kami ngobrol haha hihi sekedar iseng dan aku bisa ketawa ngakak sendiri baca chat nya. Lalu si Boya bertanya “Umi kenapa?” Ini dek, teman umi lucu. “Lucu kenapa?” Nah, saya bingung jawabnya. Wakaka

♡♡♡

I know, sometimes I was annoying and Im sorry. But everything in the past always taste sweet for now. A great lesson we never can go back.

♡♡♡

Kau tau siapa sahabatmu? They are people to whom you share secrets each other that you keep forever. Dan pada setiap kisah persahabatan, selalu ada ujian. Dalam rupa apapun. Katanya: tidak ada persahabatan yang sempurna, yang ada adalah orang-orang yang selalu berusaha mempertahankan persahabatannya. Itu kita ♡

Episode Laskar Lampiran 2

Standard

Lagi, kami dipertemukan dengan pelajaran hidup yg besar. Tentang takdir, tentang kuasaNYA.

Suatu waktu kami seperti dibenturkan dengan kenyataan yg membuat kening berkerut, juga mata berair, yg menumbuhkan bertubi tanya: kenapa bisa begini? Apa salah kami?

Kenyataan itu, seperti sudah pasti. Final. Fixed. Deal. End! Impossible to get the chance. Namun betapa tersadar kami esok harinya, membawa kesadaranku pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Bahwa sesuatu yg kami sangka tak mungkin itu, tiba2 dalam sekejab bisa menjadi mungkin. Sesuatu yg kami sangka sudah pasti, menjadi belum pasti. Yg kami kira pintu itu sudah terkunci, ternyata masih bisa dibuka kembali. Siapa lagi yg mampu menjadikannya demikian…Allah lah, sang Maha Kuasa membolak balik peristiwa.

Seiring bergulirnya waktu, hari berganti, dua purnama kami lewati, bahkan di bulan suci kami berikhtiar penuh semaksimal mungkin, sengotot yg kami bisa, pun teriring lirih doa mendalam di tiap sujud, dan tawakal yg kami sematkan di dada. Hanya keajaiban dari Allah yg mampu mengubah nasib kami, dan itulah yg kami ikhtiari. Dengan semangat sabda Rosul: ikatlah untamu, baru berawakallah pada Allah. Dan kalam Allah: bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, sampai ia mau berusaha mengubah nasibnya sendiri. Maka kami ngeyel, kami terus berjuang, memperjuangkan hak kami. Selama palu belum diketuk. Sembari bertawakal, karena kami yakin ending semua ini ada pada kuasaNYA.

Namun, apa hendak dikata bahwa ternyata semua yg kami upayakan nihil, melesat jauh dari harapan. Melunturkan kepercayaan kami pada mereka, memupus sudah harapan kami, menguras perasaan dan air mata, pun emosi yg membumbui. Pedih rasanya atas ketidakadilan ini. Sangat mengecewakan.

Berakhir sudah. Kami menyerah. Inilah endingnya, kami pasrah pada takdir Allah. Jangan tanya kenapa harus ada kekeliruan? Kenapa pula harus nama2 kami ini yg termasuk dalam kekeliruan? Kenapa dan kenapa? Semua jawab toh bermuara pada satu kesimpulan: this is our fate. Kami harus terima, harus ikhlas, harus sabar. Meski getir rasanya, namun inilah takdir Allah untuk kami. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Dan beginilah indahnya menjadi muslim. Bahkan peristiwa pahit ini pun tak sia2, ia datang membawakan selautan hikmah. Lihatlah, tiba2 saja kita sudah seperti sahabat lama, seperti keluarga,yg saling peduli, menolong, dan membersamai. Meski judulnya kita dipertemukan karena nasib getir yg sama, namun akhirnya kita toh bahagia menjalani kebersamaan ini. Sekaligus mempertemukan kita pada kebijaksanaan sang pemimpin, sosok yg insyaALLAH tak kan kulupa wibawa, bijaksana, dan rendah hatinya. Melalui beliau juga kita bisa pulang dengan riang.

Well, tentu saja koloni kita ini harus bubar dan bertebaran di berbagai daratan. Allah takkan menyiakan hambaNYA. Allah menguji kita dengan ini karena kita mampu melewatinya. Yakin, ada ganti yg lebih baik, seperti smangat alqur’an yg sering kita ingat: jangan berputus asa! Mimpi2 kita harus tetap menyala terang, hingga pendarnya menerangi langkah kita untuk menggapainya. Amin.

~proud regards to laskar lampiran 2: udi,yusron,dwi,indah,mb fanny…SMANGAAATTT! dan kalian yg bertahan di sana: mb tatie,tita,nia,hary,dan kawan2. Oya, Istiqomah dan Amril Grey juga. Im proud of you.
~sincerely special thanks to Prof. Dr. Zuhdan Kun Prasetyo, M.Ed.
I adore you, Sir. The way u lead, the way u greet us, the way u meet us. The way u behave. Barokallohu fiik, Bapak Direktur :)

Teringat sesuatu

Standard

Deretan huruf yang dulu kususun mengingatkanku padamu.
Untuk apa masih menunggu,
sudah banyak masa dan peristiwa membawakan hikmah dan pelajaran,
tidak perlu meratapi harapan masa lalu yg tak kesampaian.

Inilah hidup kita masing2,
tak bisa sama seperti dulu,
tak bisa meng-undo masa lalu,
tak usah sesali air mata yg sudah mengering.
Ada banyak sekali takdir indah untukmu di depan,
insyaa Allah.

Aku percaya kau bisa,
melewati masa2 sepertiku dulu:melompati kenangan!
biarkan ia jadi batu lompatan yg membuat kita mampu melangkah lebih jauh,lebih tinggi,
dan tentu saja lebih bahagia dengan episode kita saat ini.
Karena bagaimanapun kita harus sadari dan yakini,
nikmat Allah terus bertambah seiring waktu yg kita jalani.

Ayolah kawan,sahabatku,temukan bahagiamu.
Aku sungguh2 sangat ingin melihatmu tersenyum khidmat bahagia :’)

*well,im sorry i just could write this hope here..

S E L F T A L K

Standard

(verbatim)

Soul : Sampai kapan akan tetap saling mendiamkan?
Self : Entahlah aku butuh waktu…
Soul : Time will heal, tentu saja kalimat bijak itu ada benarnya. Tapi bukankah lebih baik ada yang memulai?
Self : Aku yang harus memulai? Masih sakit rasanya setiap kali teringat sikapnya.
Soul : Hei, jangan mengira hanya kamu yang tersakiti. Dia pun begitu. Jangan kira hanya kamu yang merasa benar, dia pun begitu. Dan jangan kira hanya kamu yang merasa dia salah, dia pun sebaliknya. Begitulah yang kutau darinya.
Self : Kau tau darinya?
Soul : Iya. Diapun begitu, ternyata masing-masing kalian menemukan kesalahan pada satu sama lain, dan menemukan alasan bahwa diri masing-masing lah yang benar. Mempertahankan kondisi seperti ini sama saja membiarkan menyakiti diri sendiri.
Self : Ah tidak juga. Meski tanpa dia, aku masih bisa bahagia sekarang, bersuka tertawa, punya teman dekat yang menyenangkan pula. Sudahlah, biarkan saja begini, entah sampai kapan, pasti ada akhirnya.
Soul : Hingga dunia berakhir? hahaha… becanda kok.
Menurutku itu meng-cover masalah namanya, bukan meng-counter.
Self : Anggap saja sama. Menutupi masalah kadang bisa jadi jalan penyelesaian.
Soul : Selesai atau pending?
Self : Entah bagaimana ini bermula. Yang kurasakan, aku semakin tak nyaman dengan sikapnya, sakiiiit rasanya. Lalu terbentang jarak yang terasa jauh diantara kami, meskipun saat dekat secara fisik. Selanjutnya diam menjadi pilihan.
Soul : Dan menjadi lebih tidak sehat lagi ketika kalian malah hanya saling menyindir. hemm?
Ya begitulah pertengkaran, masing-masing kita selalu merasa benar hingga ‘layak’ menyalahkan. Tapi menurutku, dalam setiap pertengkaran masing-masing kita tetap selalu punya andil kesalahan. Seberapapun kecilnya, seberapapun sepelenya, yang kita sering tidak menyadarinya.
Self : Kau seperti sudah berpengalaman dalam banyak pertengkaran? hahaha
Soul : Tentu saja aku juga pernah bertengkar. Kau tau aku dan Nuur? Meski kami sahabat baik, telah tinggal bersama sekian tahun, toh tak terhitung pula berapa kali kami saling marahan, hahaha. Kadang karena salahku dan egoku, kadang karena kesalahan dan ego dia. Kalau sudah saling sebal, mendiamkan memang sebuah pilihan yang sering diambil. Tapi seberapapun kami marahan atau bertengkar, seingatku kami tak pernah sampai saling mendiamkan lebih dari tiga hari. Meskipun seringkali aku yang lebih dulu memulai keakraban, membuka suara untuk saling bicara kembali. Dan… meskipun kadang saat itu masih ada sisa sebal di hatiku, aku tetap akan memulai membuka keakraban jika dia tak juga mendahului. Kau tau kenapa?
Self : Hmmm, kenapa?
Soul : Hahaha, sebenarnya terlatar belakangi oleh sebuah ‘kepercayaan’ku sejak kecil. Waktu SD aku mengetahui sebuah ajaran dalam Islam bahwa marahan sama orang itu maksimal batasnya 3 hari. Jika sampai kita mendiamkan saudara lebih dari tiga hari, nanti dikutuk malaikat. Nah, jadinya aku benar-benar ketakutan waktu itu kalau aku dikutuk malaikat. Jadi setiap kali marahan sama teman, aku cepat-cepat minta maaf kalau sudah tiga hari. Meskipun sebenarnya aku merasa akulah yang benar, tapi gakpapalah daripada kena kutuk malaikat, aku minta maaf duluan. hahaha… ternyata keyakinan itu terbawa sampai sekarang, toh selanjutnya aku faham, begitulah seharusnya sikap yang benar.
Self : Jadi menurutmu apa yang harus kulakukan?
Soul : Kalau kau tanya aku, akan kujawab seperti yang kukatakan padanya: jadilah orang yang mendahului.
Self : Bagaimana kalau sikapnya dingin? Responnya justru semakin membuatku tersakiti?
Soul : Justru itulah tantangannya. Seberapa tahan kau terhadap ujian mental itu menunjukkan seberapa kuat azzam-mu untuk berbaikan dengannya. Eh, sebentar. Tapi itu baru prasangkamu kan? Belum tentu juga dia akan bersikap begitu. Kenapa tidak kita pasang benteng positive thinking?
Self : Oke, kau mengatakan hal yang sama padanya kan, kenapa sampai sekarang dia tidak mendahului? Katakan padaku sekali lagi, kenapa harus aku yang memulai?
Soul : Tidak harus kamu, akupun berharap dia mendahului. Karena siapapun yang mendahului, insya Allah tidak ada celanya. Kecuali hanya karena gengsi kita enggan mendahului. Maksudku, karena merasa akulah yang benar, gak mau donk aku duluan yang ngalah.
Self : Hmmm, kalau begitu, bagaimana jika aku saja yang menjadi ‘pihak yang menunggu’?
Soul : Terserah, itu pilihan. Lalu jika masing-masing memilih begitu, I just worry that the terms “time will heal” really will be so long to be true. Aku sich hanya mencoba memberi saran, sekali lagi tak ada celanya mendahului, justru menurutku itu yang lebih baik. Sama halnya seperti kata Umar bin Khotob, siapa yang memulai salam duluan, dialah yang lebih mencintai Allah. Karena dia yang mendahului untuk mendoakan saudaranya, mulia bukan? Setidaknya kamu punya satu poin plus saat kamu duluan yang menyapa dia, minimal dengan salam. Isn’t that interesting?
Self : Ya, ya, cukup motivatif.
Soul : Dan memang motif kita berbuat seharusnya selalu bermotif syar’i, Self. Bukankah sikap yang syar’i seharusnya tidak mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari? Bukankah sikap yang syar’i seharusnya memulai tabayun untuk mengklarifikasi masalah, bukan malah mengembangbiakkan dzon-dzon tidak bagus yang berkesinambungan? Bukankan sikap yang syar’i seharusnya bersegera minta maaf dan mudah dalam memaafkan? dan jangan lupa selalu berdoa agar Allah mendekatkan hati kalian kembali. Aku dan Nuur, seperti apapun marahnya dan mendiamkan, kalau sudah baikan ya sudah, selesai. Kami bermain, tertawa, melakukan banyak hal menyenangkan dan bermakna lainnya, bersama-sama lagi. Bahkan saling mengakui kesalahan. Kejujuran yang melegakan. Bukan sindiran-sindiran yang justru membakar emosi. Toh jauh lebih buanyaaak sekali hal baik dan menyenangkan yang kudapati dari dia. Ingatan terhadap itu pula yang mereduksi perasaan sebal yang pernah menghinggapi hati kami. Tidakkah kalian begitu? Keakraban yang penuh makna dan canda yang dulu, relakah terlupa begitu saja?
Self : …….. (diam)
Soul : Kemarin kau bilang kau merindukannya, mengakui bahwa kau menyayanginya, bahkan pernah menangisi pertengkaran ini. Sebenarnya lebih baik kau mengatakan itu di depannya, daripada di depanku.

………….. persahabatan pasti diuji …………….

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al Hujurat: 10)

nTizzz cilll…

Standard

ini tentang teman saya,
Antiz Rizqiyyah Raihan Diniy

na, ini poto dia waktu masih kecil sedang latian manasik haji,

dan di usianya yang nyaris 23 ini dia berdo’a:

“jika 9 dzulhijjah yang lalu aq masih berkesempatan puasa arafah, Ya Allah, sempatkanlah aq di jatah usia yang Engkau berikan, pada 9 dzulhijjah yang lain untuk tidak berpuasa hanya karena aku sedang wukuf di padang arafahMu Ya Rabb…”

lalu saya mengamininya,
dan diam-diam meniru doanya ini ;)

sebuah balasan yang manis

Status

“Jika dahulu kau pernah menjahitkan boneka beruang punya temanmu, insya Allah kelak akan ada temanmu yang menjahitkan guling tweety birumu” (hanisincerely)

Hah? Teori apaan ini?

Haha, biarlah teori spesifik ini hanya berlaku untuk saya, yang jelas malam ini saya tersenyum sambil merenungi sesuatu, Allah itu akan selalu membalas kebaikan kita dengan cara-NYA yang so sweeeeet… mungkin tidak segera atau berselang lama. Hanya saja, tetap terasa manisss ;)

in ahsantum ahsantum lianfusikum, wa in asa’tum falahaa…

#syukron dhek Pur…

— farewell prayer —

Standard

Saat aku bilang aku mendoakanmu, aku serius, aku sering menyebut namamu dalam doaku.

Kadang dalam sendu haru dan air mata, dalam sebuah kalimat yang tak bisa kusampaikan padamu, meskipun aku sangat ingin kau tahu betapa aku tak pernah berharap memahat luka, betapa dulu aku tak pernah tahu akan begini jalan ceritanya…

Selamat jalan… hati-hati, semoga menemukan banyak kebahagiaan dan keberkahan hidup dimanapun engkau berada.

“Astaudi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatima ‘amalik”
Aku titipkan kepada Allah pemeliharaan agamamu, amanatmu, dan akhir penutup amalmu. (HR. Abu Dawud)

# nice regards, hanisincerely ;)

The Way I Remember

Standard

Kamis sore…

Aku juga tidak tahu kenapa aku duduk di sini. Seingatku, gapura sumbersari gang 6 ini tidak bertangga, lhah kok, nyatanya aku sedang duduk manis di tangga ini, menghadap jalan dan entah menunggu apa. Di belakangku, seorang ibu paruh baya melakukan hal serupa, duduk di anak tangga atasku. Mungkin menunggu angkot lewat.

Aku masih tidak faham sendiri kenapa aku ada di sini. Sambil menatap jalanan yang sepi, tiba-tiba diantara lalu lalang orang melintas di depanku, ada sesosok cowok berjalan ke arahku. Aku seperti mengenalnya. Cowok Tionghoa berkulit putih (ya iya lah) berkaos basket tanpa lengan, bercelana pendek selutut. Sepertinya habis main basket. Dia melintasiku yang duduk di tepi tangga, berjalan menaiki tangga hendak masuk gang. Aku mengerutkan kening, setengah berpikir dalam heran, sepertinya aku mengenalnya! Sebelum dia benar-benar menjauh dariku, aku menoleh dan bergumam agak nyaring, “Roby Tano…?” setengah ragu apa benar aku menemuinya di sini, di Malang…? Tanpa kuduga, sosok yang berlalu dan sekarang sedang berdiri di belakangku berbalik. “Ya…?” ia membalikkan badan dan menatap ke tengah jalan, mencari suara siapa yang menyebut namanya. Merasa mendapatkan pembenaran bahwa orang yang ada di depanku ini adalah Roby Tano, aku berdiri menghadapnya.

“Robby Tano? Kamu Robby Tano?” intonasiku jelas so surprise. Tapi kok remang-remang tidak kelihatan jelas wajahnya. Oh, ini sudah maghrib mungkin.
“Iya…” wah, kok ekspresinya biasa saja, apa dia lupa padaku?
“Aku… Hanis, teman sekelasmu.”
“Ohh, Hanis…”

Entah, aku juga tidak faham bagaimana ceritanya, sekarang aku sedang duduk bersamanya di tangga. Masih heran kenapa bisa begini. Kami saling bertanya kabar, dan tentu saja serentetan pertanyaan dariku, kenapa dia berada di sini, di Malang? Sama siapa di sini? Ngapain dia berkostum basket lengkap begitu, habis pertandingan kah? Roby Tano merespon dengan nada dan ekspresi yang biasa saja, padahal setauku dia anak yang cheerful, penuh semangat kalau ngobrol, dan full ekspresi.

“Eh, tau tidak apa yang membuatku ingat padamu di saat-saat seperti ini?” aku melanjutkan obrolan yang garing ini.
“Apa?”
“Petasan, hehehe… kalau musim begini kan banyak penjual petasan di jalan-jalan. Aku jadi ingat kamu, hehehe…”
Dia ikut tertawa kecil.

Lalu sampailah aku pada pertanyaan ini,
“Robby, pacarmu siapa sekarang?” aku juga heran kenapa pertanyaan ini yang keluar dari lisanku.
“Mmmm…. tidak ada Nis.”
“Oh, atau Lusi?” ya Tuhan, kenapa aku menyebut nama ini, dia adalah teman sekelasku waktu kelas 1 SMA. Anak Tionghoa, temannya Robby juga. Tapi entahlah tanpa kusadari tiba-tiba nama itu nyeplos saja.
“Bukan.” Dia menggeleng.
“Oh…” manggut-manggut.
“Pacarku, anaknya seorang ustadz Nis. Dia berkerudung, agak gendhut …”
“Hah?? Apa?!!!” kaget banget donk. Masa seorang Roby Tano yang Tionghoa dan Budha, punya pacar anaknya ustadz…??!!! Oh, ini penemuan langka! Perlu kugali lebih lanjut cuplikan cerita ini. Sayangnya sebelum sempat aku dengar penjelasan lebih panjang darinya, tiba-tiba aku jadi sulit mendengar suaranya. Semakin lirih, membuatku semakin mengerutkan kening… hei hei… aku tidak dengar kamu bilang apa. Dan sayangnya lagi, belum sempat aku bertanya lebih banyak, tiba-tiba aku pun sulit berkata-kata.

Nggg………………….zzzzzzzzzzzzzzzzzz………………… ahh, kenapa tiba-tiba sulit melanjutkan obrolan kami?

Tiba-tiba badanku terasa lemas, sepertinya aku menderita sebuah gejala: DEHIDRASI. Lhah! Apa hubungannya dengan cerita di atas?

Mataku perih. Perlahan kubuka mata perlahan. Di sisiku, sesosok makhluk berkostum putih-putih sedang meringkuk menggumamkan kalimat-kalimat yang kukenali. Siapa lagi dia?

Ohhh, ya Allah, itu Irna sedang duduk di sisiku. Tilawah.
Kuraih HP yang tergeletak di lantai. Jam empat! Wahhh, aku belum sholat asar.

Ya Allah, ternyata barusan aku mimpi. Ketemu Roby Tano pula.
Kenapa oh kenapa memimpikan dia? Sedikitpun tidak terlintas pikiran tentang temanku itu, pun juga aku bukan penggemar petasan (lho, apa hubungannya?). Tapi sepintas mimpi barusan cukup membuatku mengingat kenangan teman lamaku itu. Iya ya, saat SMA aku punya teman unik satu ini, Roby Tano. Anak ini sangat lucu, atraktif, jujur, baik hati, suka menolong, dan suka berbagi.

Robby Tano, temanku sekelas selama dua tahun di SMA, jagoan basket, kapten andalan, dan peraih berbagai penghargaan sebagai pebasket.

Robby Tano, temanku yang rada-rada hiperaktif, tidak bisa diam kalau di kelas. Sampai-sampai pikiran usilku tentang dia dulu, aku jadi ingat Sun Go Kong kalau melihatnya, hehehe, selain karena dia seorang penganut Budha, juga karena dia selalu bertingkah terus di dalam dan luar kelas.

Robby Tano, anak ini sangat friendly, kooperatif, dan selalu ceria. Pernah saat aku berjalan menuju kantin di samping kelas kami, XII IPA 4, dia tiba-tiba berjalan menjajariku.
“Hei Hanis ni katanya kalau jalan cepet banget ya? Ayo coba balapan sama aku, cepetan siapa?”
“Ayo.”
Hahaha, pastilah bisa ditebak, dia yang menang. Selain karena dia cowok, pebasket, dia juga berkaki panjang, hehe.

Pernah juga saat tanggal 14 Februari, yang baginya hari Valentine, dia bagi-bagi coklat ke anak sekelas. Ya ampyunnn, care banget si loe…

Nahhh, aku tak pernah lupa cerita yang ini. Dulu, jaman sinetron “Doa Membawa Berkah” kalau gak salah, soundtrack-nya kan lagunya Raihan tuh yang judulnya “Puji-pujian”. Eh, lucunya si Roby ini, mungkin dia ikut nonton sinetron Ramadhan itu kali ya… dia sering banget nirukan lagunya di kelas, pas pada lirik ini:
“Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah…”

Diulang-ulang terus, nyaring dan PD pula nyanyinya. Nah, aku kan senyum-senyum sendiri merhatiin dia ya, lalu pernah aku bilang ke dia, “Roby, kamu kok nyanyi gitu…?”
“Lha kenapa Nis? Salah ya? Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah…” dia kembali menyanyikan lirik itu, dengan nada yang difasih-fasihkan, “gimana, sudah bener?” lhah, ketawa lah aku, mungkin dia mengira maksudku nada atau kalimatnya kurang benar.
“Bukan begitu maksudku. Itu kalimat syahadat namanya, kalimat yang dibaca orang untuk masuk Islam. Nah kalo kamu baca itu, nanti kamu masuk Islam lho… hehehehe.”
Dia nyengir saja sambil ber-oh…oh… lantas ngeloyor sambil nyanyi lagi. Ya weslah, sak senengmu…

Nahh, cerita gokil lainnya adalah saat pelajaran Bahasa Indonesia apa ya, kami mendapat tugas apa ya, lupa deh. Bikin apa gitu. Nah, giliran dia yang dipanggil maju sama Bu Guru, dia ditanyai beberapa hal dan tidak bisa menjawab. Lantas Bu Guru bertanya, “Kamu ini buat sendiri apa mencontoh?” kamu tau apa yang dia katakan? Dengan jujurnya dia menjawab, “Mencontoh, Bu.” Innocent betul tampangnya, bahkan saat Bu Guru bilang dia harus mengerjakan lagi, dia terima saja sambil senyum-senyum. Tapi uniknya, tak seperti yang kami sangka, ternyata Bu Guru kami tidak marah, malah senyum-senyum juga. Kami yang menyaksikan peristiwa itu tentu saja tertawa-tawa, sambil saling lirik ke teman-teman yang lain, karena beberapa di antara kami juga ada yang melakukan hal serupa (mencontoh) tapi ya tidak mau ambil resiko dengan mengaku seperti si Roby ini. Anyway, salut lah pada kejujuran anak ini!

Begitulah dia. Setidaknya mimpi aneh yang kualami tadi membawa ingatanku padanya. Mungkin Allah sedang ingin aku mengingatnya, nyambung silaturahim tah mendoakannya gitu. Maka malam harinya, aku SMS salah seorang “teman jadul”-ku, hihihi.
Aku : Ter, minta nomornya Roby Tano punya?
Tertian : ndak punya, banyak nomor yang ilang. Coba tanya Desy mungkin punya.
Aku : owh, minta nomornya Desy kalau gitu.
Tertian : no Hpnya Desy coba tanya Mbolo. Nah, nomornya Mbolo coba tanya Nuke. Nah, ini nomornya Nuke 08155644xxxx … blablabla

Gubrak! Ya Allah… Tertiaaaaannnn! Kok mbulet begitu. Oalah…

Ya sudahlah, dimanapun kau berada, semoga Tuhan menjagamu, Roby Tano :)