Catatan si Boya: Cerita BLW Selanjutnya

Standard

*ini juga postingan yang tertunda*

 

Hello moms, dads. Okkeh..dilanjut ya cerita tentang BLW Rafa.

Jadi, setelah saya dan abinya menggali ilmu pengetahuan per-MPASI-an dan memutuskan akan menempuh metode BLW, tahap persiapan selanjutnya, jauh-jauh hari sebelum start MPASI saya lakukan juga pillow talk kepada Rafa. Pillow talk itu…ngomong sama bantal? hehehee… Bukan. Pillow talk itu metode hipnosis dalam, bentuk dari metode hypnosleep, semacam sugesti oleh orangtua kepada anak saat tidur. Jadi kan, manusia itu saat-saat hendak tidur, gelombang otaknya akan turun dalam kondisi alpha, theta, dan delta. Sedangkan gelombang otak untuk sugesti hipnosis adalah alpha dan theta, kira-kira pada 1-5 menit pertama saat anak baru mulai tertidur. Kondisi ini merupakan saat-saat dimana alam bawah sadar manusia mudah merekam informasi/sugesti. Simpelnya, kondisi yang tepat untuk menerima sugesti dan diharapkan nantinya termanifestasi dalam bentuk perilaku *ingatkan ya klo teori yang saya pahami kurang tepat, maklum baru belajar. Nah, momen ngeloni si kecil adalah momen pillow talk itu. Sambil nyusui, usap-usap kepalanya, belai lembut, sambil bacakan doa-doa, kemudian ucapkan padanya kalimat-kalimat sugesti kita. Pastikan berupa kalimat positif dan deskriptif.

Pillow Talk untuk Rafa

Menuju hari H MPASI, saya mencoba menerapkan teori di atas. Setiap ngeloni Rafa, selesai membacakan doa-doa, saya mulai ucapkan kalimat2 sugesti tentang BLW. Step by step. Mulanya saya jelaskan tentang apa itu BLW, kenapa saya dan abinya memilih BLW, apa rasioalisasinya, keunggulannya, dll yang teoritis. Memang menyalahi aturan pillow talk ini, kebanyakan kalimat dan complicated, tapi saya pikir…no matter lah, toh sebelum2nya juga kami sering bercerita panjang lebar ke Rafa saat dia sudah tidur sekalipun, hehee. Setelah beberapa hari pillow talk dengan konten teoritis ini, beranjak ke arah teknis. Berubah tema sugesti: tentang apa yang perlu dilakukan Rafa dalam BLW. Antara lain saya ucapkan kalimat2 motivasi: “Mas Rafa anak hebat…suka makanan sehat, main aktif bersemangat, maem mimik lahap…boboknya bobok lelap.” Berlanjut hari-hari berikutnya menambahkan kalimat tentang apa-apa yang perlu dilakukan Rafa saat makan nanti: “Mas Rafa ambil makanan, pegang, masuk mulut…hap! Gigiiiit…trus…kunyah-kunyah-kunyah, kalau sudah lembut…ditelan. Hmmmm…! Kalau ada yang tidak bisa ditelan, mas Rafa lepeh…dikeluarkan, didorong pakai lidah.” Kurang lebih demikian kalimat yang saya ulang-ulang tiap harinya, setiap menidurkan Rafa. Well, mungkin kalimat saya kadang kurang tepat secara teori, karena kadang saya mix antara rasionalisasi, motivasi, dan aplikasi. Jadi panjaaaang sugestinya, hahaha. But see, it really works! Biidznillah, of course :D

Hari Pertama Rafa BLW: GREAT!

This is it! Tau gak sich, rasanya anak mau start MPASI tuh ada rasa deg-degan ternyata di hati ini. Rasanya kayak ngerasain anak kita mau ujian kenaikan gituuuh, antara was-was dan harap-harap bahagia, sukses gak ya…? Gituh!

And the day comes…

Prinsip BLW so simple, manfaatkan sumber daya sekitar, gak perlu repot-repot juga memproses makanan untuk bayi. Nah, karena niat awal nyoba melon buat Rafa gak nemu, adanya pisang ambon…yaudah deh, MPASI sekaligus BLW episode 1 dimulai dengan pisang. Saya potong kulit bagian atas, dan menyisakan kulit bagian bawah supaya tidak licin dipegang. Bismillah, sajikan di depan Rafa. Apa yang terjadi pemirsaaaa…? Dia langsung meraih tuh pisang, dipegang sebentar, lalu langsung masuk mulut. Memang dia dalam masa oral, masa emut2 segala benda dan makhluk. Tapi ini…dia bisa gigit tuh pisang, potongan besar lagi, lalu dikunyah2. Wowww! Impressed laaah. Secara dari sharing mama2 di grup, macem2 polah bayi menghadapi makanan pertamanya. Ada yang cuma dilirik, dipelototin, dilempar2, atau dibejek2 sampai luluh lantak di tangan, tray, dan lantai…ada yang dibuat masker, lulur, dan kramas, ada yang hanya digigit lantas dilepeh2, dan lain2 tingkah lucu bayi2, hihiiii *gemeeessssh! Dan itu variasi, ada yang terjadi di usia 6,7,8, bahkan 9 atau 10 bulan lebih, memperlakukan makanan sedemikian unyu-nya. Nah ini Rafa, di hari pertama dia menghadapi makanan, langsung bisa meraih, memegang, masuk mulut, gigit, dan kunyah. So appreciated! But wait, what happened next…?

Gagging…the first and no more!

Hari pertama Rafa menghadapi makanan pertamanya (non ASI), dia melahap potongan besar sekali di mulutnya. Belum juga halus dikunyah dan ditelan, dia masukkan lagi potongan berikutnya. Dia belum mampu mengontrol kapasitas makanan yang bisa diproses di dalam mulut dan yang bisa ditelan. Nah, saat berusaha menelan kumpulan makanan di mulutnya, terjadilah: gagging alias keselek (bukan tersedak ya, beda itu). Hwuaaaa…Rafa keselek, saking kebesaran makanan yang mau ditelan, lantas nyangkut di tenggorokan. Saya dan abinya stay calm, menepuk pelan punggungnya sambil mengarahkan…ayo, dikeluarkan dek. Dia masih berusaha dan tampak kesulitan, lalu…berlakulah mekanisme alami tubuhnya untuk mendorong makanan keluar: Rafa gumoh, dan meluncur potongan-potongan makanan yang mengganjal tadi. Subhanallah, jujur saya sempat panik dan khawatir, karena Rafa juga agak mewek, yaiyalah…gak enak kan rasanya muntah itu. Setelah baikan, saya gendong dia. Sempat mengajukan opsi ke abinya, “Tak coba suapin ya…” tapi terpatahkan oleh sergahan lembutnya, “Cint, ini hari pertama Rafa, baru saja Rafa mencoba belajar, kita liat sendiri kan dia sudah bisa apa…hanya kurang menelan yang dia belum bisa. Ini sudah bagus sekali…ini hari pertamanya, Cint. Ayolah, yakin Rafa pasti bisa. Jangan patah semangat!! Ya…?” well done, I’m so motivated! Okkeh sayang, i’ll trust you Son :D

Benar saja, alhamdulillah…Rafa sangat cepat belajar. Percaya atau tidak, peristiwa keselek dan gumoh tadi hanya terjadi di hari pertama Rafa BLW. Selanjutnya sampai hari ini, dia selalu berhasil menelan makanan, dan mendorong remah2 yang dia tidak bisa telan. Alhamdulillah, tidak pernah sampai nyangkut apalagi muntah. Dia memperlakukan makanan persis seperti yang saya sugestikan (dan kami doakan), dia langsung mampu mempraktekkan kelima skill makan: meraih, memegang, menggigit, mengunyah, dan menelan, serta mengeluarkan makanan yang tidak bisa ditelan. Benar2 saya dan abinya terkagum dan bersyukur sekali pada Allah yang telah memudahkan. Dan kami memberinya nilai GREAT sebagai pemula BLW. Mungkin saat keselek itu dia mikir, ooh…aku gak boleh gigit terlalu banyak makanan, secukupnya ajja di mulut. Trus aku harus kunyah lembut dulu sampai bisa kutelan, biar engga nyangkut yah… klo gak bisa mending kulepeh ajja maemku… hihihiii, imajinasi saya atas pikirannya. Ohya, pillow talk terus berjalan yaa, seiring perkembangan Rafa. Kami memaknai ini sebagai sebuah ikhtiar : )

Challenge!

Fine, BLW berjalan lancar, alhamdulillah. Tapiiii…sebagai seorang emak2, haduuuh…emak mana sich yang gak gatel pengen nyuapin anaknya. Ini hasil survei saya ya, rata2 ibu2 tuh gemesss banget pengen nyuapin. Saya pun demikian, rasanya kayak enggak sempurna gitu menjadi ibu tanpa menyuapi sang anak *hehey…lebay nggak sich. Namun alhamdulillah, suami saya yang berperan menjadi sosok yang super sabar dan disiplin yang selalu mengingatkan, “Ummi, ingat prinsip2 BLW. Biarkan Rafa belajar dan eksplorasi. Konsisten yaa…” heheee…*malu sendiri* Di saat banyak ibu yang galau karena minim dukungan suami untuk BLW, eh ini suami mendukung penuh, malah saya nya yang rempong, wkwkwk. BLW memang bukan berarti no suap-menyuap sama sekali lhoh, tapi prinsipnya, boleh menyuapi selama si anak yang minta, tanpa pengalihan perhatian, tanpa ada paksaan. Uniknya, Rafa ini malah susah disuapi, banyakan malah mingkem. Jadi cara saya mencoba, misalnya kemarin pas maem nasi plus kuning telur, saya arahkan tangan saya di depannya (tidak ke mulutnya ya), kalau dia memang mau maem, ternyata dia akan menarik tangan saya ke arah mulutnya, dan…nyamm, hap…hap. Begitu sampai selesai makan, saya yang memegang suapan nasi, dia yang mengarahkan tangan saya. Pinter…dia mengambil cara praktis, hehehe. Nah, ada lagi yang wow, ternyata selanjutnya dia punya mekanisme penolakan. Kalau sedang tidak mau disuapi atau tidak mau disajikan makanan, pasti: langsung ditepis tangan saya atau piring yang saya sajikan. Saya ulangi beberapa kali, dia menolak dengan cara yang sama, tidak mengijinkan tangan saya atau piring mendekatinya, wkwkwk.

Tantangan selanjutnya: tentang noda! Inilah efek samping BLW, belepotan dimana2. Di badan Rafa, di baju Rafa (sebenernya dah pake celemek, tapi ya namanya improvisasi bayi begitu lah yaa), di baju saya atau abinya, dan di lantai. Berantakan juga. Messy is always! Okkeh, jadi efek samping berikutnya adalah ibunya bisa langsing karena harus ngepel tiap habis maem, cucian abi tambah banyak dan membandel karena harus ganti baju tiap habis maem, dan butuh stok tissu serta “super pel” yang banyak, hehe. Tapi kami bahagia, kami terkagum dengan progresnya. We’re all very fun. Apalah artinya kotor, noda, dan berantakan, apalah artinya sering ngepel, apalah artinya cucian makin banyak, apalah arti korban banyak tissu dan lap, apalah arti memunguti dan memakan remah2 makananmu di lantai (karena eman terbuang), jika itu demi perkembangan buah hati, jika itu membuatnya mampu dan enjoy bereksplorasi optimal, belajar agar mempunyai attitude makan yang baik dan benar di kemudian hari, serta menguasai kemampuan lainnya yang dia dapat dari proses makan BLW ini. Fine, Son…abi n ummi love every single way you learn.

Tantangan berikutnya adalah mbah2nya Rafa. Ya emang BLW ini adalah metode yang menyelisihi adat leluhur yaaa, hehe. Kalo pada umumnya bayi kan dikenalkan dengan makanan cair, kemudian bubur lembut, bubur kasar, dan seterusnya bertahap. Kalau BLW kan tidak. Jadi saat mbah2nya Rafa tau kami ngasih makan langsung makanan padat, pada heran lah, yang rata2 tanya,”Emang gakpapa?” hehe. Namun seiring perkembangan Rafa yang saya tunjukkan di depan mereka, mereka malah terpesona heran. Rafa bisa pegang dan makan singkong rebus sendiri, menghabiskan beberapa kuntum brokoli, mengunyah dan hisap2 jeruk tanpa keselek, dan lain2. Saat saudara2 kami liat Rafa gigit apel besar2 pun pada heboh mereka, “Awas lho mbak nek keselek” namun saya yakinkan, “Gakpapa Om, Bulik, dek, mas…dll…kalau tidak bisa ditelan pasti dikeluarkan kok,” dan begitulah adanya. Namun saat mbah2 Rafa ingin menyuapi ya saya biarkan saja, toh tidak setiap saat disuapi dan tidak dengan paksaan juga. Dengannya kami dan Rafa belajar tentang menghargai orang lain (menghargai suapan dan kasih sayang embah, hehe).

Dan, kamipun belajar darinya

Sejujurnya, BLW ini menjawab galau saya dulu. Saking seringnya melihat anak2 tetangga yang harus digendong, diajak jalan2, liat ikan atau burung agar mau makan, bahkan yang sudah balita (di atas 3 tahun) pun harus dikejar2 untuk makan, saya jadi mikir: gimana ya caranya biar anak2 tu punya kesadaran untuk makan, tanpa perlu pengalihan perhatian, dan bisa makan dengan duduk (tidak dikejar2 disuapi sambil dia main). Pun sering juga mendengar komentar ibu sang anak “Makannya susah…” Ternyata, jawabannya ada di sini, di BLW ini. Memang secara psikologis, BLW mengajari anak untuk memiliki kesadaran terhadap makanan, tau dan sadar bahwa dia sedang menghadapi makanan, dia perlu untuk makan, dengan keinginannya sendiri, melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Bukan dengan pengalihan atau paksaan. Maka dengan mengenal metode ini, terjawablah galau saya. Oke, kita coba dengan metode ini, semoga ke depannya benar2 tercapai manfaat BLW ini yang antara lain: anak sadar makan, tidak pilih2 makanan, suka makanan sehat, dan mandiri.

Banyak hal yang saya dan abinya justru mengambil pelajaran dari proses belajar makan Rafa ini. Salah satunya, saya yang picky eater ini (suka pilih2 makanan) jadi belajar sama Rafa bahwa makanan itu enak atau nggak enak tergantung mindset dan kebiasaan lidah kita. Soalnya menurut saya, makanan hambar terutama sayur itu nggak enak, apalagi yang tanpa diapa-apain (cuma dikukus atau direbus saja). Saya ini baru doyan banget sama sayur sejak kuliah lho, parah kan *jangan ditiru! Tapi ketika kami membelajarkan Rafa untuk makan sayur2an yang cuma dikukus, otomatis saya dan abinya pun memberi contoh untuk memakannya. Ya…rasanya ya gitu, tapi rasa itu tergantung mindset. Dan Rafa yang masih zero value ini lah yang hendak kami ajari mindset bahwa sayur itu enak, sehat, meski tanpa bumbu. Nyatanya, dia doyan banget. Ya buncis, kacang panjang, sawi, wortel, apalagi brokoli…he like the most. Bahkan saat kami nyoba buah bit kukus, hwaduuuh…rasanya subhanallah *bikin kami nggak doyan* aneh2 gimana gitu, yang kata ibu saya “Ambune koyo tikus berit, Nis” (baunya kayak tikus curucucut, haha#ngakak guling2) padahal khasiatnya handal sekali. But see…my Rafa so enjoy it, suka banget dia. Apalagi waktu dibikin jus campur apel, tambah lahappp. Kami pun terpana… @.@

Kemudian tentang attitude makan. Salah satu manfaat BLW ini kan membiasakan anak untuk mengunyah makanan, makanya sejak pertama kali dikenalkan makanan dia harus berusaha mengolah secara mekanik itu makanan padat meskipun dia belum punya gigi. Dan bayi ternyata hebat lho, bisa mengunyah tanpa gigi. Nah ini kelemahan saya dalam makan, saya tidak bisa (terlanjur tidak biasa) mengunyah dengan optimal (katanya 33 kali ya). Makanya saya tu kalau makan cepat sekali, karena asal telan aja, wkwkwk. Hasil latihan BLW ini sangat terlihat pada Rafa, sampai sekarang Rafa usia 10 bulan alhamdulillah tidak pernah yang namanya ngemut makanan, seperti yang biasanya dialami para bayi. Always dikunyah nyam nyam.

Saya belajar, abinya pun belajar. Tentang awareness. Kalau makan itu ya sadar kita lagi makan, disadari, dinikmati, fokus, dan tidak disambi2. Nah ini, kebiasaan abinya makan sambil ngadep buku atau browsing ngenet via HP, atau nonton bola. Makanya waktu makan jadi lama, karena ter-distruck oleh kegiatan lain. Eh saya juga sering ding gitu, makan sambil ngadep HP. Makanya sekarang kami saling mengingatkan agar kelak jadi teladan waktu makan, “Hayo, anak BLW makan ya makan.” Mungkin untuk orang dewasa seperti kami makan sambil disambi tidak menjadi masalah berarti ya, tapi untuk anak2, hal ini harus dibiasakan sejak dini salah satunya dengan tidak mengalihkan perhatian anak dari makanan, misalnya sambil digendong, “Eh liat tuh ada burung…aa…aaa…hap.” *suapan sendok masuk mulut. Si anak dikelabui dengan burung, mainan, atau hal lain agar mau mangap dan makan. Suasana baru untuk variasi memang perlu, tapi tidak dengan mengalihkan perhatian anak dari makanan yang sedang dihadapinya.

Mmmm, sekian dulu cerita BLW dari saya ya. Ntar2 kalau ada tambahan saya note-kan lagi, sebagai catatan pengalaman. Tentang apa itu BLW, kenapa, bagaimana, dan serba-serbinya, mohon maaf terlalu panjang jika saya paparkan bareng2 disini ya. Jadi silakan gali informasi yang seabreg tentang BLW, bisa join di grup fecebook: Baby Led Weaning Indonesia, atau baca di bukunya Gill Rapley.

Happy MPASI (^_^)/

6 responses »

  1. Ohhh ceritaaa bgus bgt mom,, saya lagi galau milih metode makan untuk anak saya (4 mo) antara blw ato konven,.,, makasih sharingnya ya.. sangat membantu,,
    oia, btw sugesti hypnonya boleh ya dicopy,, hahaha,, salam kenal.,

  2. waah mom saya tertarik sama hypno pillow nyaa.. ada link nyaa mbak? mau sedikit belajar ttg ini.. hehe..
    anak saya 9 bulan baru mau saya terapkan blw, itupun karena sekarang lagi gtm.. selama ini spoonfeeding.. nyasar ke blog mbak dan baca ttg hypno pillow.. perlu dicoba jg :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s