Tag Archives: tafakkur

Kolase Hikmah

Standard

~ Dompet yang Tak Pernah Penuh

Terkisah, suatu hari uang jatah persiapan kelahiran anaknya ia sumbangkan untuk seorang aktivis dakwah yang terserang sakit berat. Sang istri agaknya keberatan karena nominal tujuh digit rasanya terlalu besar untuk ‘sekedar’ donasi. Donasi kan biasanya berslogan ‘semampunya, seikhlasnya’. Terlebih kepada orang yang belum dikenal. Tapi ia berkata “Anak kita belum lahir, dan sekarang ada orang yang lebih membutuhkan. Beritanya sampai pada kita, barangkali ini jatah rezeki dia.”

Lain waktu, konon setiap kali dompetnya terisi banyak, akan ada orang yang datang butuh pertolongan. Sampai ada satu nominal uang yang jika sudah dikembalikan, akan ada lagi orang lain yang datang meminjam. Persis dengan nominal yang sama. Begitu terus. Semacam uang memutar. Datang dan pergi silih berganti seperti tidak mau berhenti.

Sedangkan si empunya berprinsip: “Jika punya harta diam (yang belum dibutuhkan atau belum akan digunakan dalam waktu dekat) kemudian ada orang membutuhkan, barangkali kitalah yang dipilih sebagai washilah pertolongan. Biarkan dia mengalir.”

Maka barangkali, celah kosong di dompet itu sebenarnya tidak kosong. Tapi terisi sesuatu yang tak kasat. Semoga saja pahala.

♡ ♡ ♡

~ Satu Masuk Satu Keluar

Ada seorang ummahat yang punya kebiasaan baik. Setiap kali dia beli baju atau jilbab baru, maka harus ada yang hengkang dari lemari. Satu masuk, satu keluar.

Benarlah. Karena jika terus bertambah akan menambah sesak. Bukan hanya sesak lemari, barangkali juga sesak hati (karena hubbud dunya atau kikir). Maka diluaskan dengan sedekah, memberi dari apa yang dimiliki.

“Lepaskan apa yang ada di genggamanmu agar tangan kosongmu bisa menerima lagi.” Kata seorang ibu motivator bisnis, lupa siapa namanya.

♡ ♡ ♡

~ Selalu Ada Untuk Dakwah

Sepasang sejoli yang telah berlalu dari tugas di muka bumi, memberi teladan bagaimana berkorban untuk dakwah. Dikisahkan oleh saudaranya bahwa mereka selalu ada untuk dakwah. Kalau tidak ada, akan diada-adakan. Sampai kalau uang sudah habis barulah nyengir sendiri.

Salah seorangnya pernah berkisah: “Dalam perjalanan saya merenung. Saya kok mau-maunya ya tandatangan akad hutang itu. Padahal bisa saja saya menolak atau berkilah, tapi Allah menggerakkan hati dan tangan saya. Kalau dipikir, kenapa saya mau menanggungnya? Demi apa? Tak lain demi cita-cita pendidikan dan dakwah yang saya cintai ini.” Kurang lebih intinya demikian yang masih lekat di ingatan.

♡ ♡ ♡

Sejatinya harta yang akan kita ‘bawa’ justru bukan harta yang bersama kita. Tapi itu, harta yang meringankan penderitaan dhuafa, yang mengenyangkan perut fakir miskin, yang menyambung hidup anak-anak yatim, yang memudahkan jalan para santri, da’i, dan mujahid fi sabilillah, yang menghangatkan musim dingin anak-anak Palestina dan Suriah, dan lainnya.

Maka ini menjadi pengingat diri sendiri. Jangan bingung kemana menyimpan uang, tapi bingunglah kemana ‘melepas’ uang.

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS At-Taghabun:17)

Kata ‘pinjaman’ ini terasa motivatif. Karena manusia seringnya merasa yang dimiliki adalah kepunyaannya, maka Allah menghibur seolah-olah kita meminjamkan. Allah ‘pinjam’ saja kok. Kamu tidak akan kehilangan, nanti juga pasti dikembalikan. Maksudnya, pasti akan mendapat balasan yang bahkan tak terkira jamaknya.

“Alangkah indah orang yang sedekah, dekat dengan Allah, dekat dengan surga. Takkan berkurang harta yang sedekah, akan bertambah, akan bertambah.” (Lirik lagu Opick)

Hadanallaahu waiyyakum ajma’in. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kami, dan kamu sekalian.

Advertisements

Fiksi yang Bisa Diteladani

Standard

Beberapa waktu ini, AAC 2 sedang mode on di kepala saya. Terutama bab akhlak. Tetiba sering terlintas sikap ramah dan sabarnya Fahri. Salah satunya pada tetangganya yang resek. Yang bahkan berkata ‘f*ck u’ padanya, yang mengganggu, dan mencuri. Tapi Fahri tetap 5S: senyum salam sapa sopan santun. Banyak menolong pula.

Lha saya? Liat orang manyun-manyun, melengos, dan gebrak pintu aja rasanya geregetan sendiri. Ini orang kenapa pula. Sikapnya kok ngeselin. Rasanya jengah, pengen berkata begini begitu, kalau lewat pengen manyun dan melengos juga. Lhah, kalau begini mah bukan mirip Fahri, tapi lebih mirip Paman Hulusi yang rempong. Wkwkwk

Saat leyeh-leyeh, mikir atau nglamun gak jelas, eh tetiba ingat Fahri yang saat rehatnya saja dia berdzikir. Saat malas, kok ya ingat gigihnya Fahri menegakkan punggung untuk ibadah dan konsisten murojaah.

Fahri dan kawan-kawan, selesai bercengkrama dan mengobrol dengan rekanan, lantas ditutup dengan doa kafaratul majlis sebelum bubar. MasyaAllah. Saya gak kepikiran segitunya. Yang ada doa itu dibaca pas habis halaqoh, habis kajian, atau pelajaran sekolah. Gak kepikiran kalau habis nimbrung ngobrol atau diskusi trus ditutup doa kafaratul majlis.

Hanya fiktif belaka, tapi teladannya berputar-putar di kepala saya. Begitu lho harusnya muslim yang baik itu. Begitu lho harusnya sikap seorang da’i. Begitu lho aplikasi 10 muwashofat yang kamu hafal itu. Katamu kamu suka bidang syiar. Mana akhlak yang kamu syiarkan sebagai cermin wajah indah Islam? Tau kan kalimat yang mengatakan “Al Islamu mahjubun bil muslimin” (kemuliaan Islam itu terhijab oleh kekerdilan orang-orang muslim). Nah, jangan kamu menjadi bagian dari hijab itu.

Merendahlah, bersabarlah, dan tegaslah pada tempatnya. Jangan lupa, miliki emosi yang mandiri. Yang tidak tergantung atau mudah terpengaruh emosi orang lain. Mau orang manyun, tetaplah tersenyum. Mau orang marah, tetaplah ramah.

Terimakasih Kang Abik menghadirkan sosok Fahri. Perkara banyak kisah yang ‘so sinetron’ di novel AAC 2, abaikan saja. Saya pilih ambil yang oke-oke saja.

… … …

~ Preferensi ~

Ngomong-ngomong, perkara memilih bacaan, kita pasti punya preferensi tipe bacaan dan tujuan membaca. Tipe bacaan biasanya tergantung passion kita. Jaman sekolah MTs saya kenal majalah Annida, yang iconnya gadis berjilbab lebar berkacamata, dikasih setumpuk sama ummahat teman ibuk. Trus pas SMA sukanya baca (pinjem temen) novel Aisyah Putri, Elang, Topan Marabunta, Jadian 6 Bulan, Ayat-ayat Cinta, Hafalan Shalat Delisa, dll apalagi lupa. Bacaan remaja islami itu bagus, memberi hikmah dan penanaman nilai. Remaja jadi punya gambaran pengen jadi sosok seperti apa. Seiring perjalanan tarbiyah dan pendidikan, preferensi genre bacaan pun lebih punya arah.

Sedangkan preferensi tujuan, bisa jadi tergantung misi. Misal: saya baca buku aliran kiri tentu bukan sebagai hiburan atau untuk diinternalisasi, tapi untuk tau alur pemikirannya. Sebelum membaca tentu perlu siapkan screening map di kepala. Di rumah kami punya beberapa buku yang mengandung pemikiran menyimpang. Dibaca untuk diketahui penyimpangannya. Salah satunya yang suami dapat dari sebuah sekolah. Buku golongan syi’i. Bisa-bisanya nangkring cantik di perpus SD itu. Kemungkinan include dengan buku-buku lain hibah dari penerbit ‘itu tuh’. Level sekolah dasar kok dihibahi buku macam itu. Mereka perlunya diisi dengan nilai-nilai basic yang nantinya menjadi filter skill or values standard mereka dalam menilai, memilah, dan memilih.

Jangan sepelekan bacaan. Ada bacaan-bacaan yang di dalamnya mengandung ruh. Ruh halus, yang menelisip ke akal dan hati. Menjadi hidayah, menjadi penguat langkah. Atau sebaliknya, mengandung kontaminasi yang meracuni. Karena selain sebagai propaganda kebaikan, ada juga tulisan/buku yang disisipi propaganda penyimpangan. Pandai-pandailah menyaring. Jika kita pakai ‘lensa kacamata’ yang tepat, insyaAllah tidak mudah tersesat.

Selamat sarapan ^^

Today’s Themes

Standard

Sometimes, silence is the highest level of ignorance.

Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa.

Bisa jadi orang yang nyebelin untuk kita, untuk orang lain dia kesayangan, kebanggaan. Karena apa? Karena kita yang sebel ini hanya tau nyebelinnya saja. Sedangkan orang dekatnya tau banyak baiknya.

Jadi sebenarnya siapa yang nyebelin? Kamu. Iya, aku.

Ada banyak pilihan respon dan makna. Kamu pilih yang mana.

*logoterapi
*menulis adalah afirmasi

Kerlip Cantik

Standard

Kau selalu begitu.
Mempesona.
Cantik dengan cahayamu.
Pendarnya selalu memukau.
Kau membuat mereka menikmati gelap,
Yang menjadi indah karena tercahayai oleh kemilaumu.
Kau, ciptaanNya yg menawan.

Kerlipmu selalu cantik.

Kunang-kunang :)

Di bawah bayang-bayang

Standard

Hikmahnya Allah mencipta bayangan benda, salah satunya adalah untuk meneduhkan. Dalam bahasa Jawa: iyup-iyup. Pas mau parkir motor, pas lagi nungguin jemputan, pas apel, atau pas nemenin anak main di halaman, enakan kan cari tempat yg teduh di bawah pohon ya. Pas kepanasan di bawah terik siang, paling enak cari iyup2 di bawah pohon rimbun, hmm…teduh. Maka subhanallah, pada bayang2 benda pun kita membutuhkan. Sesimpel itu, begitu nikmat dari Allah juga. Allah yg mencipta. Fabiayyi alaa-i Robbikuma tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhanmu yg mana lagi yg kau dustakan..?

*tafakkur safar