Tag Archives: logoterapi

Today’s Themes

Standard

Sometimes, silence is the highest level of ignorance.

Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa.

Bisa jadi orang yang nyebelin untuk kita, untuk orang lain dia kesayangan, kebanggaan. Karena apa? Karena kita yang sebel ini hanya tau nyebelinnya saja. Sedangkan orang dekatnya tau banyak baiknya.

Jadi sebenarnya siapa yang nyebelin? Kamu. Iya, aku.

Ada banyak pilihan respon dan makna. Kamu pilih yang mana.

*logoterapi
*menulis adalah afirmasi

Hulk dan Dendam Masa Lalu

Standard

Konon kisahnya, Bruce Banner bisa berubah menjadi monster raksasa bernama Hulk bukan hanya karena pengaruh radiasi gamma yang ia terima, namun juga dipicu dendam masa lalu Bruce terhadap ayahnya. Ketidakmengertian, kemarahan, kebencian yang ia pendam dalam-dalam sedari kecil. Unfinished business, dalam teori Gestalt. Maka di saat dia tertekan atau marah, berubahlah dia menjadi Hulk yang mengamuk.

Dendam. Meski dipendam dalam-dalam dan ditimbun gunung setinggi Himalaya, ia tetap ada. Di kedalaman alam bawah sadar. Seperti bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Maka coba sadari. Kenali setiap rasa dan pikiran yang tidak nyaman dalam diri. Ini apa, darimana asalnya, kenapa bisa terasa. Setelah menyadari bahwa itu adalah bawaan masa lalu, coba maafkan. Ikhlaskan. Dengan pemaknaan bahwa setiap yang telah terjadi adalah takdir kita, jatah kita. Tentu tak kan terjadi tanpa ijin Sang Kuasa. Maka bagaimana bisa kita tidak rela? Jika merasa butuh bantuan, cerita atau temui ahlinya. Semisal Mr.Blue, yang bagi Mr.Green (Hulk) adalah solusi.

Realize, forgive, and improve. Because none of us wanna be a Hulk.

#hikmahsyalala ^^

Jagalah Pakaianmu

Standard

“Jagalah pakaianmu maka pakaianmu akan menjagamu.” Quote by Citra W. Hapsari.

Sukaaa quote ini. Maknanya dalam. Ajining rogo ono ing busono, kata pepatah Jawa. Berharganya tubuh dilihat dari cara berbusana. Di Alqur’an sendiri disebutkan salah satu hikmah disyariatkannya jilbab adalah agar aman. “…yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu…” (QS. Al Ahzab: 59). Bagaimanapun pakaian itu menjadi faktor keamanan.

Pada bab lain di Alqur’an dikatakan bahwa suami istri itu ibarat pakaian. Hunna libasullakum, wa antum libasullahunna. Mereka (istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (QS. Albaqoroh: 187)

Iya, ibarat pakaian. Menjadi semisal pakaian, berarti menjaga. Yang melindungi secara dzohir maupun batin. Yang memperindah, memantaskan diri untuk tampil. Yang menutupi aib, memelihara kehormatan. Yang bisa menempatkan diri, sebagai apa ia dibutuhkan.

Bukankah malu dan tidak aman jika kita pakai baju yang robek atau compang-camping? Maka jangan robek-robek pakaianmu dengan menceritakan aib pasangan atau mengeluhkan kekurangannya pada orang lain atas dasar nafsu.

Jagalah dirimu, dengan menjaga pakaianmu.

#a note to reminder
#a walk to remember

Logoterapi tentang Flu

Standard

Flu,

Mengajarkan bahwa kita disuruh banyak berdzikir dan bersyukur pada Allah: “Alhamdulillah”
Lalu orang2 di sekitarmu akan mendoakan: “Semoga Allah menyayangimu” (Yarhamukillah)
Dan kau balas mereka dengan doa yang mulia: “Semoga Allah memberi kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.” (Yahdikumullah wa yushlih baalakum)
…Maka, tiba-tiba flu akan terasa indaaah ;)

Hummm, sebuah mekanisme menghibur diri.

 

 

Kenapa flu dan bersin-bersin perlu disyukuri?
Satu, karena begitu kata Rosul. Anas bin Malik RA bercerita, ada dua orang bersin di dekat Rosulullah SAW. Beliau mendoakan (tasymit) salah seorang dari keduanya, namun tidak mendoakan seorang yang lain. Ditanyakan alasannya, Rasul menjawab, “Sebab, orang yang satu mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satu lagi tidak membacanya.” (HR Bukhari). Ahha. Aku jadi ingat cerita temanku dari UIN tentang seorang dosennya yang juga ustadz yang ku kagumi. Saat beliau sedang menjelaskan di depan kelas, salah satu mahasiswanya ada yang bersin. Hattcchiiiuuww! Seketika sang ustadz berhenti bicara, seperti sedang menunggu sesuatu terjadi. Para mahasiswa bingung lah, penasaran plus pada menatap heran ke ustadz, mungkin dengan pikiran “He? Kenapa Pak?” Lantas beberapa detik kemudian ustadz tersenyum dengan senyum khasnya sembari berkata: “Ndak usah didoakan ya, anaknya juga ndak berdoa.” Owalah…tertawalah mahasiswa sekelas (dan juga kami yang mendengar cerita temanku tadi). Si mahasiswa yang bersin malu paling ya, hihi.

Dua, karena bersin adalah sebuah nikmat. Kata Ibnul Qayyim, bersin dapat mengeluarkan uap dari dalam otak yang jika dibiarkan akan berbahaya (Zadul Ma’ad 2: 438). Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam. Bahkan, Dr. Michael Roizen, Wellness Officer Cleveland Clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarah Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Makanya, setelah bersin disunnahkan membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Jum’at, 3 Juni 2011
saat flu mendera

Belajar dari Modeling-nya Spongebob

Standard

Di salah satu episode Spongebob, lupa judulnya, yang kurang lebih critanya, dia menemukan rambut palsu dari bahan semacam tisu, lalu dengan bangganya dia mengenakannya sebagai rambut palsu. Tapi dasar Spongebob yang innocent dan rada blo’on itu, menggunakan rambut palsu itu untuk hal-hal yang ‘nggak banget’. Semisal dipakai ngepel, lalu diperas dan dipakai lagi (plis deh!). Kemudian muncullah kutu-kutu menjijikkan yang memang sudah pantas membuat Squidward yang jutek itu bertambah benci dan muak sama Spongebob. Namun, Spongebob yang lugu (blo’on) itu tetap saja bangga dan membanggakan model rambut barunya itu pada orang2 (eh, ikan2 ya?), berharap mereka akan mengagumi model rambut baru yang membuatnya merasa tampan tadi. Dan sudah sewajarnya, orang-orang itu no respon padanya dan pada rambut barunya yang selain tidak penting, juga bertambah sangat menjijikkan.

Lantas, bla…bla…bla…dibuanglah rambut palsu itu. Eh…artis gundul, si empunya asli rambut palsu itu menemukannya, dan dipakailah lagi. Kali ini, sekalian dipakai oleh semua anggota grup band-nya.

Beberapa hari kemudian… tereng teeeng!

Spongebob terpana dengan suasana Bikini Bottom, yang kesemua orangnya mulai dari bayi sampai manula mengenakan rambut palsu itu. Lhoh?!!!

Ternyata, mereka terinspirasi oleh Grup Band yang balihonya terpampang di tengah kota, mereka mengenakan rambut palsu itu.

Yang ingin saya ceritakan adalah, saya hanya sedang ingat dengan sebuah teori modeling dalam aliran psikologi behavioristik yang konsepnya hampir mirip dengan cerita Spongebob di atas.

Bahwa untuk menjadi seorang model (bahasa bagusnya: tauladan) yang berpengaruh kuat untuk ditiru orang lain, perlu perhatikan beberapa hal:

  1. Siapa sih aku? Pantaskah aku memodelkan hal itu? Semisal aku hanyalah seorang Spongebob yang sering dianggap dudul dan blo’on oleh penghuni Bikini Bottom, siapa yang akan menaruh kepercayaan memodelkan rambut aneh itu? Sudah lugu, tambah aneh pula rambutnya. Ini ada dalam teori modeling behavioristik, bahwa status dan kehormatan model amat berarti, karena keberhasilan teknik ini tergantung pada persepsi konseli terhadap model yang diamati. Jika konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang mencontoh tingkah laku model tersebut. Dalam kisah tadi, jelas pesona Spongebob yang hanyalah seorang Spons kuning yang kurang begitu penting bagi khalayak, kalah dengan pesona Grup Band ternama yang dengan mudahnya mepopulerkan gaya rambut nyentrik tadi. Emang biasanya begitu ya, artis tu lebih sering dijadikan acuan lifestyle oleh masyarakat. Hmmh…perlukah jadi artis dulu, untuk mempopulerkan hal-hal yang lebih baik? Oh tidak. Cukup tebarkan saja pengaruh kebaikanmu pada sekitarmu.
  2. Sudah benarkah caraku memodelkan? Penting! Jangan tiru adegan Spongebob (meski dalam bentuk lain) yang sama sekali tidak peka suasana, bagaimana orang menilai perilaku yang –niatnya- ingin ia contohkan/ populerkan. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat, begitu teorinya.
  3. Perlu hati-hati juga, bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri, alias konseli justru kehilangan karakter pribadinya sendiri. Fenomena macam ini sering kita lihat, seperti para warga Bikini Bottom yang serta merta meniru rambut nyentrik si Grup Band tadi, padahal ada (banyak) juga yang gak pantas blas dengan model rambut begitu.

Ah, maaf, sedang kurang lihai panjang lebar.

Yang penting, ada satu adegan menggemaskan di akhir episode Spongebob ini. Bukan Spongebob namanya kalau tidak nampak sisi genuine dirinya (ini istilahku untuk keluguan Spongebob, hehe). Di akhir cerita episode ini dia mengatakan pada dirinya sendiri dengan mata berkaca-kaca, yang sebelumnya sungguh kukira dia akan sedih sangat dicela bahwa dialah orang yang tidak keren sendiri, sedang semua orang tampak keren dengan rambut palsunya.


Dia berkata, “Oh, berarti, sebelum orang2 ini, aku sudah lebih dulu kereen…”Gubrakk!!! Baiklah, ini logoterapi ala Spongebob (untuk menghibur diri, hehe).