Prasangka yang Terbatas

Standard

Sore beberapa hari kemarin, mendapat cerita luar biasa dari seorang ibu muda nan cantik, tentang ia dan keluarga kecilnya. Sabahat-sahabat terdekatnya ini baru tau bahwa beliau mempunyai masalah yang selama ini disembunyikan. Bahwa ia menyimpan rapi alasan-alasannya selama ini karena suatu hal. Suatu hal yang memang aib keluarga dan tak ingin dibuka. Lantas selama ini membiarkan saja rekan-rekan menilainya begini begitu bla bla bla. Maka ternyata, prasangka-prasangka itu mendapati alasannya. Gemes sekali rasanya. Saya membayangkan jika menjadi beliau, betapa ngamuknya saya. Apalagi jika itu tentang keselamatan jiwa anak-anak, tentang ketentraman keluarga.

——————————————————————

Setidaknya, saya belajar dua hal:
Pertama, jangan merasa beban ujianmu itu sok berat amat. Kamu tidak tau, ada orang-orang yang ujiannya jauh darimu. Jadi jangan suka bikin-bikin perkara. Apalagi membesar-besarkan perkara kecil. Di luar sana, ada orang yang punya perkara berat dan belum ketemu solusinya.

Pelajaran kedua: seringkali penilaian kita tak pernah seutuhnya benar. Karena kita ini terbatasi oleh indera. Yang mampu kita rasa, kita raba, lantas kita nilai hanya hal-hal yang kasat mata yang mampu terindera. Di luar itu, kita tidak tahu kondisi sesungguhnya orang yang kita nilai.

Maka berhati-hatilah berprasangka pada saudaramu. Lantas istighfarlah atas prasangkamu yang keliru. Adalah lebih baik kau tau betul apa yang sedang mereka hadapi sebenarnya.

—————————————————————-

*semoga apa yang terbuka membuah doa dari orang-orang yang menyimak cerita
*semoga Allah jaga mereka, anak-anak, dan keluarga mereka dari segala marabahaya

Insomnia

Standard

Karena siang sempat tidur jenak bersama para bocil (yang jarang-jarang tidurnya bisa barengan), jadinya gak ngantuk-ngantuk ini -,-

Insomnia yang shalihah harusnya tilawah ya. Atau ala mama-mama kekinian ngrekap orderan olshop. hihihi. Tapi saya mau jalan-jalan malam aja ke rumah tetangga dunia maya, alias blog walking. wkwkwk

Long time no see!

Masa Panen

Standard

Perlu waktu sekitar tiga bulan bagi petani dari sejak menyemai benih sampai memanen padi. Beda lagi kalau pohon durian. Perlu waktu bertahun-tahun dari sejak menanam biji sampai bisa memetik buahnya.

Amalpun demikian. Ada yang balasannya oleh Allah disegerakan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Ada yang kita harus menunggu bertahun-tahun. Bahkan sampai kita lupa pernah beramal demikian. Atau barangkali bukan kita panen di dunia tapi di akhirat. Sekehendak Allah lah.

Amal baik atau buruk, ada hasilnya. Yang sedang ingin dimotivasi disini adalah tentang amal baik. Sesimpel apapun, Allah mengetahuinya. Yakinlah tak ada kebaikan yang sia-sia. Meskipun tak perlu juga kita ingat-ingat kita pernah berbuat baik. Jangan-jangan itu hanya perasaan kita saja, padahal nihil nilainya di mata Sang Pencipta (na’udzubillah ya, semoga tidak demikian).

Jangan remehkan kebaikan pada siapapun, karena bisa jadi orang yang kita sikapi baik, beberapa kurun waktu kemudian ternyata Allah datangkan sebagai washilah pertolongan dalam kesulitan kita.

Jadi ya, begitulah kira-kira. Kebaikan sesederhana apapun, Allah merekamnya, semoga dihitung sebagai pahala dan ada masanya kita memanen hasilnya.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
QS. Az-zalzalah ayat 7-8

#pelajaran darinya, dari sana :,)

Mengingat mati itu menghidupkan jiwa

Standard

Menit-menit paling nikmat adalah saat seorang hamba merasakan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Menit-menit itu benar-benar menghadirkan ketundukan ruh yang khusyu’, mempertemukan ketakutan (khouf) terbesar dan harapan (roja’) teragung pada Robbnya, mengantarkan diri pada perenungan “Jika ajalku datang, tabungan apa yang akan kubawa pulang? Bagaimanakah sakaratul mautku? Seperti apakah kematianku? Dan seperti apa setelahnya? Amalku yang mana yang akan menolongku?”

Menit-menit itu begitu sepi, hanya seorang hamba sendiri. Sehingga terbayangkan olehnya bagaimana kesendiriannya di kubur nanti. Betapa sepinya. Tak ada belai kasih pasangan atau keriangan anak-anak. Dan tetiba ingatan-ingatan itu membuat bulir-bulir bening berjatuhan. Betapaaa…dunia ini sangat fana.

Menit-menit dimana hati merasa begitu pasrah, hina, dan sangat menganggap dunia ini tak ada artinya. Merasa rugi atas banyaknya waktu yang sia-sia, penyakit hati yang membuat noda, dan perkara-perkara fana lainnya.

Sayangnya, menit-menit khusyu’ seperti itu tak selalu hadir. Atau tepatnya tak selalu bisa dirasai jiwa. Mungkin karena saking banyaknya dosa. Diri yang terlalu disibukkan oleh hiruk pikuk zaman. Hati yang nyatanya lebih banyak lalai terbuai godaan duniawi.

Faghfirliy…faghfirlanaa ya Allah.

Allohumma amitnaa ‘alasy syahadati fii sabiilik ya Allah. Fii husnil khootimah. Wajma’ bainanaa fii jannah. Amin.

Sapi Betina yang Kurus

Standard

Kau pernah bilang akan kesana membawa sapi betina, mengajak Imran dan wanita itu. Nyatanya sampai sekarang sapi betinamu itu saja kurus tidak rutin terurus. Belum purna kau pelihara. Bagaimana kau mampu mengajak Imran dan wanita itu? Apalagi menyiapkan hidangan selanjutnya? Padahal kau sudah siapkan perencanaan rumah untuk mereka…

Sekarang kau dapati takdir yang meleset jauh dari rencanamu. Qodarulloh, semua berubah sejak negara api berulah. Maka sejak itu rencana-rencana semula pun harus sedikit berganti arah. Salah satu hikmah yang bisa diambil adalah: menyelesaikan tugas pengajaran dan penambahan sebagaimana yang ditargetkan.

Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah.

Rumit

Standard

Kadang bingung campur amazing dengan caranya berbuat baik. Bahkan saat urusannya belum beres, ia mudah mendahulukan orang lain. Bahkan di saat-saat tersulitnya, ia tak ingin menyulitkan orang yang telah mengajaknya berkesulitan.

T.T

Aku tak lagi punya solusi, selain hanya air mata yang jatuhnya sembunyi-sembunyi. Bukan sebagai pencitraan bahwa aku tegar, hanya saja tak ingin orang yang memandang ikut gelisah.

Aku hanya bisa berdoa semoga dimudahkan ikhtiyar, dibalas sebaik-baik balasan. Seperti yang sudah-sudah. Barokallohu fiih.

T.T

Menjaga Anak Perempuannya

Standard

Saat aku usia remaja (MTs) Bapak sudah ngaji, beliau bilang “Anak perempuan jangan pakai celana. Pakai pakaian yang syar’i.”

Bapak tidak suka anak perempuan mbonceng motor ‘mbegagah’ (bonceng ala cowok). Jaman SMA aku ada bandel-bandelnya lah ya. Remaja gituh. Salah satunya pas dibonceng teman dari sekolah aku seringnya mbegagah, nanti kalau sudah dekat rumah baru ganti posisi bonceng cewek. Sampai temanku yang bernama Tanti itu hafal “Nis, kamu gak berubah posisi?” Wkwkwk. Kalau ketahuan bonceng cowok bapak bisa ngomel “Cah wedok kok mbegagah…bla…bla…” Ia mengajariku tentang menjadi perempuan (yang feminin).

Malam minggu waktunya apel, eeeh…sesat sesat! Arisan kalau aku mah. Arisan remaja karangtaruna. Bapak selalu pesan “Ojo boncengan karo cah lanang.” Ia mengajariku tentang pergaulan. Padahal tanpa dipesan aku memang tak mau dibonceng cowok. Malu.

Suatu saat setelah lulus SMA, ada pemuda usia lebih tua, yang bau-baunya tak sedap. I mean, semacam mau pedekate. Suatu waktu tetiba main ke rumah, bapak yang biasanya ramah dan supel pada siapapun, tetiba cuek, dingin seperti es batu, isyarat rasa tidak suka. Tidak menyapa, tidak mengajak ngobrol, tidak dipersilakan masuk. Rupanya beliau mencium modus anaknya mau di pedekate. Habis itu, itu cowok kapok gak datang lagi ke rumah. Horeee…!!! *Cinderela bahagia donk! Bapak semacam mengajariku untuk hati-hati pada buaya darat :p

Suatu siang pulang sekolah, nunggu jemputan bapak di pinggir jalan. Ada mas-mas asing ngajakin ngobrol. Pas bapak datang menjemput, di perjalanan beliau mewanti “Kalau didekati orang asing, dijawab yang baik. Jangan kasar. Biar orang tidak marah. Biar tidak ada masalah.” Aku tau maknanya, supaya tidak beresiko kenapa-kenapa pada anak perempuannya ini.

#anakBapak
“…Ini lho Buk, anak ini kemana-mana diantar bapaknya…” Kata seorang anak saat curhat pada ibuknya tentang aku. Aku sih taunya ini dari ibu mertua :p

Setiap diminta beli sesuatu di toko, bapak mesti pesan “Ojo neng tokone Pak ‘kae’. Akeh cah lanang nongkrong.” atau “Nek tokone Pak ‘kae’ akeh cah lanang, nang liyane ae.” Bapak mengajariku tentang rasa malu.

Aku adalah anak yang waktu kecil banyak hang out sama bapak. Maksudnya pas bapak ada urusan ke kota (Madiun) aku ikut gitu. Sering diajak mencari jalan pintas, yang di kemudian hari sepertinya ini ngaruh pada kemahiranku mengemudi motor dan menerobos jalanan (lampu merah…kadang2, wkwkwk). Setiap ke kota, bapak mesti mentraktir makan/jajan di warung (this is the main target of mine at that time, huohohoo). Tapi kalau tempat yang kami tuju ternyata ramai oleh lelaki, bapak selalu akan bilang “Rasah sido ya nduk. Akeh wong lanang.” Atau “Ayo golek liyane ae ya.” So suwiiit Bapak! Bapak begitu hanya karena satu sebab: beliau sedang membawa anak perempuannya.

Momen-momen itu dan beberapa momen lainnya terkenang sampai sekarang. Sampai pada kalimat-kalimatnya aku ingat. Saat itu aku merasa, betapa bapak sangat ingin menjagaku, menghargai dan memuliakan anak perempuannya. Di kemudian hari saat aku dewasa, aku merasainya lebih mendalam. Cara-cara simpel yang bapak tunjukkan itu terasa seperti wejangan berharga sepanjang hayat “Kamu itu berharga, Nduk. Harus pandai membawa diri.”

Pun aku kemudian merasa “Oh ya. Ada sosok laki-laki yang mencintaiku dengan sebenar-benar penjagaan.” Yang sekarang, penugasan itu telah beralih tangan kepada laki-laki lain yang kepadanya bapak melepas perwaliannya atasku.

Terimakasih Bapak :)
Semoga Allah merahmati Bapak, fiddunya wal akhiroh.

————————–
*anak perempuanmu, yang selalu tidak bisa se-asertif ini saat di depanmu*
————————–
*pesan sponsor: ambillah hikmah dan buanglah sampah pada tempatnya*