Menulis adalah Mengikat Ide

Standard

Dulu jaman kuliah saya selalu sedia buku kecil dan pulpen di tas. Sewaktu-waktu ada ide buat tulisan, tulis deh. Kerangkanya dulu paling gak, sebelum nanti dikembangkan jadi tulisan di blog atau sekedar curhatan di leptop ๐Ÿ˜

Sekarang jaman digital, sudah tergantikan dengan smarphone. Ada ide langsung aja nulis di note HP.

20180306_042343.jpg

Lantas kemarin, saat di pesawat HP mati dan buku tertinggal masuk koper… yaudah deh, tak ada kertas tisu pun jadi ๐Ÿ˜‚

 

Advertisements

Parfum, Jangan Diminum

Standard

Hujan-hujan gini enaknya curhat ya hikiki. Disambi ngawas bocah si Boya n Cuid, disambi ngemil juga. Pernah saya punya pikiranย jail. Andai tangan kiri bisa nulis, saya pengen bisa nulis sambil ngemil bersamaan. Wuahaha… *maruk ๐Ÿ˜‚

Jadi curhatnya begini. Kok saya puyeng juga ya punya banyak akun. Ada akun pribadi fesbuk, punya fanpage juga. Ada IG (buat jualan, trus nyoba bikin 1 lagi buat upload foto2 bebas), trus ada wattpad, ada blog juga. Beuh.

Bingung juga akhirnya memilah dan memilih posting ini itu pasnya ditaruh mana. Yang lebih jelas lagi, emang menyita perhatian dan menarik perhatian. Nah, poin ini nih.

Barusan tadi pagi nemu lagi bahasan pro kontra emak vs emak yang beda pendapat tentang upload foto-foto anak, beserta pujian atas perkembangan anak. Satunya nuduh “pamer lu”, satunya nuduh “kamu sih yang hasad”. Nah lho.

Jadi siapa sebenarnya yang salah? Hasembuh. Saya sendiri tipikal selow. Ada yg hobi majang foto ya silakan. Barangkali bermanfaat sekedar katarsis untuk diri sendiri, atau butuh apresiasi sebagai motivasi syukur-syukur menginspirasi. Saya sendiri ya seneng aja ada posting-posting lucu nan awesome tentang anak.

Ada yang kontra, ya itu bagus juga. Kehati-hatian tentu lebih menyelamatkan. Sebab tak dipungkiri, saya sendiri pun selain takjub, pernah juga baper karena posting orang lain. “Ahh, anakku gak gitu. Ahh, rumah situ kok rapih rumahku acakadut. Ahh, aku kok gak secakep mbak Dian Sastro sih #ehhh.” En blablabla. Kalau diturutin, ada aja kok yang bisa bikin wanita baper itu. Serius. Itulah hebatnya wanita wuahahaha ๐Ÿ˜œ

Ada orang yang baper terhadap posting kita, itu sangat mungkin sekali. Terlebih jika ada hasad di hati, nah dari sinilah sebab munculnya penyakit ain. Pernah gak ngalami kena ain? Saya pernah.

Makanya kan, di surat Alfalaq kita diajari untuk berlindung salah satunya adalah dari kejahatan orang hasad (dengki). Wamin syarri hasidin idzaa hasad (dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia mendengki).

Saya sendiri tipe yang kadang masih suka upload foto entah foto diri dan keluarga atau foto hal-hal yang saya suka. Tapi kadang juga pas pengen upload ini itu, ingat khawatir ada yang baper jika liat posting saya. Semisal satu deh. Ada sosok dekat yang saya tahu rumah tangganya sungguh perjuangan batiniyah. Itu membuat saya gak tega mau show off di medsos tentang betapa happy nya saya berumah tangga (padahal neh aslinya gak happy mulu, ngenesnya teteup ada aja).

Jika pun bukan karena menjaga perasaan orang lain, tetap saja ada ganjalan di hati ketika keseringan show off di medsos. Sebab, yang saya sadari, pujian itu berat lhoh. Kadang bisa bikin kepleset. Khawatir jatuhnya pada ujub. Juga kadang yang jadi beban adalah macam disangka baik banget padahal buruk-buruknya saya manalah orang tahu.

Beratnya pujian, makanya sampai di hadits dikatakan taburlah pasir pada wajah orang-orang yang memuji. Kalimat tersebut untuk menegaskan larangan memuji orang lain secara berlebihan. Sebab dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi yang dipuji. Jadi yang benar itu adalah, puji sanjung-sanjunglah kebaikan dan kemuliaan orang di belakang. Bukan kok kebalik. Di depan manis manja bertabur pujian, di belakang menggunjing dengan caci makian. Naudzubillahi min dzalik.

Beratnya pujian, makanya ketika dipuji Abu Bakar sampai berdoa:

ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูู†ูู‘ู‰ ุจูู†ูŽูู’ุณูู‰ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู†ูŽูู’ุณูู‰ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู†ูู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู…ูŽู‘ุง ูŠูŽุธูู†ูู‘ูˆู’ู†ูŽ ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู‰ ู…ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู’ู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุคูŽุงุฎูุฐู’ู†ูู‰ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ููˆู’ู†ูŽ

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.”

Maka, tips perihal upload medsos sih barangkali ini: pertama, tidak berlebihan alias mengambil sikap pertengahan saja. Kedua, selain perlu tahan caci kami, perlu juga tahan diri untuk tidak berlebihan memuji. Ketiga, jaga hati. Jaga baper dan hasadmu pada orang lain, jaga ujubmu pada diri sendiri.

Barangkali banyak sekali hal yang bisa kita tunjukkan pada dunia sebagai bukti bahwa kita shalih, sukses, ataupun bahagia. Tapi di sisi lain, ingat lagi deh. Pujian itu berat, bisa menggelincirkan niat dan amal. Pun beresiko menjadikan orang lain baper or hasad.

Tsumma naudzubillahi min dzalik.

โ™กโ™กโ™ก

“PUJIAN. Meski tulus & harum, ia cuma parfum. Boleh dicium, jangan diminum. Lima dari 6 hurufnya pun UJIAN. Luluslah dengan ‘AlhamduliLlah’…”. (Ustadz Salim A. Fillah)

Parfum, jangan diminum. Nanti keracunan ๐Ÿ˜‰

โ™กโ™กโ™ก

*menulis adalah bercermin ๐Ÿ’™

Membeningkan Pikiran

Standard

Dulu aku sering bersamanya. Dalam suka duka, tangis dan tawa. Menggenggam banyak kesamaan pikiran dan perasaan, saling membagi cita dan rahasia. Sama-sama terlahir di Januari, saling memompa semangat dan membangun mimpi-mimpi.

Lalu, pada hari telah genap usia 30 kami, aku kembali bersamanya. Meski hanya lewat suara, tersambung lewat semesta. Berkisah, berbagi, mendengar, untuk saling mengerti. Masih seperti dulu, penerimaannya terhadap baik burukku. Masih seperti dulu, penuturannya membangkitkan jiwaku. Masih seperti dulu, dekat dengannya meluaskan sudut pandangku.

Masih seperti dulu, aku menyebutnya: Si Bening ๐Ÿ’™

Ternyata Bikin Resolusi itu Ngaruh

Standard

Takcritani. Ceritanya sih ya judul di atas itu intinya. Haha…

Setelah mengenali diri lahir batin, lalu menuangkannya dalam oret-oretan kertas, akhirnya saya nulis juga resolusi tahun ini. Terasa manfaatnya buat mengenali diri dan menentukan pijakan langkah ke depan #tsaaahhh

Kondisi saya kemarin, hari ini, dan pengennya nanti. Itulah acuannya.

Maka tertulislah beberapa resolusi diri yang diantara garis besarnya adalah:
1. Self healing.
2. Nulis, nerbitkan buku, ngikut lomba ini itu.
3. Merapikan dan mengembangkan rumah ngaji.
4. De el el… biar saya saja yang tau. Biar kalau gagal ya cukup saya aja yang tau (dan melas) wkwkwk.

Btw yah, dua bulan ini menarget diri 3 event. Tapi nyatanya pikiran bercabang kemana-mana, malah mandeg tengah jalan semua yang dirancang. Kebanyakan yang dipikir, kebanyakan tagihan, malah endingnya gak ada yang dikerjakan. Belum lagi kerjaan dunia nyata yang menuntut perhatian. Anak-anak yang sakit gantian, dibarengi abinya dinas ke Jakarta sepekan. Jadinya pas si kakak yang sakit, harus ke dokter bawa tiga anak. Dua anak sendiri, satu anak tetangga takminta nemeni dan momong si Cuid. Karena disuruh di rumah sama si mbake kagak mau dia. Trus acara-acara di luar yang harus didatangi, anak-anak yang harus diajar ngaji sore hari. Jadilah lelah juga Hayati. Proyek nulis yang sudah digadang-gadang di resolusi pun mandeg dulu lah. Nanti kalau otak dan jiwa raga sudah fresh lagi, semoga bisa kelar happy ending ๐Ÿ’™

Kadang saya tu cuma butuh cerita, butuh ngeluarkan isi otak dan hati. Dengan jujur. Bukan dengan gaya sok kuat sok tegar, tapi justru dengan mengakui kelemahan diri, rasanya lebih lega. Lantas selesai jadi katarsis dan kemudian bangkit. Pas buntu ide nulis pun demikian, seringnya sharing or tanya ke suami itu nihil hasilnya. Ngomong ngalor ngidul bahas sana sini… jebul sing ditulis dan diterbitkan ide yang lain. Trus ngapain juga diobrolin tadi? Ya buat melegakan tenggorokan aja. Ehh, melegakan pikiran maksudnya. Lega karena kebuntuan telah diutarakan. Lantas kalau sudah keluar sumpel-sumpelnya, bisa ngalir lah ide jernihnya.

Oke deh. Sekian dulu curhatan simbok yang menyepi ditinggal tidur dua bocah. Mari sekarang kita tunaikan petuah bijak: tidur dulu, pikir kemudian ๐Ÿ˜‚

Lupa Mengaca?

Standard

Dear, kamu. Oh sungguh sindiranmu itu mengenai sudut hati yang baper. Mengena pada orang yang kamu tuju. Tapi juga mengena pada dirimu sendiri. Sebenarnya sih gitu, kalau kamu nyadar.

Udah lah. Hidupmu hidupmu. Hidupnya hidupnya. Kamu mau tebar pesona senusantara, melevelkan diri ala-ala tokoh ternama, silakan weh. Trus kamu nyindir komenin orang lain, padahal kamu juga gak jauh beda. Di depan kamera ala-ala. Rekaman siaran ala-ala.

Stoplah merendah untuk meroket. Stoplah menjatuhkan untuk melambung. Pamormu di depan banyak orang so super. Cuma kadang kita gak nyadar aja ada orang-orang yang ilfil sama kita. Kita, iya kita. Sebab segala kalimat ini sebelum kutujukan kepadamu, pantasnya memang kutujukan kepada diriku sendiri. #KacaManaKaca

Satu lagi: stoplah kepo. Sudah mau nikah, eh sudah nikah pula, masa masih kepo ‘grup sebelah’? Kalau berujar sudah move on dan menilai tak pantas, kenapa masih kepo?

Oh mungkin karena baiknya kamu memastikan dia bahagia tanpamu. Begitu? Oh atau kamu pengen tau jangan-jangan dia nyindir-nyindir kamu?

Hello fellas. Pikiran macam itu tak akan ada ujungnya kalau dituruti. Dan akhirnyanya kepo lagi n kepo lagi. Dan apakah menjadi tenteram hatimu dengan kepo macam itu? Ora. Tenan, ora.

Jadi kalau benar move on, unfren saja, blokir saja. Atau bersumpah tak akan tengok lagi akun dia. Toh kamu sudah punya pasangan sendiri yang warbiasah lahir batin mulia membahana. Biarlah itu jadi bagian indah hidupmu dan cukupkan. Gak sah kepo tengok-tengok si itu masa lalumu yaaang… kamu nilai mengecewakan wkwkwk.

Hei you, fella. You are great, yes everybody knows. I tell u that, move on sesungguhnya adalah ketika kita stop kepo ‘grup sebelah’ dan menikmati setiap jengkal hidup sendiri. Menulis atau memposting apapun tanpa embel-embel niat “sambil nyindir si itu ahhh”. Ngono kuwi move on ki. Pokoke rasah mbok dilok lan rasah mbok lebokne pikiran lan ati segala apik eleke wong kae. Wes ngono.

Silakan baper karena segala kalimat ini berlaku untuk siapa saja (oh yes termasuk saya). Dah, ndower nih bibir ngecibris. #GincuManaGincu