Jagalah Pakaianmu

Standard

“Jagalah pakaianmu maka pakaianmu akan menjagamu.” Quote by Citra W. Hapsari.

Sukaaa quote ini. Maknanya dalam. Ajining rogo ono ing busono, kata pepatah Jawa. Berharganya tubuh dilihat dari cara berbusana. Di Alqur’an sendiri disebutkan salah satu hikmah disyariatkannya jilbab adalah agar aman. “…yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu…” (QS. Al Ahzab: 59). Bagaimanapun pakaian itu menjadi faktor keamanan.

Pada bab lain di Alqur’an dikatakan bahwa suami istri itu ibarat pakaian. Hunna libasullakum, wa antum libasullahunna. Mereka (istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (QS. Albaqoroh: 187)

Iya, ibarat pakaian. Menjadi semisal pakaian, berarti menjaga. Yang melindungi secara dzohir maupun batin. Yang memperindah, memantaskan diri untuk tampil. Yang menutupi aib, memelihara kehormatan. Yang bisa menempatkan diri, sebagai apa ia dibutuhkan.

Bukankah malu dan tidak aman jika kita pakai baju yang robek atau compang-camping? Maka jangan robek-robek pakaianmu dengan menceritakan aib pasangan atau mengeluhkan kekurangannya pada orang lain atas dasar nafsu.

Jagalah dirimu, dengan menjaga pakaianmu.

#a note to reminder
#a walk to remember

Lahirnya Si Ganteng yang Anteng

Standard

Rabu, 14 Januari 2015

Syahiiid, pemuda kecilku. Ini cerita tentang kelahiranmu. Sebenarnya sudah pernah kutulis beberapa hari setelah lahirmu. Tapi ummi lupa draft nya dimana. hihihi.

Sama dengan Kakak Rafa, ummi suka menuliskan cerita kelahiran kalian. Untuk dikenang, untuk diambil pelajaran. Untuk selalu disyukuri betapa melahirkan kalian adalah sejarah besar dalam hidupku.

♡♡♡

Saat itu, Ahad sebelum si adek lahir, abi sudah ambil cuti kerja. Karena memang rasanya sudah ada kontraksi dan pembukaan. Ternyata setelah abi datang dan periksa, baru bukaan satu. Jadi pulang lagi deh. Besoknya kontraksi malah tidak terasa atau sangat jarang.

Hari Rabu ba’da subuh, terasa kontraksi yang intens dan semakin menguat. Siap-siap deh ke Bu Bidan kesayangan. Naik motor berdua sama si abi, sedangkan kakak di rumah sama simbah.

Sampai sana masih santai-santai, dipakai jalan-jalan ringan dan ngobrol. Lalu masuk ruang bersalin saat kontraksi mulai semakin kuat, biar bisa rehat dan hemat energi. Alhamdulillah sesuai harapan, pengennya melahirkan jangan pas malam hari, karena aku ini ngantukan. Nanti kalau ngantuk gimana bisa ngejan. Wkwkwk

Di ruang bersalin, si abi membawa serta buku-buku dari rak Bu Bidan. Sambil abi asik baca buku, sesekali dia mengajak diskusi dan menyuruhku ikut baca. Hemmmh, semacam di perpus wae. Tapi baguslah, untuk mengalihkan rasa.

Proses melahirkan Syahid ini beda sama kakak dulu. Selain karena prosesi bukaan lebih cepat (karena anak kedua kali ya) juga feel ku beda. Aku gak pengen dipegangi, gak usah dielus-elus, gak usah di aba-aba ambil nafas. Saat kontraksi datang, butuh ketenangan, tolong diam, jangan berisik atau ajak bicara. Just let me face it myself.

Alhamdulillah 2 kali melahirkan gak pernah sampai menegang atau menggenggam kuat-kuat atau bahasa Jawanya ‘nggeget’ saat kontraksi datang. Jadi gak pernah ada adegan meremas tangan suami atau apa untuk melampiaskan rasa sakit. Berusaha rileks, jangan melawan rasa. Biarkan tubuh menerima rasa sakitnya. Begitu justru lebih meringankan. Let it go, let it flow.

Setelah bukaan lengkap, berusaha mengejan yang pertama dan kedua, belum keluar si bayi. Lalu rehat dulu. Pas fase rehat sejenak ini, abinya dadak yo ijin ke kamar mandi. Eeh beberapa menit kemudian, udah kerasa si bayi mau keluar. Bu Bidan lantas memanggil abinya “Mas Fachriii…!” Wkwkwk. Untunglah, pas abinya buka pintu, bayinya pas crowning (kepala sudah keliatan). Lantas begitu suami sedia di sisiku, twiiing…adek Syahid lahir menghirup udara pagi. Jam 9 pagi.

Welcooome cute Baby! Dia kecil, mungil, basah kuyup. Wkwkwk. Lalu nangis oek oek sambil IMD. Beratnya 3,2 kg, panjang 52 cm. Wah, lumayan gedhe juga. kupikir gak sampai 3kg. Karena pas hamil udah diet karbo di bulan-bulan terakhir. Karena kakaknya dulu besar (3,7kg/53cm) jadi khawatir adeknya kebesaran. Hehehe

Berharap di lahiran kedua ini tanpa episiotomi, yes alhamdulillah lolos. Tapi masih dijait dikit, hiksss. Fase penjahitan itu lebih mengerikan daripada melahirkannya. Rasa-rasanya, gimana ya. Sakitnya melahirkan itu bisa ikhlasss, ridho, legowo. Tapi justru sakit dijahitnya itu rasanya hwuaaa..! Tapi yasudahlah, setidaknya jahitan tidak seheboh saat kelahiran kakaknya. Alhamdulillah.

Sore harinya si Kakak datang bersama simbah. Ekspresi Rafa lucuuu sekali. Dia semacam malu-malu menahan senyum. Mungkin berpikir “Kok ada makhluk kecil ini apa…eh siapa…?” hihihi. Saat menatap keduanya, dalam sekian detik saya mengalami momen ‘zong’. Tetiba terdiam dan di benak ada rasa bingung dan pertanyaan “Anakku dua. Apa aku bisa mencintai keduanya dengan sama? Selama ini hanya Rafa dan Rafa. Apa aku bisa adil menyayangi mereka.” Mungkin itu termasuk sindrom baby blues ya. Ternyata saat dijalani, rasa sayang itu sama. Tidak ada beda. Sayang dan cinta semuanya.

Melahirkan secara alami (tanpa induksi) itu jelas lebih nyaman dan tenang. Dan saya niteni, bayi yang dilahirkan dengan gentle, tenang, tanpa frustasi atau trauma, jadinya bayi yang tenang juga. Tidak rewelan. Baby Syahid ini yang saya amati. Biasanya kan bayi itu ngajak begadang dan ronda malam. Udah kayak hansip aja wira wiri gendong keliling di dalam rumah. Semacam Rafa dulu. Hihihi

Tapi Syahid enggak. Dia tuh anaknya tenang, anteeeng sekali. Malam gak pernah ngajak begadang atau rewelan. Hanya bangun, mimik, bobok. Begitu terus. Jadi simboknya nyamaaan banget bisa nyenyak pula tidurnya. Wkwkwk. Saya menyebutnya bocah yang ithmi’nan (tenang).

Meskipun tidak begadang, tiap kali Syahid bangun abinya juga ikut bangun. Kadang malah dia yang membangunkanku karena Syahid mau mimik. Ya gimana, saya kan kalau tidur nyenyaknya semacam Snow White habis makan apel dari nenek sihir. Wkwkwk. Abimu itu Nak, sosok yang memperlakukan orang yang dicintai dengan sebaik-baik perlakuan. Meskipun dia tidak romantis dan tidak rajin bilang ‘I love you’, tapi sikapnya adalah perwujudan bahwa dia mencintai.

♡♡♡

Dear Syahid, ruhul jadiid. Kamu membawa keceriaan baru, kekuatan baru, dan mimpi-mimpi baru. Di Alqur’an itu disebutkan husnayain (dua kebaikan) dalam jihad fisabilillah yaitu: syahid atau kemenangan. Dan pada namamu, kusematkan keduanya. Ibrahim Syahid Ranu Filfath.

♡♡♡

Tak ada orang yang menanti-nanti rasa sakit kecuali seorang ibu yang menanti kelahiran anaknya. Rasa sakit yang membahagiakan. Karena sakit itu berarti datangnya gelombang rahim, pertanda anaknya segera hadir ke bumi. Luar biasanya wanita. Satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Allah sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Setiap anak punya cerita, setiap kisah kelahiran selalu berharga. Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks pada bidan kesayangan: Bu Siti ♡

Prasangka yang Terbatas

Standard

Sore beberapa hari kemarin, mendapat cerita luar biasa dari seorang ibu muda nan cantik, tentang ia dan keluarga kecilnya. Sabahat-sahabat terdekatnya ini baru tau bahwa beliau mempunyai masalah yang selama ini disembunyikan. Bahwa ia menyimpan rapi alasan-alasannya selama ini karena suatu hal. Suatu hal yang memang aib keluarga dan tak ingin dibuka. Lantas selama ini membiarkan saja rekan-rekan menilainya begini begitu bla bla bla. Maka ternyata, prasangka-prasangka itu mendapati alasannya. Gemes sekali rasanya. Saya membayangkan jika menjadi beliau, betapa ngamuknya saya. Apalagi jika itu tentang keselamatan jiwa anak-anak, tentang ketentraman keluarga.

——————————————————————

Setidaknya, saya belajar dua hal:
Pertama, jangan merasa beban ujianmu itu sok berat amat. Kamu tidak tau, ada orang-orang yang ujiannya jauh darimu. Jadi jangan suka bikin-bikin perkara. Apalagi membesar-besarkan perkara kecil. Di luar sana, ada orang yang punya perkara berat dan belum ketemu solusinya.

Pelajaran kedua: seringkali penilaian kita tak pernah seutuhnya benar. Karena kita ini terbatasi oleh indera. Yang mampu kita rasa, kita raba, lantas kita nilai hanya hal-hal yang kasat mata yang mampu terindera. Di luar itu, kita tidak tahu kondisi sesungguhnya orang yang kita nilai.

Maka berhati-hatilah berprasangka pada saudaramu. Lantas istighfarlah atas prasangkamu yang keliru. Adalah lebih baik kau tau betul apa yang sedang mereka hadapi sebenarnya.

—————————————————————-

*semoga apa yang terbuka membuah doa dari orang-orang yang menyimak cerita
*semoga Allah jaga mereka, anak-anak, dan keluarga mereka dari segala marabahaya

Insomnia

Standard

Karena siang sempat tidur jenak bersama para bocil (yang jarang-jarang tidurnya bisa barengan), jadinya gak ngantuk-ngantuk ini -,-

Insomnia yang shalihah harusnya tilawah ya. Atau ala mama-mama kekinian ngrekap orderan olshop. hihihi. Tapi saya mau jalan-jalan malam aja ke rumah tetangga dunia maya, alias blog walking. wkwkwk

Long time no see!

Masa Panen

Standard

Perlu waktu sekitar tiga bulan bagi petani dari sejak menyemai benih sampai memanen padi. Beda lagi kalau pohon durian. Perlu waktu bertahun-tahun dari sejak menanam biji sampai bisa memetik buahnya.

Amalpun demikian. Ada yang balasannya oleh Allah disegerakan dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Ada yang kita harus menunggu bertahun-tahun. Bahkan sampai kita lupa pernah beramal demikian. Atau barangkali bukan kita panen di dunia tapi di akhirat. Sekehendak Allah lah.

Amal baik atau buruk, ada hasilnya. Yang sedang ingin dimotivasi disini adalah tentang amal baik. Sesimpel apapun, Allah mengetahuinya. Yakinlah tak ada kebaikan yang sia-sia. Meskipun tak perlu juga kita ingat-ingat kita pernah berbuat baik. Jangan-jangan itu hanya perasaan kita saja, padahal nihil nilainya di mata Sang Pencipta (na’udzubillah ya, semoga tidak demikian).

Jangan remehkan kebaikan pada siapapun, karena bisa jadi orang yang kita sikapi baik, beberapa kurun waktu kemudian ternyata Allah datangkan sebagai washilah pertolongan dalam kesulitan kita.

Jadi ya, begitulah kira-kira. Kebaikan sesederhana apapun, Allah merekamnya, semoga dihitung sebagai pahala dan ada masanya kita memanen hasilnya.

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
QS. Az-zalzalah ayat 7-8

#pelajaran darinya, dari sana :,)

Mengingat mati itu menghidupkan jiwa

Standard

Menit-menit paling nikmat adalah saat seorang hamba merasakan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Menit-menit itu benar-benar menghadirkan ketundukan ruh yang khusyu’, mempertemukan ketakutan (khouf) terbesar dan harapan (roja’) teragung pada Robbnya, mengantarkan diri pada perenungan “Jika ajalku datang, tabungan apa yang akan kubawa pulang? Bagaimanakah sakaratul mautku? Seperti apakah kematianku? Dan seperti apa setelahnya? Amalku yang mana yang akan menolongku?”

Menit-menit itu begitu sepi, hanya seorang hamba sendiri. Sehingga terbayangkan olehnya bagaimana kesendiriannya di kubur nanti. Betapa sepinya. Tak ada belai kasih pasangan atau keriangan anak-anak. Dan tetiba ingatan-ingatan itu membuat bulir-bulir bening berjatuhan. Betapaaa…dunia ini sangat fana.

Menit-menit dimana hati merasa begitu pasrah, hina, dan sangat menganggap dunia ini tak ada artinya. Merasa rugi atas banyaknya waktu yang sia-sia, penyakit hati yang membuat noda, dan perkara-perkara fana lainnya.

Sayangnya, menit-menit khusyu’ seperti itu tak selalu hadir. Atau tepatnya tak selalu bisa dirasai jiwa. Mungkin karena saking banyaknya dosa. Diri yang terlalu disibukkan oleh hiruk pikuk zaman. Hati yang nyatanya lebih banyak lalai terbuai godaan duniawi.

Faghfirliy…faghfirlanaa ya Allah.

Allohumma amitnaa ‘alasy syahadati fii sabiilik ya Allah. Fii husnil khootimah. Wajma’ bainanaa fii jannah. Amin.

Sapi Betina yang Kurus

Standard

Kau pernah bilang akan kesana membawa sapi betina, mengajak Imran dan wanita itu. Nyatanya sampai sekarang sapi betinamu itu saja kurus tidak rutin terurus. Belum purna kau pelihara. Bagaimana kau mampu mengajak Imran dan wanita itu? Apalagi menyiapkan hidangan selanjutnya? Padahal kau sudah siapkan perencanaan rumah untuk mereka…

Sekarang kau dapati takdir yang meleset jauh dari rencanamu. Qodarulloh, semua berubah sejak negara api berulah. Maka sejak itu rencana-rencana semula pun harus sedikit berganti arah. Salah satu hikmah yang bisa diambil adalah: menyelesaikan tugas pengajaran dan penambahan sebagaimana yang ditargetkan.

Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah.