Category Archives: psycho

Today’s Themes

Standard

Sometimes, silence is the highest level of ignorance.

Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa.

Bisa jadi orang yang nyebelin untuk kita, untuk orang lain dia kesayangan, kebanggaan. Karena apa? Karena kita yang sebel ini hanya tau nyebelinnya saja. Sedangkan orang dekatnya tau banyak baiknya.

Jadi sebenarnya siapa yang nyebelin? Kamu. Iya, aku.

Ada banyak pilihan respon dan makna. Kamu pilih yang mana.

*logoterapi
*menulis adalah afirmasi

Hulk dan Dendam Masa Lalu

Standard

Konon kisahnya, Bruce Banner bisa berubah menjadi monster raksasa bernama Hulk bukan hanya karena pengaruh radiasi gamma yang ia terima, namun juga dipicu dendam masa lalu Bruce terhadap ayahnya. Ketidakmengertian, kemarahan, kebencian yang ia pendam dalam-dalam sedari kecil. Unfinished business, dalam teori Gestalt. Maka di saat dia tertekan atau marah, berubahlah dia menjadi Hulk yang mengamuk.

Dendam. Meski dipendam dalam-dalam dan ditimbun gunung setinggi Himalaya, ia tetap ada. Di kedalaman alam bawah sadar. Seperti bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Maka coba sadari. Kenali setiap rasa dan pikiran yang tidak nyaman dalam diri. Ini apa, darimana asalnya, kenapa bisa terasa. Setelah menyadari bahwa itu adalah bawaan masa lalu, coba maafkan. Ikhlaskan. Dengan pemaknaan bahwa setiap yang telah terjadi adalah takdir kita, jatah kita. Tentu tak kan terjadi tanpa ijin Sang Kuasa. Maka bagaimana bisa kita tidak rela? Jika merasa butuh bantuan, cerita atau temui ahlinya. Semisal Mr.Blue, yang bagi Mr.Green (Hulk) adalah solusi.

Realize, forgive, and improve. Because none of us wanna be a Hulk.

#hikmahsyalala ^^

Writing is Healing

Standard

Buka diary jaman kuliah, mulai tertanggal tahun 2009 sampai 2011. Oyeah. Banyak yang sudah tidak dibutuhkan. Just press: shift del. Tapi beberapa masih kusimpan. Berharga untuk dibaca lagi sebagai pemahaman diri, pengalaman yang membelajarkan. Dari sekian puluh file, hanya tersisa 8 file.

Itu diary berpassword yang kutulis di Kautsar, laptopku. Semacam diary kejujuran. Selftalk. U know, sometimes selftalk can be self healing. Aku punya ruang dimana aku bisa bicara dengan diriku sendiri. Dan itu dalam bentuk tulisan. Bukan ngomong di depan cermin. Kenapa? Karena saat menulis, kita bisa sambil mengenali pola pikir dan kejiwaan kita. Sambil menata huruf sambil mengurai rasa. Lebih baik lagi kalau lewat tulisan tangan sebenarnya. Jejak emosinya lebih kelihatan. Etapi di jaman kekinian, saya malas tulis tangan.

Aku temukan ternyata jaman-jaman itu aku sering menganalisa diri sendiri, menggunakan pendekatan konseling yang kudapat dari materi kuliah yang kala itu memang cukup membantu. Sehingga isinya diary itu juga banyak istilah-istilah konseling. Gitu amat ya kalau diary konselor. Haha. Jadi ketawa sendiri pas baca ulang. Sekarang, beberapa aku sudah lupa itu istilah-istilah artinya apa.

Aku menulis untuk menganalisa diri dengan jujur, mengenali dan menilai emosiku sendiri (self understanding). Entah yang positif atau negatif, aku renungkan kenapa aku begini. Setelah ketemu the reason beyond, aku berusaha mengakui dan menerima diriku (self acceptance). Bahwa aku punya kelemahan dan kesalahan, aku tak hanya punya sisi baik tapi juga buruk. Setelah itu aku tulis apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki yang kurang (self actualization).

Beberapa tulisan yang paling berkesan adalah pengalaman konseling dengan siswa, amanah dakwah kampus, sampai rasa nervous-nya saat dilamar (dan sudah kuhapus semua hihi). Salah satu tulisan yang tidak kuhapus adalah cerita tentang Bu Farida, konselor sekolah yang jadi pembimbing PPL. Ibu konselor sepuh berwajah Arab itu, kerasa gitu jiwa terapeutiknya. Kutulis ada satu momen dimana kami pernah berbincang dan aku terkesan sekali saat beliau menilaiku (banyak minus kala itu, haha), mengajakku memahami tentang eksporasi diri dan kepekaan pada orang lain.

Itu dulu. Nulis-nulis sendiri, dibaca sendiri, diresapi sendiri. Sekarang nggak lagi. Apa-apa sharing dan galaunya ke suami. The best and the worst side of me, he knows well.

Kuliah di jurusan BK itu banyak materi dan tugas yang bermanfaat untuk pemahaman dan penerimaan diri. Dan itu menyenangkan. Bermula dari hobi senang menulis, lalu baca-baca referensi tentang terapi menulis, jadi nemu ide menarik kala itu: “Aha. Lucu juga ini dipake tema skripsi.” Dan jadilah tema terapi menulis sebagai katarsis kecemasan.

Kemarin, nemu blognya seorang mbak penulis yang berkisah tentang dirinya kala terkena sindrom PPD (Post Partum Depression). Dia berusaha ‘menyembuhkan’ diri sendiri salah satunya dengan menulis. And it works. Menulis memberi porsi besar sebagai katarsis depresi. Saya cuplik sekalimat dari blog nya: “Saya sangat butuh teman yang mau menemani tanpa banyak menghakimi, dan teman paling pas adalah tulisan-tulisan saya sendiri.” ( http://renapuspa.blogspot.co.id/2016/10/perbaiki-dirimu-maka-allah-akan_36.html?m=1). See, menemu lagi bukti bahwa menulis adalah katarsis emosi. Menulis adalah terapi. Menulis itu menyehatkan.

Yes true. Writing for self healing. Ada kalanya kita perlu bercerita untuk meringankan beban, untuk sekedar didengarkan tanpa penilaian apalagi penghakiman. Tapi ada saat dimana kita susah bercerita saat kita merasa itu aib yang tak pantas dibuka. Maka selain berdoa dan curhat pada Allah, menulis adalah solusinya.

Cuplikan beberapa paragraf yang dulu jadi latar belakang skripsi:

“…” skip dulu tapi.. perlu online via PC mwihihi

♡♡♡

“Saat teman bukan pilihan untuk bercerita, membagi rasa. Saat sedih dan bahagia tak mampu terungkapkan lisan. Mungkin butuh pena untuk menggoreskan kata. Butuh kertas untuk menyimpan rasa. Agar suatu saat dapat kembali terlihat, bagaimana dulu kau memaknai warna kehidupan yang Allah gariskan.” (hanisincerely)

Sugesti POSITIF

Standard

Kita seringkali membutuhkan banyak sugesti positif untuk menguatkan diri. Sugesti adalah sebuah kekuatan atau kemampuan yang dapat mempengaruhi pikiran seseorang, yang memiliki daya reinforcement terhadap pikiran dan perilaku. Positive thinking, positive feeling, positive behaviour. Sudah banyak teori dan penelitian terkait positive thinking yang membuktikan betapa pikiran sangat berpengaruh terhadap diri kita, bahkan terhadap usaha dan hasil usaha kita. Sebutlah dalam buku the secret, the law of attraction, teori psikosomatis atau logoterapi, di dalamnya menguraikan tentang kuatnya pengaruh pikiran terhadap diri seseorang. Baik secara medis atau psikologis sugesti terbukti membantu/mempengaruhi kesembuhan atau perkembangan seseorang.

Termasuk dalam hal kehamilan, kita sangat perlu sugesti positif dalam menjalani masa-masa kehamilan. Tau lah bahwa momen ini adalah momen mendebarkan bagi setiap wanita calon ibu (apalagi yang pertama kali), sehingga banyak lintasan pikiran yang kadang dikhawatirkan (oleh calon ibu dan ayah). Kadang anxiety di masa kehamilan justru menimbulkan ketidaknyamanan, entah dalam bentuk fisik maupun emosi. Nah, inilah pentingnya membangun positive thinking, bahkan menurutku bukan hanya sejak awal kehamilan, tapi sejak sebelum hamil atau sebelum menikah. Biasakan diri untuk bermind-set positif dan menyenangkan terhadap kehamilan. Just think that it’s fun! Salah satu caranya, sering-seringlah minta atau mencari berita dan cerita menarik tentang kehamilan dan melahirkan, gantilah bayangan mengerikan yang mungkin dulunya kita temukan dari film atau sinetron (hehe) yang kemudian tertanam di pikiran bahwa hamil dan melahirkan itu beratttt. Nah, saya sedang mau bersyukur nich, karena ternyata Allah mempertemukan saya dengan banyak orang di sekeliling (ibu, kakak ipar, teman-teman) yang sering memberi sugesti positif tentang kehamilan dan kelahiran. Minimal, sugesti yang kudapat dari mereka ada dalam bentuk kalimat-kalimat penyemangat, sudut pandang positif, sharing cerita menyenangkan dalam menjalani hari-hari perut yang semakin menggembung, atau pengalaman menarik and wonderful about childbirthing. Iya sich ada beberapa cerita melahirkan dari teman yang tampaknya agak berat (melalui proses persalinan yang panjang dan melelahkan) tapi subhanallah-nya, mereka tetap bisa berpikir dan berucap nyaman seolah mengabaikan rasa berat dan sakitnya, “Sangat menyenangkan kok..”. Memang kadang ada sich, aku menemui orang yang suka bercerita hal-hal yang horrible tentang hamil dan melahirkan, lebih pada cerita tentang berat, payah, atau sakitnya daripada dukungan untuk ‘mengabaikan’ rasa berat itu. Maka aku selalu berusaha mensugesti diri dalam hati ketika mendengarkan cerita begitu, “Tenang, all izz well… insya Allah akan baik-baik saja… amiin.” Mengajak janin bicara dan bercanda, serta menulis cerita-cerita menarik saat bersamanya bisa menjadi cara menyenangkan menjalani kehamilan. Kelak jika si bocah sudah lahir dan bisa membaca, bisa ditunjukin tuh tulisan kita tentang hari-hari saat mengandungnya. hehe. Alhamdulillah, bermanfaat sebagai support menjalani kehamilan yang nyaman dan menyenangkan.

Memang sich, fitrahnya hamil itu semakin ada beban dalam tubuh ibunda (karena janin terus tumbuh dan berkembang, aktif bergerak, nendang, berenang, guling-guling, goyang-goyang, dll. hehe), sebagaimana Allah mengabarkan dalam surat Luqman ayat 14, “…ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…”. Dalam kalimat ‘wahnan ‘ala wahnin’ berarti kondisi lemah yang bertambah-tambah, seiring bertambahnya usia kandungan. Tapi insya Allah, dengan selalu berfikir positif dan husnudzon pada Robb semesta alam, Sang Maha Penjaga segala, meski ada rasa berat, akan tetap terasa menyenangkan membersamai tumbuh kembang si makhluk kecil di dalam rahim, tempat yang sangat nyaman untuknya.

1 april 2012, ranujunior 22weeks
.:: special thanks for all inspirational people ::.

Logoterapi tentang Flu

Standard

Flu,

Mengajarkan bahwa kita disuruh banyak berdzikir dan bersyukur pada Allah: “Alhamdulillah”
Lalu orang2 di sekitarmu akan mendoakan: “Semoga Allah menyayangimu” (Yarhamukillah)
Dan kau balas mereka dengan doa yang mulia: “Semoga Allah memberi kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.” (Yahdikumullah wa yushlih baalakum)
…Maka, tiba-tiba flu akan terasa indaaah ;)

Hummm, sebuah mekanisme menghibur diri.

 

 

Kenapa flu dan bersin-bersin perlu disyukuri?
Satu, karena begitu kata Rosul. Anas bin Malik RA bercerita, ada dua orang bersin di dekat Rosulullah SAW. Beliau mendoakan (tasymit) salah seorang dari keduanya, namun tidak mendoakan seorang yang lain. Ditanyakan alasannya, Rasul menjawab, “Sebab, orang yang satu mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satu lagi tidak membacanya.” (HR Bukhari). Ahha. Aku jadi ingat cerita temanku dari UIN tentang seorang dosennya yang juga ustadz yang ku kagumi. Saat beliau sedang menjelaskan di depan kelas, salah satu mahasiswanya ada yang bersin. Hattcchiiiuuww! Seketika sang ustadz berhenti bicara, seperti sedang menunggu sesuatu terjadi. Para mahasiswa bingung lah, penasaran plus pada menatap heran ke ustadz, mungkin dengan pikiran “He? Kenapa Pak?” Lantas beberapa detik kemudian ustadz tersenyum dengan senyum khasnya sembari berkata: “Ndak usah didoakan ya, anaknya juga ndak berdoa.” Owalah…tertawalah mahasiswa sekelas (dan juga kami yang mendengar cerita temanku tadi). Si mahasiswa yang bersin malu paling ya, hihi.

Dua, karena bersin adalah sebuah nikmat. Kata Ibnul Qayyim, bersin dapat mengeluarkan uap dari dalam otak yang jika dibiarkan akan berbahaya (Zadul Ma’ad 2: 438). Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam. Bahkan, Dr. Michael Roizen, Wellness Officer Cleveland Clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarah Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Makanya, setelah bersin disunnahkan membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Jum’at, 3 Juni 2011
saat flu mendera

Belajar dari Modeling-nya Spongebob

Standard

Di salah satu episode Spongebob, lupa judulnya, yang kurang lebih critanya, dia menemukan rambut palsu dari bahan semacam tisu, lalu dengan bangganya dia mengenakannya sebagai rambut palsu. Tapi dasar Spongebob yang innocent dan rada blo’on itu, menggunakan rambut palsu itu untuk hal-hal yang ‘nggak banget’. Semisal dipakai ngepel, lalu diperas dan dipakai lagi (plis deh!). Kemudian muncullah kutu-kutu menjijikkan yang memang sudah pantas membuat Squidward yang jutek itu bertambah benci dan muak sama Spongebob. Namun, Spongebob yang lugu (blo’on) itu tetap saja bangga dan membanggakan model rambut barunya itu pada orang2 (eh, ikan2 ya?), berharap mereka akan mengagumi model rambut baru yang membuatnya merasa tampan tadi. Dan sudah sewajarnya, orang-orang itu no respon padanya dan pada rambut barunya yang selain tidak penting, juga bertambah sangat menjijikkan.

Lantas, bla…bla…bla…dibuanglah rambut palsu itu. Eh…artis gundul, si empunya asli rambut palsu itu menemukannya, dan dipakailah lagi. Kali ini, sekalian dipakai oleh semua anggota grup band-nya.

Beberapa hari kemudian… tereng teeeng!

Spongebob terpana dengan suasana Bikini Bottom, yang kesemua orangnya mulai dari bayi sampai manula mengenakan rambut palsu itu. Lhoh?!!!

Ternyata, mereka terinspirasi oleh Grup Band yang balihonya terpampang di tengah kota, mereka mengenakan rambut palsu itu.

Yang ingin saya ceritakan adalah, saya hanya sedang ingat dengan sebuah teori modeling dalam aliran psikologi behavioristik yang konsepnya hampir mirip dengan cerita Spongebob di atas.

Bahwa untuk menjadi seorang model (bahasa bagusnya: tauladan) yang berpengaruh kuat untuk ditiru orang lain, perlu perhatikan beberapa hal:

  1. Siapa sih aku? Pantaskah aku memodelkan hal itu? Semisal aku hanyalah seorang Spongebob yang sering dianggap dudul dan blo’on oleh penghuni Bikini Bottom, siapa yang akan menaruh kepercayaan memodelkan rambut aneh itu? Sudah lugu, tambah aneh pula rambutnya. Ini ada dalam teori modeling behavioristik, bahwa status dan kehormatan model amat berarti, karena keberhasilan teknik ini tergantung pada persepsi konseli terhadap model yang diamati. Jika konseli tidak menaruh kepercayaan pada model, maka konseli akan kurang mencontoh tingkah laku model tersebut. Dalam kisah tadi, jelas pesona Spongebob yang hanyalah seorang Spons kuning yang kurang begitu penting bagi khalayak, kalah dengan pesona Grup Band ternama yang dengan mudahnya mepopulerkan gaya rambut nyentrik tadi. Emang biasanya begitu ya, artis tu lebih sering dijadikan acuan lifestyle oleh masyarakat. Hmmh…perlukah jadi artis dulu, untuk mempopulerkan hal-hal yang lebih baik? Oh tidak. Cukup tebarkan saja pengaruh kebaikanmu pada sekitarmu.
  2. Sudah benarkah caraku memodelkan? Penting! Jangan tiru adegan Spongebob (meski dalam bentuk lain) yang sama sekali tidak peka suasana, bagaimana orang menilai perilaku yang –niatnya- ingin ia contohkan/ populerkan. Jika model kurang bisa memerankan tingkah laku yang diharapkan, maka tujuan tingkah laku yang didapat konseli bisa jadi kurang tepat, begitu teorinya.
  3. Perlu hati-hati juga, bisa jadi konseli menganggap modeling ini sebagai keputusan tingkah laku yang harus ia lakukan, sehingga konseli akhirnya kurang begitu bisa mengadaptasi model tersebut sesuai dengan gayanya sendiri, alias konseli justru kehilangan karakter pribadinya sendiri. Fenomena macam ini sering kita lihat, seperti para warga Bikini Bottom yang serta merta meniru rambut nyentrik si Grup Band tadi, padahal ada (banyak) juga yang gak pantas blas dengan model rambut begitu.

Ah, maaf, sedang kurang lihai panjang lebar.

Yang penting, ada satu adegan menggemaskan di akhir episode Spongebob ini. Bukan Spongebob namanya kalau tidak nampak sisi genuine dirinya (ini istilahku untuk keluguan Spongebob, hehe). Di akhir cerita episode ini dia mengatakan pada dirinya sendiri dengan mata berkaca-kaca, yang sebelumnya sungguh kukira dia akan sedih sangat dicela bahwa dialah orang yang tidak keren sendiri, sedang semua orang tampak keren dengan rambut palsunya.


Dia berkata, “Oh, berarti, sebelum orang2 ini, aku sudah lebih dulu kereen…”Gubrakk!!! Baiklah, ini logoterapi ala Spongebob (untuk menghibur diri, hehe).

Kedewasaan Spiritual

Standard
Kedewasaan spiritual, begitu aku menyebutnya.
Seperti dulu ketika kecil kita tidak mengerti kenapa dilarang-larang main pisau atau gunting, padahal kita suka sekali main itu. Seperti tidak sukanya kita diajak mandi di pagi yang dingin, padahal kita ingin bermain. Seperti tangis dan jeritan yang selalu kita lontarkan saat akan disuntik imunisasi, padahal itu untuk immune kita.Tapi kita tidak mengerti saat itu. Yang kita rasakan pokoknya tidak suka, ogah diperlakukan begitu, menangis, menjerit, atau memberontak. Ingin lari saja dari ayah atau ibu ketika dibegitukan. Atau lantang berteriak penuh kesal: “Bapak nakal! Aku gak suka Ibuk!” (ni ala Abidku, hehehe)
Tapi ketika sudah besar, mengertilah kita kenapa dulu diperlakukan begitu. Nalar dewasa kita yang mengantarkan kita paham bahwa yang ayah ibu lakukan itu benar, untuk kebaikan kita, hanya saja saat itu kita tidak mengerti. Barulah ketika dewasa, kita paham, maklum, dan bahkan akan melakukan hal yang sama pada anak-anak kita nanti. Kepahaman itu dihantarkan oleh masa kedewasaan kita.
Begitu pun dengan kedewasaan spiritual, menyikapi peristiwa-peristiwa yang oleh-Nya telah di-setting untuk kita. Saat kita tidak paham tentang peristiwa yang harus kita alami, merasa takdir Allah tidak adil, merasa tidak terima dengan alur hidup kita, mungkin kita yang belum mencapai periode perkembangan “kedewasaan spiritual” itu, yang akan mengantarkan kita pada kepahaman mengapa Allah menuliskan cerita ini untuk kita.Mungkin butuh mencari dan sabar menunggu masa kedewasaan itu kita miliki. Hingga kita bisa bersikap dewasa juga atas keputusan-Nya. Ada banyak hal yang kita tidak tau, sabar saja, jangan tergesa.
^-^
Oke, oke?

Waiting for my rainbow…