Tag Archives: dalam kisah ada hikmah

Pesona Sejoli #RS

Standard

30177_1475675218520_2877848_n

MasyaAllah. Kisah mereka berdua luar biasa. Pak Rahman Sudiyo dan Bu Siti Syamsiah. Pasangan PhD yang ternyata dulunya bertemu di bangku kuliah. Bu Siti yang lebih senior 10 tahun adalah dosen Pak Rahman di Teknik Kimia UGM. Mereka bertemu dan menikah di jalan dakwah, hingga akhir hayatnya mereka wafat ketika masih aktif di jalan dakwah. Membaca tulisan-tulisan orang yang mengenang beliau berdua, baik di Swedia maupun Indonesia, satu hal yang terasa: dimana mereka berada, kebaikan yang mereka bawa. Kebaikan yang dirasakan oleh sekitarnya, dan kebaikan yang akhirnya dikenang dari mereka.

Orang-orang baik, sepeninggalnya selalu ramai menjadi buah bibir yang baik. Serupa pewujudan doa Ibrahim dalam Alqur’an “Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. As-Syu’ara:84). Dan tentu tak ada buah bibir yang lebih baik daripada doa.

Tahun lalu Pak Rahman meninggal tersebab kanker hati, dan kemarin sang istri menyusulnya tersebab sakit lupus. Semoga Allah ampuni dan merahmati keduanya. Semoga husnul khotimah, dilapangkan alam barzakh, kelak disatukan kembali di jannah.

Beberapa waktu selepas Pak Rahman wafat, saya tetiba ingat beliau dan iseng ketik nama beliau di google search dan menemu tulisan disini: https://afrinalaksmiarti.wordpress.com/2015/03/26/obituari-alm-bapak-rahman-sudiyo/ Nangiisss. Rasanya, jika Fahri (dalam novel AAC 2) adalah cermin wajah indah Islam di Edinburgh, maka Pak Rahman dan Bu Siti bukan kisah fiksi, mereka menjadi bagian cermin wajah indah Islam di Gothenburg, Swedia. Sosok yang simpel, supel, humble, visioner, intelek, dan penuh dedikasi. Spirit dai dan murobbi menyala pada diri mereka.

Di profil WA dulu Pak Rahman menulis namanya dengan nickname: RS. Ah ya, singkatan itu cocok sekali untuk beliau berdua. Rahman&Siti. Mereka tidak bisa jauh. Kini mereka kembali dekat dalam pusara. Terkabar, berdasar hadits bahwa arwah orang-orang yang mendapatkan kenikmatan itu dilepas, tidak ditahan. Sehingga bisa saling berjumpa, saling berkunjung, saling menyebutkan keadaannya ketika di dunia, dan keadaan penduduk dunia. Sehingga setiap ruh, bersama rekannya yang memiliki amal semisal dengannya. Wallahua’lam.

Saya bukan siapa-siapa, hanya kenal dan bertemu sejenak lalu. Takkan juga cukup terangkum dalam tulisan, segala kenangan dan kekaguman. Sejoli yang mempesona #RS (Rahman Sudiyo & Siti Syamsiyah).

Dua bocah yang mereka tinggalkan (mas Wafi 12 tahun, Arum 8 tahun) semoga tumbuh hebat jadi investasi dunia akhirat untuk orangtuanya.

Cerita lain dari Ustadz Salim A Fillah: https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10208774803181456&id=1054044544&set=a.2191826789233.2111007.1054044544&_rdr

Daan baru tau tulisan apik Pak Rahman:
http://m.eramuslim.com/oase-iman/a-day-with-the-prophet.htm#.WCtUQ9KLTIV

http://m.eramuslim.com/oase-iman/refleksi-akhir-tahun-mengapa-cinta-itu-tak-jua-menetap.htm#.VQQ7dht0zIU

Dengan gaya berkisah seperti ini harusnya Bapak bisa nulis novel. Perjalanan cinta, studi, dan dakwah di Gothenburg, Swedia :,)

Advertisements

Syiar Islam di AAC 2

Standard

camerancollage2016_11_08_085350

Sehari selesai. Gak biasanya saya baca buku secepat ini. Apalagi tebal. Mungkin karena novel ya. Kalau buku berat yang butuh banyak mikir, biasanya saya baca saja judulnya, daftar isinya, dan sinopsis di sampul belakang lalu saya sodorkan buku pada suami. Ngapain? “Tolong Bi, ceritakan. Ini buku isinya gimana.” wkwkwk. Suami yang tipikal tidak banyak bicara tetiba akan cekatan merangkai kata bercerita konten buku. Lalu saya yang auditori sangat terbantu untuk punya gambaran dan termotivasi untuk membaca sendiri.

Lama sekali saya tidak baca novel. Terakhir 3 atau 4 tahun lalu kayaknya, novel Muhammad nya Tasaro GK yang jilid 2.

Saat membaca novel Muhammad tersebut, saya menikmati alur dari awal sampai endingnya yang ternyata sangat menjebak. Haarrrghhh. Ternyata itu si Kashva hanya berhalusinasi. Tasaro sukses mempermainkan emosi dan menyulut ketidakmengertian. Iki jane karepe piye. Dan belum terjawab karena saya belum baca yang jilid 3.

Jaman kuliah, saya punya teman kontrakan namanya Antis. Hidup seatap 4 tahun, dia banyak mengenal tabiat saya. Salah satunya dia hafal kalau kami nonton film, saya suka tanya “Endingnya nanti gimana? Ketemunya dimana? Kok bisa gitu kenapa?” Dan pertanyaan serupa karena saya penasaran atas teka-teki yang disajikan. Lalu Antis dengan gemas pasti berkata “Haniiiisss. Gak usah tanya-tanya. Lihat sendiri sampai selesai.” Wkwkwk. Nah serupa dengan itu, pas baca Ayat-ayat Cinta 2 (AAC 2) ini saya pun tidak sabar dengan misteri Aisha.

Di bagian awal novel AAC 2 ini kita akan temui kondisi bahwa Fahri sendirian. Aisha hilang. Lalu ada satu penggalan cerita Fahri membela seorang pengemis wanita berwajah buruk (rusak) dan bersuara serak. Itu kali kedua Fahri bertemu pengemis itu, lalu memberi sedekah sambil berkata “Itu sedekah saya atas nama istri saya. Doakan dia sehat dan selalu dilindungi Allah.” Si pengemis mengucap terimakasih, mengamini, lalu menangis dan berlari.

Nah. Saya curiga. Jangan-jangan pengemis itu Aisha. Saya tidak sabar membaca runtut. Mana ini novel tebalnya hampir 700 halaman. Jadi saya sudahi membaca halaman itu, lalu melompat ke bagian belakang. Mencari-cari mana Aisha. Ketemu. Dan benar, pengemis buruk rupa itu adalah Aisha. Hiiikkksss.

Kenapa Aisha mengalami hal seburuk itu? Kemana dia selama ini hilang dan apa yang menimpanya? Bagaimana Fahri mengenali Aisha lagi? Apakah mereka bersatu kembali sementara Fahri sudah menikah lagi? Nah, selengkapnya baca saja sendiri. Hehehe

Oke. Selain problem utama bahwa Fahri mencari Aisha, novel ini juga lebih kaya pengetahuan dan problem kekinian Islam dibandingkan romansa kisah cinta Fahri. Kita disuguhi banyak wawasan, sejarah, fiqih Islam, juga kajian tentang beberapa agama. Kecerdasan sang penulis diwakilkan melalui tokoh Fahri yang suka berkisah dan berdiskusi. Wajah indah Islam pun banyak ditampilkan melalui kepribadian Fahri. Intelektualitas, religiusitas, dan akhlaknya yang sangat menawan. Meskipun gambaran kisah Fahri terlalu sempurna dan dibikin so super, ya gakpapa lah boleh setuju boleh tidak. Tapi kita bisa belajar banyak dari caranya bersikap, memilih kata, dan menyelesaikan masalah. Syiar Islam sangat terasa di AAC 2.

Selanjutnya, sepertinya saya penasaran sama Muhammad jilid 3 nya Tasaro GK. Dan kabarnya, ternyata jilid 4 nya juga sudah ada. Saran: sebelum membaca novel siroh, baiknya didahului atau dibarengi membaca siroh dari kitab rujukan yang shahih.

Anak Lelaki Tanpa Ayah

Standard

ilustrasi-ayah-dan-anak

Umurnya baru 7 bulan, saat bapaknya membawa pergi kakak perempuannya yang berusia 4 tahun. Kemana? Menempuh hidup baru dengan sosok lain. Jodohnya sang ibu dan bapak mungkin hanya sampai disitu.

Ia tumbuh besar bersama ibunya tanpa mengenal sosok ayah. Dibantu pengasuhannya oleh bibi dan pamannya yang tidak punya anak. Mereka tinggal bersama-sama. Pertama dan terakhir kalinya ia bertemu sang bapak, saat umurnya 14 tahun. Bapaknya pulang ke kampung halaman dan ia temui sejenak. Ternyata bapaknya adalah sosok yang gagah dan tampan. Ya, hanya sekali itu. Setelahnya sang bapak pergi lagi. Jauuuh berbatas lautan, tak diketahui rimbanya. Hingga benar-benar mereka terpisah oleh ajal sang bapak.

Anak lelaki itu sebenarnya cerdas, hanya saja ia tak diberi kesempatan. Setelah lulus SD ia lolos tes masuk sekolah lanjutan (PGA jaman itu ). Girang ia pulang ke rumah. Namun di rumah ia dihadang sang paman dengan ancaman: jika mau lanjut sekolah, ia akan celaka. Rupanya sang paman tidak mau terbebani dalam pembiayaan. Anak itu ketakutan lalu menurut. Tak pernah lagi melanjutkan jenjang pendidikan. Ia terima hanya menjadi lulusan SD, menghabiskan waktu membantu pekerjaan orang tua sehari-hari, mengajar mengaji, dan di usia muda mencari penghasilan agar mandiri.

Saat kanak-kanak, ibunya sering menggendongnya ke masjid. Meski gelap hanya diterangi nyala api, ia suka pergi ke masjid untuk sholat jamaah dan mengaji. Meskipun ibunya bukan orang yang taat beragama, tapi beliau punya jejak amal yang di kemudian hari menghantarkan anaknya menjadi lelaki religius yang cinta masjid. Juga menemui jodohnya, karena jatuh cinta di masjid. Di situlah rahasia Ilahi disimpan. Kelak ketika sang anak dewasa, melalui dirinya sang ibu mendapatkan hidayah untuk menunaikan kewajiban agama dan meninggalkan kesyirikan. Dan meskipun sang bapak tidak pernah mengurusnya, ia tetap menjadi anak sholih yang rajin mengirim doa. Sampai-sampai suatu hari ia bermimpi, bapak mendatangi dan duduk di pangkuannya sambil berkata “Aku sudah di tempat yang baik, Nak. Terimakasih.” Wallahua’lam.

Anak lelaki yang dibesarkan dalam kondisi broken home, miskin, keras, dan berpendidikan rendah. Tapi ia tumbuh dengan percaya diri, periang, taat, tegas, pemberani, dan murah hati.

Anak lelaki itu, kini telah menua bersama kisahnya. Sekarang ia adalah tokoh masyarakat, imam mushola, seorang bapak dari 4 anak, petani yang menanam padi. Dan ketika ia bercerita kembali tentang kisah hidupnya, tampak guratan syukur dari mimik dan ucapnya. Seperti apapun orang-orang di masa lalunya, ia berterimakasih.

Ya benar. Karena setiap tempaan yang tidak membunuh nyawa, sebenarnya justru mengokohkan jiwa.

“Everything that doesnt kill you, makes you stronger.”

♡♡♡

*writing is to adore
*barokallohu fiik Bapak

Teman Lama ^^ Selamanya Teman

Standard

Buka-buka file foto lama, ada 5 teman yang paling banyak muncul bersamaku. Here they are…

♡♡♡

ARLIA
Anak ini perawakannya mirip denganku: tinggi, kurus, berkacamata. Sehingga kami sering disebut kembar. Temanku pertama di kampus sejak jaman ospek. Terkesan sejak awal kenal, karena anak ini akhwat banget, ceria, rapih, dan pede banget. Kalau bareng dia, isinya cerita-cerita dan ngakak aja. Dia selalu bisa membuat banyak hal jadi cerita lucu dan jadi tawa. Pernah pas seminar kami duduk paling depan dan ketawa cekikikan. Rupanya pemateri merasa ‘terganggu’ dan menegur “Itu mbaknya berdua kenapa kok ketawa terus?” Ceppp! Langsung diam. Haha

Banyak kesamaanku dengan dia. Mulai hal-hal sepele bahwa kami punya block note yang digambari separuh badan gadis berjilbab dengan mata terpejam. Cuman bedanya, gambar dia agak centil dikasih bulu mata lentik gitu. Hihi. Dan kesamaan cerita-cerita lain dari yang remeh temeh sampai yang prinsip. So surprise, kami sering berseru “Kok sama siih..?!”

Dia teman pertamaku di kampus yang menemani tangisku. Inget banget jaman ospek hari terakhir aku nangis karena gagal tes ‘sesuatu’ (ya ampyun cengeng!) dia yang menghampiri dan menenangkanku.

Suatu hari habis walimah, Bapaknya berkunjung ke rumah dan berkata kalau sudah lama sebenarnya pengen tau yang namanya Hanis, karena Arlia suka cerita. Wah, terharu. Beda sekali denganku. Aku bukan tipe yang terbuka pada orangtua. Tidak asertif lah aku ini pokoknya.

Banyak momen unforgetable bersamanya, banyak pula yang kuambil pelajaran dari dia.

♡♡♡

YANI
Waaah, anak ini lovable banget banget banget. Dia prodi psikologi dan kepribadiannya memang terapeutik sekali. Sering menjadi washilah penyelesaian masalah banyak orang. Dia dianugerahi daya pemahaman dan pemaknaan yang sangat sangat bagus.

Dia itu kecil, tapi bermanfaat besar. Seperti bintang kecil, tapi cahayanya benderang. Dia adalah orang yang banyak mengajariku memaknai sesuatu dengan brilian. Dia banyak mengajakku merenung dan menjawab pertanyaan. Khas sekali caranya berpikir dan bicara.

Aku mulai dekat dengannya saat aku down karena suatu masalah. Dia disana menemaniku, menunjukkan kesalahanku “Kira-kira itu salahmu Han. Aku juga sempat heran kenapa Hanis begitu.” Pahit rasanya dibuka jeleknya kita, tapi melegakan setelahnya. Itu adalah momen pertama dimana aku disadarkan olehnya untuk menerima bahwa aku salah, aku menyakiti orang. Aku tidak bisa menghindar kecuali harus kuat hati untuk mengaku. Setiap kita punya cela, harus diakui dan diterima. Diterima bukan untuk dipertahankan tapi diperbaiki.

Sejak saat itu kami dekat dan ‘didekatkan’ oleh rutinitas. Dia ada bersamaku menghadapi banyak rasa dan peristiwa.

Satu hal yang aku takjub dari kepribadiannya. Aku menangkap bahwa: setiap orang yang dekat dengannya merasa nyaman, merasa bahwa dirinyalah yang paling disayang. Ahhh, inget banget kisah Amr Bin Ash yang mirip ini.

♡♡♡

ANTIS dan IRNA
Sepaket mereka ini denganku, disingkat namanya menjadi: HanTizNa. Mereka teman hidup satu atap selama 4 tahun di kontrakan. Kami saling bertukar cerita, berbagi, dan hore-hore bersama. Bertengkar pasti pernah juga lah ya. Karena saat kebersamaan semakin dekat dan hijab tersingkap, yang tampak bukan hanya kelebihan tapi juga kekurangan.

Antis anak yang super kreatif, berbakat dan tertata. Dia gudangnya hal-hal unik dan nyentrik. Antistainment lah. Dia sering sekali menolongku dengan kelebihannya.

Irna anak yang riang dan ceriwis. Suka memasak macam-macam. Pas dia KKN aku sms tanya gimana kabarnya di sana, aku ingat saat itu dia menjawab: “Makin lama aku makin tau, ukhuwah kita adalah yang terindah.” Swiiit.

Kami bertiga pernah sekamar, menyulap sudut ruang tamu menjadi tempat tidur dan ruang kerja (skripsi) yang nyaman. Saat itu ruangan kami paling dekat dengan pintu rumah barangkali tandanya kami harus segera keluar berhijrah.

Meskipun nyatanya kami tidak bisa ‘keluar’ bersamaan. Antis, aku, baru kemudian Irna yang lulus sarjana. Ingat jargon rumah kontrakan kita, “Baitul Izzah sparkling house. Where ukhuwah can be fun.” Yes, we’re fun.

♡♡♡

FIDYA
Anak ini nggemesin. Tapi aku sayang. Orangnya kritis, analitis, dan idealis. Suka cerita dan membahas banyak hal dari sudut pandang paling remeh sampai yang ideologis. Lucu, bijak, seringnya koplak. Wkwkwk. Suka bertualang macam Dora.

Tetiba kami pernah tertakdir satu kosan. Dia yang paling tau betapa jijiknya aku pada “ulil”! Juga tertakdir lulus bersamaan. Innoceeent ikut pelatihan skripsi sampai 2 kali. Hihi

Dia suka tantangan dan memang layak ditantang. Dia punya nyali yang kadang di luar perkiraan. Kadang tiba-tiba dia ngeWA mengajukan pertanyaan yang sulit dijawab. Kalau gak begitu, kami ngobrol haha hihi sekedar iseng dan aku bisa ketawa ngakak sendiri baca chat nya. Lalu si Boya bertanya “Umi kenapa?” Ini dek, teman umi lucu. “Lucu kenapa?” Nah, saya bingung jawabnya. Wakaka

♡♡♡

I know, sometimes I was annoying and Im sorry. But everything in the past always taste sweet for now. A great lesson we never can go back.

♡♡♡

Kau tau siapa sahabatmu? They are people to whom you share secrets each other that you keep forever. Dan pada setiap kisah persahabatan, selalu ada ujian. Dalam rupa apapun. Katanya: tidak ada persahabatan yang sempurna, yang ada adalah orang-orang yang selalu berusaha mempertahankan persahabatannya. Itu kita ♡

Menjaga Anak Perempuannya

Standard

Saat aku usia remaja (MTs) Bapak sudah ngaji, beliau bilang “Anak perempuan jangan pakai celana. Pakai pakaian yang syar’i.”

Bapak tidak suka anak perempuan mbonceng motor ‘mbegagah’ (bonceng ala cowok). Jaman SMA aku ada bandel-bandelnya lah ya. Remaja gituh. Salah satunya pas dibonceng teman dari sekolah aku seringnya mbegagah, nanti kalau sudah dekat rumah baru ganti posisi bonceng cewek. Sampai temanku yang bernama Tanti itu hafal “Nis, kamu gak berubah posisi?” Wkwkwk. Kalau ketahuan bonceng cowok bapak bisa ngomel “Cah wedok kok mbegagah…bla…bla…” Ia mengajariku tentang menjadi perempuan (yang feminin).

Malam minggu waktunya apel, eeeh…sesat sesat! Arisan kalau aku mah. Arisan remaja karangtaruna. Bapak selalu pesan “Ojo boncengan karo cah lanang.” Ia mengajariku tentang pergaulan. Padahal tanpa dipesan aku memang tak mau dibonceng cowok. Malu.

Suatu saat setelah lulus SMA, ada pemuda usia lebih tua, yang bau-baunya tak sedap. I mean, semacam mau pedekate. Suatu waktu tetiba main ke rumah, bapak yang biasanya ramah dan supel pada siapapun, tetiba cuek, dingin seperti es batu, isyarat rasa tidak suka. Tidak menyapa, tidak mengajak ngobrol, tidak dipersilakan masuk. Rupanya beliau mencium modus anaknya mau di pedekate. Habis itu, itu cowok kapok gak datang lagi ke rumah. Horeee…!!! *Cinderela bahagia donk! Bapak semacam mengajariku untuk hati-hati pada buaya darat :p

Suatu siang pulang sekolah, nunggu jemputan bapak di pinggir jalan. Ada mas-mas asing ngajakin ngobrol. Pas bapak datang menjemput, di perjalanan beliau mewanti “Kalau didekati orang asing, dijawab yang baik. Jangan kasar. Biar orang tidak marah. Biar tidak ada masalah.” Aku tau maknanya, supaya tidak beresiko kenapa-kenapa pada anak perempuannya ini.

#anakBapak
“…Ini lho Buk, anak ini kemana-mana diantar bapaknya…” Kata seorang anak saat curhat pada ibuknya tentang aku. Aku sih taunya ini dari ibu mertua :p

Setiap diminta beli sesuatu di toko, bapak mesti pesan “Ojo neng tokone Pak ‘kae’. Akeh cah lanang nongkrong.” atau “Nek tokone Pak ‘kae’ akeh cah lanang, nang liyane ae.” Bapak mengajariku tentang rasa malu.

Aku adalah anak yang waktu kecil banyak hang out sama bapak. Maksudnya pas bapak ada urusan ke kota (Madiun) aku ikut gitu. Sering diajak mencari jalan pintas, yang di kemudian hari sepertinya ini ngaruh pada kemahiranku mengemudi motor dan menerobos jalanan (lampu merah…kadang2, wkwkwk). Setiap ke kota, bapak mesti mentraktir makan/jajan di warung (this is the main target of mine at that time, huohohoo). Tapi kalau tempat yang kami tuju ternyata ramai oleh lelaki, bapak selalu akan bilang “Rasah sido ya nduk. Akeh wong lanang.” Atau “Ayo golek liyane ae ya.” So suwiiit Bapak! Bapak begitu hanya karena satu sebab: beliau sedang membawa anak perempuannya.

Momen-momen itu dan beberapa momen lainnya terkenang sampai sekarang. Sampai pada kalimat-kalimatnya aku ingat. Saat itu aku merasa, betapa bapak sangat ingin menjagaku, menghargai dan memuliakan anak perempuannya. Di kemudian hari saat aku dewasa, aku merasainya lebih mendalam. Cara-cara simpel yang bapak tunjukkan itu terasa seperti wejangan berharga sepanjang hayat “Kamu itu berharga, Nduk. Harus pandai membawa diri.”

Pun aku kemudian merasa “Oh ya. Ada sosok laki-laki yang mencintaiku dengan sebenar-benar penjagaan.” Yang sekarang, penugasan itu telah beralih tangan kepada laki-laki lain yang kepadanya bapak melepas perwaliannya atasku.

Terimakasih Bapak :)
Semoga Allah merahmati Bapak, fiddunya wal akhiroh.

————————–
*anak perempuanmu, yang selalu tidak bisa se-asertif ini saat di depanmu*
————————–
*pesan sponsor: ambillah hikmah dan buanglah sampah pada tempatnya*

Cakeeep 8)

Standard

Repost tulisan dedy corbuzier. Sy dapat dari grup WA. Whatever ceritanya dia, ambil hikmahnya aja donk ya :)
__________________________
School of Parenting

“BELAJAR YANG KALIAN SUKA”

Kisah ajaib di siang suntuk saat jemput sekolah.

Azka, ” Pa, tadi lomba renang. I get urutan ke 5!!!”

Me, ” Woooow, I’m so proud of you. You are amazing!!!!”

Azka, ” Yeaaaaaay”

Ibu-ibu entah arisan di belakang, “Mas Ded, yang tanding kan per 6 orang. Masak anaknya urutan ke 5 malah bangga. Anak saya aja urutan ke 3 saya bilang payah. Nanti malas, Mas Ded.”

Me, “Hahaha, iya yah. Wah, saya soalnya waktu kecil diajari ayah & ibu saya kalau tujuan renang itu yah supaya gak tenggelam aja sih. Bukan supaya duluan sampe tembok. Hehehe”

Ibu, “Ah Mas Ded bisa aja. Jangan gitu mas ngajar anaknya. Bener deh nanti malas.”

Me, “Hahah, Azka gak malas kok mbak. Tenang aja, kemarin mathnya juara 3, catur nya lawan saya aja saya kalah sekarang. Eh, anu Mbak, saya juga gak masalah punya anak malas di hal yang dia gak bisa atau gak suka. Yang penting dia usaha. Daripada anak rajin tapi stress punya ibu yang stress juga marahi anaknya karena cuma dapat juara 3 lomba renang.”

Ibu, “Hehehe, Mas, saya jalan dulu yah.”

Me, “Gak renang aja, Mbak?”

Senyap……

Ya, ini kejadian benar dan tidak saya ubah-ubah.
Apa sih yang sebenarnya terjadi secara gamblang?

Tahukah si ibu kalau Azka luar biasa di catur nya?
(Penting? NO!! Sama dengan Renang)

Atau Azka juga mendalami bela diri yang cukup memukau dibanding anak seusianya.

Atau.. Azka.. Atau Azka…
Banyak kelebihan Azka..
Sama dengan kalian.
Banyak kelebihan yang kalian punya. Artinya banyak kelemahan yang kalian punya juga.

Tapi, apabila para orang tua memaksakan kalian sempurna di semua bidang dan menerapkannya dengan paksaan, maka hanya akan terjadi 2 hal.

1. Si anak stress dan membenci hal itu.

2. Si anak sukses di hal itu dan membenci orang tuanya (Michael Jackson contohnya)

Yuk, kita lihat apa yang baik di diri anak kita. (bila anda orang tua)

Yuk, kita komunikasikan apa yang kita suka (bila kita anak tersebut)

Mengajari dengan kekerasan tidak akan menghasilkan apapun. Memarahi anak karena pelajaran adalah hal yang bodoh.

Saya sampai sekarang masih bingung, mengapa naik kelas tidak naik adalah hal yang menjadi momok bagi ortu (kecuali masalah finansial)

Siapa sih yang menjamin naik kelas jadi sukses kelak?

Saya…
Saya 2 kali tidak naik kelas…
Yes, iam. Proudly to say.

Ayah saya ambil raport. Merah semua.
Dia tertawa, “Kamu belajar sulap tiap hari, kan? Sampai gak belajar yang lain.”

Me, “Iya, Pa.”

“Sulapnya jago. Belajarnya naikin yuk.. Gak usah bagus. Yg penting 6 aja nilainya. Ok?
Pokoknya kalau nilai nya kamu 6, Papa beliin alat sulap baru. Gimana?”

Wow… My target is 6…..
Not 8.. Not 9…
NOT 10!!!!
It’s easy….. Its helping… Its good communication between me and my father….
Its a GOOD Deal…
Dan Ibu saya? Mendukung hal itu.

Apa yang mereka dapat saat ini?
Anaknya yang nilainya tidak pernah lebih dr 6/7 tetap sekolah. Kuliah.
Jadi dosen tamu .. Mengajar di beberapa kampus.

Oh.. Anaknya…
Become one thing they never imagine…
World Best Mentalist

Apa yang terjadi kalau saat itu saya dihukum. Dimarahi. Di larang lagi bermain sulap?

Apa? Maybe I be one of the people working on bus station.
(other Bad… Not Great)

Yuk, stop memarahi anak krn pelajarannya. Karena ke unikan nya.
Kita cari apa yang mereka suka.
Kita dukung.

U never know what it will bring them in the future.
Might indeed surprise you.

–Deddy Corbuzier–

Setiap Anak Terlahir Istimewa

Standard

Kamu cantik, nak. Cantikmu bahkan lebih cantik dari teman2mu. Seandainya tak mengenalmu lebih dekat, pasti tampak tak ada apa2 denganmu, kau tampak baik2 saja, seperti anak2 lain sebayamu.

Baru akan tampak sesuatu yg ganjil, saat panggilan atau sapaan orang tak kau sahut apalagi kau tengok. Saat orang mengajakmu bicara dan kau diam tanpa jawab, tanpa expresi, tanpa tatapan mata. Saat pengajarmu harus mengulangi instruksi untukmu, mengulangi pembicaraan agar kau menjawab. Saat yg lain asyik belajar dan bermain bersama, tapi kau malah sibuk sendiri dengan duniamu, dengan pilihan kegemaranmu. Saat kau tak bisa diam, semaumu sendiri, sulit diminta konsentrasi. Saat kau tak mampu menyampaikan keinginanmu dengan jelas. Barulah tampak ada yg lain, ada yg khusus, ada yg istimewa darimu.

Menemanimu menjadi pelajaran tersendiri bagiku, ada rasa sayang dan kagum tersendiri untukmu. Mendapati bahwa ternyata di sela ‘keunikanmu’, kau sangat hebat, mandiri, pintar, tertib, rapi, care, kreatif, perfectionist juga.

Kamu pintar, nak…sangat pintar. Hebat, untuk ukuranmu. Caramu memahami, caramu mengingat, caramu mengeja, caramu menggambar, caramu menjawab, caramu meniru, caramu ingin tau. Baru tiga hari aku mengenalmu dan telah banyak kulihat kelebihan2mu di sela kekuranganmu. Bahkan aku mengagumi gambar2mu. Yang disana tak pernah ada goresan2 yg menyiratkan duka, luka, murka, atau trauma. Selalu gambar penuh ceria, selalu goresan2 senyum atau tawa lebar. Selalu komposisi grafis yang manis dan harmonis kau lukis. Mungkin adalah cerminan batinmu yg damai, pikiranmu yg konstruktif, dan imajimu yg atraktif. Salah satunya saat kau gambar dua sosok (mirip) manusia. Satunya tinggi, wanita, mata terpejam dan bibir tersenyum manis. Tampak sabar dan tenang expresinya. Satunya kecil, tersenyum lebar expresinya. Saat kutanya, kau bilang itu ibu dan kau. Manis sekali. Pasti ibumu sosok yg sabar padamu.

Ada rasa sayang dan kagum tersendiri padamu. Ada sesuatu yg ingin kuusahakan untukmu. Bahwa aku ingin kau baik2 saja, aku ingin kau tumbuh dan berkembang hebat! Pasti bisa. Kau hebat, nak. Aku yakin kau akan gemilang dengan bakatmu kelak, pun dengan keunikan yg kau punya.

Kalau tak ingat kau membutuhkanku, rasanya aku tak begitu berselera berlama2 di sekitar mereka, orang2 itu. Rasanya tempat itu tak seramah dulu, saat aku pernah belajar disitu. Tapi membersamaimu menjadi keistimewaan tersendiri, dimana aku mendapat banyak pelajaran untuk bersyukur pada Allah atas segala pemberianNYA, dan tentu saja mengagumi ciptaanNYA. Kau, salah satunya. Selainmu, ada dia, dia, dan dia-dia lainnya. Yang juga istimewa. Seandainya aku punya banyak waktu lebih, ingin kurangkul serta. Namun sepertinya aku tak bisa lama membersamaimu, pun tak banyak yg bisa kuberikan padamu, apalagi untuk merangkul mereka. Tapi insyaALLAH aku akan ingat2 untuk menyematkan doa untukmu dan mereka, agar kelak kalian jadi anak hebat yg bermanfaat, membawa kebaikan dunia akhirat. Karena kalian adalah ciptaanNYA yg istimewa.

*Gadis kecil yg menginspirasi, yg namanya sama dengan nama surat alqur’an favoritku :)