Tag Archives: dalam siroh ada ibroh

Ambillah Bagian

Standard

camerancollage2016_11_01_141035

Selamat tanggal empat. Selamat hari jum’at. Agama ini sampai pada kita melalui darah juang Rasulullah, sahabat, para mujahidin terdahulu. Ketika risalah ini telah sampai pada kita, maka tugas kita sekarang yang menjaganya. Pikullah beban di bahumu, ambillah bagian dalam penjagaan masa depan Islam.

Kita tak pernah menjadi penjaga Rasulullah di kala dikejar musuh sebagaimana Abu Bakar mendampingi bersembunyi di gua Tsur. Kita tak pernah menjadi penjaminnya di malam hari, layaknya Ali yang menggantikan tidur di kasur Nabi kala rumahnya dikepung para pembenci. Pun kita tak pernah menjadi tameng beliau kala musuh hendak mencelakai sebagaimana Thalhah sang perisai Nabi di perang Uhud. Hingga pasca perang didapati di sekujur tubuhnya terdapat lebih dari 70 luka tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah, bahkan jari-jarinya putus. Allahuakbar!

Maka di masa kita, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga risalah ini, lakukan. Ambillah bagian.

Barokallohu fiikum.

Advertisements

SELERA

Standard

Dapat kiriman gambar dari adik yang bertuliskan kalimat “Khadijah tidak tau kalau jodohnya adalah Muhammad. Yang ia tahu, Muhammad adalah jodoh yang diidamkannya.”

Inti kalimat di bait ini adalah: cobalah melamar/menawarkan, barangkali jodoh. Siapa tau idamanmu adalah jodohmu. Kalau ternyata bukan? Tengoklah kisah Salman. Saat ditolak, ia berseru takbir dan justru sahabatnya dipersilakan. ”Allahu Akbar! Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” Masih adakah persahabatan macam ini sekarang?

♡♡♡

Mencuplik lagi sedikit tentang kisah cinta Salman, Abu Darda’, dan wanita Anshar. Jadi terpikir, kenapa wanita Anshar itu lebih memilih Abu Darda’ ya daripada Salman. Padahal Salman adalah sahabat Nabi yang sholih juga, salah satu keunggulannya dialah pencetus ide parit pada perang Khandak. Keren dan beken. Tapi toh yang dipilih adalah Abu Darda’, bukan Salman. Barangkali hikmahnya: wanita juga punya selera.

Jadi jangan baper melulu misal si dia menolak kamu. Apalagi dengan kalimat “Padahal lho aku ya sholih, aktivis, banyak hafalan, tampan juga mapan.” Si gadis yang menolak baper juga kala dibilang pilih-pilih, padahal yang datang sudah sholih-sholih. Padahal yang namanya ‘gak sreg’ itu sinyal hati. Kadang susah dicarikan definisi.

Barangkali si gadis lebih menyukai tipe lain yang karakternya lebih smooth daripada yang crunchy, yang pendiam daripada yang lantang, yang tawadhu meskipun belum banyak hafalan. Sama dengan laki-laki, masalah selera barangkali.

Bapak-bapak pun kalau cari mantu juga punya selera. Semacam Rosulullah, yang bahkan menolak pinangan sahabat sekaliber Abu Bakar dan Umar, karena ternyata pinangan Ali lah yang beliau kehendaki. Sampai-sampai mahar pun difasilitasi. Ali untuk Fatimah, memang keduanya istimewa. Masalah selera, barangkali.

Poin yang lebih penting kenapa gak usah terlalu baper adalah: dia bukan takdirmu. Maka jalannya begitu. Udah gitu aja.

Karena setiap kita punya selera. Selera itu perkara rasa. Dan rasa itu tergantung darimana asalnya.

♡♡♡

Selamat malam minggu. Semoga yang masih sendiri segera menemukan ‘takdirnya’.

Islamnya Si Penombak Jitu

Standard

Hitam legam dan tinggi besar perawakannya. Budak belian asal Ethiopia. Majikannya adalah wanita bengis bernama Hindun, istri dari Abu Syufyan, lelaki yang banyak menghabiskan tenaga untuk memusuhi nabi.

Wahsyi, nama budak hitam tersebut. Sejarah mencatat pembunuhan kejam yang dilakukannya bersama Hindun, ketika tombaknya berhasil membunuh Hamzah, paman kesayangan Rasulullah. Kemudian Hindun merobek dada Hamzah dan mengunyah hatinya mentah-mentah.

Menemui kematian sadis pamannya, Rasulullah dilanda kesedihan teramat dalam. Hingga kemudian hari ketika Wahsyi hendak bersyahadat di hadapan nabi, ia berpikir “Muhammad pasti membunuhku.” Atas dosanya masa lalu membunuh sang paman dengan sangat kejam.

Namun tidak. Setelah Wahsyi bersyahadat dan muncul di hadapan sang Rasul, beliau hanya berkata “Aku maafkan engkau. Dan jangan sampai aku melihatmu lagi.” Betapa girang hati Wahsyi, Muhammad sama sekali tak dendam padanya. Hanya saja kematian sadis pamannya tak bisa dilupakan. Wahsyi pun berjanji sampai habis nafasnya tak akan menampakkan diri di depan nabi.

Taubatnya Wahsyi, seolah ia ingin mentaubatkan tombaknya juga. Dalam jihad melawan nabi palsu, Wahsyi berjanji: tombak yang sama yang pernah membunuh Hamzah, akan ia gunakan untuk membunuh si nabi palsu, Musailamah Al Kadzab. Dan benar saja. Allah mengabulkan niatnya.

Ketika suatu waktu pasca perang ia tertidur, dalam mimpinya ia bertemu seorang lelaki. Seorang lelaki yang ia kenal. Memeluknya dan berkata: “Kita akan bersama di surga.” Sebangunnya dari tidur Wahsyi berteriak-teriak girang sambil menangis, seperti orang bingung histeris ia berkata “Allahuakbar! Allahuakbar! Sesungguhnya aku bertemu Hamzah dalam mimpiku. Aku akan bersamanya di surga.”

♡♡♡

Adalah kabar gembira bagi orang-orang yang melampaui batas, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.

*di kemudian hari Abu Syufyan dan Hindun pun masuk Islam*