Tag Archives: cerita BLW

Catatan si Boya: Cerita BLW Selanjutnya

Standard

*ini juga postingan yang tertunda*

 

Hello moms, dads. Okkeh..dilanjut ya cerita tentang BLW Rafa.

Jadi, setelah saya dan abinya menggali ilmu pengetahuan per-MPASI-an dan memutuskan akan menempuh metode BLW, tahap persiapan selanjutnya, jauh-jauh hari sebelum start MPASI saya lakukan juga pillow talk kepada Rafa. Pillow talk itu…ngomong sama bantal? hehehee… Bukan. Pillow talk itu metode hipnosis dalam, bentuk dari metode hypnosleep, semacam sugesti oleh orangtua kepada anak saat tidur. Jadi kan, manusia itu saat-saat hendak tidur, gelombang otaknya akan turun dalam kondisi alpha, theta, dan delta. Sedangkan gelombang otak untuk sugesti hipnosis adalah alpha dan theta, kira-kira pada 1-5 menit pertama saat anak baru mulai tertidur. Kondisi ini merupakan saat-saat dimana alam bawah sadar manusia mudah merekam informasi/sugesti. Simpelnya, kondisi yang tepat untuk menerima sugesti dan diharapkan nantinya termanifestasi dalam bentuk perilaku *ingatkan ya klo teori yang saya pahami kurang tepat, maklum baru belajar. Nah, momen ngeloni si kecil adalah momen pillow talk itu. Sambil nyusui, usap-usap kepalanya, belai lembut, sambil bacakan doa-doa, kemudian ucapkan padanya kalimat-kalimat sugesti kita. Pastikan berupa kalimat positif dan deskriptif.

Pillow Talk untuk Rafa

Menuju hari H MPASI, saya mencoba menerapkan teori di atas. Setiap ngeloni Rafa, selesai membacakan doa-doa, saya mulai ucapkan kalimat2 sugesti tentang BLW. Step by step. Mulanya saya jelaskan tentang apa itu BLW, kenapa saya dan abinya memilih BLW, apa rasioalisasinya, keunggulannya, dll yang teoritis. Memang menyalahi aturan pillow talk ini, kebanyakan kalimat dan complicated, tapi saya pikir…no matter lah, toh sebelum2nya juga kami sering bercerita panjang lebar ke Rafa saat dia sudah tidur sekalipun, hehee. Setelah beberapa hari pillow talk dengan konten teoritis ini, beranjak ke arah teknis. Berubah tema sugesti: tentang apa yang perlu dilakukan Rafa dalam BLW. Antara lain saya ucapkan kalimat2 motivasi: “Mas Rafa anak hebat…suka makanan sehat, main aktif bersemangat, maem mimik lahap…boboknya bobok lelap.” Berlanjut hari-hari berikutnya menambahkan kalimat tentang apa-apa yang perlu dilakukan Rafa saat makan nanti: “Mas Rafa ambil makanan, pegang, masuk mulut…hap! Gigiiiit…trus…kunyah-kunyah-kunyah, kalau sudah lembut…ditelan. Hmmmm…! Kalau ada yang tidak bisa ditelan, mas Rafa lepeh…dikeluarkan, didorong pakai lidah.” Kurang lebih demikian kalimat yang saya ulang-ulang tiap harinya, setiap menidurkan Rafa. Well, mungkin kalimat saya kadang kurang tepat secara teori, karena kadang saya mix antara rasionalisasi, motivasi, dan aplikasi. Jadi panjaaaang sugestinya, hahaha. But see, it really works! Biidznillah, of course :D

Hari Pertama Rafa BLW: GREAT!

This is it! Tau gak sich, rasanya anak mau start MPASI tuh ada rasa deg-degan ternyata di hati ini. Rasanya kayak ngerasain anak kita mau ujian kenaikan gituuuh, antara was-was dan harap-harap bahagia, sukses gak ya…? Gituh!

And the day comes…

Prinsip BLW so simple, manfaatkan sumber daya sekitar, gak perlu repot-repot juga memproses makanan untuk bayi. Nah, karena niat awal nyoba melon buat Rafa gak nemu, adanya pisang ambon…yaudah deh, MPASI sekaligus BLW episode 1 dimulai dengan pisang. Saya potong kulit bagian atas, dan menyisakan kulit bagian bawah supaya tidak licin dipegang. Bismillah, sajikan di depan Rafa. Apa yang terjadi pemirsaaaa…? Dia langsung meraih tuh pisang, dipegang sebentar, lalu langsung masuk mulut. Memang dia dalam masa oral, masa emut2 segala benda dan makhluk. Tapi ini…dia bisa gigit tuh pisang, potongan besar lagi, lalu dikunyah2. Wowww! Impressed laaah. Secara dari sharing mama2 di grup, macem2 polah bayi menghadapi makanan pertamanya. Ada yang cuma dilirik, dipelototin, dilempar2, atau dibejek2 sampai luluh lantak di tangan, tray, dan lantai…ada yang dibuat masker, lulur, dan kramas, ada yang hanya digigit lantas dilepeh2, dan lain2 tingkah lucu bayi2, hihiiii *gemeeessssh! Dan itu variasi, ada yang terjadi di usia 6,7,8, bahkan 9 atau 10 bulan lebih, memperlakukan makanan sedemikian unyu-nya. Nah ini Rafa, di hari pertama dia menghadapi makanan, langsung bisa meraih, memegang, masuk mulut, gigit, dan kunyah. So appreciated! But wait, what happened next…?

Gagging…the first and no more!

Hari pertama Rafa menghadapi makanan pertamanya (non ASI), dia melahap potongan besar sekali di mulutnya. Belum juga halus dikunyah dan ditelan, dia masukkan lagi potongan berikutnya. Dia belum mampu mengontrol kapasitas makanan yang bisa diproses di dalam mulut dan yang bisa ditelan. Nah, saat berusaha menelan kumpulan makanan di mulutnya, terjadilah: gagging alias keselek (bukan tersedak ya, beda itu). Hwuaaaa…Rafa keselek, saking kebesaran makanan yang mau ditelan, lantas nyangkut di tenggorokan. Saya dan abinya stay calm, menepuk pelan punggungnya sambil mengarahkan…ayo, dikeluarkan dek. Dia masih berusaha dan tampak kesulitan, lalu…berlakulah mekanisme alami tubuhnya untuk mendorong makanan keluar: Rafa gumoh, dan meluncur potongan-potongan makanan yang mengganjal tadi. Subhanallah, jujur saya sempat panik dan khawatir, karena Rafa juga agak mewek, yaiyalah…gak enak kan rasanya muntah itu. Setelah baikan, saya gendong dia. Sempat mengajukan opsi ke abinya, “Tak coba suapin ya…” tapi terpatahkan oleh sergahan lembutnya, “Cint, ini hari pertama Rafa, baru saja Rafa mencoba belajar, kita liat sendiri kan dia sudah bisa apa…hanya kurang menelan yang dia belum bisa. Ini sudah bagus sekali…ini hari pertamanya, Cint. Ayolah, yakin Rafa pasti bisa. Jangan patah semangat!! Ya…?” well done, I’m so motivated! Okkeh sayang, i’ll trust you Son :D

Benar saja, alhamdulillah…Rafa sangat cepat belajar. Percaya atau tidak, peristiwa keselek dan gumoh tadi hanya terjadi di hari pertama Rafa BLW. Selanjutnya sampai hari ini, dia selalu berhasil menelan makanan, dan mendorong remah2 yang dia tidak bisa telan. Alhamdulillah, tidak pernah sampai nyangkut apalagi muntah. Dia memperlakukan makanan persis seperti yang saya sugestikan (dan kami doakan), dia langsung mampu mempraktekkan kelima skill makan: meraih, memegang, menggigit, mengunyah, dan menelan, serta mengeluarkan makanan yang tidak bisa ditelan. Benar2 saya dan abinya terkagum dan bersyukur sekali pada Allah yang telah memudahkan. Dan kami memberinya nilai GREAT sebagai pemula BLW. Mungkin saat keselek itu dia mikir, ooh…aku gak boleh gigit terlalu banyak makanan, secukupnya ajja di mulut. Trus aku harus kunyah lembut dulu sampai bisa kutelan, biar engga nyangkut yah… klo gak bisa mending kulepeh ajja maemku… hihihiii, imajinasi saya atas pikirannya. Ohya, pillow talk terus berjalan yaa, seiring perkembangan Rafa. Kami memaknai ini sebagai sebuah ikhtiar : )

Challenge!

Fine, BLW berjalan lancar, alhamdulillah. Tapiiii…sebagai seorang emak2, haduuuh…emak mana sich yang gak gatel pengen nyuapin anaknya. Ini hasil survei saya ya, rata2 ibu2 tuh gemesss banget pengen nyuapin. Saya pun demikian, rasanya kayak enggak sempurna gitu menjadi ibu tanpa menyuapi sang anak *hehey…lebay nggak sich. Namun alhamdulillah, suami saya yang berperan menjadi sosok yang super sabar dan disiplin yang selalu mengingatkan, “Ummi, ingat prinsip2 BLW. Biarkan Rafa belajar dan eksplorasi. Konsisten yaa…” heheee…*malu sendiri* Di saat banyak ibu yang galau karena minim dukungan suami untuk BLW, eh ini suami mendukung penuh, malah saya nya yang rempong, wkwkwk. BLW memang bukan berarti no suap-menyuap sama sekali lhoh, tapi prinsipnya, boleh menyuapi selama si anak yang minta, tanpa pengalihan perhatian, tanpa ada paksaan. Uniknya, Rafa ini malah susah disuapi, banyakan malah mingkem. Jadi cara saya mencoba, misalnya kemarin pas maem nasi plus kuning telur, saya arahkan tangan saya di depannya (tidak ke mulutnya ya), kalau dia memang mau maem, ternyata dia akan menarik tangan saya ke arah mulutnya, dan…nyamm, hap…hap. Begitu sampai selesai makan, saya yang memegang suapan nasi, dia yang mengarahkan tangan saya. Pinter…dia mengambil cara praktis, hehehe. Nah, ada lagi yang wow, ternyata selanjutnya dia punya mekanisme penolakan. Kalau sedang tidak mau disuapi atau tidak mau disajikan makanan, pasti: langsung ditepis tangan saya atau piring yang saya sajikan. Saya ulangi beberapa kali, dia menolak dengan cara yang sama, tidak mengijinkan tangan saya atau piring mendekatinya, wkwkwk.

Tantangan selanjutnya: tentang noda! Inilah efek samping BLW, belepotan dimana2. Di badan Rafa, di baju Rafa (sebenernya dah pake celemek, tapi ya namanya improvisasi bayi begitu lah yaa), di baju saya atau abinya, dan di lantai. Berantakan juga. Messy is always! Okkeh, jadi efek samping berikutnya adalah ibunya bisa langsing karena harus ngepel tiap habis maem, cucian abi tambah banyak dan membandel karena harus ganti baju tiap habis maem, dan butuh stok tissu serta “super pel” yang banyak, hehe. Tapi kami bahagia, kami terkagum dengan progresnya. We’re all very fun. Apalah artinya kotor, noda, dan berantakan, apalah artinya sering ngepel, apalah artinya cucian makin banyak, apalah arti korban banyak tissu dan lap, apalah arti memunguti dan memakan remah2 makananmu di lantai (karena eman terbuang), jika itu demi perkembangan buah hati, jika itu membuatnya mampu dan enjoy bereksplorasi optimal, belajar agar mempunyai attitude makan yang baik dan benar di kemudian hari, serta menguasai kemampuan lainnya yang dia dapat dari proses makan BLW ini. Fine, Son…abi n ummi love every single way you learn.

Tantangan berikutnya adalah mbah2nya Rafa. Ya emang BLW ini adalah metode yang menyelisihi adat leluhur yaaa, hehe. Kalo pada umumnya bayi kan dikenalkan dengan makanan cair, kemudian bubur lembut, bubur kasar, dan seterusnya bertahap. Kalau BLW kan tidak. Jadi saat mbah2nya Rafa tau kami ngasih makan langsung makanan padat, pada heran lah, yang rata2 tanya,”Emang gakpapa?” hehe. Namun seiring perkembangan Rafa yang saya tunjukkan di depan mereka, mereka malah terpesona heran. Rafa bisa pegang dan makan singkong rebus sendiri, menghabiskan beberapa kuntum brokoli, mengunyah dan hisap2 jeruk tanpa keselek, dan lain2. Saat saudara2 kami liat Rafa gigit apel besar2 pun pada heboh mereka, “Awas lho mbak nek keselek” namun saya yakinkan, “Gakpapa Om, Bulik, dek, mas…dll…kalau tidak bisa ditelan pasti dikeluarkan kok,” dan begitulah adanya. Namun saat mbah2 Rafa ingin menyuapi ya saya biarkan saja, toh tidak setiap saat disuapi dan tidak dengan paksaan juga. Dengannya kami dan Rafa belajar tentang menghargai orang lain (menghargai suapan dan kasih sayang embah, hehe).

Dan, kamipun belajar darinya

Sejujurnya, BLW ini menjawab galau saya dulu. Saking seringnya melihat anak2 tetangga yang harus digendong, diajak jalan2, liat ikan atau burung agar mau makan, bahkan yang sudah balita (di atas 3 tahun) pun harus dikejar2 untuk makan, saya jadi mikir: gimana ya caranya biar anak2 tu punya kesadaran untuk makan, tanpa perlu pengalihan perhatian, dan bisa makan dengan duduk (tidak dikejar2 disuapi sambil dia main). Pun sering juga mendengar komentar ibu sang anak “Makannya susah…” Ternyata, jawabannya ada di sini, di BLW ini. Memang secara psikologis, BLW mengajari anak untuk memiliki kesadaran terhadap makanan, tau dan sadar bahwa dia sedang menghadapi makanan, dia perlu untuk makan, dengan keinginannya sendiri, melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Bukan dengan pengalihan atau paksaan. Maka dengan mengenal metode ini, terjawablah galau saya. Oke, kita coba dengan metode ini, semoga ke depannya benar2 tercapai manfaat BLW ini yang antara lain: anak sadar makan, tidak pilih2 makanan, suka makanan sehat, dan mandiri.

Banyak hal yang saya dan abinya justru mengambil pelajaran dari proses belajar makan Rafa ini. Salah satunya, saya yang picky eater ini (suka pilih2 makanan) jadi belajar sama Rafa bahwa makanan itu enak atau nggak enak tergantung mindset dan kebiasaan lidah kita. Soalnya menurut saya, makanan hambar terutama sayur itu nggak enak, apalagi yang tanpa diapa-apain (cuma dikukus atau direbus saja). Saya ini baru doyan banget sama sayur sejak kuliah lho, parah kan *jangan ditiru! Tapi ketika kami membelajarkan Rafa untuk makan sayur2an yang cuma dikukus, otomatis saya dan abinya pun memberi contoh untuk memakannya. Ya…rasanya ya gitu, tapi rasa itu tergantung mindset. Dan Rafa yang masih zero value ini lah yang hendak kami ajari mindset bahwa sayur itu enak, sehat, meski tanpa bumbu. Nyatanya, dia doyan banget. Ya buncis, kacang panjang, sawi, wortel, apalagi brokoli…he like the most. Bahkan saat kami nyoba buah bit kukus, hwaduuuh…rasanya subhanallah *bikin kami nggak doyan* aneh2 gimana gitu, yang kata ibu saya “Ambune koyo tikus berit, Nis” (baunya kayak tikus curucucut, haha#ngakak guling2) padahal khasiatnya handal sekali. But see…my Rafa so enjoy it, suka banget dia. Apalagi waktu dibikin jus campur apel, tambah lahappp. Kami pun terpana… @.@

Kemudian tentang attitude makan. Salah satu manfaat BLW ini kan membiasakan anak untuk mengunyah makanan, makanya sejak pertama kali dikenalkan makanan dia harus berusaha mengolah secara mekanik itu makanan padat meskipun dia belum punya gigi. Dan bayi ternyata hebat lho, bisa mengunyah tanpa gigi. Nah ini kelemahan saya dalam makan, saya tidak bisa (terlanjur tidak biasa) mengunyah dengan optimal (katanya 33 kali ya). Makanya saya tu kalau makan cepat sekali, karena asal telan aja, wkwkwk. Hasil latihan BLW ini sangat terlihat pada Rafa, sampai sekarang Rafa usia 10 bulan alhamdulillah tidak pernah yang namanya ngemut makanan, seperti yang biasanya dialami para bayi. Always dikunyah nyam nyam.

Saya belajar, abinya pun belajar. Tentang awareness. Kalau makan itu ya sadar kita lagi makan, disadari, dinikmati, fokus, dan tidak disambi2. Nah ini, kebiasaan abinya makan sambil ngadep buku atau browsing ngenet via HP, atau nonton bola. Makanya waktu makan jadi lama, karena ter-distruck oleh kegiatan lain. Eh saya juga sering ding gitu, makan sambil ngadep HP. Makanya sekarang kami saling mengingatkan agar kelak jadi teladan waktu makan, “Hayo, anak BLW makan ya makan.” Mungkin untuk orang dewasa seperti kami makan sambil disambi tidak menjadi masalah berarti ya, tapi untuk anak2, hal ini harus dibiasakan sejak dini salah satunya dengan tidak mengalihkan perhatian anak dari makanan, misalnya sambil digendong, “Eh liat tuh ada burung…aa…aaa…hap.” *suapan sendok masuk mulut. Si anak dikelabui dengan burung, mainan, atau hal lain agar mau mangap dan makan. Suasana baru untuk variasi memang perlu, tapi tidak dengan mengalihkan perhatian anak dari makanan yang sedang dihadapinya.

Mmmm, sekian dulu cerita BLW dari saya ya. Ntar2 kalau ada tambahan saya note-kan lagi, sebagai catatan pengalaman. Tentang apa itu BLW, kenapa, bagaimana, dan serba-serbinya, mohon maaf terlalu panjang jika saya paparkan bareng2 disini ya. Jadi silakan gali informasi yang seabreg tentang BLW, bisa join di grup fecebook: Baby Led Weaning Indonesia, atau baca di bukunya Gill Rapley.

Happy MPASI (^_^)/

Advertisements

Catatan si Boya: Memilih BLW

Standard

*Ini adalah posting yang tertunda, karena saya lupa menulis draftnya dimana dan baru ketemu ini, hehe. Padahal sudah ditulis lumayan lama, saat Rafa usia 7 bulanan*

Asiiiikkk…gini nich serunya kalo kita dah berstatus ganda: istri dan ibu. Means that: we have much more story to tell. Dan sekarang saya sedang ingin cerita tentang anak kami, si Boya Rafa.

Akhirnya dia lulus ASIX 6 bulan lho, beranjak naik marhalah dari mihwar ASIX ke mihwar MPASI (bahasanyaaa… -_-). Seiring dengan itu pula, status pipis Boya naik juga tingkatan fiqihnya, dari najis mukhofafah (yang cukup diciprat air saja sudah bisa mensucikan) menjadi najis mutawasithoh (kudu ilang bau, rasa, dan warnanya barulah suci), karena si Boya sudah mulai makan makanan selain ASI.

Eh, ada yang menarik lhoh dari pengertian fiqih najis mukhofafah ini, bahwa yang termasuk najis ini hanya satu: pipisnya bayi laki-laki di bawah usia dua tahun, yang hanya minum air susu ibunya. Nnaaahh…ada satu isyarat menarik di sini, berarti dulu jaman Rosulullah, ada bayi-bayi yang hanya disusui ASI SAJA sampai usia 2 tahun. Maka tak heran ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa bayi di bawah 2 tahun belum butuh MPASI, cukup ASI saja sampai 2 tahun, baru start MPASI. Tapi kalau menurut WHO, bayi usia 6 bulan sudah siap pencernaannya untuk mulai MPASI, sudah butuh supleman makanan tambahan selain ASI, berdasarkan penelitian ilmuwan2 itu.

Terserah sich mau setuju dan mengaplikasikan yang mana, tergantung mana yang kita yakini baik untuk anak kita. Kalau dalam pemahaman saya, pengertian najis mukhofafah “yang hanya minum air susu ibunya” tersebut justru mengindikasikan dua hal: jaman Rosulullah dulu ada bayi2 yang disusui FULL ASI sampai 2 tahun, ada juga yang tidak (mungkin sudah diberi makanan pendamping pada usia tertentu). Wallohua’lam, afwan…belum nemu tafsir haditsnya. Jadi sejauh ini, saya masih memahami dan menerapkan bahwa bayi usia 6 bulan perlu diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Emang sich, WHO sendiri berubah2 dalam menetapkan standar start MPASI. Dulu 2 bulan wajib full ASI, kemudian penelitian berikutnya jadi 4 bulan harus full ASI. Lalu, sampai detik ini hasil penelitian yang dipakai: full ASI 6 bulan. Well, jadi kepanjangan cerita kemana-mana. Tadi kan mau ngobrol tentang Boya yang mulai MPASI toh..

Persiapan MPASI, apa saja?

Mencari ilmu. Itu yang kami siapkan sedemikian utamanya, dengan membaca, bertanya, sharing/diskusi. Katanya kan: al ‘ilmu qoblal ‘amal (ilmu dulu baru amal). Nah, salah satu yang asik, menarik, dan seru selain searching2 artikel di web adalah: join grup perMPASIan. Ada dua grup MPASI di facebook yang saya ikuti: Homemade Healthy Baby Food (HHBF) dan Baby Led Weaning (Indonesia). Baca2 dokumen dan sharing ibu2 di grup tersebut…membuka wawasan banget. Apalagi yang menggiurkan adalah tentang resep2 menu MPASI. Awal2 baca diskusi ibu2 di HHBF saya ngrasa minder…secara ngrasa ‘gaptek’ tentang menu2 asik, seru, dan bermutu buat buah hati, apalagi membaca nama2 bahan yang disebutin ibu2. Haduuuh…itu bahan yang kek apa saya gak ngerti…trus belinya dimana, trus cara masak yang bagus n bener gimana…trus itu nama alat yang disebutin kek apa bentuknya, gimana makenya…? Aaaaaa…aku ketinggalan jauh ni sama diskusi2nya. Hiks hiksss. Lalu, ada sesosok pangeran sabar, sholih, dan smart yang setia mendampingi saya belajar, dia berkata menenangkan, “Cint, ya wajar kamu tu belum ngerti, belum paham, belum kenal benda2 itu…kamu tu baru belajar, baru mau nyemplung. Ntar lama2 juga faham…” eaaaa… oke2 *senyum2 cengengesan* emang agak lebay obsesi nich, rasanya pengen ‘mak cling!’ langsung kukuasai ntu smua ilmu2 per-emak-an serta per-anak-an. Baiklah, istrimu kembali bersemangat belajar!! Dan harus sabar yo sinaune!

Mulanya hanya grup HHBF yang saya tengok, sampai kemudian hari…penasaran sama cerita mbak kos, namely: mbak Rike, yang cerita kalau anaknya pake metode BLW. Hah? Apa itu BLW? Saya taunya WBL nih (wisata bahari lamongan, wkwkwk). Ada grupnya juga? Cari aaaahhh… daaaan… wow, I’m totally impressed of the knowledge in that group, it’s really a new one I just know, then I start to learn much more about the theme: BLW (Baby Led-Weaning). Sesungguhnya penasaran adalah salah satu anak tangga menuju pengetahuan. Tertarik sekali dengan metode BLW ini, akhirnya saya bela2in beli bukunya juga. Biar mantap untuk aplikasi. Sekaligus sebagai rasionalisasi dan advokasi jika ada yang complain (eaaa…ini amunisi ceritanya, heheheee). Eh betewe ni ya, emang bener ternyata, menjadi orangtua adalah pelajaran sepanjang hayat. Materinya jauuuuuhhhh lebih berat, banyak berlipat2, dan beraneka rupa dari sekedar materi kuliah sarjana, S2, bahkan S3. Okenya lagi ni, pelajaran menjadi orangtua ni gak boleh berhenti pada teori, langsung harus aplikasi karena di depan kita sudah menanti anak-anak tercinta generasi yang butuh sentuhan pendidikan dan pengasuhan. Karenanya, menjadi orangtua ternyata menuntut kita untuk membeli buku paket juga akhirnya. Parenting books, childhood books, tarbiyah books, etc. Dulu waktu kita mau nikah, aduduuu…ceile kumpulan buku munakahatnya banyak amiirrr, sebagai bekal pernikahan gitu (ya nggak? ya nggak?). Nah giliran mempersiapkan kelahiran, kehadiran, dan tumbuh kembang buah hati…yuk mari kita kumpulin juga buku2nya (dibaca juga maksudnya) sebagai bekal mengemban amanah Allah untuk mengasuh anak2 kita. Jadi ingat kata murobbi (guru ngaji) saya dulu: “Salah satu pertanyaan yang perlu ni kita tanyakan ke ikhwan calon kita: bagaimana konsep mendidik anak? Karena insya Allah kebersamaan kita berdua saja tu nggak lama, paling terhitung bulan.. selanjutnya, kita akan berlama-lama sepanjang hayat menjalani kebersamaan bersama anak. Maka pendidikan anak adalah konsep priority yang harus difahami.” (mbak M***Y)

Oke guys, back to theme! Finally, dengan berbagai diskusi panjang, proses pencarian, pertimbangan, prediksi, seleksi dan eliminasi (gak pake audisi)…saya dan abi Boya sepakat menjatuhkan pilihan pada BLW. Setelah mempertimbangkan banyak faktor, kami cenderung lebih sreg dengan metode ini. Sekali lagi, ini pilihan ya. Toh memang ada beberapa teori tentang MPASI, yang masing2 punya kelebihan dan kekurangan, tinggal kita sebagai orangtua mantap dengan teori yang mana. Mau ngikut panduan WHO apa FC (food combining), mau puree atau BLW…it’s a choice : )

Nah, begitu ceritanya tahapan saya dan abi Boya mencari ilmu di dumay (dunia maya) fesbuk.

Next step..? Apa yaa…?

Oh, perabot makan bagaimana? Mmmm… saya termasuk gak ribet mikirin perabot sich, karena pada dasarnya BLW itu simpel, gak butuh macam2 amunisi semacam mangkok khusus, sendok khusus, botol pure khusus, blender khusus, food pcocessor khusus, saringan khusus, de el el. Kita hanya butuh menyiapkan makanan dalam bentuk finger food (makanan yang bisa dipegang bayi) dan memposisikan bayi dalam keadaan tegak saat proses makan.

High Chair butuh kah? Karena saat 6 bulan Rafa belum bisa duduk sendiri, jadi belum butuh high chair, masih dipangku saja awal2 BLW. Apa nanti selanjutnya butuh HC? Mungkin… dan biasanya, sebelum kami memutuskan beli2 barang mihil buat perabot si Boya, kami biasa fit n proper test dulu dengan menyewa. Seperti dulu kami nyoba sewa stroller, ternyata jarang kepake juga, enakan menggendong aja  lebih fleksibel dan anak lebih akrab dalam dekapan ayah/bunda *kata penelitian, anak yang digendong will be smarter than yang ditaruh di stroller. Nah sampai sekarang (usia 7 bulanan) Rafa masih enjoy makan sambil dipangku, kadang juga duduk sendiri lesehan. Hanya saja godaannya kalau duduk sendiri…dia lebih mudah  tergoda untuk ngeluyur main. hehehe

Mmm, kayaknya itu saja sich persiapan MPASI yang kami lakukan kemarin. Ohya, hampir lupa. Pillow talk juga, ini masuk agenda preparation for MPASI.

Well, saya sudah ngantuk sekarang, mari kita tunaikan hak badan dulu. Besok dilanjut cerita seru BLW Rafa.

Nice to see you : )