Tag Archives: babymoon

Lahirnya Si Ganteng yang Anteng

Standard

Rabu, 14 Januari 2015

Syahiiid, pemuda kecilku. Ini cerita tentang kelahiranmu. Sebenarnya sudah pernah kutulis beberapa hari setelah lahirmu. Tapi ummi lupa draft nya dimana. hihihi.

Sama dengan Kakak Rafa, ummi suka menuliskan cerita kelahiran kalian. Untuk dikenang, untuk diambil pelajaran. Untuk selalu disyukuri betapa melahirkan kalian adalah sejarah besar dalam hidupku.

♡♡♡

Saat itu, Ahad sebelum si adek lahir, abi sudah ambil cuti kerja. Karena memang rasanya sudah ada kontraksi dan pembukaan. Ternyata setelah abi datang dan periksa, baru bukaan satu. Jadi pulang lagi deh. Besoknya kontraksi malah tidak terasa atau sangat jarang.

Hari Rabu ba’da subuh, terasa kontraksi yang intens dan semakin menguat. Siap-siap deh ke Bu Bidan kesayangan. Naik motor berdua sama si abi, sedangkan kakak di rumah sama simbah.

Sampai sana masih santai-santai, dipakai jalan-jalan ringan dan ngobrol. Lalu masuk ruang bersalin saat kontraksi mulai semakin kuat, biar bisa rehat dan hemat energi. Alhamdulillah sesuai harapan, pengennya melahirkan jangan pas malam hari, karena aku ini ngantukan. Nanti kalau ngantuk gimana bisa ngejan. Wkwkwk

Di ruang bersalin, si abi membawa serta buku-buku dari rak Bu Bidan. Sambil abi asik baca buku, sesekali dia mengajak diskusi dan menyuruhku ikut baca. Hemmmh, semacam di perpus wae. Tapi baguslah, untuk mengalihkan rasa.

Proses melahirkan Syahid ini beda sama kakak dulu. Selain karena prosesi bukaan lebih cepat (karena anak kedua kali ya) juga feel ku beda. Aku gak pengen dipegangi, gak usah dielus-elus, gak usah di aba-aba ambil nafas. Saat kontraksi datang, butuh ketenangan, tolong diam, jangan berisik atau ajak bicara. Just let me face it myself.

Alhamdulillah 2 kali melahirkan gak pernah sampai menegang atau menggenggam kuat-kuat atau bahasa Jawanya ‘nggeget’ saat kontraksi datang. Jadi gak pernah ada adegan meremas tangan suami atau apa untuk melampiaskan rasa sakit. Berusaha rileks, jangan melawan rasa. Biarkan tubuh menerima rasa sakitnya. Begitu justru lebih meringankan. Let it go, let it flow.

Setelah bukaan lengkap, berusaha mengejan yang pertama dan kedua, belum keluar si bayi. Lalu rehat dulu. Pas fase rehat sejenak ini, abinya dadak yo ijin ke kamar mandi. Eeh beberapa menit kemudian, udah kerasa si bayi mau keluar. Bu Bidan lantas memanggil abinya “Mas Fachriii…!” Wkwkwk. Untunglah, pas abinya buka pintu, bayinya pas crowning (kepala sudah keliatan). Lantas begitu suami sedia di sisiku, twiiing…adek Syahid lahir menghirup udara pagi. Jam 9 pagi.

Welcooome cute Baby! Dia kecil, mungil, basah kuyup. Wkwkwk. Lalu nangis oek oek sambil IMD. Beratnya 3,2 kg, panjang 52 cm. Wah, lumayan gedhe juga. kupikir gak sampai 3kg. Karena pas hamil udah diet karbo di bulan-bulan terakhir. Karena kakaknya dulu besar (3,7kg/53cm) jadi khawatir adeknya kebesaran. Hehehe

Berharap di lahiran kedua ini tanpa episiotomi, yes alhamdulillah lolos. Tapi masih dijait dikit, hiksss. Fase penjahitan itu lebih mengerikan daripada melahirkannya. Rasa-rasanya, gimana ya. Sakitnya melahirkan itu bisa ikhlasss, ridho, legowo. Tapi justru sakit dijahitnya itu rasanya hwuaaa..! Tapi yasudahlah, setidaknya jahitan tidak seheboh saat kelahiran kakaknya. Alhamdulillah.

Sore harinya si Kakak datang bersama simbah. Ekspresi Rafa lucuuu sekali. Dia semacam malu-malu menahan senyum. Mungkin berpikir “Kok ada makhluk kecil ini apa…eh siapa…?” hihihi. Saat menatap keduanya, dalam sekian detik saya mengalami momen ‘zong’. Tetiba terdiam dan di benak ada rasa bingung dan pertanyaan “Anakku dua. Apa aku bisa mencintai keduanya dengan sama? Selama ini hanya Rafa dan Rafa. Apa aku bisa adil menyayangi mereka.” Mungkin itu termasuk sindrom baby blues ya. Ternyata saat dijalani, rasa sayang itu sama. Tidak ada beda. Sayang dan cinta semuanya.

Melahirkan secara alami (tanpa induksi) itu jelas lebih nyaman dan tenang. Dan saya niteni, bayi yang dilahirkan dengan gentle, tenang, tanpa frustasi atau trauma, jadinya bayi yang tenang juga. Tidak rewelan. Baby Syahid ini yang saya amati. Biasanya kan bayi itu ngajak begadang dan ronda malam. Udah kayak hansip aja wira wiri gendong keliling di dalam rumah. Semacam Rafa dulu. Hihihi

Tapi Syahid enggak. Dia tuh anaknya tenang, anteeeng sekali. Malam gak pernah ngajak begadang atau rewelan. Hanya bangun, mimik, bobok. Begitu terus. Jadi simboknya nyamaaan banget bisa nyenyak pula tidurnya. Wkwkwk. Saya menyebutnya bocah yang ithmi’nan (tenang).

Meskipun tidak begadang, tiap kali Syahid bangun abinya juga ikut bangun. Kadang malah dia yang membangunkanku karena Syahid mau mimik. Ya gimana, saya kan kalau tidur nyenyaknya semacam Snow White habis makan apel dari nenek sihir. Wkwkwk. Abimu itu Nak, sosok yang memperlakukan orang yang dicintai dengan sebaik-baik perlakuan. Meskipun dia tidak romantis dan tidak rajin bilang ‘I love you’, tapi sikapnya adalah perwujudan bahwa dia mencintai.

♡♡♡

Dear Syahid, ruhul jadiid. Kamu membawa keceriaan baru, kekuatan baru, dan mimpi-mimpi baru. Di Alqur’an itu disebutkan husnayain (dua kebaikan) dalam jihad fisabilillah yaitu: syahid atau kemenangan. Dan pada namamu, kusematkan keduanya. Ibrahim Syahid Ranu Filfath.

♡♡♡

Tak ada orang yang menanti-nanti rasa sakit kecuali seorang ibu yang menanti kelahiran anaknya. Rasa sakit yang membahagiakan. Karena sakit itu berarti datangnya gelombang rahim, pertanda anaknya segera hadir ke bumi. Luar biasanya wanita. Satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Allah sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Setiap anak punya cerita, setiap kisah kelahiran selalu berharga. Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks pada bidan kesayangan: Bu Siti ♡

I dont wanna lose this feelings

Standard

Menjadi ibu rumah tangga itu membahagiakan, menentramkan hati. Apalagi merasakan serunya momong anak, bahagianya menjadi orang pertama yang mengamati tumbuh kembang anak, orang pertama yang menyaksikan setiap detail kemajuan anak, pertama kali dia tengkurap, rangkak pertamanya, langkah2 kecil perdananya, celoteh2 ucapannya, bahkan every single spot di bajunya, aku yang lebih tau karena aku membersamainya seharian, aku yang menyuapinya, menemaninya makan, main, dan berbelepotan. Maka itu pula lebih puas kalo aku cuci sendiri baju2 Rafa, karena aku yang tau dan ingat dimana letak noda special di bajunya yang membutuhkan pengucekan khusus.huehee..

Nah yang mau aku critakan sekarang adalah, bahagianya seorang ibu yang stay at home, sehingga bisa membersamai anak, mengobservasi, stimulasi, dan menjadi saksi pertama tumbuh kembangnya. Seperti tadi bahagianya aku menyaksikan Rafa mengoceh sambil menunjuk lipatan mukena dan sajadah di atas meja, lalu tangannya seperti bersedekap dan berkata,”awwooohh…” Kemudian saat terdengar adzan dia mencari2 arah suara sambil ‘bersedekap’ dan bilang “awwoooh…abbaaa…” lalu tersenyum lebar padaku, ganteng sekali. Saat kubilang, “gimana dek Allohu akbar-nya?” dia mengulangi gerakan dan ucapannya. MasyaAllah…anak sholihku. Kupeluk erat ia dan kuciumi bertubi2 dengan segenap rasa. Bahagiaaaa sekaliii..!

Juga saat dia mengambil uang 5ribuan kemudian berjalan ke arah pintu ruang tamu, minta dibukakan. Pikirku, dia mau beli susu kah? Karena biasanya 2x seminggu ada mas2 penjual susu segar langganan kami datang ke rumah. Besoknya benar dia dah paham ternyata, saat penjual susu datang uang kuberikan ke Rafa. Lalu dia berjalan ke arah pintu menyerahkan uang ke mas penjual susu. Rafa juga yang menerima kembaliannya. Eccieeeh Rafaku bertransaksi ekonomi..huehee…

Sekarang2 ini dia juga makin expresif dan bisa ‘ngerjai’ orang. Biasanya kalo dia jatuh atau kesakitan, bagian mana yang sakit akan kupegang sambil doakan “syafakallah…huff..” kutiup dan kucium juga. Manjur dia langsung berhenti nangis atau merengeknya. Selanjutnya dia jadi terbiasa, kalau jatuh atau terbentur, meskipun tidak terlalu sakit dia akan memegang bagian yang sakit sambil berkata “awwuuuhh…” lalu didekatkan padaku agar kudoakan dan kucium. Nah, usilnya dia seringkali setelah itu dia mencari2 bagian tubuh lain (biasanya tangan atau kaki) dipegang2 seolah2 sakit juga, sambil bilang “awwuuuhh…” agar kudoakan dan kucium. Gemesiinn banget kalo dah begaya begitu, expresi ‘aduh’nya itu seperti dibuat2, kadang dia sambil nahan2 senyum usilnya. Jelas saja aku dan abinya ketawa ngakak. Kalo kami menyoraki dia,”hallaaah…gayaaa…” dia kemudian nyengir ketawa…ehe ehee…begitu. Kami pun ngakak bersama.

Dan banyak lagi tingkah Rafa yang menggemaskan, apalagi sekarang dia makin aktif meniru apa2 yang dilihat dan didengarnya. Lucuuu banget. Niru ngelap lantai pake tisu, niru masang panci n nyalain kompor, niru memeras cucian, niru ngoceh2 baca buku, dll. Makin banyak dia diajak aktivitas, makin banyak dia belajar dan meniru. Soalnya aku dan abinya sering mengajak Rafa mengerjakan pekerjaan rumah, dan itu ampuh menghiburnya. Dia senang sekali diajak masak, nyapu, cuci piring, mitil sayur, ikut abi nyuci baju, bahkan nangis gero2nya berhenti saat diajak abi jemur pakaian. Belum lagi kalo punya keinginan, Rafa passionate banget! Ngeyel alias berazzam kuat. Apalagi dia punya daya ingat yang tajam dan asosiasi yg kuat, tambah susah dialihkan kemauannya. Sampai aku dan abinya berkesimpulan, Rafa ini anak yang kuat, jarang sekali nangis kalau jatuh. Tapi dia bisa nangis gero2 kalau dilarang main sesuatu. Kalau dia lagi pengen jalan2 atau sudah liat uminya dandan pake jilbab, dia akan cari2 gendongannya dikasih ke umi, kemudian dia ambil jaketnya, minta pakai sepatu/kaos kaki, tunjuk2 helm, kasi kunci motor ke abi, dan lain2 yang dia hafal kalo mau keluar.

Begitulah catatan mama Boya menjalani hari2 di rumah bersama Rafa dumdum. And that is the happiness of being full time mother. Sejujurnya aku tidak setuju dengan istilah: full time mother. Kan jadinya nanti ada istilah lain: part time mother. Nah lhoh, setengah hari jadi ibu, setengah harinya lagi enggak, macam kerja part time gitu? Masa begitu?heheheh. Karena sejatinya, menjadi ibu yang ada adalah longlife mother, longlife time, status dan pekerjaan sepanjang hayat. Meskipun sang ibu sedang keluar rumah, entah untuk bekerja, belajar, belanja, ngisi pengajian, atau beramal lainnya, sejatinya ia tetaplah seorang ibu bagi anak2nya. Maka aku lebih setuju jika sebutan full time mother (FTM) yang ditujukan bagi para ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah, diganti dengan stay at home-mother, atau working at home-mother.

Setiap Anak selalu Membawa Cerita Berharga

Standard

Aku punya waktu untuk menulis di sela-sela waktu mengurus Rafa dan melakukan pekerjaan rumah. Tapi ternyata, aku tidak punya waktu (dan kesabaran) untuk menunggu loading internet yang entah kenapa menjadi so much lemot. Mending aku ngapain yang lain daripada nungguin loading lama. Entah apa yang terjadi dengan modemku??!! Tiba-tiba gak mau diajak log in wordpress, always failed. Kadang bisa buat buka fesbuk, itupun lola sekaleee.

Nah, barulah ini aku bisa log in wordpress lagi.

Telah berlalu satu bulan usia Rafa, masa adaptasi yang lumayan menyita tenaga dan konsentrasi. Merawat bebi newborn itu, sungguh sebuah adaptasi besar bagi seorang ibu… apalagi anak pertama. Bagiku, terutama masalah jam tidur. Aku yang ngantuk’an, tidak hobi dan tidak kuat begadang, kadang susah juga dibangunkan, harus menyesuaikan dengan jam tidur  Rafa yang terbangun tiap 2 atau 3 jam atau kadang semaunya dia. Tetapi menjadi ibu adalah tidak bisa egois, ada makhluk mungil yang masih lemah yang sangat banyak bergantung pada kita, ibunya. Walhamdulillah, secapek-capeknya badan plus sambi nahan nyeri dalam masa penyembuhan jahitan, selalu masih bisa (dan rela) jasad ini beranjak dan bekerja (menyusui, menimang, menggendong) di kala Rafa bangun. Hal ini juga demi satu tujuan mulia: ASIX (ASI ekslusif). Kalau pake susu formula (sufor) mungkin lebih gampang, tinggal suruh suami atau siapa untuk membuatkan susu, dimimikkan, beres. Ibunya tinggal terlelap istirahat tidak perlu ikut bangun saat bayinya bangun. Tapi sebagai ibu yang ingin mempersembahkan yang terbaik, tak rela lah Rafa mengkonsumsi sufor selama aku masih mampu. Lebih rela badanku remuk redam menahan lelah daripada enak-enakan istirahat sementara Rafa minum sufor. Kumenyadari sesadar-sadarnya, Allah menitipkan payudara pada wanita adalah disiapkan untuk anak-anak mereka (bukan cuma buat hiasan, kalo seorang bidan). ASI ini hak-nya anak-anak kita :’) maka berikanlah. Eh, lebih tepatnya, BERJUANGLAH untuk ASIX. Karena mayoritas ibu baru mengalami hal yang sama: ASI belum lancar di hari-hari awal. Begitupun aku. Tapi karena sudah pernah membaca tentang ini, santai-santai saja aku menanggapi komentar macam-macam dari beberapa orang, “Kok belum keluar to?… Biyuh, belum bisa nyusui? Blablabla…” aku dan suami selalu cuma senyum-senyum saja, karena kami yakin, nanti lak lama-lama lancar, pokoknya tetap semangat disusukan ke bayi dan terus makan makanan yang menunjang. Kata orang sich macam-macam, ada yang bilang kacang tanah, kacang mete, pepaya, daun pepaya, katuk, mbayung, habatussauda, dll. Halah, pokoknya segala macam makanan yang bernutrisi kutelan juga, yang suka atau tidak suka. Sebagai ikhtiar atas permohonan doa sejak aku hamil, “Ya Allah karuniailah aku ASI yang melimpah, ASI yang cukup untuk anakku.” Alhamdulillah benar hari ke-5 mulai lancar jaya, melimpah ASI untuk Rafa.

Suami, adalah orang kedua yang harus beradaptasi dengan kelahiran si kecil. Meskipun dia tidak menyusui, malam saat aku terbangun dia ikut pula menemani, membantu mengambilkan ini itu, mengganti popok, dan menimang Rafa. Meskipun jelas tampak kadang dia terkantuk-kantuk menemaniku menyusui Rafa. Kadang saat Rafa bangun dia bersedia menimang dan menenangkan Rafa sendiri, membiarkanku beristirahat. Kalimat, “Sudah, aku saja, kamu istirahat…” bagiku adalah sama rasanya dengan kata “I love you” dan lagi dia selalu menyelimutiku dan menatakan bantal untukku saat aku mulai merebahkan diri, agar aku senyaman mungkin. Dukungan dan bantuan yang dia berikan benar-benar sangat membantu, dari urusan merawat Rafa sampai urusan perawatan diri-ku pasca melahirkan yang macam-macam. Masalah ritme tidur, alhamdulillah, lama-lama kami terbiasa. Setiap kali terasa payah, selalu kuingat dan kuucapkan dalam batin, “Ah, hari ini tak akan terulang. Di kemudian hari aku pasti akan merindukan saat-saat ini.” mengingat itu, alhamdulillah bisa membuatku menikmati segala lelah.

Selain itu, adalah wajib bagi orangtua baru untuk belajar memahami bayinya. Bagaimana menemukan style menimang yang sukses untuk menenangkannya, bagaimana posisi yang nyaman menggendong atau menyusuinya, bagaimana menemukan ragam hiburan yang membuatnya tenang dan tertarik memperhatikan, bagaimana mengerti arti tangisnya. Eh, ternyata benar lhoh tangis bayi itu macam-macam, beda antara tangis lapar atau haus, tangis sakit, takut, kesepian ditinggal sendiri, atau sekedar tangis manja minta diperhatikan atau digendong. Alhamdulillah Rafa ini tipikal bocah yang tangisnya ringan, tidak menjerit-jerit atau istilah jawa-nya ‘gero-gero’. Jadi tangisnya tu malah lucu.. hanya seperti rengekan gitu sambil mewek-mewek lucu, kadang intonasi tangisnya terdengar seperti dia ingin mengoceh dengan tangisnya. Lucunya lagi, sejak masih bayi merah Rafa ini sangaaat suka mandi. Dia tidak menangis sama sekali saat dimandikan, ayeeem banget wajahnya. Sampai selesai didandani dia tetep anteng saja menikmati, baru kalau sudah selesai dandan dan dia kerasa kok gak segera diangkat ditimang atau dimimiki, dia akan mulai protes dengan rengekan kecil dan menggerak-gerakkan tangan kakinya. Nyenengin banget pokoknya.

Makhluk ketiga yang tak kalah luar biasa beradaptasi ya si kecil Rafa ini. Menghadapi dunia pertama kalinya tentu ada hal-hal yang membuatnya shock. Dulu waktu di dalam kandungan apa-apa sudah dijamin sama Allah, lapar haus tinggal disuply melalui plasenta, tak perlu mencari-cari puting ibunya dan perlu usaha lagi (ngenyot), bobok tinggal bobok sudah nyaman dan pas hangatnya di dalam rahim, pipis pun tak membuatnya terganggu, kemana-mana dia merasa aman dan nyaman bersama ibundanya, setiap waktu nyaman terayun di dalam ketuban, all is comfortable settled. Tentu kemudian bayi baru lahir masih belajar dan berusaha menyesuaikan dirinya. Di minggu pertama bayi biasanya sukaaa tidur dan susaaah dibangunin, apalagi Rafa kalau habis mandi dan dibedong, biyuh… diapain aja susah banget bangunnya, padahal jadwalnya ngASI. Trus waktu disusui, dia geleng-geleng nyari puting, kalau lama ketemunya, merengeklah dia, hehehe. Itu di minggu pertama, selanjutnya lancar saja dia menyusu. Masa adaptasi ini juga yang menyebabkan berat badan bayi biasanya menyusut di minggu awal kelahirannya.

Oya, ngomong2 bab melahirkan, alhamdulillah lah untuk kelahiran Rafa. Meski mungkin tak cukup disebut sebagai gentle birth, tapi aku sangat bersyukur poin-poin terpenting yang kuharapkan dalam persalinan dapat kesampaian.

Oya, sedikit tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa jihad yang sesungguhnya wanita itu kalau melahirkan normal. Menurutku, sesar atau normal, keduanya sama-sama jihad besar seorang ibu. Kalau persalinan normal merasakan sakit pra melahirkan, bukankah ibu yang sesar juga berjihad merelakan perutnya dibelah, dibedah, dan merasakan sakit pasca melahirkan –yang katanya lebih lama daripada sakit normal. So, tetap hargai setiap detail perjuangan para ibu mengandung dan melahirkan dengan tidak membuat klaim-klaim yang underestimate.

Karena bagiku, ibu hebat bukan yang mabok atau tanpa mabok, yang proses pembukaannya cepat atau hemat, bukan yang normal atau sesar. Ibu hebat adalah yang mencintai setiap proses yang mengantarkannya menjadi seorang ibu dan mempersembahkan yang terbaik untuk sang buah hati. Kalau bisa normal tak perlu minta sesar, kalau harus sesar tak perlu memaksa normal dengan resiko tinggi yang justru membahayakan, kalau bisa ASIX tak perlu sufor. Karena setiap anak selalu membawa cerita berharga, dan pasti berbeda.

 

 

* Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks for abi Fachri, for the super support!

Cerita Kelahiran Rafa

Standard

Ingin kutulis cerita ini, sebagai catatan manis yang akan selalu terkenang mendalam… kelahiran putra kami yang pertama: Muhammad Rafa Ranu Albanna.

Ramadhan kemarin menjadi momen yang sangattt indah dan luar biasa bagiku. Merasai sebuah pengalaman pertama yang sungguh mengesankan: melahirkan, yang mengantarkanku meraih gelar luar biasa: IBU, yang tak akan dialami dan dirasai kecuali oleh seorang WANITA, satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Yang Maha Kuasa sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Hal kedua yang paling membahagiakan bagi seorang istri selain memiliki suami belahan hati adalah melahirkan buah hati. Dan ternyata melahirkan itu… amazingggg rasanya!! Di usia kehamilan yang sudah cukup matang (40weeks) adalah saat-saat mendebarkan menanti hari H kelahiran si kecil. Seumur-umur baru sekali itu aku menanti-nanti rasa sakit. Biasanya tentu saja tak ada orang yang mengharap-harap sakit. Tapi rasa sakit yang kunanti-nanti itu tentulah bukan sakit penyakit, melainkan sebuah rasa sakit gelombang rahim yang menandakan anak kami akan segera lahir, rasa sakit yang kehadirannya sungguh membahagiakan.

Selasa sore kala itu, 7 agustus 2012, hang out sama suami ke matahari Madiun, jalan2, blanja-blinji (dengan ngerem-ngerem ati biar gak kalap belanja karena lapar mata saja, apalagi liat diskon-diskon lebaran), trus buka puasa di emperan matahari. So swiit deh. Tengah malam menjelang dini hari, kurasakan kontraksi yang rasanya beda kayak biasanya, sepertinya bukan kontraksi braxton hicks. Mulailah tidur rasanya tidak nyenyak, sesekali terbangun karena rasa gelombang rahim.

Rabu 8 agustus, waktu sahur tiba-tiba bapakku memandangi motor revo kami yang sedang parkir manis dan mendapati angka yang menunjukkan tanggal deadline pajak, 9 Agustus. Setelah di cek STNK, benar ternyata, kamis tanggal 9 terakhir pajak motor. Karena STNKnya masih atas nama ibu Ndoro, jadinya ibu datang ke rumah Takeran untuk mengantarkan KTP dan BPKB sebagai syarat pajak, sekalian sorenya mau menemaniku dan suami untuk kontrol, kebetulan hari itu jadwalku kontrol dan merupakan HPL berdasarkan itungan bu bidan desaku (UK 40w3d). Rabu pagi sempet hilang rasa kontraksi semalam, baru siang sampai sore sesekali terasa lagi tiap 10 menit sekali.

Rabu sore kontrol, dicek dalam ternyata sudah bukaan 2. Disuruh pulang lagi sama bu bidan sambil beliau menyiapkan alat-alat katanya. Wawaw… benarkah si boya (panggilan sayang kami buat si bebi) bentar lagi mau lahir??? Sebelum pulang dikasih beberapa wejangan sama bu bidan, diantaranya: kalau pas datang kontraksi, jangan nggeget (merekatkan gigi-gigi dan tegang) karena bisa menyebabkan ketuban pecah dini (kata dokter KPD sering terjadi pada rahim yang selaput ketubannya tipis), ambil nafas aja yang panjang dan usahakan rileks. Trus diberi tips juga biar kontraksi pembukaannya lebih cepet, tapi yang ini cuma beberapa kali kulakukan, hehee. Sampai di rumah, aku semacam dilanda euforia kecil di tengah kontraksi yang datang dan pergi. Sebelum maghrib, kusempatkan masak kerang dari matahari kemarin, mumpung masih sempet, keburu lahiran ntar kelupaan gak dimasak.

Buka puasa bersama rame-rame sekeluarga plus ibu mertua. Semula beliau mau pulang malam ini, eh kok pas juga gara-garanya masalah pajak motor sehingga beliau harus datang dan menemani proses kelahiran si boya. Sembari menunggu orang-orang rumah selesai tarawih, kuiisi waktu di rumah dengan mendengarkan lagi video relaksasi dari bu Yessie (owner bidankita.com), sembari mengajak si boya ngobrol dan mensugesti diri, plus mencatat frekuensi kontraksi (tiap berapa menit sekali dan dengan durasi berapa). Menjelang jam 9 malam, bu bidan SMS gimana perkembangan kontraksinya. Lumayan, antara 5 sampai 6 menit sekali dengan durasi rata-rata 60 detik. Langsung deh diundang untuk mabit (nginep) di rumah beliau. Jam 9 berangkat ke rumah bu bidan, sewa mobil tetangga yang kadang berbunyi glodak-glodak (hehe) saat melewati jalan desa yang bergeronjal. Kebetulan rumah bu bidan beda desa, agak jauh.

Sampai di depan rumah bubid, beliau menyambut, “Lha  sik iso ngguya-ngguyu nho lho…” selanjutnya dicek, bukaan 3, disuruh istirahat. Sementara ibu dan ibu mertua beranjak tidur, aku dan suami masih mengobrol sambil aku jalan-jalan di dalam rumah, sesekali juga pelvic rocking dengan birthing ball. Malam semakin larut, suami mulai mengantuk, plus kontraksi mulai lebih intens. Jadilah mataku tak bisa terpejam. Jam 12 malam, bu bidan mencek lagi, bukaan 4. Wew, ini hemat juga ya pembukaannya, kukira sudah bukaan diatas 5 gitu (kataku dalam hati). Baiklah, menikmati setiap kehadiran gelombang rahim yang mulai membutuhkan relaksasi lebih. Suami menemani terjaga, hanya sesekali dia undur diri minta ijin memejamkan mata. Tapi ya cuma bobok-bobok ayam, istilahku: tidur siaga. Suami siaga, tidurpun siaga, hehe.

Kamis jam 5, bukaan 5. Nah, setelah itulah dimulai kontraksi yang mulai menguat, yakni pembukaan 6 sampai lengkap. Ada suami di sisiku benar-benar hal yang sangat kubutuhkan. Dia selalu di sisiku sambil terus menenangkan dan mengingatkan “Jangan tegang, ambil nafas, rileks… ingat Rafa, dia mau segera ketemu kita… Tenang, itu sinyal cinta dari Rafa, dia bilang Umi, aku mau ketemu Umi… Rafa mau segera ketemu kita… blablabla…” Setiap kali dia menghibur dan memberi sugesti, aku mengangguk sambil mengiyakan “Iya, demi Rafa… sakit sedikit, cuma sebentar. Ayo sayang, kita bisa!!! Bla bla bla…” meng-afirmasi diri sendiri, kuucapkan apapun yang bisa membuatku trenyuh dan bahagia menanggapi gelombang rahim yang semakin menguat. Demikian pula setiap kali kwalahan dan kukatakan padanya bagaimana rasanya, dia pun kembali menenangkan, “Gakpapa, penggugur dosa ya…sabar…sebentar lagi…” haaah… damai rasanya mengiyakan ucapannya. Sebisa mungkin kuusahakan terus mengatur nafas , dzikir, dan rileks, bahkan sejak awal tanganku tak pernah menggenggam kuat, hanya terus menggenggam lembut tangannya. Beberapa kali saat memandang wajahnya memicuku untuk usil, karena mengusilinya membuatku bahagia, dan lumayan lah kebahagiaan itu sedikit mengalihkan perhatian dari kontraksi. hehehe.

Sekitar jam 8an kontraksi semakin heboh. Mulai ngos-ngosan mengatur nafas, hampir kwalahan rasanya, sampai aku meminta suami untuk memberi aba-aba agar nafasku teratur. Jadi dia semacam dirigen gitu memberiku aba-aba dengan tangannya, hehe. Pasca melahirkan dia baru cerita, saat itulah puncak ngantuk melandanya, sebisa mungkin dia menahan kantuk yang sangat, demi aku…istrinya tercinta. Ya Allah… kasiannya… T.T. Seingatku, selama datangnya kontraksi ini, hanya tiga kali aku berhasil rileks se rileks-rileksnya tanpa sedikitpun desahan suara, hanya dengan nafas yang ringan dan memejamkan mata. Hanya tiga kali itu, selebihnya ngos-ngosan bernafas sembari terus melafalkan dzikir setiap datang gelombang rahim yang semakin heboh seperti tak ada jeda. Sekitar jam 9 kurang, pembukaan lengkap, ketuban masih utuh sehingga dipecahkan oleh bu bidan. Ternyata begitu rasanya, benar-benar tanpa diminta atau direncanakan tiba-tiba refleks dorongan mengejan sangat kuat. Subhanallah Allah menciptakan mekanisme alami tubuh wanita saat melahirkan.

Yup, dimulailah tahap puncak melahirkan: mengejan. Bu bidan memberi arahan cara mengejan, dan disuruh baca basmalah serta bertakbir sebelum mengejan, begitupun ibu, mertua, dan suamiku yang membantu di ruang bersalin. Yang terasa sich bener-bener seperti ingin BAB, seperti ingin mengeluarkan pup yang buesar banget. Tapi ternyata aku berkali-kali salah teknik dalam mengejan, ditambah kekurangan tenaga karena dua malam tidak tidur. Uniknya, di saat-saat genting inilah muncul kantuk. Setiap kali beristirahat dari mengejan, rasanya ngantuuukkk banget. Berulang kali mengejan belum berhasil, mencoba beberapa posisi dan menggunakan birthing ball juga belum berhasil. Bu bidan terus memotivasi, “Ayo dheeekkk… pinter kok ngejannya… ayo terus berusaha. Kurang sedikiiit sekali, ujung kepala dan rambutnya sudah keliatan terus lho pas kamu ngejan…” ibu dan ibu mertuaku juga terus menyemangati dengan perasaan dag dig dug. Suami tak ada suara, dia terlalu campur aduk perasaannya antara terpana dan tidak tega. Puluhan menit berlalu sudah, entah berapa kali aku sudah mencoba mengejan dan belum berhasil. Padahal aku mulai faham cara ngejan, yaitu fokus pada perut, mendorong perut seperti mau BAB, tapi dasar aku lelah, tenaga kurang kuat mendorong. Well, bu bidan menawarkan bantuan episiotomi. Kuiyakan saja supaya Rafa cepat lahir, kasian dia jalannya tersendat-sendat karena emaknya gak paham cara ngejan (huhuuu… maafkan umi sayang T.T). Saat terasa lagi dorongan mengejan, kurasakan sebuah sayatan, kupikir akan pedih sekali rasanya, ternyata tidak, hampir tak terasa karena otakku terus berkonsentrasi mengejan. Subhanallah, sudah di epis belum berhasil juga, karena aku semakin kelelahan. Mencoba mengejan yang kedua, belum berhasil juga. Tentulah darah segar mulai banyak keluar. Bu bidan mulai panik. Dan… mengejan yang ketiga setelah diepis, bismillahi Allahuakbar… berhasil! Saat semua berseru Allahuakbar lebih nyaring, kutengok, lhoh…sudah ada kepala kok gak kerasa keluarnya (batinku), langsung aku bersemangat menyambung nafas dan mengejan sekali lagi, daaan…pada jam 09.20 WIB…mak prucul… yang ini terasa keluar badannya, beberapa detik kemudian disusul kelahiran plasenta. Ternyata pas keluarnya ini tidak sakit sama sekali!! Ya Allah… legaaa rasanya, plooong sekali! Dalam sekejab hilang semua rasa sakit selama proses pembukaan. Blas tidak bersisa secuil pun. Pertama kalinya kulihat makhluk kecil suci itu terbaring di atas perutku, dalam beberapa detik si kecil Rafa tenang sekali, wajahnya damai dan belum menangis, baru setelah bu bidan melakukan sesuatu seperti membuka mulutnya (aku tidak tau namanya, mungkin membantu jalan nafas) dia seperti tersedak lalu menangis.

Selanjutnya IMD. Bahagia campur haru tak karuan,takjub memandangi makhluk mungil di pelukanku. Utuh badannya, mungil dan imut kesemuanya. Matanya melek sempurna. Tangan mungilnya putih pucat seperti orang habis kelamaan berendam di air (yaiyalah, dia habis 9 bulan berendam ketuban). Kubisikkan ta’awudz dan syahadat di telinga kanan-kirinya. Setelah beberapa menit dia menangis, dia diam sendiri… hanya kedip-kedip dan bergerak-gerak tangan kakinya, sesekali mengangkat bokong dengan kakinya yang mancat ke perutku. Sekitar setengah jam IMD, Rafa sudah bisa menghisap ASI dengan kuat (meskipun belum ada yang keluar). Bahagia berlipat rasanya. Ajaib sekali anugrah Allah, ketika bayi lahir hilang sudah segala rasa sakit saat kontraksi. Benar-benar sirna. Selama IMD tak henti kupandangi dia, masih seperti mimpi rasanya makhluk mungil imut ini keluar dari rahimku, ini dia yang membersamaiku selama 9 bulan 8 hari. Ya Allah… ini anakku… buah hati kami… dia sudah lahir, melihat dunia untuk pertama kalinya. Baru mengerti, begini ternyata rasanya melahirkan, begini ternyata indahnya menjadi ibu, begini rasanya menatap buah hati… trenyuuuuh sekali atiku :nangis:. Rasa bahagia tak terhingga, hadiah dari Allah yang hanya bisa dirasakan oleh seorang ibu.

Bersama abinya, kami terus mengajaknya bicara, mengalihkan perhatianku dari nyeri jaitan yang masih in process T.T. Bu bidan tampak gugup, tangannya bergetar karena ternyata aku pendarahan deras. Beliau meminta ibuku untuk keluar kamar bersalin mengambil es batu di kulkas (dan kok yo pas tinggal satu tok til. Alhamdulillah). Lalu masing-masing manusia di dalam ruang itu melakukan peran tugasnya. Bu bidan melakukan tugas jahit menjahit, ibuku memegangi es mengompres perutku, ibu mertua diminta memijat perutku, suami mendampingi IMD sambil menyodorkan tangannya untuk kupegangi menahan sakit jahitan. Mungkin biusnya belum terlalu bereaksi karena bu bidan harus segera menjahit untuk mengurangi pendarahan, sehingga rasanya dijahit so WOW banget. Semua yang ada di ruang bersalin serasa sport jantung melihat darah segar mengucur, kecuali aku dan Rafa tentunya. Kami hanya terus diminta bertakbir oleh bu bidan, sampai proses menjahit selesai. Kupikir, seperti apa sich parahnya, sampai ibuku juga berwajah miris mengamati bu bidan menjahit. Kerasa sich darah mengucur, dan lagi aku pernah baca bahwa pendarahan adalah salah satu sebab terbanyak kematian ibu saat melahirkan. Tapi subhanallah, tak ada rasa khawatir sama sekali saat itu, sudah sangat plong aku melahirkan Rafa, sampai aku berpikir, kalau Allah menghendaki matiku, aku hanya berharap syahid… T.T …aku berharap terhitung syahid di sisiMu ya Allah…

Sekitar setengah jam mungkin, prosesi penjahitan selesai. Entah berapa banyak, bu bidan hanya bilang sambil senyum-senyum, “Banyak, gak itung.” Dan lagi beliau komentar setelah usai semuanya, “Termasuk tahan sakit ya kamu, ngeluhnya (waktu kontraksi) cuma begitu.” Hah? Cuma begitu? Kupikir aku sudah heboh. Tapi memang sich awalnya aku sempat mbatin, ternyata rasanya kontraksi prapersalinan begini ya, mirip rasa sakitku waktu kena gastritis (luka lambung) dulu. Tapi pas pembukaan semakin banyak, ya rasanya berlipat-lipat donk. Alhamdulillah aku melewatinya dengan cukup manis(dramatis dan romantis juga, hoho…). Jadi heran, sering dapat cerita orang melahirkan sampai bisa teriak-teriak, memaki, atau memukuli suaminya (yang ini anarkis, hehee), kok ya kuat amat tenaganya. Aku saja buat bernafas rasanya sudah pol ngos-ngosan.

Rafa lahir dengan berat 3,7 kg (pantesan heboh keluarnya) dan tinggi 53 cm. Setelah dibersihkan dan dibedong, Rafa dikumandangkan adzan dan iqomah oleh abinya. Lalu, karena semua pada puasa, jadi aku yang mentahniknya dengan kurma sembari membisikkan doa untuknya, menunaikan sunah Rosul.

Allahumma baarik fiih,

A’udzu bikalimatillaahittaammati min kullisyaithonin wa hammatin wa min kulli ‘ainin laammatin… (HR. Bukhori dari Ibnu Abbas)

Selamat datang sayang, semoga kehadiranmu membawa kebaikan dunia-akhirat :’)

Love you so much, Rafa.

..abi & umi..