Tag Archives: ajal

Pesona Sejoli #RS

Standard

30177_1475675218520_2877848_n

MasyaAllah. Kisah mereka berdua luar biasa. Pak Rahman Sudiyo dan Bu Siti Syamsiah. Pasangan PhD yang ternyata dulunya bertemu di bangku kuliah. Bu Siti yang lebih senior 10 tahun adalah dosen Pak Rahman di Teknik Kimia UGM. Mereka bertemu dan menikah di jalan dakwah, hingga akhir hayatnya mereka wafat ketika masih aktif di jalan dakwah. Membaca tulisan-tulisan orang yang mengenang beliau berdua, baik di Swedia maupun Indonesia, satu hal yang terasa: dimana mereka berada, kebaikan yang mereka bawa. Kebaikan yang dirasakan oleh sekitarnya, dan kebaikan yang akhirnya dikenang dari mereka.

Orang-orang baik, sepeninggalnya selalu ramai menjadi buah bibir yang baik. Serupa pewujudan doa Ibrahim dalam Alqur’an “Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. As-Syu’ara:84). Dan tentu tak ada buah bibir yang lebih baik daripada doa.

Tahun lalu Pak Rahman meninggal tersebab kanker hati, dan kemarin sang istri menyusulnya tersebab sakit lupus. Semoga Allah ampuni dan merahmati keduanya. Semoga husnul khotimah, dilapangkan alam barzakh, kelak disatukan kembali di jannah.

Beberapa waktu selepas Pak Rahman wafat, saya tetiba ingat beliau dan iseng ketik nama beliau di google search dan menemu tulisan disini: https://afrinalaksmiarti.wordpress.com/2015/03/26/obituari-alm-bapak-rahman-sudiyo/ Nangiisss. Rasanya, jika Fahri (dalam novel AAC 2) adalah cermin wajah indah Islam di Edinburgh, maka Pak Rahman dan Bu Siti bukan kisah fiksi, mereka menjadi bagian cermin wajah indah Islam di Gothenburg, Swedia. Sosok yang simpel, supel, humble, visioner, intelek, dan penuh dedikasi. Spirit dai dan murobbi menyala pada diri mereka.

Di profil WA dulu Pak Rahman menulis namanya dengan nickname: RS. Ah ya, singkatan itu cocok sekali untuk beliau berdua. Rahman&Siti. Mereka tidak bisa jauh. Kini mereka kembali dekat dalam pusara. Terkabar, berdasar hadits bahwa arwah orang-orang yang mendapatkan kenikmatan itu dilepas, tidak ditahan. Sehingga bisa saling berjumpa, saling berkunjung, saling menyebutkan keadaannya ketika di dunia, dan keadaan penduduk dunia. Sehingga setiap ruh, bersama rekannya yang memiliki amal semisal dengannya. Wallahua’lam.

Saya bukan siapa-siapa, hanya kenal dan bertemu sejenak lalu. Takkan juga cukup terangkum dalam tulisan, segala kenangan dan kekaguman. Sejoli yang mempesona #RS (Rahman Sudiyo & Siti Syamsiyah).

Dua bocah yang mereka tinggalkan (mas Wafi 12 tahun, Arum 8 tahun) semoga tumbuh hebat jadi investasi dunia akhirat untuk orangtuanya.

Cerita lain dari Ustadz Salim A Fillah: https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10208774803181456&id=1054044544&set=a.2191826789233.2111007.1054044544&_rdr

Daan baru tau tulisan apik Pak Rahman:
http://m.eramuslim.com/oase-iman/a-day-with-the-prophet.htm#.WCtUQ9KLTIV

http://m.eramuslim.com/oase-iman/refleksi-akhir-tahun-mengapa-cinta-itu-tak-jua-menetap.htm#.VQQ7dht0zIU

Dengan gaya berkisah seperti ini harusnya Bapak bisa nulis novel. Perjalanan cinta, studi, dan dakwah di Gothenburg, Swedia :,)

Advertisements

Setitik Rindu

Standard

Kadangkala, ada sosok-sosok yang Allah sempurnakan tauladannya dengan kematian. Yang selama hidup dan perannya dalam dakwah dijaga Allah dari fitnah dunia.

Tetiba, merindu sosok mereka…
*Ustadz Rahmat Abdullah, Ustadzah Yoyoh Yusroh…Allohu yarham

Lantas tetiba teringat sosok Pak Rahman…Allahu yarham

T.T

Kullu Nafsin Dzaa-iqotul Maut

Standard

Seminggu yang lalu seorang tetangga depan rumahku meninggal. Terus terang aku juga belum pernah tau bapaknya yang mana, karena tidak pernah ketemu pas keluar rumah. Aku dan suami lumayan kaget waktu sore itu pulang ke rumah. Lhoh, kok banyak orang duduk di tikar berjajar di tepi jalan, dan orang-orang pada bergerumbul..?? Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Ternyata, ada prosesi pemberangkatan jenazah, seorang bapak meninggal beberapa jam yang lalu. Padahal waktu kami keluar rumah belum ada berita apa-apa. Jadilah kami dengan sungkan-sungkan melewati para tamu yang berjajar di kanan kiri jalan, menuju rumah kami yang hanya berjarak 1 rumah dari rumah duka. Sehabis sholat asar, segeralah kami takziyah. Prosesi acara lumayan panjang untuk ukuran pengurusan jenazah, yakni tilawah, sari tilawah, sambutan perwakilan rumah, lurah, khotib yang melantunkan taujih dan doa-doa, dan lain-lain (yang sebenarnya tidak perlu dalam ajaran agama Islam). Aku mengikuti saja sambil berfikir sedari hadir, ini kok panjang amat ya ceremony-nya, seperti perhelatan agenda apa. Kalau baca buku Ahkamul Janaiz, ternyata buanyak sekali bid’ah-bid’ah yang menjadi kebiasaan masyarakat kita dalam penyelenggaraan jenazah.

Berita kematian selalu membuatku bertafakur, tentang kematian yang sudah menjadi jatah tiap makhluk-NYA. Fitrahnya kematian, pasti mendatangi kehidupan. Kepada siapapun, kapanpun, dalam bentuk apapun, dengan sebab apapun. Beberapa kali dulu saat aku mudik dan dijemput Bapak dari terminal, sambil naik motor di jalan Bapak cerita tentang siapa saja tetangga kami di desa yang meninggal, karena sakit kah, kecelakaan, atau lain-lain. Kemudian Bapak selalu berkata menasehati, “Yo ngono kuwi Nduk, kata Allah Kullu nafsin dzaa-iqotul maut, fa idza jaa-a ajaluhum laa yastaqdimuuna sa’atan walaa yasta’khirun…tidak bisa minta dimajukan atau diundur. Kadang yang tua yang duluan, kadang malah anaknya yang duluan…” Bapak sampai hafal dengan ayat tersebut, mungkin karena sering mengambil hikmah dari kematian. Bapakku juga salah satu orang yang tidak pernah absen mengantar jenazah hingga ke kubur, dengan motivasi sebuah dalil: pahala sebesar 2 qiroth, dua gunung emas!

Sembari berdiri mengikuti pemberangkatan jenazah, aku terus merenung… tentang diri sendiri, tentang orang-orang yang kucintai, tentang bekal, amal jariyah, tentang bagaimana nanti kematian menghampiri, tentang bagaimana kelanjutan kehidupan di akhirat nanti. Karena kematian justru bukan akhir, tapi awal, pembuka menuju kehidupan selanjutnya yang teramat panjang tak berkesudahan. Kalau dipikir-pikir memang menimbulkan rasa takut, tapi justru rasa takut itulah yang perlu. Kata Ustadz, bedanya khouf dengan rasa takut terhadap hal-hal di dunia, misalnya kalau kita takut pada singa (atau dosen pembimbing skripsi mungkin??) kita pasti cenderung menjauh/menghindarinya. Tapi khouf adalah rasa takut yang justru mendorong seorang hamba untuk mendekat pada Robb-nya. Yang memicu kita untuk terus memperbaiki diri, memohon rahmat dan pertolongan Allah untuk kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Khouf yang memicu kita untuk terus roja’ (berharap) pada Allah, yang hanya dengan rahmat-NYA kita tertolong masuk surga. Tidak masuk dalam hitungan rasa khouf seperti yang ditunjukkan dalam film “Mirror”, seorang gadis yang tau bahwa dirinya sebentar lagi akan mati, dia berusaha menghindarinya dengan beragam cara. Berdiam diri di rumah, berusaha agar tidak terlelap dengan mengunyah cabe sebanyak mungkin, sampai akhirnya dia stres sendiri dan kabur menghindari ketakutan akan kematian, endingnya ya dia tetap meninggal. Tentu saja cerita ini impossible dan tidak bermutu (semoga anak bangsa ini semakin cerdas lagi membuat film yang mencerdaskan kehidupan bangsa). Dan subhanallah wal hamdulillah, inilah salah satu hikmah Allah merahasiakan kapan ajal kita. Agar setiap kita tetap berfikir optimis mengerjakan segala amal di dunia. Saya dan suami pernah berdiskusi, seandainya setiap orang itu diberitau kapan ajalnya, misalnya dikirimi surat pemberitahuan oleh malaikat Izrail tentang hari-H ajalnya, kira-kira apa yang akan dilakukannya menjelang detik-detik terakhir? Hmm, mungkin para manusia akan segera mengebut amal kebaikan, menyempurnakan ibadah, seperti hadit nabi, “…sholatlah seolah-olah ini sholat terakhirmu…”. atau bisa jadi ada yang malah stres dan justru melampiaskan keinginan dan nafsu di saat-saat terakhir hidupnya dengan slogan “Ah, hidupku tinggal sebentar lagi di dunia, untuk apa susah payah bekerja, biarlah kubersenang-senang di detik-detik akhir…” seperti kata seorang teman dulu yang hendak pulang kampung, “Hari terakhir di kota ini, biar kuhabiskan waktu ngapa-ngapain yang enak…” #analogi saja. Begitulah fitrah manusia, selalu ada dua sisi yang berbeda.

Ada satu hadits yang mengajarkan kita tentang bagaimana visualisasi yang bisa kita lakukan untuk menginternalisasi roja’ dan khouf ini: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.” How balance it is.

Masih di tempat takziyah. Sembari bertafakur kuperhatikan sekeliling, orang-orang yang hadir. Beragam aura/ekspresi wajah mereka. Ada yang sedih, biasa saja, bahkan sumringah dan bisa mengobrol sambil tertawa-tawa. Adakah di dalam hati mereka juga terselip pikiran tentang kematian yang seharusnya bisa mengingatkan diri. Adakah mbak-mbak yang belum berjilbab itu kemudian mengambil pelajaran tentang membenahi diri, adakah anak-anak muda itu mengambil pelajaran bahwa kematian tak pandang usia. Entahlah, aku sendiri berkutat dengan pikiranku. Seorang sepupuku ada yang berprofesi sebagai perawat, sudah terbiasa menyaksikan orang meninggal (sakaratul maut) dan akrab dengan kamar mayat. Dia pernah bercerita, orang sakaratul maut itu macam-macam. Ada yang dengan tenang, ada pula yang sebaliknya. Na’udzubillah. Tergantung bagaimana kondisi jiwa seseorang, dekatkah dengan Robb-nya? Atau sebaliknya? Aku sempat mikir, orang yang berprofesi dekat dengan situasi kematian begitu harusnya bisa banyak menjadi pengingat dirinya, untuk banyak-banyak mengingat Sang Penggenggam Nyawa. Tapi ya tergantung orangnya sich mau mengambil pelajaran atau tidak. Seorang murobbiku yang berkecimpung dengan dunia medis juga pernah bercerita hal-hal tentang sakaratul maut. Salah satunya, ada seorang bapak penjual tape yang terkenal baik sekali, selalu jujur dan murah hati, adil dalam timbangan, dsb. Saking cintanya ia dengan pekerjaannya, ketika meninggalpun kata-kata terakhir yang ia ucap adalah: tape…tape… Naudzubillah. Mungkin beliau memang orang yang baik, pedagang yang adil dan jujur, tapi jika yang ia ingat dan cintai sepanjang aktivitasnya adalah pekerjaan, bukan Allah, ya itu pula yang sampai ia ingat dan ucapkan di akhir hayat. Wallahua’lam. Segala kebaikan, haruslah Allah yang menjadi alasan. Haruslah Allah yang selalu diingat dan menjadi motif perbuatan baik.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un.
Sederhana kalimat tarji’ ini. Namun betapa kuat maknanya mengingatkan: kita ini punya Allah, dan akan kembali pada Allah.

Akhirnya, menjadi kesempatan kita yang masih diberi nafas di dunia, untuk selalu belajar dari peristiwa sebagai tadzkiroh untuk selalu membenahi diri.

Allohummaghfirlahu, warhamhu, wa’afiihi wa’fu’anhu… semoga Allah memberi kenikmatan kubur untuk Bapak R.
Allohumma amitnaa ‘alasy syahadati fii sabiilik, fil khusnil khootimah… Ya Allah matikan kami kelak di atas syahadat, di jalanMU, dalam kematian yang khusnul khotimah. Amiin…

10 Maret 2012

Ini Ceritaku, tentang Dia

Standard

Jum’at malam, 8 Juli 2011, Mbak Rike mantan mbak kosku, ngirim SMS mengejutkan. Kabar tentang meninggalnya temanku UNS yang juga teman sekelasku dulu saat MTS kelas 1. Ah, masa iya, pikirku. Bukannya aku meragukan kejujuran penyampai berita (suami Mbak Rike anak UNS), tapi khawatirnya kalau salah tangkap. Kelamaan nunggu balasan SMS, segera kutelepon Mbak Rike, memastikan beritanya valid sehingga bisa kukabarkan pada teman-teman MTSku. Ah, ya…baiklah, kuterima berita itu. Tapi masih saja antara percaya dan tidak, aku ingat-ingat lagi nama temanku, apa benar namanya Dian Tri Cahyono yaaa…? Ah, iya. Itu nama dia. Tapi masih saja aku gamang untuk menyebar berita di inbox-ku, aku SMS teman-teman MTs-ku dengan kalimat klarifikasi setengah bertanya. Dalam pikiranku, gak lucu banget aku salah jarkom hal begini. Ah, ternyata ya, benar berita itu.

Innalillahi wainna ilaihi rooji’un…

Besoknya, aku takziyah ke rumahnya bersama teman-teman MTs.

Di ruang tamu itu, kami banyak diam, tak tega banyak bertanya, sedangkan di sebelahku, sang ibu bermata sayu berwajah sendu tampak matanya masih berkaca-kaca…air mukanya tampak lelah.

Selanjutnya kami lebih banyak mendengarkan Bapak Dian bercerita tentangnya.

Lha yo, Dian itu tidak tampak seperti orang sakit, badannya dari luar tetap seperti biasa, sehat, kekar. Pulang-pulang habis ujian, sakit empat hari…

Kutanya bagaimana kronologinya Dian sakit…

Dian itu baru ujian tanggal 2 Juli kemarin mbak, bilang sama bapak ibuk sudah lulus, wisudanya tanggal 8 September nanti. (Ya Robb…tanggal itu…) Lalu pulang Sabtu kemarin, kok merasa sakit, langsung saya bawa ke rumah sakit, opname. Kata Dokter ahli paru-paru, ada semacam gumpalan diantara paru-paru dan jantungnya, menyumbat kerja jantung dan pernafasannya. Sama dokter lalu disedot dengan suntikan panjang, tapi tidak ada cairan keluar. Diperkirakan berarti itu bukan cairan, tapi benjolan daging.

Dian itu anak yang rajin ibadahnya, sholatnya bagus…rajin mengaji… Di rumah sakit, dia minta dibawakan al-qur’an, dia ngaji terus…dia ngajiiii terus sampai malam.

 *sampai di sini melelehlah air mataku :’( terbayang di benakku dia merasakan sakitnya saat itu.

Dian itu anak yang sopan, sangat santun dan taat pada orang tua. Dulu Bapak bercita-cita biar dia jadi ahli agama, masa semua kakak-kakaknya di sekolah umum semua. Makanya sama bapak ibuk, Dian disekolahkan di MI, lalu MTs, MAN. Waktu Dian bertanya mau jadi apa nanti Pak? bapak bilang sambil bercanda: “Ya, siapa tau nanti kamu jadi menteri agama, Le…” (menyipit kelopak mata bapak itu, tertawa mengenang dialog dengan anaknya)

Setelah lulus, Dian matur sama bapak “Pak, untuk sekali ini saja, saya ndak usah didikte sama bapak ibuk ya, saya pengen kuliah di umum…” Ya sebenarnya, bapak maunya dia neruskan di IAIN, tapi ya sudah nuruti kemauan anak.

Tadi malam teman-temannya juga buanyak pada datang, dari UNS, Solo. Sampai jam 12 malah belum pada pulang, cerita-cerita banyak di sini. Kata temannya, dapat salam juga dari Pak Dekannya, yang biasanya ngaji sama dia. (Oh Allah, lihatlah dia begitu dicintai…menahan air mata biar gak jatuh, kok ya susah!)

Saat kutanya pada ibunya, apa sebelumnya tidak ada tanda-tanda atau keluhan dia sakit? Kata beliau: Dian cuma sering bilang sakit di sini (sambil mengelus bagian punggung sebelah kiri beliau), terus diterapi sama kakaknya, ya baikan. Ya mungkin kerasa dia sakit, tapi tidak dirasakan…tidak bilang.

Waktu sakit Dian bilang tidak mau merepotkan bapak ibuk. Saya bilang “Yo jangan gitu Le…” (aku lupa kelanjutannya Bapaknya bilang apa…)

Ya itu…cepet sekali…Cuma 4 hari dia sakit… (ibunya menangis)

Yah, ibunya ini yang bolak balik jatuh (pingsan), bapaknya yang lebih tegar, tapi kalau ada orang nangis ya ikut nangis lagi. Yah, cepet sekali, ndak menyangka sama sekali…dipanggil sama Gusti Allah. Hari sebelumnya mbaknya tanya “Pak, dhek Dian lahirnya kapan?” saya jawab: “….” (Agak tidak dengar tanggal yang disebutkan Bapaknya) Kata Mbaknya: “Pak, Rosulullah itu hari lahir dan meninggalnya sama lho Pak…” Eh, ternyata benar, Dian meninggal hari Jum’at…yah, semoga hari yang baik, dia husnul khotimah. (Bapaknya terbata hampir menangis…)

Itu, potonya Dian waktu di mantenan mbaknya (aku mendongak ke tembok di sebelah kiri belakangku, Dian didandani ala pagar bagus bergaya gagah difoto sendirian). Sebenarnya dia malu, gak mau dipajang begitu.

Dian Tri Cahyono…

Dua tahun yang lalu seingatku, setelah lama tidak bertemu dan hampir lupa (jahat ya!) aku bertemu lagi dengan Dian, via FB…sambil mengingat-ingat Dian tu yang mana yaaa. Bersyukur punya FB, salah satunya membuatku bersuka hati mendapati teman-temanku yang lama tidak bertemu. Dian salah satunya. Whuaaah, subhanallah, rasanya penuh syukur aku mendapati perubahan baik mereka. Sempat beberapa kali saat-saat itu aku SMSan dengan Dian, ya sekedar menyambung silaturahim, tanya kabar blablabla… Selanjutnya lost kontak, sampai kami bertemu di nikahannya Tanti, Juli 2010. Ya itulah saat terakhir aku melihat Dian, bersama Sofa dan Ichsan. Meskipun kami berkumpul, aku cuek saja sama anak-anak cowok, tidak banyak bicara juga pada mereka, pun pada Dian. Cuma kami sempat berfoto bersama teman-teman MTs.

Sebenarnya aku bukan termasuk teman dekatnya waktu MTs, aku bahkan sempat lupa kalau dia ketua kelasku saat kelas satu. Tapi sejak menemui dia di FB, ada perasaan lebih dekat dengannya, mungkin karena kami sama-sama ADK tarbiyah. Aku tanya mbak Rike kemarin, katanya dia Ketum SKI Fakultas, dia jundi dakwah yang taat, kata suaminya.

Ohhh…ternyata kehilangan teman baik itu menyayat hati rasanya.

Dian, semoga nanti kita bertemu dan berteman lagi di surga-NYA. Semoga masuk kelas unggulan seperti saat kita MTs dulu ya… amiin.

*dengan penuh kebanggaan…

Allaahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu ‘anhuu…