Tag Archives: memilih makna

Amal Mengajar

Standard

img-20161125-wa0011

Hari Guru.

Suka rasanya dengan kata itu. Guru. Melekat padanya amal mengajar. Amanat pendidikan. Amanat yang tertera di kitab suci dan sabda nabi. Juga termaktub dalam undang-undang negara yang salah satunya berbunyi: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengajar berarti menjadi washilah tersampaikannya ilmu, membuka kesempatan amal jariyah yang tak putus setelah kematian: ilmu yang bermanfaat.

Mengajar berarti menjadi faktor peubah: dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak faham menjadi faham, menjadi bisa, menjadi mahir, bertambah kemampuan, berubah tabiat dan perilaku.

Mengajar berarti menjadi washilah tarbiyah, tersampaikannya hidayah, kesempatan mendapati janji di hadits nabi.

Salam cinta kepada semua guru dan murobbi. Salah satu tugas peradaban ada di pundakmu. Semoga segala bakti tercatat sebagai amal sholih. Barokallohu fiikum.

Salam belajar dan mengajar ♡

Today’s Themes

Standard

Sometimes, silence is the highest level of ignorance.

Jika hatimu samudera, sekilo garam tidak akan terasa.

Bisa jadi orang yang nyebelin untuk kita, untuk orang lain dia kesayangan, kebanggaan. Karena apa? Karena kita yang sebel ini hanya tau nyebelinnya saja. Sedangkan orang dekatnya tau banyak baiknya.

Jadi sebenarnya siapa yang nyebelin? Kamu. Iya, aku.

Ada banyak pilihan respon dan makna. Kamu pilih yang mana.

*logoterapi
*menulis adalah afirmasi

Jagalah Pakaianmu

Standard

“Jagalah pakaianmu maka pakaianmu akan menjagamu.” Quote by Citra W. Hapsari.

Sukaaa quote ini. Maknanya dalam. Ajining rogo ono ing busono, kata pepatah Jawa. Berharganya tubuh dilihat dari cara berbusana. Di Alqur’an sendiri disebutkan salah satu hikmah disyariatkannya jilbab adalah agar aman. “…yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali sehingga mereka tidak diganggu…” (QS. Al Ahzab: 59). Bagaimanapun pakaian itu menjadi faktor keamanan.

Pada bab lain di Alqur’an dikatakan bahwa suami istri itu ibarat pakaian. Hunna libasullakum, wa antum libasullahunna. Mereka (istrimu) adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. (QS. Albaqoroh: 187)

Iya, ibarat pakaian. Menjadi semisal pakaian, berarti menjaga. Yang melindungi secara dzohir maupun batin. Yang memperindah, memantaskan diri untuk tampil. Yang menutupi aib, memelihara kehormatan. Yang bisa menempatkan diri, sebagai apa ia dibutuhkan.

Bukankah malu dan tidak aman jika kita pakai baju yang robek atau compang-camping? Maka jangan robek-robek pakaianmu dengan menceritakan aib pasangan atau mengeluhkan kekurangannya pada orang lain atas dasar nafsu.

Jagalah dirimu, dengan menjaga pakaianmu.

#a note to reminder
#a walk to remember

Kerlip Cantik

Standard

Kau selalu begitu.
Mempesona.
Cantik dengan cahayamu.
Pendarnya selalu memukau.
Kau membuat mereka menikmati gelap,
Yang menjadi indah karena tercahayai oleh kemilaumu.
Kau, ciptaanNya yg menawan.

Kerlipmu selalu cantik.

Kunang-kunang :)

Logoterapi tentang Flu

Standard

Flu,

Mengajarkan bahwa kita disuruh banyak berdzikir dan bersyukur pada Allah: “Alhamdulillah”
Lalu orang2 di sekitarmu akan mendoakan: “Semoga Allah menyayangimu” (Yarhamukillah)
Dan kau balas mereka dengan doa yang mulia: “Semoga Allah memberi kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.” (Yahdikumullah wa yushlih baalakum)
…Maka, tiba-tiba flu akan terasa indaaah ;)

Hummm, sebuah mekanisme menghibur diri.

 

 

Kenapa flu dan bersin-bersin perlu disyukuri?
Satu, karena begitu kata Rosul. Anas bin Malik RA bercerita, ada dua orang bersin di dekat Rosulullah SAW. Beliau mendoakan (tasymit) salah seorang dari keduanya, namun tidak mendoakan seorang yang lain. Ditanyakan alasannya, Rasul menjawab, “Sebab, orang yang satu mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satu lagi tidak membacanya.” (HR Bukhari). Ahha. Aku jadi ingat cerita temanku dari UIN tentang seorang dosennya yang juga ustadz yang ku kagumi. Saat beliau sedang menjelaskan di depan kelas, salah satu mahasiswanya ada yang bersin. Hattcchiiiuuww! Seketika sang ustadz berhenti bicara, seperti sedang menunggu sesuatu terjadi. Para mahasiswa bingung lah, penasaran plus pada menatap heran ke ustadz, mungkin dengan pikiran “He? Kenapa Pak?” Lantas beberapa detik kemudian ustadz tersenyum dengan senyum khasnya sembari berkata: “Ndak usah didoakan ya, anaknya juga ndak berdoa.” Owalah…tertawalah mahasiswa sekelas (dan juga kami yang mendengar cerita temanku tadi). Si mahasiswa yang bersin malu paling ya, hihi.

Dua, karena bersin adalah sebuah nikmat. Kata Ibnul Qayyim, bersin dapat mengeluarkan uap dari dalam otak yang jika dibiarkan akan berbahaya (Zadul Ma’ad 2: 438). Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam. Bahkan, Dr. Michael Roizen, Wellness Officer Cleveland Clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarah Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Makanya, setelah bersin disunnahkan membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Jum’at, 3 Juni 2011
saat flu mendera

There are no accident

Standard

20 Maret 2011

There are no accident” (Oogway)

Benarlah. Tidak ada yang kebetulan. Tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali Allah mengizinkannya, bahkan daun yang gugur dan ikan berenang ke arah mana pun karena Allah (lirik lagunya Opick).

Maka hari ini menjadi kebetulan yang kuimani sebagai salah satu bagian dari takdirku untuk mendapatinya. Di suatu acara akbar yang kuikuti bersama teman-teman seantero (apa ya…) kota, terdapat sebuah sesi acara doorprize untuk mendapati siapa the best “one” 2011 (the word “one” refers to something that’s not good enough if I spell it here). Lantas di akhir acara…betapa aku kaget bahwa nama yang disebut oleh panitia adalah nama yang sangat kukenal dan kucintai: Hanis! Ya Robb…! Bukannya surprised bangga dan terharu aku mendengar namaku disebut, justru terbengong gak karuan dengan banyak lintasan pikiran keheranan. Hah??? Kok bisa? Ditambah ucapan selamat, barokallah, congratz, wah, wow, dan lain-lain yang mengekspresikan rasa suka cita dan penghargaan teman-teman di sekitarku. Huhu…setelahnya masih ada pula yang menyelamati lewat sms dengan nada-nada sedikit alay (menurutku sih!). Addduuuh, jadi tambah tidak enak aku. Swear! Maka ketika mereka sibuk mendoakan dan memberi selamat, selain membalas dengan kata “amiin”, aku pun sibuk merevisi kejadian tadi: “Bukan, bukan, bukan aku seharusnya. Deuh, harusnya yang lain. Tadi tu kebetulan saja. Bener dech!” Belum pula selesai seharian, besok-besoknya ketemu teman lain, sama dech menyelamatiku. Deuwww! –__–!!

Sungguhpun aku juga tidak tahu sebenarnya apa yang membuatku mendapatkan nominasi itu, karena sejujurnya aku tahu diri dan tahu benar bahwa ada yang lebih baik dalam kategori ini. Maka yah…inilah yang kemudian kusebut: kebetulan.

Teringat sebuah film gwokil yang sangat kusukai, “Kungfu Panda”, mungkin saat itu perasaanku sama dengan yang dirasakan si Po yang jadi serba salah dan gak enak berat saat tiba-tiba Oogway menunjuk ke arahnya untuk menjadi The Dragon Warrior. Padahal dia tahu sangat kedatangannya yang tepat dan tiba-tiba di depan telunjuk Oogway hanyalah kecelakaan tak disengaja, dan dia tahu sangat bahwa ada yang lebih layak untuk mendapatkan gelar itu. Dan sekali lagi aku teringat saat Shifu meng-complain itu pada Oogway bahwa itu hanyalah kebetulan, dia (Oogway) berkata: there are no accident! Yup! Benar. Seperti itulah lantas aku memaknai bahwa hal yang menimpaku pagi ini memang sudah jadi bagian takdirku, mendapatkan ujian (penghargaan) plus mendapatkan rezeki hadiah (yang ini aku senang, hehehe!), dan aku meyakininya sebagai salah satu skenario yang telah Allah tuliskan di Lauhul Mahfudz untukku. Kadang aku berpikir, kitab Allah (Lauhul mahfudz) itu pasti isinya kadang lucu-lucu. Saat suatu ketika aku histeris menemui serangga yang saat hendak menuliskan namanya saja sudah terbayang bentuknya dan membuatku merinding (aaaaaaaaaaaa…!)hingga kuputuskan tak menuliskannya dengan alfabet di sini, ketika itu aku berfikir, oh, mungkin di kitabnya Allah itu ada juga cerita bahwa hari ini aku dipertemukan dengan serangga yang kutakuti, kemarin aku kejatuhan ranting pohon kering, dan kemarinnya lagi bertabrakan dengan orang yang justru kuhindari (nah lho!). Segala hal yang sama sekali tidak disengaja, pastilah menjadi rahasia Allah untuk kemudian membuatnya terjadi. There are no accident. Pastilah ada semacam pesan yang hendak Allah sampaikan dari “kebetulan” ini.

Trrrrt…memutar otak (tafakur), menggali makna dan hikmah yang bisa kunikmati seharian ini.

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu Wata’ala…alhamdulillah.

Kesorean

Standard

Seringkali ketika kajian di masjid kampus di sore hari, salah satu hal yang kuperhatikan adalah orang-orang yang sholat asar di masjid (karena kebetulan kajiannya di serambi masjid menghadap ke barat). Ketika memperhatikan orang-orang yang sholat itu aku selalu saja heran dan berpikirkok bisa-bisanya jam segini baru sholat asar. Sekitar jam 5, bahkan masih ada juga yang sholat hampir jam setengah enam (berdasarkan ukuran waktu Malang, ini sudah saatnya menjelang sholat maghrib). Selalu saat kajian kuperhatikan, ada saja yang masih sholat asar pada jam-jam segitu, dan aku selalu membatin “Ya Allah, kok baru sholat sih. Ini kan dah mau maghrib…” Mungkin juga dalam batinku itu terdapat sedikit dzon tidak bagus pada mereka, seolah aku mengatakan “Kok bisa ya jam segini baru mau sholat asar, ck, ck, ck…”

Lalu, apa yang terjadi padaku sore tadi? Bermula karena rokku dipipisin Vito, maka niatnya mau sholat asar di rumah saja. Maka, kuputuskan untuk naik angkot dua kali saja, daripada menunggu satu angkot yang justru luaammaa datangnya. Dengan estimasi waktu kira-kira setengah jam sampai, sehingga masih layak lah untuk sholat asar dengan tenang. Tapi apa yang terjadi? Di tengah jalan aku diturunkan oleh Pak Angkot dan disuruh nunggu angkot belakangnya. Hah? Hmmmh, lamanya menunggu angkot berikutnya cukuplah membuatku manyun!Ini baru angkot yang pertama, belum ntar oper lagi…aku belum sholaaat…!

Lantas, dapatlah aku angkotnya, dan perjalanan ditempuh dengan lammma…entah pake acara nge-time, macet sore hari, dll, haihh…! Tambah geregetan. Sesampainya di kontrakan, setelah satu setengah jam di jalan, ternyata sudah jam lima lebih lima menitan kira-kira. Waaah…kadang pukul lima sore terasa mengerikan. Mungkin juga lebih mengerikan daripada gelap malam. Karena aku belum sholat asar. Hiks!

Sesaat sebelum mulai takbiratul ihram, tiba-tiba aku ingat tentang pikiranku sendiri, saat aku selalu membatin dan mungkin kadang juga berprasangka pada orang-orang yang baru sholat asar pada petang hari menjelang maghrib yang kulihat di masjid. Mungkin saja mereka merasakan seperti yang aku rasakan ini juga. Sebuah rasa bersalah telah telat sholat. Dan mungkin juga, apa yang menyebabkan mereka telat adalah hal-hal semacam yang kualami sore ini. Mungkin saja mereka telat sholat karena ada praktikum yang padat di kampus, mungkin masih nge-lab dan tidak bisa ditinggal (karena bisa meledak lab-nya, hehe), atau masih ada ujian sampai dosennya molor sangat sore. Haaah…tiba-tiba merasa bersalah pernah berpikir underestimate pada mereka. Serasa mendapatkan pelajaran sore ini. Bagaimanapun, husnudzon adalah satu cara ampuh menjaga hati.

Alhamdulillah. Lega. Bahwa aku butuh sholatku untuk menumpahkan cerita segala rasaku, aku butuh sholatku untuk minta ampun pada Tuhanku.