Tag Archives: tarbiyah

Fiksi yang Bisa Diteladani

Standard

Beberapa waktu ini, AAC 2 sedang mode on di kepala saya. Terutama bab akhlak. Tetiba sering terlintas sikap ramah dan sabarnya Fahri. Salah satunya pada tetangganya yang resek. Yang bahkan berkata ‘f*ck u’ padanya, yang mengganggu, dan mencuri. Tapi Fahri tetap 5S: senyum salam sapa sopan santun. Banyak menolong pula.

Lha saya? Liat orang manyun-manyun, melengos, dan gebrak pintu aja rasanya geregetan sendiri. Ini orang kenapa pula. Sikapnya kok ngeselin. Rasanya jengah, pengen berkata begini begitu, kalau lewat pengen manyun dan melengos juga. Lhah, kalau begini mah bukan mirip Fahri, tapi lebih mirip Paman Hulusi yang rempong. Wkwkwk

Saat leyeh-leyeh, mikir atau nglamun gak jelas, eh tetiba ingat Fahri yang saat rehatnya saja dia berdzikir. Saat malas, kok ya ingat gigihnya Fahri menegakkan punggung untuk ibadah dan konsisten murojaah.

Fahri dan kawan-kawan, selesai bercengkrama dan mengobrol dengan rekanan, lantas ditutup dengan doa kafaratul majlis sebelum bubar. MasyaAllah. Saya gak kepikiran segitunya. Yang ada doa itu dibaca pas habis halaqoh, habis kajian, atau pelajaran sekolah. Gak kepikiran kalau habis nimbrung ngobrol atau diskusi trus ditutup doa kafaratul majlis.

Hanya fiktif belaka, tapi teladannya berputar-putar di kepala saya. Begitu lho harusnya muslim yang baik itu. Begitu lho harusnya sikap seorang da’i. Begitu lho aplikasi 10 muwashofat yang kamu hafal itu. Katamu kamu suka bidang syiar. Mana akhlak yang kamu syiarkan sebagai cermin wajah indah Islam? Tau kan kalimat yang mengatakan “Al Islamu mahjubun bil muslimin” (kemuliaan Islam itu terhijab oleh kekerdilan orang-orang muslim). Nah, jangan kamu menjadi bagian dari hijab itu.

Merendahlah, bersabarlah, dan tegaslah pada tempatnya. Jangan lupa, miliki emosi yang mandiri. Yang tidak tergantung atau mudah terpengaruh emosi orang lain. Mau orang manyun, tetaplah tersenyum. Mau orang marah, tetaplah ramah.

Terimakasih Kang Abik menghadirkan sosok Fahri. Perkara banyak kisah yang ‘so sinetron’ di novel AAC 2, abaikan saja. Saya pilih ambil yang oke-oke saja.

… … …

~ Preferensi ~

Ngomong-ngomong, perkara memilih bacaan, kita pasti punya preferensi tipe bacaan dan tujuan membaca. Tipe bacaan biasanya tergantung passion kita. Jaman sekolah MTs saya kenal majalah Annida, yang iconnya gadis berjilbab lebar berkacamata, dikasih setumpuk sama ummahat teman ibuk. Trus pas SMA sukanya baca (pinjem temen) novel Aisyah Putri, Elang, Topan Marabunta, Jadian 6 Bulan, Ayat-ayat Cinta, Hafalan Shalat Delisa, dll apalagi lupa. Bacaan remaja islami itu bagus, memberi hikmah dan penanaman nilai. Remaja jadi punya gambaran pengen jadi sosok seperti apa. Seiring perjalanan tarbiyah dan pendidikan, preferensi genre bacaan pun lebih punya arah.

Sedangkan preferensi tujuan, bisa jadi tergantung misi. Misal: saya baca buku aliran kiri tentu bukan sebagai hiburan atau untuk diinternalisasi, tapi untuk tau alur pemikirannya. Sebelum membaca tentu perlu siapkan screening map di kepala. Di rumah kami punya beberapa buku yang mengandung pemikiran menyimpang. Dibaca untuk diketahui penyimpangannya. Salah satunya yang suami dapat dari sebuah sekolah. Buku golongan syi’i. Bisa-bisanya nangkring cantik di perpus SD itu. Kemungkinan include dengan buku-buku lain hibah dari penerbit ‘itu tuh’. Level sekolah dasar kok dihibahi buku macam itu. Mereka perlunya diisi dengan nilai-nilai basic yang nantinya menjadi filter skill or values standard mereka dalam menilai, memilah, dan memilih.

Jangan sepelekan bacaan. Ada bacaan-bacaan yang di dalamnya mengandung ruh. Ruh halus, yang menelisip ke akal dan hati. Menjadi hidayah, menjadi penguat langkah. Atau sebaliknya, mengandung kontaminasi yang meracuni. Karena selain sebagai propaganda kebaikan, ada juga tulisan/buku yang disisipi propaganda penyimpangan. Pandai-pandailah menyaring. Jika kita pakai ‘lensa kacamata’ yang tepat, insyaAllah tidak mudah tersesat.

Selamat sarapan ^^

Repost: MENGAPA SUSAH SHALAT MALAM [TAHAJUD]

Standard

Bismillahirrahmanirrahim

Ibrahim bin Adam pernah didatangi oleh seseorang untuk meminta nasehat agar ia bisa mengerjakan shalat malam (# tahajud).
Beliau kemudian berkata kepadanya, “Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah Azza Wajala di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu untuk bermunajat di hadapan-Nya malam hari. Sebab munajatmu di hadapan-Nya di malam hari merupakan
kemuliaan yang paling besar, sedangkan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu.”

Sementara Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika engkau tidak mampu menunaikan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya sedang dalam keadaan terhalang, karena dosa-dosamu begitu banyak.”

Nasehat untuk Orangtua

Standard

Ditulis oleh: Ustadz Fauzil Adzim

Alangkah banyak orangtua yang menggunakan kekuatannya untuk membuat anak tunduk. Sementara, mereka lupa bahwa badan yang kekar ini akan lemah juga, suara yang keras ini akan sayup-sayup juga, dan mata yang selalu awas ini akan kehilangan kekuatannya juga; baik karena anak-anak yang semakin jauh ruang geraknya atau karena mata kita telah dimakan usia.  

Mengingat itu semua, maka siapkanlah anak-anak itu untuk hidup di negeri akhirat. Apa pun yang engkau kerjakan jadikan ia sebagai jalan untuk mempersiapkan mereka menghadap Tuhannya. Kalau di saat dinginnya malam menusuk tulang mereka merepotkan kita, maka lapangkanlah hatimu untuk ridha terhadap kerepotan itu. Semoga Allah cukupkan kerepotan sampai di situ. Tidak berpanjang-panjang hingga akhirat. Sebab di hari Kiamat setiap kerepotan tak dapat diselesaikan, kecuali apabila kita mendapat syafaat.

Kalau engkau bangun di tengah malam untuk membuatkan susu untuk anakmu, aduklah ia dengan sungguh-sungguh sambil mengharap agar setiap tetes yang masuk kerongkongannya akan menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan yang buruk. Kalau engkau menyuapkan makanan untuk anak-anakmu, maka mohonlah kepada Allah agar setiap makanan yang mengalirkan darah di tubuh akan mengokohkan tulang-tulang mereka, membentuk daging mereka, dan membangkitkan jiwa mereka sebagai penolong-penolong agama Allah. Semoga dengan itu, setiap suapan yang masuk ke mulut mereka akan membangkitkan semangat dan meninggikan martabat. Mereka bersemangat untuk senantiasa menuntut ilmu, menunaikan amanah, dan meninggikan nama Tuhannya, Allah ’Azza wa Jalla.

Kalau setiap kali ada yang kauinginkan dari dunia ini, perdengarkanlah kepada mereka pengharapanmu kepada Allah, sehingga mereka akan dapat merasakan sepenuh jiwa bahwa hanya kepada Allah kita meminta. Sesungguhnya anak-anak yang kuat jiwanya adalah mereka yang yakin kepada janji Tuhannya. Mereka tidak mengiba pada manusia, dan tidak takjub pada nama-nama orang yang disebut dengan penuh pujian. Hari ini, anak-anak kita sedang dilemahkan oleh media. Mereka diajak menakjubi manusia. Padahal manusia yang ditakjubi itu tak kuasa untuk membuat diri mereka sendiri bersinar. Padahal untuk bisa disebut idola, mereka membutuhkan dukungan suara-suara kita.

Ajarkan pada mereka keinginan untuk berbuat bagi agama Allah. Bangkitkan pada diri mereka tujuan hidup yang sangat kuat. Jika dua perkara ini ada pada diri mereka, insya Allah mereka akan tumbuh sebagai orang-orang penuh semangat.

** Suatu sore ketika merasakan betapa kurangnya diri ini sebagai orangtua. Semoga Allah Ta’ala ampuni diriku.

Bolehkah wanita memakai pakaian berwarna-warni?

Standard

Ditulis oleh:
Ustadz Farid Nu’man Hasan

                Sebagian orang menganggap bahwa wanita muslimah hanya boleh memakai pakaian hitam atau gelap saja. Kadang mereka merendahkan para muslimah yang memakai pakaian berwarna selain gelap, betapa pun jilbabnya dan baju kurungnya begitu lebar dan panjang sempurna, dan mereka tetap menjaga diri dan kehormatannya, tetap mereka dipandang miring karena warna warninya itu.  Seolah wanita-wanita ini kurang shalihah dan ‘iffah hanya karena masalah warna pakaiannya.

Pandangan tersebut adalah ghuluw (berlebihan) dan tidak benar, serta bertentangan dengan fakta sejarah yang dilalui wanita-wanita terbaik umat ini pada masa awal salaf. Muslimah berpakaian warna hitam dan gelap, memang umum dipakai oleh wanita pada masa dulu, dan masa kini disebagian negara, tentunya ini memiliki keutamaan, tetapi mereka tidak terlarang memakai pakaian berwarna selain hitam dan gelap, seperti hijau, kuning, merah, biru, dan bermotif.

                Sebelum kami sampaikan dalil-dalil, akan kami sampaikan sebuah ulasan bagus dari seorang ulama, yakni Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, katanya:

                “Sesungguhnya pembuat syariat tidaklah membatasi warna tertentu bagi pakaian laki-laki dan pakaian wanita. Kadar perhiasan yang serasi pada pakaian tunduk pada tradisi kaum muslimin pada setiap negara. Dapat dimaklumi dan disaksikan pasa sekarang ini, dan di semua masa, bahwa hiasan atau warna yang berlaku di antara wanita mukmin pada umumnya dapat diterima oleh ulama mereka di suatu tempat, mungkin terasa aneh bagi kaum muslimin di tempat lain, dan mungkin mereka malah mengingkarinya. Sebagaimana warna dan model berbeda dari satu masa ke masa lain di satu daerah. Benarlah kata Imam Ath Thabari yang mengatakan, “… Sesungguhnya menjaga model zaman termasuk muru’ah (harga diri) selama tidak mengandung dosa dan menyelisihi model serupa dalam rangka mencari ketenaran.” (Fathul Bari, 12/424)

                Berikut ini akan kami sampaikan beberapa atsar yang tsaabit (kuat) tentang para shahabiyah yang memakai pakaian dengan beragam warna.

              ▶  Riwayat pertama: Warna merah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، أَنَّهُ كَانَ يَدْخُلُ مَعَ عَلْقَمَةَ، وَالْأَسْوَدِ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَيَرَاهُنَّ فِي اللُّحُفِ الْحُمْرِ»، قَالَ: وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ لَا يَرَى بِالْمُعَصْفَرِ بَأْسًا

                Berkata kepada kami Abu Bakar, katanya: berkata kepada kami ‘Abbad bin Al ‘Awwam, dari Sa’id, dari Abu Ma’syar, dari Ibrahim (An Nakha’i, pen), bahwa dia bersama ‘Alqamah dan  Al Aswad menemui istri-istri Nabi ﷺ: mereka berdua melihat istri-istri nabi memakai mantel berwarna merah.  Ibrahim An Nakha’i berpendapat tidak apa-apa pula memakai celupan ‘ushfur (warnanya merah, pen). (Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf No. 24739)

                Mujahid berkata:
أَنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرَوْنَ بَأْسًا بِالْحُمْرَةِ لِلنِّسَاء
ِ
                Mereka (para sahabat nabi) tidak mempermasalahkan wanita memakai pakaian warna merah. (Ibid, No. 24740)

                Ibnu Abi Malikah berkata:

رَأَيْتُ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ دِرْعًا، وَمِلْحَفَةً مُصَبَّغَتَيْنِ بِالْعُصْفُر
ِ
                Aku melihat Ummu Salamah (Istri nabi) memakai baju pelindung dan mantel yang keduanya dicelup dengan ‘ushfur (warnanya merah). (Ibid No. 24741)

                Al Qasim (cucu Abu Bakar Ash Shiddiq) berkata:

أَنَّ عَائِشَةَ، كَانَتْ تَلْبَسُ الثِّيَابَ الْمُعَصْفَرَةَ، وَهِيَ مُحْرِمَة
ٌ
                Bahwasanya, Aisyah dahulu memakai pakaian hasil celupan ‘ushfur dan saat itu dia sedang ihram. (Ibid No. 24742. Juga oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya secara mu’allaq, 2/137. Al Hafizh mengatakan: sanadnya shahih. Fathul Bari, 3/405. Juga Al Qasthalani dalam Irsyad As Sari, 3/111)

                Fathimah binti Mundzir berkata:

أَنَّ أَسْمَاءَ كَانَتْ تَلْبَسُ الْمُعَصْفَرَ، وَهِيَ مُحْرِمَة
ٌ
                Bahwa Asma dahulu memakai pakaian yang tercelup ‘ushfur dan dia sedang ihram. (Ibid, No. 24745)

                Sa’id bin Jubair bercerita:

أَنَّهُ رَأَى بَعْضَ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ مُعَصْفَرَةٌ       
           
     Dia melihat sebagian istri Nabiﷺ thawaf di ka’bah sambil memakai pakaian yang tercelup ‘ushfur. (Ibid, No. 24748)

Perlu diketahui, bahwa pakaian jika dicelup oleh pewarna ‘ushfur (sejenis tanaman) maka biasanya dominannya adalah merah. Berkata Al Hafizh Ibnu hajar:

فَإِنَّ غَالِب مَا يُصْبَغ بِالْعُصْفُرِ يَكُون أَحْمَر

                Sesungguhnya apa saja yang dicelupkan ke dalam ‘ushfur maka dominasi warnanya adalah menjadi merah. (Fathul Bari, 10/305. Darul Ma’rifah, Beirut). Seperti ini juga dikatakan oleh Imam Asy Syaukani. (Nailul Authar, 2/110)

                Riwayat-riwayat di atas menunjukkan kebolehan memakai warna merah bagi wanita muslimah. Bahkan itu dipakai juga oleh istri-istri Nabi ﷺ seperti Ummu Salamah dan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anhuma, dan ketahui oleh laki-laki yang bukan mahram mereka, bahkan ‘Aisyah dan  Asma Radhiallahu ‘Anhuma memakainya ketika di luar rumah yakni ketika ihram.

              ▶  Riwayat kedua: Warna hijau

Dari ‘Ikrimah:

  أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ، فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ القُرَظِيُّ، قَالَتْ عَائِشَةُ: وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ، فَشَكَتْ إِلَيْهَا وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا، فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا، قَالَتْ عَائِشَةُ: مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى المُؤْمِنَاتُ؟ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا.

                Sesungguhnya Rifa’ah menceraikan istrinya, lalu mantan istrinya itu dinikahi oleh Abdurrahman bin Az Zubair Al Qurazhi. ‘Aisyah berkata: “Dia memakai kerudung berwarna hijau,” dia mengadu kepada ‘Aisyah dan  terlihat warna hijau pada kulitnya. Ketika datang Rasulullah ﷺ saat itu kaum wanita sedang saling membantu di antara mereka. ‘Aisyah berkata: “Aku tidak pernah melihat seperti apa yang dialami para kaum mu’minah, sungguh kulitnya lebih hijau (karena luntur, pen) dibanding pakaian yang dipakainya.” (HR. Bukhari No. 5825)

                Kisah shahih ini menunjukkan kebolehan memakai warna hijau, dan ini pun juga diketahui oleh Nabi ﷺ.

. ▶ Riwayat ketiga: kombinasi hitam dan merah

Sakinah berkata:

دَخَلْتُ مَعَ أَبِي عَلَى عَائِشَةَ فَرَأَيْتُ عَلَيْهَا دِرْعًا أَحْمَرَ، وَخِمَارًا أَسْوَدَ

Aku dan ayahku menemui ‘Aisyah, aku melihat dia memakai baju pelindung berwarna merah, dan kerudung berwarna hitam. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf no. 24748)

              ▶  Riwayat keempat: motif warna warni

عَنْ أُمِّ خَالِدٍ بِنْتِ خَالِدٍ: أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثِيَابٍ فِيهَا خَمِيصَةٌ سَوْدَاءُ صَغِيرَةٌ، فَقَالَ: «مَنْ تَرَوْنَ أَنْ نَكْسُوَ هَذِهِ» فَسَكَتَ القَوْمُ، قَالَ: «ائْتُونِي بِأُمِّ خَالِدٍ» فَأُتِيَ بِهَا تُحْمَلُ، فَأَخَذَ الخَمِيصَةَ بِيَدِهِ فَأَلْبَسَهَا، وَقَالَ: «أَبْلِي وَأَخْلِقِي» وَكَانَ فِيهَا عَلَمٌ أَخْضَرُ أَوْ أَصْفَر
ُ
                Dari Ummu Khalid binti Khalid: didatangkan ke Nabi ﷺ pakaian yang terdapat motif  berwarna hitam kecil-kecil. Nabi bersabda: “Menurut kalian siapa yang pantas memakai pakaian ini?” Mereka terdiam. Beliau bersabda: “Panggilkan kepadaku Ummu Khalid.” Lalu didatangkan Ummu Khalid dan dia dibopong. Lalu Nabi ﷺ mengambil  pakaian itu dengan tangannya sendiri dan memakaikan ke Ummu Khalid, lalu bersabda: “Pakailah ini sampai rusak.” Dan, pakaian tesebut juga terdapat corak berwarna hijau dan kuning.  (HR. Bukhari No. 5823)

                Kisah ini begitu jelas bolehnya muslimah memakai pakaian kombinasi dua warna dan juga bermotif warna warni, di sebutkan beragam warna motif, hitam, hijau, dan kuning. Bahkan Nabi ﷺ sendiri yang memakaikannya kepada Ummu Khalid. Jika ini terlarang pastilah Nabi ﷺ akan mencegahnya tapi justru Beliau yang memakaikannya sendiri. Wallahu A’lam

                Terakhir, ada baiknya kita perhatikan ulasan  Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah Rahimahullah:

                “Sesungguhnya keserasian dalam perhiasan yang menghiasi pakaian, tidaklah menarik perhatian laki-laki, dan tidak disifati dengan tabarruj, karena tabarruj adalah apabila wanita mempertontonkan kecantikan dan keindahan dirinya sehingga dapat membangkitkan syahwat laki-laki. Ada pun jika pakaian memiliki pakaian yang indah tetapi tidak mencolok, dan dalam model yang indah tapi tidak menarik perhatian, maka model dan warna seperti ini dikenal dan dominan di kalangan muslimah. Semua itu tidak membangkitkan syahwat laki-laki, baik dari niat si wanita maupun dari pengaruh yang disebabkan oleh warna dan model pakaian-pakaian yang beraneka ragam. Ini merupakan perkara yang dapat disaksikan di beberapa negara Islam. Satu model dengan banyak warna tampak pada mala’ah Sudan dan pada pakaian wanita di perkampungan  Siria. Sedangkan macam-macam warna dengan beragam model, tampak pada pakaian para mahasiswi yang sopan di kampus-kampus Mesir dan Kuwait. Kebanyakan mereka memakai pakaian dengan bermacam warna dan model, tetapi tetap terjaga oleh kesucian dan pemeliharaan diri, sehingga mereka dihormati dan dihargai. (Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 4, Hal. 352. GIP, Jakarta)

Wallahu A’lam

Harta karun nih, save!

Standard

Oleh-Oleh Dari Seminar ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’

Oleh: thasya sugito

Ceritanya, april yang lalu, saya berkesempatan berada sepanggung dengan beberapa ibu hebat, dalam sebuah seminar parenting yang temanya adalah ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’. Para ibu hebat itu adalah:Ibu Siti Oded (Istri wakil walikota Bandung), Bunda Ria Mulianti (Istrinya Kak Eka Wardhana-Rumah Pensil Publisher), dan Teh Ninih Muthmainnah (Istri Aa Gym).
Masya Allah…

Bunda Ria Mulianti…menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik keempat putranya. Beliau adalah seorang yang cukup sibuk diluar rumah…karena punya amanah di Rumah Pensil Publisher , sanggar gambar rumah pensil, dan juga menggawangi creative women community.
Tapi,kesibukan beliau tidak membuat beliau lupa untuk mendidik anak-anaknya untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dan sahabat2nya. Hasilnya…anak pertama beliau adalah anak yang sangat ingin berjihad ke palestina, bahkan di usia 12 tahun, bilang ke bundanya: “bun, aku sudah menabung…ini celengan aku, tolong izinkan aku berangkat ke palestina ya. Aku sedih melihat anak-anak palestina tidak bisa sebahagia aku disini.” Bunda Ria akhirnya mengarahkan anaknya, untuk berjihad dengan pena…anak tsb diarahkan untuk menulis buku, dan ia akhirnya menulis satu seri buku cerita anak tentang jihad dan anak2 palestina. Buku tersebut sudah habis terjual 1000exp dalam 10 hari saja!! Menurut pengalaman bunda Ria, cara paling efektif untuk mengajarkan anak nilai2 kebaikan adalah dengan cara mendongeng (selain keteladanan tentunya). Sehingga beliau tidak pernah melewatkan malam tanpa mendongengkan kisah rasul dan para sahabat kepada anak-anaknya. Mendongeng, tidak harus dengan style pendongeng yang sangat ekspresif, yang mungkin sulit kita tiru….tapi lakukanlah dengan cinta….sehingga dongeng kita akan sampai ke hatinya..
Prinsipnya, kalau anak-anak sudah mengenal Tuhannya, Rasulnya (melalui dongeng)…maka insya Allah mereka akan mencintai Allah dan RasulNya. Bukankah itu yang kita harapkan?? Anak-anak yang mencintai Allah dan RasulNya, sehingga mereka tidak akan melakukan hal yang tidak disukai oleh kekasihnya itu?
Disini, yang terpikir oleh saya adalah “duh….sudah sejauh mana saya mengenalkan Allah dan juga Shiroh kepada anak-anak? Mengenalkan mungkin sudah…tapi sudahkah saya secara konsisten berikhtiar menumbuhkan cinta mereka pada Allah dan Rasul serta para sahabat?? (hiks…tamparan pertama)’”

Lalu…Umi (Bu Siti Oded), menceritakan dahsyatnya dampak rumah cinta. Beliau menceritakan fenomena anak2 di sukabumi (kota kecil) yang 60% dari 200 anak usia remaja yg dijadikan objek penelitian, ternyata sudah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Astaghfirullah….astaghfirullah…..kalau di kota kecil saja begitu? Gimana kabarnya dengan anak2 kita yang hidup di kota2 besar? Tambahannya…Umi cerita, bahwa ketika berkunjung ke beberapa pesantren, lalu bertanya kepada para SANTRI tentang siapa idola mereka….rata2 jawabannya adalah para artis (lokal dan korea). Duh….apakah mereka tidak mengenal Rasulullah? Sang manusia mulia nan sejati cintanya…
Itulah sebabnya….Umi menekankan…bahwa cinta, adalah dasar dari pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan bangunan cinta yang kokohlah, anak tidak akan keluar dari pakem yang disepakati dalam keluarga. Sehingga, kata-kata “membentengi” anak….sejatinya bukanlah membentengi secara fisik (memproteksi fisik anak dari lingkungan yang tidak baik, dll)…melainkan membangun benteng tsb dalam diri anak, sehingga tercipta resiliensi (kemampuan anak untuk selalu berada dalam pakemnya, dalam koridor yang ditetapkan menjadi nilai terbaik untuk dirinya dan keluarganya) dimanapun anak berada…dengan siapapun anak bergaul. Resiliensi ini hanya akan terkokohkan dalam diri anak, bila di rumah cintanya sudah terbangun, sehingga tidak ada tempat lain yang lebih nyaman bagi si anak, selain di rumahnya sendiri.

Berikutnya, yang selalu harus menjadi pegangan utama dalam mendidik anak, dan kembali diingatkan oleh teh Ninih: “Yaa Bunayya…Laa Tusyrik Billah”. Teteh cerita….sebelum ke hal lainnya, pastikan dulu bab ini sudah mantap. Bab ketauhidan, yang menjadi dasar dari agama islam. Sehingga, insya Allah pertanggung jawaban kita kelak akan lebih ringan.
Lalu…yang orangtua sering lupa: TAUBAT!!

Kita sering merasa anak sulit diatur…anak banyak membantah…anak tidak sesuai harapan. Lalu saat perasaan itu hadir, seringkali kita merasa, itu adalah ‘salahnya’ anak. Padahal….sejatinya, itu adalah kesalahan kita dalam mendidik. Maka,TAUBAT adalah bagian terpenting dalam proses mendidik anak. Jangan hanya banyak harapan thdp anak….tapi, perbanyak taubat, perbanyak tafakur.

Teteh cerita, bagaimana dulu Ghaza (putra ke-6 tth), adalah anak yang kerjanya main PS…gak semangat belajar….sampai harus mengenakan kacamata dengan silindris 6 karena hobinya itu. Teteh saat itu merasa berdosa….karena tidak tegas dan tidak banyak menghabiskan waktu bersama Ghaza. Lalu…saat berkesempatan umroh, teteh menangis di multazam….bertaubat…mengakui kesalahannya dalam mendidik anak, dan memohon agar Allah mengampuni. Sepulang umroh….Ghaza ditanya oleh salah seorang ustadz di DT, mau tidak Ghaza menghafal qur’an? Ghaza langsung jawab mau…tanpa ba-bi-bu. Padahal, sebelumnya….sulit sekali tth mengarahkannya. Singkat cerita….dalam waktu 6 bulan…Ghaza menyelesaikan 27 juz hafalan qur’annya….dan tuntas 30 juz hanyadalam waktu 8 bulan saja.

Sehingga, benarlah…taubat kita, adalah pembuka jalan. Ketika kita bertaubat…memohon ampunan Allah atas kefakiran ilmu kita dalam mendidik anak, Allah akan bukakan jalan.

Selain itu…mencintai anak, artinya mendoakannya dengan penuh cinta. Bukan sekedar kata-kata tak berarti….melainkan kata-kata yang lahir dari hati. Saya mempraktekkannya sejak punya anak pertama 11 tahun yang lalu….ilmu ini pun saya peroleh dari teh Ninih, waktu saya masih nyantri di DT: Setiap Sholat malam….usahakan sholat dengan rakaat 2-2-2-2-…., agar kita memiliki banyak waktu untuk mendoakan anak dan suami. Ba’da dua rakaat pertama…doakan orang tua dan suami dengan penuh cinta.

Lalu…ba’da dua rakaat kedua, doakan anak yang pertama. Ba’da dua rakaat ketiga, doakan anak yang kedua, dst….

Perhatikan….setiap kali iman kita sedang baik, cinta kita sedang penuh….anak akan menjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebaliknya….setiap kali iman kita sedang lemah….kita sedang futur, anak pun akan terasa sulit diatur, dll. Maka….penuhi diri dengan energi iman….sehingga cinta akan lahir tanpa diminta.

Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta, insya Allah akan menjadi pribadi yang penuh cinta pula.
Dengan Cinta kita mendidik anak….dengan ilmu kita mengasuhnya….

Sungguh, berada disana bersama para ibu luar biasa ini, menyadarkan saya betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikit ilmu yang sudah saya tahu dan amalkan..
Semoga bermanfaat ^_^

Cara Ibuku mengajak Anak-anak meramaikan mushola

Standard

Adalah keprihatinan tersendiri bagi bapak dan ibuku mendapati bahwa generasi muda di desa terutama di RT kami sangat kurang partisipasinya untuk meramaikan masjid/mushola. Sangat sedikit yang mau istiqomah sholat jama’ah lima waktu, belum lagi perkara adzan dan iqomah, kebanyakan mengandalkan satu dua orang saja. Padahal kelak nantinya mereka juga yang akan menjadi generasi penerus, termasuk menghidupkan mushola.

kartun-masjid-dr-cybermq

Gemas dengan kondisi yang ada, akhirnya ibuku membuat sebuah inisiatif. Pada saat bulan Rojab, ibuku mengambil momen Isra’ Mi’raj untuk mengadakan pengajian special, bukan untuk memperingati Isra’ Mi’raj, hanya saja mengambil momennya untuk me-launching sebuah program. Di arisan PKK ibu-ibu dan anak-anaknya diundang, diadakan semacam acara pengajian special dengan menghadirkan hadrahnya emak-emak (hihihii) kemudian ada tausyiyah dari ibu dan kejutan doorprize untuk tiga anak yang paling aktif ke mushola. Di acara tersebut beliau memberi tausiyah terutama tentang motivasi agar anak-anak bersemangat meramaikan mushola, dan para orangtua juga memberi tauladan dan memberi dukungan. Kemudian beliau melaunching sebuah program untuk anak-anak yang rata2 usia SD dan SMP di RT kami, yaitu: arisan anak.

Jadi acaranya tiap malam minggu mereka (sekitar 20an anak) berkumpul di mushola, dibentuk penugasan bergilir antara lain: MC, tilawah, sari tilawah, kemudian materi tentang adab sehari2, cinta mushola, dan lain2 dari ibuku atau Bupuh Yah, tetangga depan rumah yang sama2 guru agama. Lalu arisan. Alhamdulillah, mushola jadi rame sekali, anak2 pada gembira, apalagi dapat arisan. Sejak itu, anak2 mulai semangat sholat jamaah dan adzan di mushola. Anak2 yang tidak pernah ke mushola setelah diberi penugasan (jadi MC atau ngaji) jadi semangat untuk hadir. Ide yang sederhana, namun sangat inspiratif dan motivatif menumbuhkan kesadaran anak2 untuk cinta mushola.

What a smart idea, that’s my mom, smart mom :’)
*this is it, tarbiyah

Jika aku seorang murobbi… Pantaskah??

Standard

“Sampaikan walau satu ayat”
“watawa soubil haq”
“…wa amma man jaaka yas’a, wa huwa yakhsya, fa anta ‘anhu talahha, KALLA innaha tadzkiroh…”

Jika Tuhan yang mengatakannya, masih beranikah orang seperti ini menyangkal? na’udzubillahimin dzalik.

Rasa minder itu pasti ada, dan untuk urusan begini justru wajib minder, karena dari minder inilah muncul motivasi untuk belajar lebih. Mempersiapkan diri lebih dan lebih. Karena syarat mutlak dari memberi adalah terlebih dahulu memiliki. Apa yang kita beri jika kita tidak memiliki sesuatupun untuk diberikan?

Seseorang yang telah menyatakan diri sebagai muslim yang telah menginfakkan seluruh jiwaraganya untuk islam saya rasa kurang pantas bila menjawab “tidak”, dengan alasan tidak siap bekal. Memang benar, menjadi murabbi merupakan tanggung jawab besar, sangat besar. Lantas apakah dengan besarnya tanggung jawab ini kita harus mundur? Apakah ketiadaan bekal adalah alasan yang cukup untuk mundur?

Sebuah pemikiran. Jika tidak tersedia bekal ya segera kumpulkan. Jika tanggung jawab ini terlalu besar, berarti kita harus membesarkan diri kita untuk mampu membawa ini semua. Semua ada harganya, apakah kita rela menukar itu semua dengan kemenangan Yahudi laknatullah? Kita ini sedang berperang Saudaraku.

Membuka memori tetang murabbi kita. Beliau bisa, kita sama-sama manusianya dengan beliau. Apa alasan kita untuk mencoba menjawab “saya tidak bisa” dan “saya tidak mau belajar untuk bisa”. Maka disini saya menjawab, beri kesempatan untuk saya belajar, dan mohon bimbingannya.

Membuka memori tentang murabbi, bagaimana perasaan beliau jika mad-u nya stagnan tetap menjadi penikmat, bukan penebar nikmat? Bukan hanya perasaan, tapi juga amal jariyah beliau yang harus terhenti pada satu sisinya di tangan kita, di langkah kita. Meski beramal tidak hanya dengan menjadi pemateri di halaqoh.

Innasholati, wa nusuki, wa makhyaya, wa mamati, lilahirobbil ‘alamin..

Membuka memori tentang murabbi. Setelah 63 tahun kesempurnaan hidupnya, penuh cinta ia memanggil-manggil kita. Ummati, ummati, ummati. Berharap tak pernah pudar risalahnya, warisannya. Pewarisnya, para ulama, guru umat, yang mengajarkan dan terus mewariskan dienul Islam telah menapaki ribuan langkah, menyambangi pelosok negeri, menentang arus, badai, dan segala resiko. Rela menukar nyawa-nyawa mereka.

Membuka memori tentang murabbi. Ia menanti kita mengintip dunia, untuk kemudian menjelajahinya. Manis sekali ia membawa kita kemanapun ia melangkah, 9 bulan lamanya. Memberi kita makanan dari air putih ajaib -(bedakan antara bening dan putih)- selama 2 tahun. Mengajarkan kita segala hal tentang cinta dan kebaikan. Butiran harap dalam lantunan doanya, pada akhirnya mengantarkan kita pada segalanya. Semoga bayi kecil ini nantinya tumbuh dewasa dan hidup sebagai kekasih Tuhan. Meski menjadi kekasih Tuhan tak harus menjadi pemateri halaqoh.

Membuka memori tentang murabbi. Ia menanti kita mengintip dunia, untuk kemudian menjelajahinya. Manis sekali pertama ia mengumandangkan adzan di telinga kanan kita, panggilan kemenangan. Ia telah menghibahkan kita untuk kemengan. Ia memberi nama kita, memanggil kita dengan penggilan doa yang indah, dengan harapan putra-putri kecilnya kan tumbuh sebagai pejuang manfaat, penjemput kemenangan. Yang terus mendedikasikan segala miliknya untuk bermanfaat bagi Rabbnya, untuk kemengan dien Rabbnya. Meski bermanfaat untuk Tuhan, meski menjemput kemenangan tak hanya dengan menjadi pengisi materi di halaqoh.

Membuka memori tentang murabbi. Beliau yang mengajarkanku untuk itu semua. Semuanya. Hingga tulisan inipun terbaca oleh anda.

Murabbi. Seorang akhwat yang terus menghabiskn waktunya didepan laptop dan tablet. Melahirkan barbagai karakter dari rahim khayalannya. Membuatnya berlari, melompat, dan melakukan semua hal. Photoshop, flash, atau swishmax. Akhwat itu mengajarkan budipekerti kepada anak-anak, remaja, dan manula sekalipun. Keseluruh pelosok Indonesia, atau kebelahan bumi manapun yang tak terisolir dari media elektonik. Menentang budaya yang teragamakan, ia lantang membudayakan agama, Islam. Itulah dia muslim animator, muslim illustrator. Itulah mufi, dalam rahim khayalan mufi, entah kapan mufi ini akan lahir. Khayalan seorang muslim fisikawan?
Atau hanya cita-cita yang akan terwariskan?

Rabbku yang akan menjawabnya.

>> Ini bukan tulisan saya,
saya hanya tiba-tiba membaca kertas penugasan ini saat menjadi SOT di suatu acara.
Dear, honey… jadilah murobbi (^-^)/