Setahun Sudah

Standard

Kadang kita memang butuh jarak dan waktu, butuh jeda untuk tak bersama. Agar ada ruang terbitnya rindu, juga menguatnya doa.

Seperti kita, yang sudah setahun pisah tak saling sapa. Tepatnya aku yang beranjak meninggalkanmu. Karena bosan. Iya, alasan bosan itu bisa sekali menjadi alasan kepergian. Aku bosan denganmu yang begitu-begitu saja. Macam tak tambah mutu. Macam tak beranjak lebih bergairah. Macam tak menghasilkan faedah. Aku bosan lalu pergi. Meninggalkanmu dan tak peduli. Sebab jika alasan sudah dicari, pasti ketemu dan jadi.

Hai kamu. Terimakasih masih di sini. Di sudut yang sama. Menerimaku kembali. Dear, kamu. Blog haniself…Β 

Tralalaaa… bismillah ngeblog lagi yuk, wahai simbok yang sibuk sana sini. Sibuk nguber anak juga nguber setoran. Padahal diri sendiri diuber jadi buronan setoran ODOJ dan talaqqi Quran πŸ˜ͺ

Setahun sudah mendiamkan blog ini. Setahun juga tinggal di rantau nun jauh di timur nusantara. Lantas tak terasa waktu sudah beranjak cepat, tahun baru sudah berjalan, Januari tinggal sehari, Ramadhan sudah mau datang lagi di bulan Mei, anak sulung sudah mau sekolah, tanaman depan rumah sudah pada bertumbuh dan bertambah. Alhamdulillah… πŸ’™

Awal tahun baru orang-orang biasa punya resolusi. Target-target tahunan yang dibikin sebagai acuan mimpi. Tapi aku? Oalah, saya ini orangnya lempeng. Seringnya hidup ngalir aja macam anak sungai. Seringnya kalau nulis-nulis mimpi or resolusi gitu malah kok nggak tercapai-capai ya? Ini apa yang salah? Kurang realistis kah? Atau realistis tapi kurang usaha dan doa?

Seringnya apa yang saya dapatkan justru jauh dari yang saya angan-angankan. Tahun 2017 contohnya. Saya gak nulis resolusi blahblahblah apapun harus begini begitu. Eh, ada sih beberapa target di angan-angan tapi nyatanya juga gak kesampaian (kakehan mikir lan kurang eksyen we ki mbok wkwkwk). Namun alhamdulillah surprise demi surprise berdatangan. Omzet olshop (yang meskipun dijalankan dengan moody πŸ˜‚) tiap bulan selalu ada 7 digit, rumah ngaji yang ramai oleh santri, tulisan-tulisan yang lolos lomba dan jadi buku (padahal gak narget mau jadi penulis), juga hal-hal lain yang tak perlu disebutkan di muka infotainment.

See? Hidup saya gak sesuai angan-angan di awal, tapi gak nyangka juga melebihi ekspektasi. Jadi kadang saya berpikir, gak usah lah bikin-bikin resolusi tahunan yang tertulis. Daripada terkungkung dalam kerangka target-target yang kita buat sendiri, padahal hidup ini luaaasss sekali peluang-peluang kejadiannya. Ajiiib sekali lika liku misteri dan kejutannya. Jadi mending let it go, let it flow aja. Daripada nulis-nulis tapi nanti endingnya nyesek juga, “Huaaa, wishlist ku kok kagak ada yang tercentang ya??? Alias zong gak tercapai???” *Curhat, wkwkwk

Yang dia atas itu adalah pikiran emak males wkwkwk. Baiknya ya kita sempatkan waktu untuk memutabaah dan muhasabah diri. Apa yang sudah kau lakukan, apa yang sudah kau hasilkan. Apa yang kau harapkan dan belum tercapai. Apa yang kau impikan kemudian, lalu apa yang hendak kau lakukan.

Okeh, berbekal bismillah. Bar iki insya Allah aku tak nulis ahhh πŸ˜‰

Advertisements

2 responses »

  1. Jadi sifatnya resolusi itu tak hanya berbanding lurus ama doa dan usaha aja yah ternyata, di situ terselip hak hak orang lain juga, nahlo ngaco…wkwkwk..😁😁

    Gak tau juga deng,hihihi…
    Yang penting yang bae” aja lah, anak mau makan mah udah girang banget dah si emak,wkwkkw πŸ˜‚πŸ˜‚
    Alpa mana Alpa 😝😝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s