Syiar Islam di AAC 2

Standard

camerancollage2016_11_08_085350

Sehari selesai. Gak biasanya saya baca buku secepat ini. Apalagi tebal. Mungkin karena novel ya. Kalau buku berat yang butuh banyak mikir, biasanya saya baca saja judulnya, daftar isinya, dan sinopsis di sampul belakang lalu saya sodorkan buku pada suami. Ngapain? “Tolong Bi, ceritakan. Ini buku isinya gimana.” wkwkwk. Suami yang tipikal tidak banyak bicara tetiba akan cekatan merangkai kata bercerita konten buku. Lalu saya yang auditori sangat terbantu untuk punya gambaran dan termotivasi untuk membaca sendiri.

Lama sekali saya tidak baca novel. Terakhir 3 atau 4 tahun lalu kayaknya, novel Muhammad nya Tasaro GK yang jilid 2.

Saat membaca novel Muhammad tersebut, saya menikmati alur dari awal sampai endingnya yang ternyata sangat menjebak. Haarrrghhh. Ternyata itu si Kashva hanya berhalusinasi. Tasaro sukses mempermainkan emosi dan menyulut ketidakmengertian. Iki jane karepe piye. Dan belum terjawab karena saya belum baca yang jilid 3.

Jaman kuliah, saya punya teman kontrakan namanya Antis. Hidup seatap 4 tahun, dia banyak mengenal tabiat saya. Salah satunya dia hafal kalau kami nonton film, saya suka tanya “Endingnya nanti gimana? Ketemunya dimana? Kok bisa gitu kenapa?” Dan pertanyaan serupa karena saya penasaran atas teka-teki yang disajikan. Lalu Antis dengan gemas pasti berkata “Haniiiisss. Gak usah tanya-tanya. Lihat sendiri sampai selesai.” Wkwkwk. Nah serupa dengan itu, pas baca Ayat-ayat Cinta 2 (AAC 2) ini saya pun tidak sabar dengan misteri Aisha.

Di bagian awal novel AAC 2 ini kita akan temui kondisi bahwa Fahri sendirian. Aisha hilang. Lalu ada satu penggalan cerita Fahri membela seorang pengemis wanita berwajah buruk (rusak) dan bersuara serak. Itu kali kedua Fahri bertemu pengemis itu, lalu memberi sedekah sambil berkata “Itu sedekah saya atas nama istri saya. Doakan dia sehat dan selalu dilindungi Allah.” Si pengemis mengucap terimakasih, mengamini, lalu menangis dan berlari.

Nah. Saya curiga. Jangan-jangan pengemis itu Aisha. Saya tidak sabar membaca runtut. Mana ini novel tebalnya hampir 700 halaman. Jadi saya sudahi membaca halaman itu, lalu melompat ke bagian belakang. Mencari-cari mana Aisha. Ketemu. Dan benar, pengemis buruk rupa itu adalah Aisha. Hiiikkksss.

Kenapa Aisha mengalami hal seburuk itu? Kemana dia selama ini hilang dan apa yang menimpanya? Bagaimana Fahri mengenali Aisha lagi? Apakah mereka bersatu kembali sementara Fahri sudah menikah lagi? Nah, selengkapnya baca saja sendiri. Hehehe

Oke. Selain problem utama bahwa Fahri mencari Aisha, novel ini juga lebih kaya pengetahuan dan problem kekinian Islam dibandingkan romansa kisah cinta Fahri. Kita disuguhi banyak wawasan, sejarah, fiqih Islam, juga kajian tentang beberapa agama. Kecerdasan sang penulis diwakilkan melalui tokoh Fahri yang suka berkisah dan berdiskusi. Wajah indah Islam pun banyak ditampilkan melalui kepribadian Fahri. Intelektualitas, religiusitas, dan akhlaknya yang sangat menawan. Meskipun gambaran kisah Fahri terlalu sempurna dan dibikin so super, ya gakpapa lah boleh setuju boleh tidak. Tapi kita bisa belajar banyak dari caranya bersikap, memilih kata, dan menyelesaikan masalah. Syiar Islam sangat terasa di AAC 2.

Selanjutnya, sepertinya saya penasaran sama Muhammad jilid 3 nya Tasaro GK. Dan kabarnya, ternyata jilid 4 nya juga sudah ada. Saran: sebelum membaca novel siroh, baiknya didahului atau dibarengi membaca siroh dari kitab rujukan yang shahih.

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s