Tag Archives: sahabat

sebuah balasan yang manis

Status

“Jika dahulu kau pernah menjahitkan boneka beruang punya temanmu, insya Allah kelak akan ada temanmu yang menjahitkan guling tweety birumu” (hanisincerely)

Hah? Teori apaan ini?

Haha, biarlah teori spesifik ini hanya berlaku untuk saya, yang jelas malam ini saya tersenyum sambil merenungi sesuatu, Allah itu akan selalu membalas kebaikan kita dengan cara-NYA yang so sweeeeet… mungkin tidak segera atau berselang lama. Hanya saja, tetap terasa manisss ;)

in ahsantum ahsantum lianfusikum, wa in asa’tum falahaa…

#syukron dhek Pur…

Advertisements

— farewell prayer —

Standard

Saat aku bilang aku mendoakanmu, aku serius, aku sering menyebut namamu dalam doaku.

Kadang dalam sendu haru dan air mata, dalam sebuah kalimat yang tak bisa kusampaikan padamu, meskipun aku sangat ingin kau tahu betapa aku tak pernah berharap memahat luka, betapa dulu aku tak pernah tahu akan begini jalan ceritanya…

Selamat jalan… hati-hati, semoga menemukan banyak kebahagiaan dan keberkahan hidup dimanapun engkau berada.

“Astaudi’ullaha diinaka wa amaanataka wa khawaatima ‘amalik”
Aku titipkan kepada Allah pemeliharaan agamamu, amanatmu, dan akhir penutup amalmu. (HR. Abu Dawud)

# nice regards, hanisincerely ;)

The Way I Remember

Standard

Kamis sore…

Aku juga tidak tahu kenapa aku duduk di sini. Seingatku, gapura sumbersari gang 6 ini tidak bertangga, lhah kok, nyatanya aku sedang duduk manis di tangga ini, menghadap jalan dan entah menunggu apa. Di belakangku, seorang ibu paruh baya melakukan hal serupa, duduk di anak tangga atasku. Mungkin menunggu angkot lewat.

Aku masih tidak faham sendiri kenapa aku ada di sini. Sambil menatap jalanan yang sepi, tiba-tiba diantara lalu lalang orang melintas di depanku, ada sesosok cowok berjalan ke arahku. Aku seperti mengenalnya. Cowok Tionghoa berkulit putih (ya iya lah) berkaos basket tanpa lengan, bercelana pendek selutut. Sepertinya habis main basket. Dia melintasiku yang duduk di tepi tangga, berjalan menaiki tangga hendak masuk gang. Aku mengerutkan kening, setengah berpikir dalam heran, sepertinya aku mengenalnya! Sebelum dia benar-benar menjauh dariku, aku menoleh dan bergumam agak nyaring, “Roby Tano…?” setengah ragu apa benar aku menemuinya di sini, di Malang…? Tanpa kuduga, sosok yang berlalu dan sekarang sedang berdiri di belakangku berbalik. “Ya…?” ia membalikkan badan dan menatap ke tengah jalan, mencari suara siapa yang menyebut namanya. Merasa mendapatkan pembenaran bahwa orang yang ada di depanku ini adalah Roby Tano, aku berdiri menghadapnya.

“Robby Tano? Kamu Robby Tano?” intonasiku jelas so surprise. Tapi kok remang-remang tidak kelihatan jelas wajahnya. Oh, ini sudah maghrib mungkin.
“Iya…” wah, kok ekspresinya biasa saja, apa dia lupa padaku?
“Aku… Hanis, teman sekelasmu.”
“Ohh, Hanis…”

Entah, aku juga tidak faham bagaimana ceritanya, sekarang aku sedang duduk bersamanya di tangga. Masih heran kenapa bisa begini. Kami saling bertanya kabar, dan tentu saja serentetan pertanyaan dariku, kenapa dia berada di sini, di Malang? Sama siapa di sini? Ngapain dia berkostum basket lengkap begitu, habis pertandingan kah? Roby Tano merespon dengan nada dan ekspresi yang biasa saja, padahal setauku dia anak yang cheerful, penuh semangat kalau ngobrol, dan full ekspresi.

“Eh, tau tidak apa yang membuatku ingat padamu di saat-saat seperti ini?” aku melanjutkan obrolan yang garing ini.
“Apa?”
“Petasan, hehehe… kalau musim begini kan banyak penjual petasan di jalan-jalan. Aku jadi ingat kamu, hehehe…”
Dia ikut tertawa kecil.

Lalu sampailah aku pada pertanyaan ini,
“Robby, pacarmu siapa sekarang?” aku juga heran kenapa pertanyaan ini yang keluar dari lisanku.
“Mmmm…. tidak ada Nis.”
“Oh, atau Lusi?” ya Tuhan, kenapa aku menyebut nama ini, dia adalah teman sekelasku waktu kelas 1 SMA. Anak Tionghoa, temannya Robby juga. Tapi entahlah tanpa kusadari tiba-tiba nama itu nyeplos saja.
“Bukan.” Dia menggeleng.
“Oh…” manggut-manggut.
“Pacarku, anaknya seorang ustadz Nis. Dia berkerudung, agak gendhut …”
“Hah?? Apa?!!!” kaget banget donk. Masa seorang Roby Tano yang Tionghoa dan Budha, punya pacar anaknya ustadz…??!!! Oh, ini penemuan langka! Perlu kugali lebih lanjut cuplikan cerita ini. Sayangnya sebelum sempat aku dengar penjelasan lebih panjang darinya, tiba-tiba aku jadi sulit mendengar suaranya. Semakin lirih, membuatku semakin mengerutkan kening… hei hei… aku tidak dengar kamu bilang apa. Dan sayangnya lagi, belum sempat aku bertanya lebih banyak, tiba-tiba aku pun sulit berkata-kata.

Nggg………………….zzzzzzzzzzzzzzzzzz………………… ahh, kenapa tiba-tiba sulit melanjutkan obrolan kami?

Tiba-tiba badanku terasa lemas, sepertinya aku menderita sebuah gejala: DEHIDRASI. Lhah! Apa hubungannya dengan cerita di atas?

Mataku perih. Perlahan kubuka mata perlahan. Di sisiku, sesosok makhluk berkostum putih-putih sedang meringkuk menggumamkan kalimat-kalimat yang kukenali. Siapa lagi dia?

Ohhh, ya Allah, itu Irna sedang duduk di sisiku. Tilawah.
Kuraih HP yang tergeletak di lantai. Jam empat! Wahhh, aku belum sholat asar.

Ya Allah, ternyata barusan aku mimpi. Ketemu Roby Tano pula.
Kenapa oh kenapa memimpikan dia? Sedikitpun tidak terlintas pikiran tentang temanku itu, pun juga aku bukan penggemar petasan (lho, apa hubungannya?). Tapi sepintas mimpi barusan cukup membuatku mengingat kenangan teman lamaku itu. Iya ya, saat SMA aku punya teman unik satu ini, Roby Tano. Anak ini sangat lucu, atraktif, jujur, baik hati, suka menolong, dan suka berbagi.

Robby Tano, temanku sekelas selama dua tahun di SMA, jagoan basket, kapten andalan, dan peraih berbagai penghargaan sebagai pebasket.

Robby Tano, temanku yang rada-rada hiperaktif, tidak bisa diam kalau di kelas. Sampai-sampai pikiran usilku tentang dia dulu, aku jadi ingat Sun Go Kong kalau melihatnya, hehehe, selain karena dia seorang penganut Budha, juga karena dia selalu bertingkah terus di dalam dan luar kelas.

Robby Tano, anak ini sangat friendly, kooperatif, dan selalu ceria. Pernah saat aku berjalan menuju kantin di samping kelas kami, XII IPA 4, dia tiba-tiba berjalan menjajariku.
“Hei Hanis ni katanya kalau jalan cepet banget ya? Ayo coba balapan sama aku, cepetan siapa?”
“Ayo.”
Hahaha, pastilah bisa ditebak, dia yang menang. Selain karena dia cowok, pebasket, dia juga berkaki panjang, hehe.

Pernah juga saat tanggal 14 Februari, yang baginya hari Valentine, dia bagi-bagi coklat ke anak sekelas. Ya ampyunnn, care banget si loe…

Nahhh, aku tak pernah lupa cerita yang ini. Dulu, jaman sinetron “Doa Membawa Berkah” kalau gak salah, soundtrack-nya kan lagunya Raihan tuh yang judulnya “Puji-pujian”. Eh, lucunya si Roby ini, mungkin dia ikut nonton sinetron Ramadhan itu kali ya… dia sering banget nirukan lagunya di kelas, pas pada lirik ini:
“Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah…”

Diulang-ulang terus, nyaring dan PD pula nyanyinya. Nah, aku kan senyum-senyum sendiri merhatiin dia ya, lalu pernah aku bilang ke dia, “Roby, kamu kok nyanyi gitu…?”
“Lha kenapa Nis? Salah ya? Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rosulullah…” dia kembali menyanyikan lirik itu, dengan nada yang difasih-fasihkan, “gimana, sudah bener?” lhah, ketawa lah aku, mungkin dia mengira maksudku nada atau kalimatnya kurang benar.
“Bukan begitu maksudku. Itu kalimat syahadat namanya, kalimat yang dibaca orang untuk masuk Islam. Nah kalo kamu baca itu, nanti kamu masuk Islam lho… hehehehe.”
Dia nyengir saja sambil ber-oh…oh… lantas ngeloyor sambil nyanyi lagi. Ya weslah, sak senengmu…

Nahh, cerita gokil lainnya adalah saat pelajaran Bahasa Indonesia apa ya, kami mendapat tugas apa ya, lupa deh. Bikin apa gitu. Nah, giliran dia yang dipanggil maju sama Bu Guru, dia ditanyai beberapa hal dan tidak bisa menjawab. Lantas Bu Guru bertanya, “Kamu ini buat sendiri apa mencontoh?” kamu tau apa yang dia katakan? Dengan jujurnya dia menjawab, “Mencontoh, Bu.” Innocent betul tampangnya, bahkan saat Bu Guru bilang dia harus mengerjakan lagi, dia terima saja sambil senyum-senyum. Tapi uniknya, tak seperti yang kami sangka, ternyata Bu Guru kami tidak marah, malah senyum-senyum juga. Kami yang menyaksikan peristiwa itu tentu saja tertawa-tawa, sambil saling lirik ke teman-teman yang lain, karena beberapa di antara kami juga ada yang melakukan hal serupa (mencontoh) tapi ya tidak mau ambil resiko dengan mengaku seperti si Roby ini. Anyway, salut lah pada kejujuran anak ini!

Begitulah dia. Setidaknya mimpi aneh yang kualami tadi membawa ingatanku padanya. Mungkin Allah sedang ingin aku mengingatnya, nyambung silaturahim tah mendoakannya gitu. Maka malam harinya, aku SMS salah seorang “teman jadul”-ku, hihihi.
Aku : Ter, minta nomornya Roby Tano punya?
Tertian : ndak punya, banyak nomor yang ilang. Coba tanya Desy mungkin punya.
Aku : owh, minta nomornya Desy kalau gitu.
Tertian : no Hpnya Desy coba tanya Mbolo. Nah, nomornya Mbolo coba tanya Nuke. Nah, ini nomornya Nuke 08155644xxxx … blablabla

Gubrak! Ya Allah… Tertiaaaaannnn! Kok mbulet begitu. Oalah…

Ya sudahlah, dimanapun kau berada, semoga Tuhan menjagamu, Roby Tano :)

Ini Ceritaku, tentang Dia

Standard

Jum’at malam, 8 Juli 2011, Mbak Rike mantan mbak kosku, ngirim SMS mengejutkan. Kabar tentang meninggalnya temanku UNS yang juga teman sekelasku dulu saat MTS kelas 1. Ah, masa iya, pikirku. Bukannya aku meragukan kejujuran penyampai berita (suami Mbak Rike anak UNS), tapi khawatirnya kalau salah tangkap. Kelamaan nunggu balasan SMS, segera kutelepon Mbak Rike, memastikan beritanya valid sehingga bisa kukabarkan pada teman-teman MTSku. Ah, ya…baiklah, kuterima berita itu. Tapi masih saja antara percaya dan tidak, aku ingat-ingat lagi nama temanku, apa benar namanya Dian Tri Cahyono yaaa…? Ah, iya. Itu nama dia. Tapi masih saja aku gamang untuk menyebar berita di inbox-ku, aku SMS teman-teman MTs-ku dengan kalimat klarifikasi setengah bertanya. Dalam pikiranku, gak lucu banget aku salah jarkom hal begini. Ah, ternyata ya, benar berita itu.

Innalillahi wainna ilaihi rooji’un…

Besoknya, aku takziyah ke rumahnya bersama teman-teman MTs.

Di ruang tamu itu, kami banyak diam, tak tega banyak bertanya, sedangkan di sebelahku, sang ibu bermata sayu berwajah sendu tampak matanya masih berkaca-kaca…air mukanya tampak lelah.

Selanjutnya kami lebih banyak mendengarkan Bapak Dian bercerita tentangnya.

Lha yo, Dian itu tidak tampak seperti orang sakit, badannya dari luar tetap seperti biasa, sehat, kekar. Pulang-pulang habis ujian, sakit empat hari…

Kutanya bagaimana kronologinya Dian sakit…

Dian itu baru ujian tanggal 2 Juli kemarin mbak, bilang sama bapak ibuk sudah lulus, wisudanya tanggal 8 September nanti. (Ya Robb…tanggal itu…) Lalu pulang Sabtu kemarin, kok merasa sakit, langsung saya bawa ke rumah sakit, opname. Kata Dokter ahli paru-paru, ada semacam gumpalan diantara paru-paru dan jantungnya, menyumbat kerja jantung dan pernafasannya. Sama dokter lalu disedot dengan suntikan panjang, tapi tidak ada cairan keluar. Diperkirakan berarti itu bukan cairan, tapi benjolan daging.

Dian itu anak yang rajin ibadahnya, sholatnya bagus…rajin mengaji… Di rumah sakit, dia minta dibawakan al-qur’an, dia ngaji terus…dia ngajiiii terus sampai malam.

 *sampai di sini melelehlah air mataku :’( terbayang di benakku dia merasakan sakitnya saat itu.

Dian itu anak yang sopan, sangat santun dan taat pada orang tua. Dulu Bapak bercita-cita biar dia jadi ahli agama, masa semua kakak-kakaknya di sekolah umum semua. Makanya sama bapak ibuk, Dian disekolahkan di MI, lalu MTs, MAN. Waktu Dian bertanya mau jadi apa nanti Pak? bapak bilang sambil bercanda: “Ya, siapa tau nanti kamu jadi menteri agama, Le…” (menyipit kelopak mata bapak itu, tertawa mengenang dialog dengan anaknya)

Setelah lulus, Dian matur sama bapak “Pak, untuk sekali ini saja, saya ndak usah didikte sama bapak ibuk ya, saya pengen kuliah di umum…” Ya sebenarnya, bapak maunya dia neruskan di IAIN, tapi ya sudah nuruti kemauan anak.

Tadi malam teman-temannya juga buanyak pada datang, dari UNS, Solo. Sampai jam 12 malah belum pada pulang, cerita-cerita banyak di sini. Kata temannya, dapat salam juga dari Pak Dekannya, yang biasanya ngaji sama dia. (Oh Allah, lihatlah dia begitu dicintai…menahan air mata biar gak jatuh, kok ya susah!)

Saat kutanya pada ibunya, apa sebelumnya tidak ada tanda-tanda atau keluhan dia sakit? Kata beliau: Dian cuma sering bilang sakit di sini (sambil mengelus bagian punggung sebelah kiri beliau), terus diterapi sama kakaknya, ya baikan. Ya mungkin kerasa dia sakit, tapi tidak dirasakan…tidak bilang.

Waktu sakit Dian bilang tidak mau merepotkan bapak ibuk. Saya bilang “Yo jangan gitu Le…” (aku lupa kelanjutannya Bapaknya bilang apa…)

Ya itu…cepet sekali…Cuma 4 hari dia sakit… (ibunya menangis)

Yah, ibunya ini yang bolak balik jatuh (pingsan), bapaknya yang lebih tegar, tapi kalau ada orang nangis ya ikut nangis lagi. Yah, cepet sekali, ndak menyangka sama sekali…dipanggil sama Gusti Allah. Hari sebelumnya mbaknya tanya “Pak, dhek Dian lahirnya kapan?” saya jawab: “….” (Agak tidak dengar tanggal yang disebutkan Bapaknya) Kata Mbaknya: “Pak, Rosulullah itu hari lahir dan meninggalnya sama lho Pak…” Eh, ternyata benar, Dian meninggal hari Jum’at…yah, semoga hari yang baik, dia husnul khotimah. (Bapaknya terbata hampir menangis…)

Itu, potonya Dian waktu di mantenan mbaknya (aku mendongak ke tembok di sebelah kiri belakangku, Dian didandani ala pagar bagus bergaya gagah difoto sendirian). Sebenarnya dia malu, gak mau dipajang begitu.

Dian Tri Cahyono…

Dua tahun yang lalu seingatku, setelah lama tidak bertemu dan hampir lupa (jahat ya!) aku bertemu lagi dengan Dian, via FB…sambil mengingat-ingat Dian tu yang mana yaaa. Bersyukur punya FB, salah satunya membuatku bersuka hati mendapati teman-temanku yang lama tidak bertemu. Dian salah satunya. Whuaaah, subhanallah, rasanya penuh syukur aku mendapati perubahan baik mereka. Sempat beberapa kali saat-saat itu aku SMSan dengan Dian, ya sekedar menyambung silaturahim, tanya kabar blablabla… Selanjutnya lost kontak, sampai kami bertemu di nikahannya Tanti, Juli 2010. Ya itulah saat terakhir aku melihat Dian, bersama Sofa dan Ichsan. Meskipun kami berkumpul, aku cuek saja sama anak-anak cowok, tidak banyak bicara juga pada mereka, pun pada Dian. Cuma kami sempat berfoto bersama teman-teman MTs.

Sebenarnya aku bukan termasuk teman dekatnya waktu MTs, aku bahkan sempat lupa kalau dia ketua kelasku saat kelas satu. Tapi sejak menemui dia di FB, ada perasaan lebih dekat dengannya, mungkin karena kami sama-sama ADK tarbiyah. Aku tanya mbak Rike kemarin, katanya dia Ketum SKI Fakultas, dia jundi dakwah yang taat, kata suaminya.

Ohhh…ternyata kehilangan teman baik itu menyayat hati rasanya.

Dian, semoga nanti kita bertemu dan berteman lagi di surga-NYA. Semoga masuk kelas unggulan seperti saat kita MTs dulu ya… amiin.

*dengan penuh kebanggaan…

Allaahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu ‘anhuu…

Cermin-cerminku

Standard
Seorang gadis menyusuri jalan, sendirian.
Sepanjang ia berjalan, ada saja orang yang menertawainya, memandangnya aneh, atau berbisik-bisik ketika melihatnya.
Gadis itu tak tau kenapa orang-orang seperti itu.
Dia tidak bertanya, dan orang-orang itupun tidak memberitahunya kenapa…???
Hingga sampailah ia di rumahnya yg ia tuju.
Saat dia menemukan cermin, dia mengaca.
Owh, kagetnya dia, ternyata ada noda hitam seperti angus di pipinya.
Pantaslah orang-orang di jalan tadi menertawainya. Malunya…
Berkat cermin tadi dia tau ada noda di pipinya, akhirnya dia bisa membersihkannya sehingga bersih wajahnya.
Aah… untung ada cermin.
Ia jadi tau ada noda yang harus ia bersihkan, ia jadi tahu apa yang harus ia benahi dari dirinya.
Seperti itulah teman, ia layaknya cermin yang bisa menunjukkan seperti apa kita, ia yang memberitahukan apa yang perlu kita benahi…
Sangat tidak logis ketika gadis itu menemukan cermin itu, tapi justru membuatnya marah-marah dan memaki cermin. Haha, lucu.Bersyukurlah menemukan ‘cermin-cermin’ itu.
Sungguh engkau beruntung menemukannya.

Oh ya, kalau kau cermin, jadilah cermin datar, yang menunjukkan benar-benar seperti apa obyek di depannya. Jangan jadi cermin cekung yang kurang asertif, atau cermin cembung yang lebay.
Hayhayhay… ^0^’ —just joke, buddy—

I Love friendship, like with you.