Monthly Archives: January 2018

Lupa Mengaca?

Standard

Dear, kamu. Oh sungguh sindiranmu itu mengenai sudut hati yang baper. Mengena pada orang yang kamu tuju. Tapi juga mengena pada dirimu sendiri. Sebenarnya sih gitu, kalau kamu nyadar.

Udah lah. Hidupmu hidupmu. Hidupnya hidupnya. Kamu mau tebar pesona senusantara, melevelkan diri ala-ala tokoh ternama, silakan weh. Trus kamu nyindir komenin orang lain, padahal kamu juga gak jauh beda. Di depan kamera ala-ala. Rekaman siaran ala-ala.

Stoplah merendah untuk meroket. Stoplah menjatuhkan untuk melambung. Pamormu di depan banyak orang so super. Cuma kadang kita gak nyadar aja ada orang-orang yang ilfil sama kita. Kita, iya kita. Sebab segala kalimat ini sebelum kutujukan kepadamu, pantasnya memang kutujukan kepada diriku sendiri. #KacaManaKaca

Satu lagi: stoplah kepo. Sudah mau nikah, eh sudah nikah pula, masa masih kepo ‘grup sebelah’? Kalau berujar sudah move on dan menilai tak pantas, kenapa masih kepo?

Oh mungkin karena baiknya kamu memastikan dia bahagia tanpamu. Begitu? Oh atau kamu pengen tau jangan-jangan dia nyindir-nyindir kamu?

Hello fellas. Pikiran macam itu tak akan ada ujungnya kalau dituruti. Dan akhirnyanya kepo lagi n kepo lagi. Dan apakah menjadi tenteram hatimu dengan kepo macam itu? Ora. Tenan, ora.

Jadi kalau benar move on, unfren saja, blokir saja. Atau bersumpah tak akan tengok lagi akun dia. Toh kamu sudah punya pasangan sendiri yang warbiasah lahir batin mulia membahana. Biarlah itu jadi bagian indah hidupmu dan cukupkan. Gak sah kepo tengok-tengok si itu masa lalumu yaaang… kamu nilai mengecewakan wkwkwk.

Hei you, fella. You are great, yes everybody knows. I tell u that, move on sesungguhnya adalah ketika kita stop kepo ‘grup sebelah’ dan menikmati setiap jengkal hidup sendiri. Menulis atau memposting apapun tanpa embel-embel niat “sambil nyindir si itu ahhh”. Ngono kuwi move on ki. Pokoke rasah mbok dilok lan rasah mbok lebokne pikiran lan ati segala apik eleke wong kae. Wes ngono.

Silakan baper karena segala kalimat ini berlaku untuk siapa saja (oh yes termasuk saya). Dah, ndower nih bibir ngecibris. #GincuManaGincu

Setahun Sudah

Standard

Kadang kita memang butuh jarak dan waktu, butuh jeda untuk tak bersama. Agar ada ruang terbitnya rindu, juga menguatnya doa.

Seperti kita, yang sudah setahun pisah tak saling sapa. Tepatnya aku yang beranjak meninggalkanmu. Karena bosan. Iya, alasan bosan itu bisa sekali menjadi alasan kepergian. Aku bosan denganmu yang begitu-begitu saja. Macam tak tambah mutu. Macam tak beranjak lebih bergairah. Macam tak menghasilkan faedah. Aku bosan lalu pergi. Meninggalkanmu dan tak peduli. Sebab jika alasan sudah dicari, pasti ketemu dan jadi.

Hai kamu. Terimakasih masih di sini. Di sudut yang sama. Menerimaku kembali. Dear, kamu. Blog haniself… 

Tralalaaa… bismillah ngeblog lagi yuk, wahai simbok yang sibuk sana sini. Sibuk nguber anak juga nguber setoran. Padahal diri sendiri diuber jadi buronan setoran ODOJ dan talaqqi Quran 😪

Setahun sudah mendiamkan blog ini. Setahun juga tinggal di rantau nun jauh di timur nusantara. Lantas tak terasa waktu sudah beranjak cepat, tahun baru sudah berjalan, Januari tinggal sehari, Ramadhan sudah mau datang lagi di bulan Mei, anak sulung sudah mau sekolah, tanaman depan rumah sudah pada bertumbuh dan bertambah. Alhamdulillah… 💙

Awal tahun baru orang-orang biasa punya resolusi. Target-target tahunan yang dibikin sebagai acuan mimpi. Tapi aku? Oalah, saya ini orangnya lempeng. Seringnya hidup ngalir aja macam anak sungai. Seringnya kalau nulis-nulis mimpi or resolusi gitu malah kok nggak tercapai-capai ya? Ini apa yang salah? Kurang realistis kah? Atau realistis tapi kurang usaha dan doa?

Seringnya apa yang saya dapatkan justru jauh dari yang saya angan-angankan. Tahun 2017 contohnya. Saya gak nulis resolusi blahblahblah apapun harus begini begitu. Eh, ada sih beberapa target di angan-angan tapi nyatanya juga gak kesampaian (kakehan mikir lan kurang eksyen we ki mbok wkwkwk). Namun alhamdulillah surprise demi surprise berdatangan. Omzet olshop (yang meskipun dijalankan dengan moody 😂) tiap bulan selalu ada 7 digit, rumah ngaji yang ramai oleh santri, tulisan-tulisan yang lolos lomba dan jadi buku (padahal gak narget mau jadi penulis), juga hal-hal lain yang tak perlu disebutkan di muka infotainment.

See? Hidup saya gak sesuai angan-angan di awal, tapi gak nyangka juga melebihi ekspektasi. Jadi kadang saya berpikir, gak usah lah bikin-bikin resolusi tahunan yang tertulis. Daripada terkungkung dalam kerangka target-target yang kita buat sendiri, padahal hidup ini luaaasss sekali peluang-peluang kejadiannya. Ajiiib sekali lika liku misteri dan kejutannya. Jadi mending let it go, let it flow aja. Daripada nulis-nulis tapi nanti endingnya nyesek juga, “Huaaa, wishlist ku kok kagak ada yang tercentang ya??? Alias zong gak tercapai???” *Curhat, wkwkwk

Yang dia atas itu adalah pikiran emak males wkwkwk. Baiknya ya kita sempatkan waktu untuk memutabaah dan muhasabah diri. Apa yang sudah kau lakukan, apa yang sudah kau hasilkan. Apa yang kau harapkan dan belum tercapai. Apa yang kau impikan kemudian, lalu apa yang hendak kau lakukan.

Okeh, berbekal bismillah. Bar iki insya Allah aku tak nulis ahhh 😉