Daily Archives: October 18, 2016

Writing is Healing

Standard

Buka diary jaman kuliah, mulai tertanggal tahun 2009 sampai 2011. Oyeah. Banyak yang sudah tidak dibutuhkan. Just press: shift del. Tapi beberapa masih kusimpan. Berharga untuk dibaca lagi sebagai pemahaman diri, pengalaman yang membelajarkan. Dari sekian puluh file, hanya tersisa 8 file.

Itu diary berpassword yang kutulis di Kautsar, laptopku. Semacam diary kejujuran. Selftalk. U know, sometimes selftalk can be self healing. Aku punya ruang dimana aku bisa bicara dengan diriku sendiri. Dan itu dalam bentuk tulisan. Bukan ngomong di depan cermin. Kenapa? Karena saat menulis, kita bisa sambil mengenali pola pikir dan kejiwaan kita. Sambil menata huruf sambil mengurai rasa. Lebih baik lagi kalau lewat tulisan tangan sebenarnya. Jejak emosinya lebih kelihatan. Etapi di jaman kekinian, saya malas tulis tangan.

Aku temukan ternyata jaman-jaman itu aku sering menganalisa diri sendiri, menggunakan pendekatan konseling yang kudapat dari materi kuliah yang kala itu memang cukup membantu. Sehingga isinya diary itu juga banyak istilah-istilah konseling. Gitu amat ya kalau diary konselor. Haha. Jadi ketawa sendiri pas baca ulang. Sekarang, beberapa aku sudah lupa itu istilah-istilah artinya apa.

Aku menulis untuk menganalisa diri dengan jujur, mengenali dan menilai emosiku sendiri (self understanding). Entah yang positif atau negatif, aku renungkan kenapa aku begini. Setelah ketemu the reason beyond, aku berusaha mengakui dan menerima diriku (self acceptance). Bahwa aku punya kelemahan dan kesalahan, aku tak hanya punya sisi baik tapi juga buruk. Setelah itu aku tulis apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki yang kurang (self actualization).

Beberapa tulisan yang paling berkesan adalah pengalaman konseling dengan siswa, amanah dakwah kampus, sampai rasa nervous-nya saat dilamar (dan sudah kuhapus semua hihi). Salah satu tulisan yang tidak kuhapus adalah cerita tentang Bu Farida, konselor sekolah yang jadi pembimbing PPL. Ibu konselor sepuh berwajah Arab itu, kerasa gitu jiwa terapeutiknya. Kutulis ada satu momen dimana kami pernah berbincang dan aku terkesan sekali saat beliau menilaiku (banyak minus kala itu, haha), mengajakku memahami tentang eksporasi diri dan kepekaan pada orang lain.

Itu dulu. Nulis-nulis sendiri, dibaca sendiri, diresapi sendiri. Sekarang nggak lagi. Apa-apa sharing dan galaunya ke suami. The best and the worst side of me, he knows well.

Kuliah di jurusan BK itu banyak materi dan tugas yang bermanfaat untuk pemahaman dan penerimaan diri. Dan itu menyenangkan. Bermula dari hobi senang menulis, lalu baca-baca referensi tentang terapi menulis, jadi nemu ide menarik kala itu: “Aha. Lucu juga ini dipake tema skripsi.” Dan jadilah tema terapi menulis sebagai katarsis kecemasan.

Kemarin, nemu blognya seorang mbak penulis yang berkisah tentang dirinya kala terkena sindrom PPD (Post Partum Depression). Dia berusaha ‘menyembuhkan’ diri sendiri salah satunya dengan menulis. And it works. Menulis memberi porsi besar sebagai katarsis depresi. Saya cuplik sekalimat dari blog nya: “Saya sangat butuh teman yang mau menemani tanpa banyak menghakimi, dan teman paling pas adalah tulisan-tulisan saya sendiri.” ( http://renapuspa.blogspot.co.id/2016/10/perbaiki-dirimu-maka-allah-akan_36.html?m=1). See, menemu lagi bukti bahwa menulis adalah katarsis emosi. Menulis adalah terapi. Menulis itu menyehatkan.

Yes true. Writing for self healing. Ada kalanya kita perlu bercerita untuk meringankan beban, untuk sekedar didengarkan tanpa penilaian apalagi penghakiman. Tapi ada saat dimana kita susah bercerita saat kita merasa itu aib yang tak pantas dibuka. Maka selain berdoa dan curhat pada Allah, menulis adalah solusinya.

Cuplikan beberapa paragraf yang dulu jadi latar belakang skripsi:

“…” skip dulu tapi.. perlu online via PC mwihihi

♡♡♡

“Saat teman bukan pilihan untuk bercerita, membagi rasa. Saat sedih dan bahagia tak mampu terungkapkan lisan. Mungkin butuh pena untuk menggoreskan kata. Butuh kertas untuk menyimpan rasa. Agar suatu saat dapat kembali terlihat, bagaimana dulu kau memaknai warna kehidupan yang Allah gariskan.” (hanisincerely)

Advertisements

Cita-citakan, Barangkali Suatu Saat Kesampaian

Standard

Dua tahun lalu, saat kami mengajar di sebuah SMPIT di Jogja, kami dapat wawasan baru. Lalu mencita-citakan 2 hal:
Qoryah Thoyyibah untuk si kakak. Kuttab Al Fatih untuk si adik. Jika baik, jika rezeki, insyaAllah didekatkan. Entah bagaimana caranya.

Kemarin malam nonton dan baca-baca lagi tentang Qoryah Thoyyibah (QT), sekolah alternatif di Salatiga. Kalau ingat QT ini, jadi ingat film India “3 Idiot” terutama pada si tokoh Rancho dan sekolah yang didirikannya. Komunitas belajar dengan khasnya: independent learning. Kebebasan dan kemandirian belajar.

Kalau Kuttab Alfatih, salah satu pendirinya adalah tokoh yang kami kagumi: Ustadz Muhaimin Iqbal. Keren ini madrasah. Alternatif pendidikan dengan pola tarbiyah zaman Rasulullah. Pengen banget ada anak kami yang sekolah disitu. Dulu kami pernah juga coba apply sebagai pengajar, tapi akhirnya tidak bisa lanjut proses karena sikon tidak mendukung.

Mupengnya tuh begitu. Padahal sebentar lagi kami akan hijrah ke Papua Barat. hihi. Gakpapalah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Banyak kan kejadian atau pencapaian yang kadang mulanya hanya selintasan pikiran alias mupeng. Maka semoga, lintasan pikiran kita yang baik-baik ya ^^