Menulis Itu ‘Memperpanjang Umur’

Standard

♡♡♡

Tau Ahmad Fuadi? Iya, penulis novel “Negeri 5 Menara”. Duluuu jaman mahasiswa, saya pernah ikut acara beliau dan mendapat beberapa hikmah.

Berikut beberapa yang sempat direkam dalam tulisan dan ingatan:
1. “Menulislah. Karena menulis itu memperpanjang umur.” begitu kata ustadz-nya Ahmad Fuadi saat di Gontor. Dan kalimat itulah yang memunculkan motivasi luar biasa bagi beliau untuk menulis. Manusia pasti mati dan dikubur, tapi tidak akan dikubur buku-buku karyanya. Jika dengan tulisannya dia meninggalkan ilmu dan manfaatnya dirasakan oleh banyak orang, maka insya Allah akan menjadi amal jariyah yang pahalanya tetap mengalir meskipun si penulisnya telah tiada. Maka saya jadi ingat kata-kata Salim A. Fillah bahwa tujuan utama beliau menulis adalah satu saja: BEST SELLER! Tampaknya bernada profit banget ya? Tapi sungguh pun jika kita maknai lebih dalam, benar lah. Bahwa dengan best seller-nya tulisan-tulisan beliau, maka manfaat kebaikan itu semakin meluas dan menjadi amal jariyah ketika bisa menjadi petunjuk bagi banyak orang yang membaca. Kira-kira begitulah yang saya ingat. Serupa dengan kalimat ustadz-nya Ahmad Fuadi, Asma Nadia pernah berujar kalimat yang sama tentang salah satu alasan mengapa perlu menulis banyak hal tentang banyak episode kehidupannya. Agar kelak jika mungkin tidak bisa lama umurnya membersamai anak-anaknya, mereka tetap bisa belajar banyak hal dari ibundanya, yakni dari tulisannya.

2. Tulisan yang baik itu, adalah tulisan yang membawa kebaikan dan menolak keburukan. Ini bahasa Al Qur’an yang sudah sangat terkenal: amar ma’ruf nahi munkar. Ketika kemunkaran banyak dipublikasikan lewat tulisan, maka kebaikan pun harus gegap gempita diserukan lewat tulisan. Btw, saya salut kepada para penyeru kebaikan yang berdiri di garda sastra. Helvi Tiana Rosa salah satunya.

3. Tulisan yang baik itu, yang ditulis dengan hati. Tulisan itu tersampai dari suara sanubari hati paling dalam, kemudian diterjemahkan oleh otak dengan merangkai kata hingga menggerakkan syaraf motorik jemari kita untuk menata huruf demi huruf menjadi tulisan yang mempunyai ruh. Jika dalam tulisan itu terdiri dari huruf, kata, tanda baca, spasi, dan lain-lainnya, maka ruh tulisan itu ada diantara itu semua. Ruh itu, tak tampak tapi terasa. InsyaAllah sampai pula pada hati pembaca. Yang begini ini tipikal tulisan penuh hikmah nan membawa berkah hidayah.

Menulislah. Karena menulis itu ‘memperpanjang umur’. Umurnya siapa? Umurnya kebaikan. Jika yang ditulis adalah hal-hal baik. Gitu.

♡♡♡

Ini catatan lawas dari blog HaniSelf yang di-make over.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s