Monthly Archives: October 2016

Anak Lelaki Tanpa Ayah

Standard

ilustrasi-ayah-dan-anak

Umurnya baru 7 bulan, saat bapaknya membawa pergi kakak perempuannya yang berusia 4 tahun. Kemana? Menempuh hidup baru dengan sosok lain. Jodohnya sang ibu dan bapak mungkin hanya sampai disitu.

Ia tumbuh besar bersama ibunya tanpa mengenal sosok ayah. Dibantu pengasuhannya oleh bibi dan pamannya yang tidak punya anak. Mereka tinggal bersama-sama. Pertama dan terakhir kalinya ia bertemu sang bapak, saat umurnya 14 tahun. Bapaknya pulang ke kampung halaman dan ia temui sejenak. Ternyata bapaknya adalah sosok yang gagah dan tampan. Ya, hanya sekali itu. Setelahnya sang bapak pergi lagi. Jauuuh berbatas lautan, tak diketahui rimbanya. Hingga benar-benar mereka terpisah oleh ajal sang bapak.

Anak lelaki itu sebenarnya cerdas, hanya saja ia tak diberi kesempatan. Setelah lulus SD ia lolos tes masuk sekolah lanjutan (PGA jaman itu ). Girang ia pulang ke rumah. Namun di rumah ia dihadang sang paman dengan ancaman: jika mau lanjut sekolah, ia akan celaka. Rupanya sang paman tidak mau terbebani dalam pembiayaan. Anak itu ketakutan lalu menurut. Tak pernah lagi melanjutkan jenjang pendidikan. Ia terima hanya menjadi lulusan SD, menghabiskan waktu membantu pekerjaan orang tua sehari-hari, mengajar mengaji, dan di usia muda mencari penghasilan agar mandiri.

Saat kanak-kanak, ibunya sering menggendongnya ke masjid. Meski gelap hanya diterangi nyala api, ia suka pergi ke masjid untuk sholat jamaah dan mengaji. Meskipun ibunya bukan orang yang taat beragama, tapi beliau punya jejak amal yang di kemudian hari menghantarkan anaknya menjadi lelaki religius yang cinta masjid. Juga menemui jodohnya, karena jatuh cinta di masjid. Di situlah rahasia Ilahi disimpan. Kelak ketika sang anak dewasa, melalui dirinya sang ibu mendapatkan hidayah untuk menunaikan kewajiban agama dan meninggalkan kesyirikan. Dan meskipun sang bapak tidak pernah mengurusnya, ia tetap menjadi anak sholih yang rajin mengirim doa. Sampai-sampai suatu hari ia bermimpi, bapak mendatangi dan duduk di pangkuannya sambil berkata “Aku sudah di tempat yang baik, Nak. Terimakasih.” Wallahua’lam.

Anak lelaki yang dibesarkan dalam kondisi broken home, miskin, keras, dan berpendidikan rendah. Tapi ia tumbuh dengan percaya diri, periang, taat, tegas, pemberani, dan murah hati.

Anak lelaki itu, kini telah menua bersama kisahnya. Sekarang ia adalah tokoh masyarakat, imam mushola, seorang bapak dari 4 anak, petani yang menanam padi. Dan ketika ia bercerita kembali tentang kisah hidupnya, tampak guratan syukur dari mimik dan ucapnya. Seperti apapun orang-orang di masa lalunya, ia berterimakasih.

Ya benar. Karena setiap tempaan yang tidak membunuh nyawa, sebenarnya justru mengokohkan jiwa.

“Everything that doesnt kill you, makes you stronger.”

♡♡♡

*writing is to adore
*barokallohu fiik Bapak

Advertisements

SELERA

Standard

Dapat kiriman gambar dari adik yang bertuliskan kalimat “Khadijah tidak tau kalau jodohnya adalah Muhammad. Yang ia tahu, Muhammad adalah jodoh yang diidamkannya.”

Inti kalimat di bait ini adalah: cobalah melamar/menawarkan, barangkali jodoh. Siapa tau idamanmu adalah jodohmu. Kalau ternyata bukan? Tengoklah kisah Salman. Saat ditolak, ia berseru takbir dan justru sahabatnya dipersilakan. ”Allahu Akbar! Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” Masih adakah persahabatan macam ini sekarang?

♡♡♡

Mencuplik lagi sedikit tentang kisah cinta Salman, Abu Darda’, dan wanita Anshar. Jadi terpikir, kenapa wanita Anshar itu lebih memilih Abu Darda’ ya daripada Salman. Padahal Salman adalah sahabat Nabi yang sholih juga, salah satu keunggulannya dialah pencetus ide parit pada perang Khandak. Keren dan beken. Tapi toh yang dipilih adalah Abu Darda’, bukan Salman. Barangkali hikmahnya: wanita juga punya selera.

Jadi jangan baper melulu misal si dia menolak kamu. Apalagi dengan kalimat “Padahal lho aku ya sholih, aktivis, banyak hafalan, tampan juga mapan.” Si gadis yang menolak baper juga kala dibilang pilih-pilih, padahal yang datang sudah sholih-sholih. Padahal yang namanya ‘gak sreg’ itu sinyal hati. Kadang susah dicarikan definisi.

Barangkali si gadis lebih menyukai tipe lain yang karakternya lebih smooth daripada yang crunchy, yang pendiam daripada yang lantang, yang tawadhu meskipun belum banyak hafalan. Sama dengan laki-laki, masalah selera barangkali.

Bapak-bapak pun kalau cari mantu juga punya selera. Semacam Rosulullah, yang bahkan menolak pinangan sahabat sekaliber Abu Bakar dan Umar, karena ternyata pinangan Ali lah yang beliau kehendaki. Sampai-sampai mahar pun difasilitasi. Ali untuk Fatimah, memang keduanya istimewa. Masalah selera, barangkali.

Poin yang lebih penting kenapa gak usah terlalu baper adalah: dia bukan takdirmu. Maka jalannya begitu. Udah gitu aja.

Karena setiap kita punya selera. Selera itu perkara rasa. Dan rasa itu tergantung darimana asalnya.

♡♡♡

Selamat malam minggu. Semoga yang masih sendiri segera menemukan ‘takdirnya’.

Impor Tulisan

Standard

Pengen mindahin tulisan-tulisan dari FB ke blog. Karena lebih cantik nyimpan di wordpress, lebih mudah juga kalau mau nyari.

Namun berhubung simbok Hayati belum bisa online via PC, jadi sesempatnya lah. Soalnya ngeblog lewat HP ini jadi gak bisa input gambar. I dunno y.

-,-

Happiness is not only on weekend. But anyway, happy weekeeend!

Islamnya Si Penombak Jitu

Standard

Hitam legam dan tinggi besar perawakannya. Budak belian asal Ethiopia. Majikannya adalah wanita bengis bernama Hindun, istri dari Abu Syufyan, lelaki yang banyak menghabiskan tenaga untuk memusuhi nabi.

Wahsyi, nama budak hitam tersebut. Sejarah mencatat pembunuhan kejam yang dilakukannya bersama Hindun, ketika tombaknya berhasil membunuh Hamzah, paman kesayangan Rasulullah. Kemudian Hindun merobek dada Hamzah dan mengunyah hatinya mentah-mentah.

Menemui kematian sadis pamannya, Rasulullah dilanda kesedihan teramat dalam. Hingga kemudian hari ketika Wahsyi hendak bersyahadat di hadapan nabi, ia berpikir “Muhammad pasti membunuhku.” Atas dosanya masa lalu membunuh sang paman dengan sangat kejam.

Namun tidak. Setelah Wahsyi bersyahadat dan muncul di hadapan sang Rasul, beliau hanya berkata “Aku maafkan engkau. Dan jangan sampai aku melihatmu lagi.” Betapa girang hati Wahsyi, Muhammad sama sekali tak dendam padanya. Hanya saja kematian sadis pamannya tak bisa dilupakan. Wahsyi pun berjanji sampai habis nafasnya tak akan menampakkan diri di depan nabi.

Taubatnya Wahsyi, seolah ia ingin mentaubatkan tombaknya juga. Dalam jihad melawan nabi palsu, Wahsyi berjanji: tombak yang sama yang pernah membunuh Hamzah, akan ia gunakan untuk membunuh si nabi palsu, Musailamah Al Kadzab. Dan benar saja. Allah mengabulkan niatnya.

Ketika suatu waktu pasca perang ia tertidur, dalam mimpinya ia bertemu seorang lelaki. Seorang lelaki yang ia kenal. Memeluknya dan berkata: “Kita akan bersama di surga.” Sebangunnya dari tidur Wahsyi berteriak-teriak girang sambil menangis, seperti orang bingung histeris ia berkata “Allahuakbar! Allahuakbar! Sesungguhnya aku bertemu Hamzah dalam mimpiku. Aku akan bersamanya di surga.”

♡♡♡

Adalah kabar gembira bagi orang-orang yang melampaui batas, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.

*di kemudian hari Abu Syufyan dan Hindun pun masuk Islam*

Hulk dan Dendam Masa Lalu

Standard

Konon kisahnya, Bruce Banner bisa berubah menjadi monster raksasa bernama Hulk bukan hanya karena pengaruh radiasi gamma yang ia terima, namun juga dipicu dendam masa lalu Bruce terhadap ayahnya. Ketidakmengertian, kemarahan, kebencian yang ia pendam dalam-dalam sedari kecil. Unfinished business, dalam teori Gestalt. Maka di saat dia tertekan atau marah, berubahlah dia menjadi Hulk yang mengamuk.

Dendam. Meski dipendam dalam-dalam dan ditimbun gunung setinggi Himalaya, ia tetap ada. Di kedalaman alam bawah sadar. Seperti bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Maka coba sadari. Kenali setiap rasa dan pikiran yang tidak nyaman dalam diri. Ini apa, darimana asalnya, kenapa bisa terasa. Setelah menyadari bahwa itu adalah bawaan masa lalu, coba maafkan. Ikhlaskan. Dengan pemaknaan bahwa setiap yang telah terjadi adalah takdir kita, jatah kita. Tentu tak kan terjadi tanpa ijin Sang Kuasa. Maka bagaimana bisa kita tidak rela? Jika merasa butuh bantuan, cerita atau temui ahlinya. Semisal Mr.Blue, yang bagi Mr.Green (Hulk) adalah solusi.

Realize, forgive, and improve. Because none of us wanna be a Hulk.

#hikmahsyalala ^^

Writing is Healing

Standard

Buka diary jaman kuliah, mulai tertanggal tahun 2009 sampai 2011. Oyeah. Banyak yang sudah tidak dibutuhkan. Just press: shift del. Tapi beberapa masih kusimpan. Berharga untuk dibaca lagi sebagai pemahaman diri, pengalaman yang membelajarkan. Dari sekian puluh file, hanya tersisa 8 file.

Itu diary berpassword yang kutulis di Kautsar, laptopku. Semacam diary kejujuran. Selftalk. U know, sometimes selftalk can be self healing. Aku punya ruang dimana aku bisa bicara dengan diriku sendiri. Dan itu dalam bentuk tulisan. Bukan ngomong di depan cermin. Kenapa? Karena saat menulis, kita bisa sambil mengenali pola pikir dan kejiwaan kita. Sambil menata huruf sambil mengurai rasa. Lebih baik lagi kalau lewat tulisan tangan sebenarnya. Jejak emosinya lebih kelihatan. Etapi di jaman kekinian, saya malas tulis tangan.

Aku temukan ternyata jaman-jaman itu aku sering menganalisa diri sendiri, menggunakan pendekatan konseling yang kudapat dari materi kuliah yang kala itu memang cukup membantu. Sehingga isinya diary itu juga banyak istilah-istilah konseling. Gitu amat ya kalau diary konselor. Haha. Jadi ketawa sendiri pas baca ulang. Sekarang, beberapa aku sudah lupa itu istilah-istilah artinya apa.

Aku menulis untuk menganalisa diri dengan jujur, mengenali dan menilai emosiku sendiri (self understanding). Entah yang positif atau negatif, aku renungkan kenapa aku begini. Setelah ketemu the reason beyond, aku berusaha mengakui dan menerima diriku (self acceptance). Bahwa aku punya kelemahan dan kesalahan, aku tak hanya punya sisi baik tapi juga buruk. Setelah itu aku tulis apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki yang kurang (self actualization).

Beberapa tulisan yang paling berkesan adalah pengalaman konseling dengan siswa, amanah dakwah kampus, sampai rasa nervous-nya saat dilamar (dan sudah kuhapus semua hihi). Salah satu tulisan yang tidak kuhapus adalah cerita tentang Bu Farida, konselor sekolah yang jadi pembimbing PPL. Ibu konselor sepuh berwajah Arab itu, kerasa gitu jiwa terapeutiknya. Kutulis ada satu momen dimana kami pernah berbincang dan aku terkesan sekali saat beliau menilaiku (banyak minus kala itu, haha), mengajakku memahami tentang eksporasi diri dan kepekaan pada orang lain.

Itu dulu. Nulis-nulis sendiri, dibaca sendiri, diresapi sendiri. Sekarang nggak lagi. Apa-apa sharing dan galaunya ke suami. The best and the worst side of me, he knows well.

Kuliah di jurusan BK itu banyak materi dan tugas yang bermanfaat untuk pemahaman dan penerimaan diri. Dan itu menyenangkan. Bermula dari hobi senang menulis, lalu baca-baca referensi tentang terapi menulis, jadi nemu ide menarik kala itu: “Aha. Lucu juga ini dipake tema skripsi.” Dan jadilah tema terapi menulis sebagai katarsis kecemasan.

Kemarin, nemu blognya seorang mbak penulis yang berkisah tentang dirinya kala terkena sindrom PPD (Post Partum Depression). Dia berusaha ‘menyembuhkan’ diri sendiri salah satunya dengan menulis. And it works. Menulis memberi porsi besar sebagai katarsis depresi. Saya cuplik sekalimat dari blog nya: “Saya sangat butuh teman yang mau menemani tanpa banyak menghakimi, dan teman paling pas adalah tulisan-tulisan saya sendiri.” ( http://renapuspa.blogspot.co.id/2016/10/perbaiki-dirimu-maka-allah-akan_36.html?m=1). See, menemu lagi bukti bahwa menulis adalah katarsis emosi. Menulis adalah terapi. Menulis itu menyehatkan.

Yes true. Writing for self healing. Ada kalanya kita perlu bercerita untuk meringankan beban, untuk sekedar didengarkan tanpa penilaian apalagi penghakiman. Tapi ada saat dimana kita susah bercerita saat kita merasa itu aib yang tak pantas dibuka. Maka selain berdoa dan curhat pada Allah, menulis adalah solusinya.

Cuplikan beberapa paragraf yang dulu jadi latar belakang skripsi:

“…” skip dulu tapi.. perlu online via PC mwihihi

♡♡♡

“Saat teman bukan pilihan untuk bercerita, membagi rasa. Saat sedih dan bahagia tak mampu terungkapkan lisan. Mungkin butuh pena untuk menggoreskan kata. Butuh kertas untuk menyimpan rasa. Agar suatu saat dapat kembali terlihat, bagaimana dulu kau memaknai warna kehidupan yang Allah gariskan.” (hanisincerely)

Cita-citakan, Barangkali Suatu Saat Kesampaian

Standard

Dua tahun lalu, saat kami mengajar di sebuah SMPIT di Jogja, kami dapat wawasan baru. Lalu mencita-citakan 2 hal:
Qoryah Thoyyibah untuk si kakak. Kuttab Al Fatih untuk si adik. Jika baik, jika rezeki, insyaAllah didekatkan. Entah bagaimana caranya.

Kemarin malam nonton dan baca-baca lagi tentang Qoryah Thoyyibah (QT), sekolah alternatif di Salatiga. Kalau ingat QT ini, jadi ingat film India “3 Idiot” terutama pada si tokoh Rancho dan sekolah yang didirikannya. Komunitas belajar dengan khasnya: independent learning. Kebebasan dan kemandirian belajar.

Kalau Kuttab Alfatih, salah satu pendirinya adalah tokoh yang kami kagumi: Ustadz Muhaimin Iqbal. Keren ini madrasah. Alternatif pendidikan dengan pola tarbiyah zaman Rasulullah. Pengen banget ada anak kami yang sekolah disitu. Dulu kami pernah juga coba apply sebagai pengajar, tapi akhirnya tidak bisa lanjut proses karena sikon tidak mendukung.

Mupengnya tuh begitu. Padahal sebentar lagi kami akan hijrah ke Papua Barat. hihi. Gakpapalah. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki. Banyak kan kejadian atau pencapaian yang kadang mulanya hanya selintasan pikiran alias mupeng. Maka semoga, lintasan pikiran kita yang baik-baik ya ^^