Lahirnya Si Ganteng yang Anteng

Standard

Rabu, 14 Januari 2015

Syahiiid, pemuda kecilku. Ini cerita tentang kelahiranmu. Sebenarnya sudah pernah kutulis beberapa hari setelah lahirmu. Tapi ummi lupa draft nya dimana. hihihi.

Sama dengan Kakak Rafa, ummi suka menuliskan cerita kelahiran kalian. Untuk dikenang, untuk diambil pelajaran. Untuk selalu disyukuri betapa melahirkan kalian adalah sejarah besar dalam hidupku.

♡♡♡

Saat itu, Ahad sebelum si adek lahir, abi sudah ambil cuti kerja. Karena memang rasanya sudah ada kontraksi dan pembukaan. Ternyata setelah abi datang dan periksa, baru bukaan satu. Jadi pulang lagi deh. Besoknya kontraksi malah tidak terasa atau sangat jarang.

Hari Rabu ba’da subuh, terasa kontraksi yang intens dan semakin menguat. Siap-siap deh ke Bu Bidan kesayangan. Naik motor berdua sama si abi, sedangkan kakak di rumah sama simbah.

Sampai sana masih santai-santai, dipakai jalan-jalan ringan dan ngobrol. Lalu masuk ruang bersalin saat kontraksi mulai semakin kuat, biar bisa rehat dan hemat energi. Alhamdulillah sesuai harapan, pengennya melahirkan jangan pas malam hari, karena aku ini ngantukan. Nanti kalau ngantuk gimana bisa ngejan. Wkwkwk

Di ruang bersalin, si abi membawa serta buku-buku dari rak Bu Bidan. Sambil abi asik baca buku, sesekali dia mengajak diskusi dan menyuruhku ikut baca. Hemmmh, semacam di perpus wae. Tapi baguslah, untuk mengalihkan rasa.

Proses melahirkan Syahid ini beda sama kakak dulu. Selain karena prosesi bukaan lebih cepat (karena anak kedua kali ya) juga feel ku beda. Aku gak pengen dipegangi, gak usah dielus-elus, gak usah di aba-aba ambil nafas. Saat kontraksi datang, butuh ketenangan, tolong diam, jangan berisik atau ajak bicara. Just let me face it myself.

Alhamdulillah 2 kali melahirkan gak pernah sampai menegang atau menggenggam kuat-kuat atau bahasa Jawanya ‘nggeget’ saat kontraksi datang. Jadi gak pernah ada adegan meremas tangan suami atau apa untuk melampiaskan rasa sakit. Berusaha rileks, jangan melawan rasa. Biarkan tubuh menerima rasa sakitnya. Begitu justru lebih meringankan. Let it go, let it flow.

Setelah bukaan lengkap, berusaha mengejan yang pertama dan kedua, belum keluar si bayi. Lalu rehat dulu. Pas fase rehat sejenak ini, abinya dadak yo ijin ke kamar mandi. Eeh beberapa menit kemudian, udah kerasa si bayi mau keluar. Bu Bidan lantas memanggil abinya “Mas Fachriii…!” Wkwkwk. Untunglah, pas abinya buka pintu, bayinya pas crowning (kepala sudah keliatan). Lantas begitu suami sedia di sisiku, twiiing…adek Syahid lahir menghirup udara pagi. Jam 9 pagi.

Welcooome cute Baby! Dia kecil, mungil, basah kuyup. Wkwkwk. Lalu nangis oek oek sambil IMD. Beratnya 3,2 kg, panjang 52 cm. Wah, lumayan gedhe juga. kupikir gak sampai 3kg. Karena pas hamil udah diet karbo di bulan-bulan terakhir. Karena kakaknya dulu besar (3,7kg/53cm) jadi khawatir adeknya kebesaran. Hehehe

Berharap di lahiran kedua ini tanpa episiotomi, yes alhamdulillah lolos. Tapi masih dijait dikit, hiksss. Fase penjahitan itu lebih mengerikan daripada melahirkannya. Rasa-rasanya, gimana ya. Sakitnya melahirkan itu bisa ikhlasss, ridho, legowo. Tapi justru sakit dijahitnya itu rasanya hwuaaa..! Tapi yasudahlah, setidaknya jahitan tidak seheboh saat kelahiran kakaknya. Alhamdulillah.

Sore harinya si Kakak datang bersama simbah. Ekspresi Rafa lucuuu sekali. Dia semacam malu-malu menahan senyum. Mungkin berpikir “Kok ada makhluk kecil ini apa…eh siapa…?” hihihi. Saat menatap keduanya, dalam sekian detik saya mengalami momen ‘zong’. Tetiba terdiam dan di benak ada rasa bingung dan pertanyaan “Anakku dua. Apa aku bisa mencintai keduanya dengan sama? Selama ini hanya Rafa dan Rafa. Apa aku bisa adil menyayangi mereka.” Mungkin itu termasuk sindrom baby blues ya. Ternyata saat dijalani, rasa sayang itu sama. Tidak ada beda. Sayang dan cinta semuanya.

Melahirkan secara alami (tanpa induksi) itu jelas lebih nyaman dan tenang. Dan saya niteni, bayi yang dilahirkan dengan gentle, tenang, tanpa frustasi atau trauma, jadinya bayi yang tenang juga. Tidak rewelan. Baby Syahid ini yang saya amati. Biasanya kan bayi itu ngajak begadang dan ronda malam. Udah kayak hansip aja wira wiri gendong keliling di dalam rumah. Semacam Rafa dulu. Hihihi

Tapi Syahid enggak. Dia tuh anaknya tenang, anteeeng sekali. Malam gak pernah ngajak begadang atau rewelan. Hanya bangun, mimik, bobok. Begitu terus. Jadi simboknya nyamaaan banget bisa nyenyak pula tidurnya. Wkwkwk. Saya menyebutnya bocah yang ithmi’nan (tenang).

Meskipun tidak begadang, tiap kali Syahid bangun abinya juga ikut bangun. Kadang malah dia yang membangunkanku karena Syahid mau mimik. Ya gimana, saya kan kalau tidur nyenyaknya semacam Snow White habis makan apel dari nenek sihir. Wkwkwk. Abimu itu Nak, sosok yang memperlakukan orang yang dicintai dengan sebaik-baik perlakuan. Meskipun dia tidak romantis dan tidak rajin bilang ‘I love you’, tapi sikapnya adalah perwujudan bahwa dia mencintai.

♡♡♡

Dear Syahid, ruhul jadiid. Kamu membawa keceriaan baru, kekuatan baru, dan mimpi-mimpi baru. Di Alqur’an itu disebutkan husnayain (dua kebaikan) dalam jihad fisabilillah yaitu: syahid atau kemenangan. Dan pada namamu, kusematkan keduanya. Ibrahim Syahid Ranu Filfath.

♡♡♡

Tak ada orang yang menanti-nanti rasa sakit kecuali seorang ibu yang menanti kelahiran anaknya. Rasa sakit yang membahagiakan. Karena sakit itu berarti datangnya gelombang rahim, pertanda anaknya segera hadir ke bumi. Luar biasanya wanita. Satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Allah sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Setiap anak punya cerita, setiap kisah kelahiran selalu berharga. Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks pada bidan kesayangan: Bu Siti ♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s