Mengingat mati itu menghidupkan jiwa

Standard

Menit-menit paling nikmat adalah saat seorang hamba merasakan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Menit-menit itu benar-benar menghadirkan ketundukan ruh yang khusyu’, mempertemukan ketakutan (khouf) terbesar dan harapan (roja’) teragung pada Robbnya, mengantarkan diri pada perenungan “Jika ajalku datang, tabungan apa yang akan kubawa pulang? Bagaimanakah sakaratul mautku? Seperti apakah kematianku? Dan seperti apa setelahnya? Amalku yang mana yang akan menolongku?”

Menit-menit itu begitu sepi, hanya seorang hamba sendiri. Sehingga terbayangkan olehnya bagaimana kesendiriannya di kubur nanti. Betapa sepinya. Tak ada belai kasih pasangan atau keriangan anak-anak. Dan tetiba ingatan-ingatan itu membuat bulir-bulir bening berjatuhan. Betapaaa…dunia ini sangat fana.

Menit-menit dimana hati merasa begitu pasrah, hina, dan sangat menganggap dunia ini tak ada artinya. Merasa rugi atas banyaknya waktu yang sia-sia, penyakit hati yang membuat noda, dan perkara-perkara fana lainnya.

Sayangnya, menit-menit khusyu’ seperti itu tak selalu hadir. Atau tepatnya tak selalu bisa dirasai jiwa. Mungkin karena saking banyaknya dosa. Diri yang terlalu disibukkan oleh hiruk pikuk zaman. Hati yang nyatanya lebih banyak lalai terbuai godaan duniawi.

Faghfirliy…faghfirlanaa ya Allah.

Allohumma amitnaa ‘alasy syahadati fii sabiilik ya Allah. Fii husnil khootimah. Wajma’ bainanaa fii jannah. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s