Iyes, I love teaching :)

Standard

Dulu, cita-cita profesi saya ingin jadi dosen. Pertama, karena saya suka mengajar. That is my passion: teaching. Kedua, karena saya tidak suka pakai seragam :p kan kalau jadi guru harus pakai seragam dinas ya..hihi. Ini alasan gak penting sih, tidak usah diambil hati. Ketiga, karena menurut saya, kelihatannya dosen itu jam mengajarnya lebih luwes daripada guru. Kalau guru kan mengajar atau tidak, harus stand by di sekolah dari jam 7 sampai sepulangnya. Nah kalau dosen kan masuknya pas jam ngajar saja. Ini nih berdasarkan observasi terhadap dosen-dosen saya dulu :p

Nah poin penting nomor 3 di atas adalah bahwa berarti waktu saya untuk anak bisa lebih banyak/fleksibel. Pas jam kosong bisa santai-santai main sama anak di rumah. Pas jam ngajar capcus ngampus. Bayangan saya sih begitu. Entah kalau dalam kenyataannya jadi dosen itu sibuk sekali.

Yang jelas sekarang profesi saya adalah sebagai istri dan ibu multitasking. Ngomong-ngomong tentang pekerjaan, saya berijazah sarjana Bimbingan dan Konseling sebenarnya, tapi riwayat pekerjaan saya malah belum pernah benar-benar jadi guru BK (kecuali pas tugas PPL semester 9 dulu) wkwkwk. Jaman kuliah pernah bekerja sebagai guru PAUD/TK sekaligus daycare. Lalu setelah menikah pernah jadi shadow teacher Anak Berkebutuhan Khusus di SD dan TK, dan yang terakhir…musyrifah (pembina asrama) di sebuah SMPIT internasional di Jogja. See? Saya malah belum pernah tersebut sebagai guru BK. haha. Yang ada adalah ilmu BK saya gunakan sebagai pendekatan di beragam pekerjaan yang pernah saya jalani itu. Kebetulan juga mata kuliah pilihan saya dulu BK TK/SD dan Anak Berkebutuhan Khusus. Jadi sangat membantu.

Maka ketahuilah kisanak, rezeki itu tak harus sesuai dengan program studi. Bahkan kadang bisa jadi jauuuh. Bahwa ilmu itu bisa diaplikasikan di berbagai bidang. Jadi, santai aja kamu dulu kuliah jurusan apa sekarang jadi apa *syarat dan ketentuan syar’i berlaku*

Passion saya aslinya mengajar. Alhamdulillah selama ini pernah bekerja juga selalu sebagai pengajar. Sedangkan bisnis a.k.a dodolan adalah sebagai ikhtiyar menunaikan sunnah nabi: niaga. Kan kata Hasan Albanna juga “Berniagalah meskipun kamu sudah kaya” *Pesan sponsor: jangan lupa like FP Rumah Buku Albanna, yah pemirsa* Dodolan ini pun spesifikasinya edukasi. Terdapat unsur2 pengajaran juga di dalam dodolan ini: mengajari memilih buku yang sehat nan islami. haha :p

Being a teacher. Suka rasanya dengan kata itu. Mengajar berarti menjadi washilah tersampaikannya ilmu, membuka kesempatan amal jariyah yang tak putus setelah kematian (ilmu yang bermanfaat). Mengajar berarti menjadi faktor peubah, dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak faham menjadi faham, menjadi bisa, menjadi mahir, bertambah kemampuan, berubah tabiat dan perilaku, macam satria baja islam. Brubah!!!

Maka dirasa-rasa, jika saya bekerja, insyaAllah opsinya tiga saja:
1. Bekerja di rumah yang bisa menghasilkan, seperti sekarang kerja sambilan: dodolan :p
2. Punya usaha mandiri yang dikerjakan oleh tenaga kerja.
3. Bekerja di luar untuk: mengajar. Yup! That’s it.

Syukurlah alhamdulillah, orangtua tidak pernah mempermasalahkan saya tidak bekerja. Malah kata Bapak “Wes nduk rasah mikir kerjo. Bojomu ae sing kerjo. Momong’o anak ae.” Ibuk pun tak pernah terucap tuntutan saya harus bekerja. Suami apalagi.

Lantas apa saya galau tidak bekerja? Not at all. Sama sekali tidak. Sekarang pun saya bekerja, mengajar, hanya saja tidak bergaji. Karena kalau yang namanya passion, kamu akan selalu berusaha melakukannya, tanpa harus disebut sebagai pekerjaan, bergaji, dan secara eksplisit tertulis di kolom biodata. Saya hanya sedang tetiba teringat riwayat-riwayat pekerjaan saya dahulu. Dari sekolah satu ke sekolah lainnya. Dari tipikal anak didik di satu tempat dan di tempat lainnya. Unik! Seru! And im being grateful of that experiences. Yes true, the best teacher. And im now learning with my other best teachers :)

4 responses »

  1. Arrrrggghhh,,, semua ini mengingatkanku pada moment mengajar di SMA 3 Malang, tidaaaaaaakkkkkk… seorang aku ngajar disana, mati KUTU. Akhirnya dari sana aku menyadari, saya tidak cocok menjadi seorang guru yang mengajar di depan kelas :(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s