Merenungi Pertemuan

Standard

Meresapi sebuah makna. Dalam tragedi, jangan sangka yang terluka hanya orang yang tersakiti. Tapi yang menyakiti pun, terluka. Dia terluka oleh kesalahannya. Dia terluka oleh beban rasa bersalah. Dia terluka oleh sesal yang kadang masih saja menyesak. Yang kadang tak cukup lega dengan kemaafan yang ia terima. Karena bisa jadi dia sendiri tak mudah memaafkan dirinya sendiri. Barangkali, itu hukuman atas kesalahannya. Yang jelas, itu ujian.

Maka ketika kau bertemu dengan orang yang pernah kau lukai, dia memberimu sebaik-baik senyum dan laku, seriang-riang kebersamaan…yang begitu itu…rasanya maknyesss. Ibarat dahaga yang lega oleh sejuknya es degan.

Maka pahamilah, setiap kesalahan adalah kesalahan pada masanya. Namun di masa kemudian, ia adalah pelajaran.

Kau saudaraku, selalu akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Jikapun pernah ada perkara, semoga tidak jauh lebih penting dari persaudaraan kita. Bagaimanalah kita mau meninggi ego, bahkan para sahabat terbaik pun, Abu Bakar dan Umar…pernah berseteru. Ketersinggungan yang menegang hingga Umar tak membuka pintu untuk panggilan Abu Bakar.
Hingga membuat Abu Bakar tergopoh-gopoh mendatangi Rosulullah dan dengan cemas mengadu “Wahai Rosulullah…Umar tidak memaafkanku.”
Begitulah, gelisahnya hati yang merasa bersalah.

Maka apalah kita. Kau saudaraku, selalu akan begitu sedari mula hingga akhirnya. Semoga itu surga. Amin.

#yesterday
#rasa yang disembunyikan dalam doa diam-diam

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s