Saat Kakak Minta Sekolah

Standard

Sebenarnya aku dan abinya ingin Rafa belajar di rumah saja. Tapi ternyata kakak Rafa kembali teringat pada sekolah dan terucap olehnya minta sekolah. Suatu saat pas mau kupakaikan kaos, mintanya baju batik dan bilang “Umi, Yapa mau olaaah… Mauuu…mi.”

Aku jadi berpikir, memang bagaimanapun, main sama umi tu beda feel nya dengan main sama teman sebaya. Sesenang apapun main sama umi, anak tetaplah pengen punya teman main sebaya. Yang gaya bahasanya sama, pola pikirnya serupa, ide2nya sejalan, itu adalah teman sebaya. Bagi orangtua, bermain itu adalah main-main tapi bagi anak bermain itu serius. Tentulah feel asiknya beda.

Akhirnya pas ajaran baru kemarin mulailah dia bersekolah di Paud. Jadi udah sekitar satu semester ini dia sekolah. Hari pertama masuk kutemani dia, meskipun sebenarnya aku yakin dia berani tanpa ditunggui, seperti biasanya. Rafa adalah anak supel pemberani dengan daya adaptasi yg sangat2 bagus alhamdulillah. Dimanapun, dengan siapapun, dia cepat sekali adaptasinya, selalu enjoy, akrab dan pintar bergaul. Ramah dan sumringahnya itu jaaan tenan masyaAllah. Dulu pertama kali dia di daycare sekitar umur 11 bulan, di Jogja. Ketika itu aku hendak sekolah lagi (ah…cerita ini, skip!). Di hari pertama, pengalaman pertama dia di daycare bersama bunda guru dan teman2 yg baru dikenal…dia langsung enjoy, asik sekali. Ketika kami antar dia ceria, tanpa tangis. Pun saat kami jemput. Ceria. Sumringah. Selalu begitu. Maka jika ada tempat dimana dia kok kurang ceria, motor berhenti kok tidak segera turun (padahal tiap kami berhenti dimana saja dia selalu minta turun), diantar masuk kok flat ekspresinya, pas dijemput raut mukanya beda, maka kami perlu memberi tanda tanya. Ada apa dengan tempat itu??? (dan cerita bagian ini juga di-skip saja).

Hari kedua dia diantar mbahnya. Pas mau berangkat dia pamit “Umi, aliim.. (salim). Yapa olah, umi.” Riang gembira dia pamit, salim, dan salam. Berseragam, menggendong tas, lalu berlari unul..unul..unul. Haha…trenyuh atiku. Padahal belum juga genap tiga tahun saat itu. Semangat banget pengen sekolah.

Aku jarang menyaksikan bagaimana dia saat sekolah. Karena paling aku hanya antar dan jemput. Hanya kadang aku menjemput lebih awal pengen tau kayak apa dia di sekolah. Ya begitulah dia…asik dengan idenya sendiri. Saat temannya duduk diam, dia panjat2 meja. Temannya nyanyi2…dia merangkak2 pura2 jadi dinosaurus. Teman2nya belajar membaca, dia lompat2. Haha. No matter Boy, take ur joy.

Suatu waktu, aku juga menemukan hal2 yg mengagumkan darinya saat di sekolah. Suatu saat pas mau pulang, di tengah keriuhan ada mbak kecil yg menangis. Setelah Rafa mengambil lukisannya yg dijemur…dia masih diam saja memandangi lukisan2 teman2 yg berjejer di halaman. Ternyata dia mencari lukisan mbak kecil yg menangis, dan memberikan pada mbak kecil itu. Dia mungkin berpikir…dikasih lukisannya biar diem. Tapi btw, kok dia hafal ya lukisan mbaknya yg mana.

Suatu saat yg lain, ada mas2 anak TK yg celananya kedodoran sampai menyentuh lantai. Tiba2 Rafa mendekati lalu melipat celana mas kecil yg sedang terpaku berdiri. Mungkin dia risih liat celana masnya kedodoran..hihi. Inisiatifnya itu lho, masyaAllah. Padahal tidak kenal juga sama masnya itu.

Kapan hari ibu guru bercerita bahwa Rafa ini pintar banget main puzzle. Cepat dan tepat. Belum ada temannya yg secepat Rafa mainnya. Kadang dikumpulin 5 puzzle, lalu disusun dengan cepat dan tepat.

Haha. Ya begitulah lucunya Kakak Rafa :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s