Butuh Jeda

Standard

Saat hendak melontarkan sesuatu, sungguhpun kita butuh jeda. Agar bukan ego yg menang. Bukan nafsu yang memimpin. Bukan amarah yang menguasai diri. Karena jika demikian, endingnya pasti sesal. Apalagi jika kepada orang2 yg dicinta. Menyesalnya itu dalaaaam sekali.

Tidak terlalu responsif ada baiknya pada kondisi tertentu. Dimana kita butuh jeda untuk diam sejenak, mengambil nafas, dan mempertimbangkan dengan jernih apa mashlahat dan mafsadatnya.

Pengalaman adalah pelajaran.
And…sometimes, others’ experience is (enough to be) the best teacher. So we dont need to do the same mistakes. Atas apa2 yang telah terjadi, semoga Allah berkenan memaafkan.
Jangan putus asa atas kekeliruan diri.

Allohumma anzil sakinata fi qolbiy. Allohummaj’alniy minash shobirin. Allohummahdiniy…

*refleksi diri
*ntms

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s