Left

Standard

Masih sangat teringat salah satu pesan terakhirnya untukku, khusus untukku..saat aku berpamitan undur diri. Pun masih kusimpan tulisan itu..ia berpesan agar aku tidak meninggalkan grup, agar tetap bisa saling memberi semangat meskipun jauh.

Tapi kemarin..aku memilih leave grup. Karena kupikir sudah tidak tepat lagi aku ada didalamnya. Sungkan. Tau diri.

Meskipun ada sedih juga rasanya. Tapi meskipun left, tidak kuhapus grup beserta chat di dalamnya. Buat kenang2an.

Ia sudah tak ada, tapi sempat kupikir..kira2 apa yg akan ia katakan jika tau kami undur diri?

Sungguh..wahai engkau jiwa yg tulus..sering terbayang di benak kami setiap kali diskusi, berbincang, musyawarah..dalam situasi2 itu sering kami merindukan..jika engkau ada, apa kir2 pendapatmu? Kata2, nasehat, paradigma..yg selalu dinantikan. Tapi sekarang tak ada lagi seucap pun.

Mengenal dan kehilangan sosoknya menjadi bagian besar dalam perjalanan hidup kami. Orang2 yg ia tinggalkan telah banyak bercerita tentang mulianya dirinya, dan aku simpan rapi semuanya beserta ceritaku.

Sekarang kami bukan siapa2 lagi, hanya sepintas lalu ikut membangun mimpi itu. Mimpi2 yg belum selesai dan ia tinggal pergi.

Pak, kami pamit undur diri.

Allohummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa fuanhu #RS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s