Rafa 2 tahun..!!

Standard

Hari ini tanggal 20 Ramadhan 1435 H,milad hijriyahnya anak kami Rafa. Ya Allah, sudah 2 tahun hamba menjadi seorang ibu. Rasanya tu,haru bangettt,telah melewati perjuangan yg berdarah-darah. 2 tahun yg lalu di hari Ramadhan yg ke 20, pukul 09.20. Masih ingat gimana dulu kepayahan sehabis prosesi melahirkan si bocah dengan BB 3,7kg dan panjang 53cm ini, jg masih canggung segala hal untuk mengurusnya..ya cara menyusui lah, cara memangku, cara menggendong, canggung semua. Ewuh, ra pener2…bahasa jawanya. Kupandangii dia saat lelap, sambil mbatin takjub Ya Allah, kok bisa ada makhluk lucu ini dalam jasadku, hidup dalam satu nafas, dalam satu denyut darah yg sama…dan sekarang dia menampakkan wujudnya. Yg bikin aku penasaran banget saat hamil kan pengen liat penampakan si bocah: dia seperti apa, wajahnya mirip siapa, seperti apa matanya, hidungnya, senyumnya, hehehe. Trus kupandangi dia, sambil mikir…bocah sebongsor ini, kok muat ya di perutku, Allah Maha Kuasa ‘melipat’ dia sedemikian rupa sehingga aman dan nyaman bersemayam di rahim ibu selama 9 bulan.hihi

Hari ini, genap usianya 2 tahun Hijriyah. Dia sudah tumbuh dan berkembang pesat jadi anak sehat, sholih, smart, ceria, lincah, pemberani, empatik. Dia sudah lebih banyak berkata2, manisnya saat dia memanggil2 “ummiii…bbiii…”, empatiknya dia, lincah motoriknya, pintarnya menirukan gerak gerik dan ucapan di film atau lagu, menirukan expresi gambar di buku, menghafal doa2 meskipun baru bs melanjutkan satu atau dua suku kata terakhir, mengikuti gerakan sholat dengan caranya yg lucu, dan banyak lagi asosiasi logikanya yg menampakkan kecerdasannya. Memang anak2 usia segini banyak membuat kita feel amazing. Surprise2 yg happily surprising.

2 tahun menjadi ibu, yes im not perfect yet. Ada kekeliruan2 yg kualami, penyesalan2 juga ada. Semua itu adalah pelajaran berharga sebagai seorang ibu. Termasuk dalam hal penyesalan, keteledoran adalah salah satu pelajaran besar buatku. Contoh: pernah suatu saat Rafa terjatuh, saat dia berjalan dan membawa piring plastik. Itu piring kebentur ke giginya sampai patah 1 gigi seri atas. Berdarah tentu, menangis pasti. Dan yg nangisnya lama dan berhari2 justru emaknya. Meskipun abinya selalu menenangkan, “Sudahlah lah cint, sudah terjadi. Lihatlah Rafa juga baik2 saja, dia ceria..” Haah,, sudah2 gimana. Ini hatiku masih pedih oleh sesal rasanya. Jd biarin nangis, pokoknya pengen nangis *dasar wanita, kalo udah pake perasaan dikasitau yang logis realistis juga gak trima. Emang menyesal banget rasanya tuh,, kenapa tidak menunda pekerjaan yg lain saat itu. Memang kami tidak punya ART, jadi semua kerjaan dikerjakan disambi2 momong. Sehabisnya jadi refleksi, ya Allah…pekerjaan bisa ditunda nanti. Yg tidak sempat bisa dicari lain solusi: nyapu bisa nanti2, cucian bisa dilaundry, makanan bisa beli…tapi 1 detik yg lalu saat anakku jatuh, aku tidak bisa meng-undo-nya. Waktu adalah waktu. Sekejab dia pergi, tak kan pernah kembali. Yg ada adalah menerima takdir dan mengambil hikmahnya. Nangis bombay bener pas momen ini. Yg ditangisi justru santai2 aja, dengan wajah empatiknya dia ambilkan jilbabku. Kupikir disuruh pakai, ternyata dia sodorkan buat ngelap air mata uminya. *antara nangis haru dan pengen ngakak*

Pelajaran lain masih tentang gigi Rafa. Di usianya ini gigi seri atas sudah mengalami caries. Padahal sedari awal punya gigi, aku rutin membersihkan, dulu pakai kasa sampai sekarang sudah bs pakai odol dan sikat gigi. Tapi giginya tetap saja rapuh. Aku tidak terlalu paham tentang distribusi kalsium dalam tubuh, apakah benar ada tipikal anak yg distribusi kalsiumnya lebih ke tulang daripada gigi? Ah, apapun itu. This is a lesson for me as a mom.

Another great lesson menjadi ibu adalah KESABARAN. Tak capslock itu kata supaya notice banget poin ini. Kata orang, sabarnya seorang ibu itu harus selautan. Etapi laut itu ada pasang surutnya juga ya. Begitu juga dengan kesabaran ini, aku masih terus berlatih. Karena waktu demi waktu, si bocil ini semakin menguji kesabaran juga. Sejujurnya poin ini, aku kalah sama suami, yg sabar dan lembutnya luar biasa *mewarisi sifat sang ibu* termasuk dalam menghadapi Rafa. Nadanya bicaranya, caranya bersikap pada Rafa, bikin aku malu sendiri pas aku lagi bete (dalam hati bergumam..ya Allah, kenapa aku tak bisa seperti dia). This is it, im so grateful having him. Seperti yg dia katakan suatu waktu, “Cint, anak yg dibesarkan dengan cinta dan kesabaran, insyaAllah dia akan tumbuh dgn optimal” Juga saat dia menasehatiku “Cint, kalo aku pas pengen marah tu, mesti kutahan dgn diam, diamkan aja dulu sebentar. Pokoknya jangan sampai keluar jadi kata2 atau perbuatan yg disesali.” Resepnya adalah: diam. Kata2nya ini, menancap dalam di relung hatiku *ceileh

Pengennya, start 2tahun ini program edukasi untuk Rafa mulai dirutinkan dan terjadwal macam habit training gitu. Etapi kok belum bisa terlaksana ya *krik..krik.. -,-

Mengingat milad anak, bagi kami letak pentingnya bukan pada selebrasi, tapi lebih menjadi momen refleksi kami sebagai orangtua dan mensyukuri nikmat2 Allah untuk kami. Ramadhan 2 tahun lalu, Allah memberi kami hadiah terindah, menghadirkan engkau sebagai qurrota a’yun kami…anakku Muhammad Rafa Ranu Albanna. Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan atasmu selalu.

“Allohummaj’alhu minassholihin,waj’alhu robbiy rodhiyya,waj’alhu min ahli faqqihu fiddiin,waj’alhu min ahli faqqihu qur’an,waj’alhu minal mujaahidiina,wa minas syuhadaa’ wamin ahlil jannah..amin.

*great love,pride,n prayer-abi.umi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s