Monthly Archives: July 2014

Pear

Standard

Anakku mau dua. Boya mau punya adik, insyaAllah. Kami sebut si adik janin ini dengan nickname: Pear. Now 17weeks insyaAllah. Terakhir USG pas UK 13w, dia udah mbentuk kepala, tangan, kaki, gerak2 macam nonjok n nendang gitu. Trus mulet2, dari mlumah jadi murep angkat2 badan gitu. Batinku,polahe atraktif juga ni bocah, macam kakaknya aja. Padahal baru juga dia tumbuh 4,5cm, hihi..imut ya, baru sepanjang jempol tanganku dia.

Dia datang di saat aku memang mupeng pengen punya bebi. Pas magang di LHI rasanya fall in love banget liatin bebinya temen2. Dan saat2 itu juga, porsi makanku tambah dahsyat aja. Sampe temen magang bilang: mbak Hanis ini kurus, tapi makannya banyak ya. Udah makan, masih ngemil lagi, ada aja yg dimakan. hahaha *malu2 gimana gitu* Baru beberapa minggu kemudian kuketahui bahwa ternyata ada makhluk lain yg ikut makan di perutku, yaitu si Pear ini.wkwkwk

Kuhitung2 pas lah jarak Boya dengan Pear nanti 2,5tahun. HPLnya 15 Januari 2015 (16 Januari aja dunk Nak..biar kembaran sama umi *penting gak si? ) Semoga saat itu nanti,atau better sebelumnya, si Kakak Boya udah sapih. Karena sekarang belum je..

Every Pregnancy has its story. Termasuk dalam hal ujian. Kalo tentang permabukan, alhamdulillah aman. Sy gak didera morning sickness, hanya kembung sickness -,-. Nah ngobras tentang ujian saat kehamilan, ada saja deh, dan bentuknya beda2 juga. Kalo dulu jaman hamil Rafa kami diuji dgn abi yg sering sakit, berkali2 berurusan dgn ICU, opname, check up, obat, dan ujian mental lainnya. Yg ini trjadi berkali2 di rentang usia kehamilanku muda sampai tua, bahkan mendekati lahiran juga abinya sakit lagi. Subhanallah pokoknya. Cukup menguras energi dan emosiku saat hamil Rafa. Hingga sempat terbersit khawatirku, jika beban emosiku membekas pada anakku..khawatir ia jadi anak pemurung atau gimana. Alhamdulillah not at all. Rafa adalah anak yg ceria bahagia, murah senyum, tidak rewelan, tidak penakut, tidak nangisan. Tak ada bekas trauma.

Sedangkan saat hamil Pear ini, ujiannya beda lagi. Mau dibilang ujian berat, tapi alhamdulillah masih banyak yg bisa disyukuri. Yg jelas, Ramadhan tahun ini dan tahun kemarin tema untukku masih sama. Tentang kerelaan kehilangan salah satu mimpiku, atau mungkin tertunda. Wallahua’lam. Lalu, yg jelas lagi, just believe tiap anak itu tertakdir dgn jatah rezekinya. Alhamdulillah juga Allah menganugerahi kehamilan yg kuat, karena petualangan saat hamil Rafa dan Pear, sama2 wonderful juga.

Well, akhirnya tak boleh lepas berdoa mohon anugerahi kami sabar dan syukur yg tak putus2 ya Allah..amin.

Advertisements

Renungan

Standard

Betapa Allah mengistimewakan Ramadhan ini untuk kita. Janji berlipat gandanya pahala, penghapusan dosa, janji surga dan pertemuan denganNya.

Tapi..
Apa istimewanya Ramadhan untuk kita, jika hari2nya tak ada beda dengan hari2 biasa. Kuantitas dan kualitas ibadah yg tak juga bertambah. Rugiii..kurasa. Hanya sekali dalam setahunnya, bahkan belum tentu juga tahun depan kita masih dipertemukan.

Apakah di bulan istimewa ini, kepatuhan kita juga bertambah istimewa? Meningkatkah sholat kita? Menambah tilawah kita? Menambah sedekah dan ibadah2 lainnya? Sedangkan saudara2 kita yg lain berkejaran memburu pahala berlipat2 ganda, para mujahidin Gaza menemui mulia syahidnya sebagai syuhada. Sedang kita (eh,aku ding) santai2 mencukupkan diri dengan kualitas dan kuantitas amal yg minimalis dan biasa2 saja.

Astaghfirullah : (

Rafa 2 tahun..!!

Standard

Hari ini tanggal 20 Ramadhan 1435 H,milad hijriyahnya anak kami Rafa. Ya Allah, sudah 2 tahun hamba menjadi seorang ibu. Rasanya tu,haru bangettt,telah melewati perjuangan yg berdarah-darah. 2 tahun yg lalu di hari Ramadhan yg ke 20, pukul 09.20. Masih ingat gimana dulu kepayahan sehabis prosesi melahirkan si bocah dengan BB 3,7kg dan panjang 53cm ini, jg masih canggung segala hal untuk mengurusnya..ya cara menyusui lah, cara memangku, cara menggendong, canggung semua. Ewuh, ra pener2…bahasa jawanya. Kupandangii dia saat lelap, sambil mbatin takjub Ya Allah, kok bisa ada makhluk lucu ini dalam jasadku, hidup dalam satu nafas, dalam satu denyut darah yg sama…dan sekarang dia menampakkan wujudnya. Yg bikin aku penasaran banget saat hamil kan pengen liat penampakan si bocah: dia seperti apa, wajahnya mirip siapa, seperti apa matanya, hidungnya, senyumnya, hehehe. Trus kupandangi dia, sambil mikir…bocah sebongsor ini, kok muat ya di perutku, Allah Maha Kuasa ‘melipat’ dia sedemikian rupa sehingga aman dan nyaman bersemayam di rahim ibu selama 9 bulan.hihi

Hari ini, genap usianya 2 tahun Hijriyah. Dia sudah tumbuh dan berkembang pesat jadi anak sehat, sholih, smart, ceria, lincah, pemberani, empatik. Dia sudah lebih banyak berkata2, manisnya saat dia memanggil2 “ummiii…bbiii…”, empatiknya dia, lincah motoriknya, pintarnya menirukan gerak gerik dan ucapan di film atau lagu, menirukan expresi gambar di buku, menghafal doa2 meskipun baru bs melanjutkan satu atau dua suku kata terakhir, mengikuti gerakan sholat dengan caranya yg lucu, dan banyak lagi asosiasi logikanya yg menampakkan kecerdasannya. Memang anak2 usia segini banyak membuat kita feel amazing. Surprise2 yg happily surprising.

2 tahun menjadi ibu, yes im not perfect yet. Ada kekeliruan2 yg kualami, penyesalan2 juga ada. Semua itu adalah pelajaran berharga sebagai seorang ibu. Termasuk dalam hal penyesalan, keteledoran adalah salah satu pelajaran besar buatku. Contoh: pernah suatu saat Rafa terjatuh, saat dia berjalan dan membawa piring plastik. Itu piring kebentur ke giginya sampai patah 1 gigi seri atas. Berdarah tentu, menangis pasti. Dan yg nangisnya lama dan berhari2 justru emaknya. Meskipun abinya selalu menenangkan, “Sudahlah lah cint, sudah terjadi. Lihatlah Rafa juga baik2 saja, dia ceria..” Haah,, sudah2 gimana. Ini hatiku masih pedih oleh sesal rasanya. Jd biarin nangis, pokoknya pengen nangis *dasar wanita, kalo udah pake perasaan dikasitau yang logis realistis juga gak trima. Emang menyesal banget rasanya tuh,, kenapa tidak menunda pekerjaan yg lain saat itu. Memang kami tidak punya ART, jadi semua kerjaan dikerjakan disambi2 momong. Sehabisnya jadi refleksi, ya Allah…pekerjaan bisa ditunda nanti. Yg tidak sempat bisa dicari lain solusi: nyapu bisa nanti2, cucian bisa dilaundry, makanan bisa beli…tapi 1 detik yg lalu saat anakku jatuh, aku tidak bisa meng-undo-nya. Waktu adalah waktu. Sekejab dia pergi, tak kan pernah kembali. Yg ada adalah menerima takdir dan mengambil hikmahnya. Nangis bombay bener pas momen ini. Yg ditangisi justru santai2 aja, dengan wajah empatiknya dia ambilkan jilbabku. Kupikir disuruh pakai, ternyata dia sodorkan buat ngelap air mata uminya. *antara nangis haru dan pengen ngakak*

Pelajaran lain masih tentang gigi Rafa. Di usianya ini gigi seri atas sudah mengalami caries. Padahal sedari awal punya gigi, aku rutin membersihkan, dulu pakai kasa sampai sekarang sudah bs pakai odol dan sikat gigi. Tapi giginya tetap saja rapuh. Aku tidak terlalu paham tentang distribusi kalsium dalam tubuh, apakah benar ada tipikal anak yg distribusi kalsiumnya lebih ke tulang daripada gigi? Ah, apapun itu. This is a lesson for me as a mom.

Another great lesson menjadi ibu adalah KESABARAN. Tak capslock itu kata supaya notice banget poin ini. Kata orang, sabarnya seorang ibu itu harus selautan. Etapi laut itu ada pasang surutnya juga ya. Begitu juga dengan kesabaran ini, aku masih terus berlatih. Karena waktu demi waktu, si bocil ini semakin menguji kesabaran juga. Sejujurnya poin ini, aku kalah sama suami, yg sabar dan lembutnya luar biasa *mewarisi sifat sang ibu* termasuk dalam menghadapi Rafa. Nadanya bicaranya, caranya bersikap pada Rafa, bikin aku malu sendiri pas aku lagi bete (dalam hati bergumam..ya Allah, kenapa aku tak bisa seperti dia). This is it, im so grateful having him. Seperti yg dia katakan suatu waktu, “Cint, anak yg dibesarkan dengan cinta dan kesabaran, insyaAllah dia akan tumbuh dgn optimal” Juga saat dia menasehatiku “Cint, kalo aku pas pengen marah tu, mesti kutahan dgn diam, diamkan aja dulu sebentar. Pokoknya jangan sampai keluar jadi kata2 atau perbuatan yg disesali.” Resepnya adalah: diam. Kata2nya ini, menancap dalam di relung hatiku *ceileh

Pengennya, start 2tahun ini program edukasi untuk Rafa mulai dirutinkan dan terjadwal macam habit training gitu. Etapi kok belum bisa terlaksana ya *krik..krik.. -,-

Mengingat milad anak, bagi kami letak pentingnya bukan pada selebrasi, tapi lebih menjadi momen refleksi kami sebagai orangtua dan mensyukuri nikmat2 Allah untuk kami. Ramadhan 2 tahun lalu, Allah memberi kami hadiah terindah, menghadirkan engkau sebagai qurrota a’yun kami…anakku Muhammad Rafa Ranu Albanna. Semoga Allah melimpahkan kebaikan dan keberkahan atasmu selalu.

“Allohummaj’alhu minassholihin,waj’alhu robbiy rodhiyya,waj’alhu min ahli faqqihu fiddiin,waj’alhu min ahli faqqihu qur’an,waj’alhu minal mujaahidiina,wa minas syuhadaa’ wamin ahlil jannah..amin.

*great love,pride,n prayer-abi.umi