Monthly Archives: October 2013

Di bawah bayang-bayang

Standard

Hikmahnya Allah mencipta bayangan benda, salah satunya adalah untuk meneduhkan. Dalam bahasa Jawa: iyup-iyup. Pas mau parkir motor, pas lagi nungguin jemputan, pas apel, atau pas nemenin anak main di halaman, enakan kan cari tempat yg teduh di bawah pohon ya. Pas kepanasan di bawah terik siang, paling enak cari iyup2 di bawah pohon rimbun, hmm…teduh. Maka subhanallah, pada bayang2 benda pun kita membutuhkan. Sesimpel itu, begitu nikmat dari Allah juga. Allah yg mencipta. Fabiayyi alaa-i Robbikuma tukadzdzibaan? Maka nikmat Tuhanmu yg mana lagi yg kau dustakan..?

*tafakkur safar

Advertisements

Biasanya, dakwah yang menghibur kami

Standard

Adalah satu hal yang sama antara aku dan dia. Saat kami harus menemui takdir yang sebenarnya tidak kami ingini, biasanya dalam situasi begitu, dakwah yg menghibur kami.

Dulu, saat pertama mengetahui dia harus pergi ke ujung negri, berada jauh dari kampung halaman dan orang2 tercinta, membentang jarak gunung dan samudra, membakti diri pada negara, menunaikan tugas yg sebenarnya jauh dari passion-nya. Saat2 itu yang menghiburnya adalah kalimat bahwa: “Di tanah manapun kita berpijak, itu bumi Allah juga. Ladang amal dan dakwah kita. Niatkan semuanya untuk ibadah.” Alhamdulillah, benar Allah mempertemukannya dengan banyak kebaikan. Temanya dakwah tentu. Dia mendapatkan teman2 dan guru2 yang sholih, keren, inspiratif. Dia temukan ‘onta2 merah’ yang investatif, menyibukkan diri dengan melahap puluhan buku, aktif dalam kegiatan dan memimpin perhimpunan. Dakwah yang menghiburnya. Bukan koleksi gadget, bukan tumpukan uang, bukan hangout karaoke-an seperti pelampiasan beberapa orang. Allah menghadirkan nuansa2 dakwah untuk menguatkannya agar sabar bertahan dalam perantauan, menentramkan hatinya di tengah semrawut dan sumpeknya hiruk pikuk duniawi yang harus dia tekuni.

Begitupun aku. Dulu, awal semester 1 kuliah di prodi BK, bad mood saja rasanya. Sudah berazzam juga ingin pindah jurusan yg aku mau -karena dulu BK adalah opsi terakhir pas SPMB. Tapi sejalan dengan waktu, ada hal spesial yg menawanku: dakwah dan ukhuwah. Aku mencintai organisasi dakwah di jurusan dan fakultasku, dan mencintai orang2nya. Lalu setelah open mind tentang BK, lama2 aku menyadari ini adalah jurusan yg sangat pas untukku, banyak berpengaruh terhadap progres diriku. Maka betahlah aku di sana (nyampe 5taun je.. :p), mendalami jurusanku dan menekuni aktivitas LDK di jurusan dan fakultas.

Lalu sekarang apa? Sekarang, jikapun aku menangis karena gagal mendapatkan kesempatan yang aku cita2kan, maka sebenarnya hati kecilku sudah bisa berujar,”Gakpapa Han, dulu juga kamu nangis2..dulu kamu kehilangan beberapa hal yg kamu inginkan, dan ternyata Allah lah yg menjelaskan kemudian, kenapa kamu dipilihkan yang itu. Allah akan hadirkan penghibur hati yg menentramkan.” dan biasanya itu adalah tentang dakwah. Passion itu yg rasanya membuat hidup tambah semangat, tambah optimis dan husnudzon. Semisal contohnya gini. Aku sebenarnya ingin bermasa depan di Jogja, membangun mimpi dan lifemap di sana. Tapi bagaimana jika ternyata besok, bulan depan, atau taun depan Allah mentakdirkan kami di kota/tempat yg tak kuharapkan? Pasti ada rasa segan untuk berpindah haluan, mengubah urutan mimpi atau bahkan menghapusnya sama sekali. That’s a pity u know..melepas mimpi itu pedih sekali. Inilah yg kubilang dakwah yg menghibur kami. Satu hal yg insyaALLAH mampu menyemangati kami untuk survive: plan dakwah. Sekarang pun, meski belum kami tau pasti takdir kami, kami sudah membuat rencana2 jika ternyata harus mengubah haluan. Menata ulang urutan cita2, mempersiapkan anak2 tangga menuju mimpi2 kami.

Inilah hidup. Saat mimpimu harus berubah karena takdir Allah, ikhlaslah. Mmm..at least nikmatilah prosesnya menuju ikhlas. Toh masuk surga itu banyak jalannya. Jadi jangan terlampau sedih saat salah satu dari mimpi2mu hilang. Seperti cerita yg lalu2, biasanya Allah akan datangkan penghibur hati yg menentramkanmu. dan biasanya itu adalah tentang dakwah. Sungguh, nikmat Allah itu luas :’)
*seka air mata

Hurt

Standard

Sekarang, aku semakin faham karakter2 teman. Salah satunya, seperti mereka. Yang menyingkirkan kawan sendiri, agar tak tersaingi. Yang menyembunyikan kabar baik, agar dia sendiri yg beruntung.
Ya, ya. Memang sulit untuk tak sakit hati, tapi Allah..selalu punya penawarnya, selalu punya pengobat luka, selalu punya penghibur duka. Allah I love YOU :’)

*somepeople