Episode Laskar Lampiran 2

Standard

Lagi, kami dipertemukan dengan pelajaran hidup yg besar. Tentang takdir, tentang kuasaNYA.

Suatu waktu kami seperti dibenturkan dengan kenyataan yg membuat kening berkerut, juga mata berair, yg menumbuhkan bertubi tanya: kenapa bisa begini? Apa salah kami?

Kenyataan itu, seperti sudah pasti. Final. Fixed. Deal. End! Impossible to get the chance. Namun betapa tersadar kami esok harinya, membawa kesadaranku pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah. Bahwa sesuatu yg kami sangka tak mungkin itu, tiba2 dalam sekejab bisa menjadi mungkin. Sesuatu yg kami sangka sudah pasti, menjadi belum pasti. Yg kami kira pintu itu sudah terkunci, ternyata masih bisa dibuka kembali. Siapa lagi yg mampu menjadikannya demikian…Allah lah, sang Maha Kuasa membolak balik peristiwa.

Seiring bergulirnya waktu, hari berganti, dua purnama kami lewati, bahkan di bulan suci kami berikhtiar penuh semaksimal mungkin, sengotot yg kami bisa, pun teriring lirih doa mendalam di tiap sujud, dan tawakal yg kami sematkan di dada. Hanya keajaiban dari Allah yg mampu mengubah nasib kami, dan itulah yg kami ikhtiari. Dengan semangat sabda Rosul: ikatlah untamu, baru berawakallah pada Allah. Dan kalam Allah: bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, sampai ia mau berusaha mengubah nasibnya sendiri. Maka kami ngeyel, kami terus berjuang, memperjuangkan hak kami. Selama palu belum diketuk. Sembari bertawakal, karena kami yakin ending semua ini ada pada kuasaNYA.

Namun, apa hendak dikata bahwa ternyata semua yg kami upayakan nihil, melesat jauh dari harapan. Melunturkan kepercayaan kami pada mereka, memupus sudah harapan kami, menguras perasaan dan air mata, pun emosi yg membumbui. Pedih rasanya atas ketidakadilan ini. Sangat mengecewakan.

Berakhir sudah. Kami menyerah. Inilah endingnya, kami pasrah pada takdir Allah. Jangan tanya kenapa harus ada kekeliruan? Kenapa pula harus nama2 kami ini yg termasuk dalam kekeliruan? Kenapa dan kenapa? Semua jawab toh bermuara pada satu kesimpulan: this is our fate. Kami harus terima, harus ikhlas, harus sabar. Meski getir rasanya, namun inilah takdir Allah untuk kami. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Dan beginilah indahnya menjadi muslim. Bahkan peristiwa pahit ini pun tak sia2, ia datang membawakan selautan hikmah. Lihatlah, tiba2 saja kita sudah seperti sahabat lama, seperti keluarga,yg saling peduli, menolong, dan membersamai. Meski judulnya kita dipertemukan karena nasib getir yg sama, namun akhirnya kita toh bahagia menjalani kebersamaan ini. Sekaligus mempertemukan kita pada kebijaksanaan sang pemimpin, sosok yg insyaALLAH tak kan kulupa wibawa, bijaksana, dan rendah hatinya. Melalui beliau juga kita bisa pulang dengan riang.

Well, tentu saja koloni kita ini harus bubar dan bertebaran di berbagai daratan. Allah takkan menyiakan hambaNYA. Allah menguji kita dengan ini karena kita mampu melewatinya. Yakin, ada ganti yg lebih baik, seperti smangat alqur’an yg sering kita ingat: jangan berputus asa! Mimpi2 kita harus tetap menyala terang, hingga pendarnya menerangi langkah kita untuk menggapainya. Amin.

~proud regards to laskar lampiran 2: udi,yusron,dwi,indah,mb fanny…SMANGAAATTT! dan kalian yg bertahan di sana: mb tatie,tita,nia,hary,dan kawan2. Oya, Istiqomah dan Amril Grey juga. Im proud of you.
~sincerely special thanks to Prof. Dr. Zuhdan Kun Prasetyo, M.Ed.
I adore you, Sir. The way u lead, the way u greet us, the way u meet us. The way u behave. Barokallohu fiik, Bapak Direktur :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s