I dont wanna lose this feelings

Standard

Menjadi ibu rumah tangga itu membahagiakan, menentramkan hati. Apalagi merasakan serunya momong anak, bahagianya menjadi orang pertama yang mengamati tumbuh kembang anak, orang pertama yang menyaksikan setiap detail kemajuan anak, pertama kali dia tengkurap, rangkak pertamanya, langkah2 kecil perdananya, celoteh2 ucapannya, bahkan every single spot di bajunya, aku yang lebih tau karena aku membersamainya seharian, aku yang menyuapinya, menemaninya makan, main, dan berbelepotan. Maka itu pula lebih puas kalo aku cuci sendiri baju2 Rafa, karena aku yang tau dan ingat dimana letak noda special di bajunya yang membutuhkan pengucekan khusus.huehee..

Nah yang mau aku critakan sekarang adalah, bahagianya seorang ibu yang stay at home, sehingga bisa membersamai anak, mengobservasi, stimulasi, dan menjadi saksi pertama tumbuh kembangnya. Seperti tadi bahagianya aku menyaksikan Rafa mengoceh sambil menunjuk lipatan mukena dan sajadah di atas meja, lalu tangannya seperti bersedekap dan berkata,”awwooohh…” Kemudian saat terdengar adzan dia mencari2 arah suara sambil ‘bersedekap’ dan bilang “awwoooh…abbaaa…” lalu tersenyum lebar padaku, ganteng sekali. Saat kubilang, “gimana dek Allohu akbar-nya?” dia mengulangi gerakan dan ucapannya. MasyaAllah…anak sholihku. Kupeluk erat ia dan kuciumi bertubi2 dengan segenap rasa. Bahagiaaaa sekaliii..!

Juga saat dia mengambil uang 5ribuan kemudian berjalan ke arah pintu ruang tamu, minta dibukakan. Pikirku, dia mau beli susu kah? Karena biasanya 2x seminggu ada mas2 penjual susu segar langganan kami datang ke rumah. Besoknya benar dia dah paham ternyata, saat penjual susu datang uang kuberikan ke Rafa. Lalu dia berjalan ke arah pintu menyerahkan uang ke mas penjual susu. Rafa juga yang menerima kembaliannya. Eccieeeh Rafaku bertransaksi ekonomi..huehee…

Sekarang2 ini dia juga makin expresif dan bisa ‘ngerjai’ orang. Biasanya kalo dia jatuh atau kesakitan, bagian mana yang sakit akan kupegang sambil doakan “syafakallah…huff..” kutiup dan kucium juga. Manjur dia langsung berhenti nangis atau merengeknya. Selanjutnya dia jadi terbiasa, kalau jatuh atau terbentur, meskipun tidak terlalu sakit dia akan memegang bagian yang sakit sambil berkata “awwuuuhh…” lalu didekatkan padaku agar kudoakan dan kucium. Nah, usilnya dia seringkali setelah itu dia mencari2 bagian tubuh lain (biasanya tangan atau kaki) dipegang2 seolah2 sakit juga, sambil bilang “awwuuuhh…” agar kudoakan dan kucium. Gemesiinn banget kalo dah begaya begitu, expresi ‘aduh’nya itu seperti dibuat2, kadang dia sambil nahan2 senyum usilnya. Jelas saja aku dan abinya ketawa ngakak. Kalo kami menyoraki dia,”hallaaah…gayaaa…” dia kemudian nyengir ketawa…ehe ehee…begitu. Kami pun ngakak bersama.

Dan banyak lagi tingkah Rafa yang menggemaskan, apalagi sekarang dia makin aktif meniru apa2 yang dilihat dan didengarnya. Lucuuu banget. Niru ngelap lantai pake tisu, niru masang panci n nyalain kompor, niru memeras cucian, niru ngoceh2 baca buku, dll. Makin banyak dia diajak aktivitas, makin banyak dia belajar dan meniru. Soalnya aku dan abinya sering mengajak Rafa mengerjakan pekerjaan rumah, dan itu ampuh menghiburnya. Dia senang sekali diajak masak, nyapu, cuci piring, mitil sayur, ikut abi nyuci baju, bahkan nangis gero2nya berhenti saat diajak abi jemur pakaian. Belum lagi kalo punya keinginan, Rafa passionate banget! Ngeyel alias berazzam kuat. Apalagi dia punya daya ingat yang tajam dan asosiasi yg kuat, tambah susah dialihkan kemauannya. Sampai aku dan abinya berkesimpulan, Rafa ini anak yang kuat, jarang sekali nangis kalau jatuh. Tapi dia bisa nangis gero2 kalau dilarang main sesuatu. Kalau dia lagi pengen jalan2 atau sudah liat uminya dandan pake jilbab, dia akan cari2 gendongannya dikasih ke umi, kemudian dia ambil jaketnya, minta pakai sepatu/kaos kaki, tunjuk2 helm, kasi kunci motor ke abi, dan lain2 yang dia hafal kalo mau keluar.

Begitulah catatan mama Boya menjalani hari2 di rumah bersama Rafa dumdum. And that is the happiness of being full time mother. Sejujurnya aku tidak setuju dengan istilah: full time mother. Kan jadinya nanti ada istilah lain: part time mother. Nah lhoh, setengah hari jadi ibu, setengah harinya lagi enggak, macam kerja part time gitu? Masa begitu?heheheh. Karena sejatinya, menjadi ibu yang ada adalah longlife mother, longlife time, status dan pekerjaan sepanjang hayat. Meskipun sang ibu sedang keluar rumah, entah untuk bekerja, belajar, belanja, ngisi pengajian, atau beramal lainnya, sejatinya ia tetaplah seorang ibu bagi anak2nya. Maka aku lebih setuju jika sebutan full time mother (FTM) yang ditujukan bagi para ibu rumah tangga yang tidak bekerja di luar rumah, diganti dengan stay at home-mother, atau working at home-mother.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s