Peraturan yang Tak Tertulis

Standard

Mungkin, salah satu berkahnya perjalanan adalah menemukan teman safar yang baik,yg menentramkan perjalanan. Karena kalau nemu teman perjalanan yang bikin bete tuh, rasanya “hhh..bangettt”.

Dalam perjalanan kami minggu lalu dari Jember ke Jogja demikian juga adanya. Kami menemukan teman2 safar yg ramah, baik, menyenangkan diajak ngobrol di kereta. Bahkan mbak2 yg duduk di bangku depanku, yg semula kuanggap tampak angkuh dan cuek dengan tampilannya, ternyata baik sekali. Dia ramah, care, tak sungkan berbagi bekal makanan juga. Memang salahku yg semula terlalu jump conclusion. Pertama melihat mbaknya, pakai kaos hitam plus leging hitam ketat, rambut sebahu dicat warna kemerahan, memakai kalung model rantgai panjang dengan bandul bentuk gajah, dan berkacamata hitam besar, bagiku terasa aura cueknya. Tapi ternyata aku salah. Bahkan dia begitu care pada Rafa, tak kikuk mengajaknya bermain. Kami pun nyaman berkomunikasi dengannya sepanjang perjalanan Jember-Jogja.

Tapi oh tapi. Yang namanya kereta memang macam2 lah orangnya. Dan kami kemarin berada di gerbong paling belakang, yg sekitar 2/3 gerbong diisi oleh rombongan studi tour anak2 SMP dari Banyuwangi. Disini lah gangguan dimulai. Sejak kami naik kereta sampai kami turun di jogja, itu rombongan anak2 SMP ribuuut terus. Tidak ada diamnya. Mereka bercerita, ketawa2 cekakakan, teriak2, dan masalahnya adalah: volume mereka luar biasa lantang. Sebenarnya hanya beberapa baris anak2 di bagian paling belakang yang ribut, tapi percaya atau tidak, nyaringnya mereka ribut sampai di ujung gerbong, maksudku tempat duduk paling ujung depan. And unfortunately, kami berada di tempat duduk bagian tengah, tepat yg paling dekat dengan mereka. Otomatis, tergangguuu…sekali. Oke lah orang dewasa tak bisa tidur tak terlalu masalah. Tapi kalo bayi? Di gerbong kami terdapat beberapa anak2 batita, Rafa yg paling kecil. Alhamdulillah Rafa bisa tidur 3x, meskipun di saat2 dia akan lelap dia sempat terkaget bangun dan rewel. Dan di saat seperti itu, rasanya beteee…kesal bangettt sama rombongan anak2 itu. Awal2 kami naik kereta, masih bisa santai2 toleransi, okelah…namanya jg anak2 remaja, kalo kumpul sama teman2nya ya begitu ramenya. Tapi semakin lama dirasa2, jengah juga kami. Bayangkan, perjalanan Banyuwangi-Jogja itu sekitar 12 jam. Dan selama itu, mereka ribuuuttt terus. Kok betah gitu lho, heran betul. Saat menggendong Rafa berkeliling di dalam gerbong, kuperhatikan hampir tak ada wajah yg tak lelah, ditambah suntuk karena berisiknya rombongan belakang. Anak2 batita juga cuma Rafa yg tidur. Beberapa orang kudengar mengeluh juga.

Astaghfirullah, heran betul. Kenapa anak2 itu sama sekali tidak capek, tidak mau diam, atau pun sedikit saja berempati pada penumpang lain di gerbong ini? Ada bayi, ada orang2 tua/sepuh, ada orang2 capek yg butuh istirahat, kenapa tak punya kepekaan sedikit pun untuk menjaga adab bicara, tak punya kepedulian untuk sekedar diam sejenak saat mendengar bayi menangis..? Mereka sudah SMP, oke masih remaja, belum dewasa, tapi setidaknya sadar ini tempat umum, bagaimana adabnya, tingkah laku yg sopan. Setidaknya mereka pernah belajar PPKn, tentang tenggang rasa, tatakrama, atau setidaknya mereka anak2 Jawa yg tak asing dengan ‘anggah ungguh’ Jawa. Parahnya lagi, guru2 pendamping juga tak ada yg bisa menenangkan murid2nya.

Astaghfirullah, kami menahan diri untuk sabar saja, tapi saat kereta sampai madiun, ada ibu2 yg gemas mungkin, mendatangi bangku anak putri SMP itu lalu bertanya,”Turun mana dek?” ternyata mereka turun Jogja, stasiun terakhir. Dan si ibu kembali duduk di bangkunya dengan ekspresi agak kesal, mungkin sambil berpikir, wah…alamat berisik terus sampai akhir perjalanan.hehe*cuma dugaanku.

Namun kami jadi menemukan pelajaran dari ke-bete-an kami. Bahwa kadang, disuatu tempat ada peraturan2 tak tertulis yang kita perlu peka. Di kereta memang hanya ada tulisan ‘DILARANG MEROKOK’ tidak ada tulisan aturan ‘dilarang ribut’ atau ‘harap menjaga ketenangan’ , seperti halnya peraturan di perpustakaan mungkin. Memang tak ada aturan tertulis demikian. Tapi bukankah kita tau, adab2 umum yg patut dijaga seperti misalnya menjaga tingkah laku dan ucapan agar tidak mengganggu orang di sekitar kita. Itu adab2 umum yg praktis berlaku dimana saja, yg jika kita internalisasikan dalam diri, akan membuat kita sadar untuk bertingkah laku sopan dan santun dimana pun berada. Akan membuat kita peka untuk membaca suasana. Pantaskah aku begini? Patutkah aku begitu?

Ah, merenung2, aku jadi ingat sebuah hadits, tentang tetangga.Dari Abu Syuraih r.a. bahwa
Nabi Muhammad saw.
bersabda, “Demi Allah,
seseorang tidak beriman; demi
Allah, seseorang tidak beriman;
demi Allah, seseorang tidak
beriman.” Ada yang bertanya,
“Siapa itu, Ya Rasulullah?”
Jawab Nabi, “Yaitu orang yang
tetangganya tidak aman dari
gangguannya.” (Bukhari)

Dalam pemahamanku, ini mungkin juga relevan untuk mengingatkan agar kita tidak menjadi gangguan bagi orang2 di sekitar kita, entah misalnya tetangga kosan, tetangga kamar, atau tetangga bangku. Wallahua’lam.

Ya Allah, maafkan kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s