Rezekinya Orang Desa

Standard

Ada orang bilang,”Biar wajah ndeso, yang penting rezeki kuto.” Emang wajah ndeso tu yang gimana? Emang rezeki kuto tu yang gimana juga? hihiii. Mungkin rezekinya orang kota tu tinggal di rumah bertingkat di perumahan elite, atau apartemen mewah, dekat dengan mal-mal besar nan megah, bekerja di perkantoran tingkat sekian ratus, pake sepatu mengkilap, berdasi dan duduk di gedung ber-AC, tiap hari naik mobil menyusuri jalanan aspal, dekat dengan fasilitas hiburan, dan lain-lain. Ah ya, tentu saja itu semua patut disyukuri, itu kan nikmat dari Allah juga.

Hanya saja, aku sedang ingin mensyukuri nikmat Allah yang dianugrahkan padaku sebagai anak desa, bocah ndeso. Taukah kamu, inilah sensasi bahagianya aku setiap kali mudik ke kampung halaman. Ayem, lego… Dibandingkan hidup di kota besar, sungguh banyak hal yang patut disyukuri tertakdir menjadi orang desa.

Kamu tau, di desa itu hawanya segar, masih sangat rimbun pepohonan di sekitar rumah2 dan jalanan. Tentu saja tak ada polusi, baik dari hasil cerobong2 asap pabrik2 raksasa atau hembusan knalpot kendaraan yang memadati jalanan. Tentu saja di desa tak ada macet juga, lega rasanya berkendara. Ingat saat di Malang dan Jogja, pusing dah kalo pas macet2nya jalanan. Sudah hawa panas, asap menyesaki nafas.

Di desa itu, rata2 orang punya halaman atau pekarangan yang luas, sangat leluasa untuk anak2 bermain, berlarian, bersepeda, dan juga untuk bercocok tanam. Karena orang di desa biasanya punya tanah yang luas. Di kanan, kiri, depan, atau belakang biasanya selalu ada lahan pekarangan. Itulah pula kenapa rumah2 di desa biasanya modelnya meluas, tidak bertingkat2 seperti rumah kota yang minim tanahnya. Tanah di kota besar sangat mahal, bahkan untuk memakamkan orang mati pun harus beli sepetak tanah.

Orang2 desa juga biasanya punya pekarangan yang ditanami tanaman2 yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari2, terutama kebutuhan dapur. Pas mau masak butuh lengkuas, daun salam, kunci, kemangi, serai, jahe, pandan, daun jeruk, dan lain2 tinggal petik di kebun. Cari dedaunan juga gampang, ada daun singkong, daun pepaya, daun ubi jalar, luntas, untuk dibuat sayur ataupun daun pisang untuk membungkus makanan. Jikapun tak ada, biasanya tak perlu sungkan2 untuk minta tetangga, karena di desa satu sama lain terbiasa saling berbagi. Di kota, jika tak punya pekarangan untuk menanam, mulai dari benda simpel macam lengkuas atau daun jeruk yang cuma butuh satu lembar untuk bikin sambel misalnya, kita harus beli, sepaket dengan empon-empon lainnya.

Pemandangan sejuk, rindang, dan hijau adalah nuansa sehari-hari di desa. Sawah hijau yang terbentang, burung-burung berkicau riang, ayam-ayam bersahut-sahutan adalah iramanya. Pagi-pagi para buruh tani bersepeda berangkat ke sawah. Sepedanya usang, pakaiannya lusuh, pekerjaannya berat, dan sepagi itu mereka bersemangat berikhtiar menjemput rezeki Allah, rezeki yang insyaAllah halal. Dan mereka bahagia. as simple as that.

Makanan di desa juga murah meriah. Nasi pecel kesukaanku sejak SD (wow, saya ini orangnya setia ya, bahkan pada kuliner kesukaan saya, wkwk), sekarang bisa didapat hanya dengan harga 2000 rupiah, sudah cukup mengenyangkan perutku. Di jogja mungkin cuma dapat nasi putihnya saja tanpa lauk (kecuali nasi kucing), di desaku uang segitu sudah dapat nasi lengkap dengan sayuran, serundeng, kering tempe, sambal pecel, plus rempeyek atau tempe. Bungkusnya pun pakai daun pisang yang utuh dan lebar. Nikmatnyaaa… :)

Di desa biasanya budaya gotong royong juga masih dijunjung tinggi. Budaya saling menyapa, saling bersosialisasi dengan tetangga, saling mengenal dan peduli. Sedangkan di kota besar, kehidupan cenderung berjalan individualis, bahkan sampai tak tahu siapa nama tetangga depan rumah, anaknya berapa, sekolah dimana (meski tak semuanya begitu ya).

Orang desa katanya nggak fashionable. Ada benarnya juga sich, seringkali para ibu-ibu atau bapak-bapak desa saat berbusana nampak tidak matching. Bawahan motif kotak2, atasan bunga2, pun tabrak warna yang ekstrim, hihi. Namun justru inilah khasnya, ya biarkanlah begitu adanya mereka. Toh dalam paradigma mereka, itu sudah bagus, sudah cantik kok.

Yah begitulah rezekinya orang desa, tentu saja berbeda dengan kota, dengan masing2 kekurangan dan kelebihannya. Yang penting dimana pun kita berada, semoga senantiasa mensyukuri pemberiannya. Tapi kalo mikir2…rasanya pengen deh nanti kalau punya rumah tu yang suasananya desa, rumahnya sederhana tapi elegan, tanahnya luas, tetangganya ramah, ada pemandangan sawah, kebunnya subur, halamannya luas buat main anak2 (macam rumah bapak ibuku inilah) tapi juga nggak jauh2 amat aksesnya ke kota. Jadi yang dekat juga ke ATM, ke bank, pasar besar, ke kampus, atau swalayan. Lengkap kan? hahaha, mauuunya.

Ssstt…sebenarnya nich terinspirasi ini karena pas mudik mesti deh ngiri sama ibuk dan ibu mertua yang kalo masak tuh bisa mengandalkan tetumbuhan di kebun sendiri. Meskipun tak semua bahan, tapi kan rasanya puas gitu kalo bisa memetik dari kebun sendiri, meskipun cuma sejumput kemangi atau secuil kunci (yang kalau aku di Jogja, semua itu harus beli). Seperti halnya kita puas makan mangga hasil panen sendiri daripada makan mangga beli. Kebetulan rumah kontrakan kami di Jogja tak punya lahan. Halaman tak ada, pekarangan pun tak ada. Mepet. Nah, untuk model rumah seperti ini, mungkin bisa disiasati dengan menanam di pot-pot gitu ya, lumayan lah untuk menumbuhkan pohon cabe, tomat, laos, atau kemangi, ihihii. Well, pemirsa, ini baru menjadi ide saya, belum dilaksanakan. Semoga setelah nulis ini saya beneran bikin yah, amin. Itung-itung sebagai salah satu proker Ramadhan :)

Nah, kalau begitu kan gak masyalah kita mau tinggal dimana asal bisa memberdayakan lahan yang kita punya untuk bercocok tanam, dengan kreasi cara yang kita bisa. Jadi kan saya bisa bilang, “Biar wajah kota, rezeki desa” :p

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s