Ternyata Begini Rasanya Dipoligami :D

Standard

Sepertinya ini suasana ba’da isya’, sepulang dari mushola. Kita berjalan menaiki sebuah tangga tinggi. Tak tau kenapa rasanya aku lelah sekali menapaki anak-anak tangga ini. Kenapa sih jalannya setinggi ini, pikirku. Aku berjalan di depan mendahuluimu yang masih di anak tangga bawah, kau berjalan perlahan sambil menyapa dan menanggapi sapaan tetangga. Meski aku di di depan, masih bisa kudengar jelas sapaan dan ucapan dari mereka untukmu. Memberi selamat. “Selamat ya ustadz, semoga bahagia..”  “Selamat menempuh hidup baru ustadz..” dan ucapan-ucapan senada, kau pun sibuk mengucap terimakasih dan mengamini. Padahal aku berharap kita cepat sampai rumah. Bersamaan.

Aku yang memasuki pintu rumah terlebih dahulu. Dan terbersitlah ingatan bahwa malam ini akan terjadi hal besar itu. Dadaku mulai sesak, mungkin wajahku juga mulai tampak merengut. Tak bisa kupungkiri sebuah rasa: aku bersedih! Mulai kudengar tapak kakimu memasuki ruangan. Sebenarnya aku tak ingin kau mendapati wajahku yang sekarang. Aku ingin kau bahagia malam ini, pun aku. Aku ingin kita sebahagia dulu saat melalui hal serupa. Berusaha kusenyum-senyum maniskan wajahku, berharap kau akan bahagia malam ini, bukan sebaliknya.

Sedang kutatap cermin besar di dinding, sembari menatap bayanganmu yang mendekatiku dari arah belakang. Kutepis-tepis pilu agar sedikit menyingkir dari batinku, setidaknya tak perlu terukir di wajahku.

Kurasakan kau mendekat memelukku. Dapat tercium jelas olehku aroma wangi melati yang menghiasi gaun hijau muda-mu, yang mengalung indah melengkapi riasanmu malam ini. Harum yang menyesakkanku.

“Malam ini ya?” tanyaku. Jika tak kumulai bicara mungkin air mataku yang akan mendahului.

“Iya.” Singkat jawabmu.

“Cepat sekali.” Datar…sehambar hatiku yang semakin memilu. Kupejamkan mata, sungguh tak mampu menatap matamu, tak kuasa jika harus kau temui mataku yang menyiratkan rasa tak rela.

“Prosesnya sudah dua bulan. Mereka minta disegerakan.” Jelasmu.

Memang tak perlu banyak kata, karena kita sudah sama2 tahu untuk apa ini harus terjadi. Mataku memanas. Teringat janji pernikahan kita: tak boleh ada ‘orang ketiga’. Tapi sekarang? Tiba-tiba kita merubah arah kesepakatan kita. Aku tau ini karena mereka, bukan inginmu sendiri. Atas nama jamaah, demi dakwah, dengan rasionalisasi yang complicated, kau pun menyetujuinya. Dan aku, menyetujuinya pula. Tapi rasanya sekarang meski kuusahakan sekuat hati mengikhlaskan, tapi tetap saja… tak bisa kutahan gejolak rasa yang membuncah. Jelas kurasa tanpa bisa kutepis: aku cemburu! Kupastikan aku tak kan mampu menyaksikan akadmu, dengannya.

Oh Allah…dadaku terasa sesak…sesak sekali. Masih memejam mataku, berharap bisa membendung lelehan air mata. Tapi nyatanya tak bisa. Sembari sesenggukan, meskipun kutahan-tahan tetap saja membuat badanku bergetar. Kita berdua masih berada di depan cermin besar di dinding. Kau hanya diam, mungkin juga dengan campur aduk perasaan. Aku masih yakin, aku masih merasakan, akulah yang kau cinta, tapi ini harus terjadi. Angan dan ingatanku melayang ke berbagai penjuru. Padahal aku berharap bisa tegar, ternyata nihil.

Dalam sekejab aku merasa seperti tak sadarkan diri, hanya sayup-sayup kudengar suaramu dan si kecil. Sepertinya berada di dekatku. Perlahan kubuka mata, masih kurasakan sesak dadaku, panas mataku, terasa seperti habis menangis tersedu-sedu. Sekarang benar-benar terbuka mataku, terkumpul kesadaranku, dan ternyata… kudapati kau sedang bercanda ria dengan si kecil, di sampingku.

Aku terbangun dari tidur. Kau dan si kecil tersenyum manis bersamaan ke arahku.

Ya Allah… ternyata AKU HANYA BERMIMPI!! hahaahaaa… jadinya ketawa2  geli sendiri (ada sebel juga sich).

Huuufffttt, alhamdulillah hanya mimpi. Tapi kenapa pula mimpinya macam itu..?!! Wallohua’lam, tapi setidaknya di dalam mimpi itu aku bisa merasakan hal: ternyata begini rasanya dipoligami. hahaahaaa…

3 responses »

  1. huaaaaaaaa…. hahahahahaha… hadeeeeeuuuuhh… pasti sakitnya cetar membahana ;D, hadeuuuuuuuhhh… sampai-sampai hatiku merasakan getarannya… terkadang mimpi serasa benar2 kenyataan sehingga bisa benar2 merasakan sakitnya, deuh… hihihihi.. ;D, emang ada yang jama’ah yang segitunya :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s