Catatan si Boya: Memilih BLW

Standard

*Ini adalah posting yang tertunda, karena saya lupa menulis draftnya dimana dan baru ketemu ini, hehe. Padahal sudah ditulis lumayan lama, saat Rafa usia 7 bulanan*

Asiiiikkk…gini nich serunya kalo kita dah berstatus ganda: istri dan ibu. Means that: we have much more story to tell. Dan sekarang saya sedang ingin cerita tentang anak kami, si Boya Rafa.

Akhirnya dia lulus ASIX 6 bulan lho, beranjak naik marhalah dari mihwar ASIX ke mihwar MPASI (bahasanyaaa… -_-). Seiring dengan itu pula, status pipis Boya naik juga tingkatan fiqihnya, dari najis mukhofafah (yang cukup diciprat air saja sudah bisa mensucikan) menjadi najis mutawasithoh (kudu ilang bau, rasa, dan warnanya barulah suci), karena si Boya sudah mulai makan makanan selain ASI.

Eh, ada yang menarik lhoh dari pengertian fiqih najis mukhofafah ini, bahwa yang termasuk najis ini hanya satu: pipisnya bayi laki-laki di bawah usia dua tahun, yang hanya minum air susu ibunya. Nnaaahh…ada satu isyarat menarik di sini, berarti dulu jaman Rosulullah, ada bayi-bayi yang hanya disusui ASI SAJA sampai usia 2 tahun. Maka tak heran ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa bayi di bawah 2 tahun belum butuh MPASI, cukup ASI saja sampai 2 tahun, baru start MPASI. Tapi kalau menurut WHO, bayi usia 6 bulan sudah siap pencernaannya untuk mulai MPASI, sudah butuh supleman makanan tambahan selain ASI, berdasarkan penelitian ilmuwan2 itu.

Terserah sich mau setuju dan mengaplikasikan yang mana, tergantung mana yang kita yakini baik untuk anak kita. Kalau dalam pemahaman saya, pengertian najis mukhofafah “yang hanya minum air susu ibunya” tersebut justru mengindikasikan dua hal: jaman Rosulullah dulu ada bayi2 yang disusui FULL ASI sampai 2 tahun, ada juga yang tidak (mungkin sudah diberi makanan pendamping pada usia tertentu). Wallohua’lam, afwan…belum nemu tafsir haditsnya. Jadi sejauh ini, saya masih memahami dan menerapkan bahwa bayi usia 6 bulan perlu diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Emang sich, WHO sendiri berubah2 dalam menetapkan standar start MPASI. Dulu 2 bulan wajib full ASI, kemudian penelitian berikutnya jadi 4 bulan harus full ASI. Lalu, sampai detik ini hasil penelitian yang dipakai: full ASI 6 bulan. Well, jadi kepanjangan cerita kemana-mana. Tadi kan mau ngobrol tentang Boya yang mulai MPASI toh..

Persiapan MPASI, apa saja?

Mencari ilmu. Itu yang kami siapkan sedemikian utamanya, dengan membaca, bertanya, sharing/diskusi. Katanya kan: al ‘ilmu qoblal ‘amal (ilmu dulu baru amal). Nah, salah satu yang asik, menarik, dan seru selain searching2 artikel di web adalah: join grup perMPASIan. Ada dua grup MPASI di facebook yang saya ikuti: Homemade Healthy Baby Food (HHBF) dan Baby Led Weaning (Indonesia). Baca2 dokumen dan sharing ibu2 di grup tersebut…membuka wawasan banget. Apalagi yang menggiurkan adalah tentang resep2 menu MPASI. Awal2 baca diskusi ibu2 di HHBF saya ngrasa minder…secara ngrasa ‘gaptek’ tentang menu2 asik, seru, dan bermutu buat buah hati, apalagi membaca nama2 bahan yang disebutin ibu2. Haduuuh…itu bahan yang kek apa saya gak ngerti…trus belinya dimana, trus cara masak yang bagus n bener gimana…trus itu nama alat yang disebutin kek apa bentuknya, gimana makenya…? Aaaaaa…aku ketinggalan jauh ni sama diskusi2nya. Hiks hiksss. Lalu, ada sesosok pangeran sabar, sholih, dan smart yang setia mendampingi saya belajar, dia berkata menenangkan, “Cint, ya wajar kamu tu belum ngerti, belum paham, belum kenal benda2 itu…kamu tu baru belajar, baru mau nyemplung. Ntar lama2 juga faham…” eaaaa… oke2 *senyum2 cengengesan* emang agak lebay obsesi nich, rasanya pengen ‘mak cling!’ langsung kukuasai ntu smua ilmu2 per-emak-an serta per-anak-an. Baiklah, istrimu kembali bersemangat belajar!! Dan harus sabar yo sinaune!

Mulanya hanya grup HHBF yang saya tengok, sampai kemudian hari…penasaran sama cerita mbak kos, namely: mbak Rike, yang cerita kalau anaknya pake metode BLW. Hah? Apa itu BLW? Saya taunya WBL nih (wisata bahari lamongan, wkwkwk). Ada grupnya juga? Cari aaaahhh… daaaan… wow, I’m totally impressed of the knowledge in that group, it’s really a new one I just know, then I start to learn much more about the theme: BLW (Baby Led-Weaning). Sesungguhnya penasaran adalah salah satu anak tangga menuju pengetahuan. Tertarik sekali dengan metode BLW ini, akhirnya saya bela2in beli bukunya juga. Biar mantap untuk aplikasi. Sekaligus sebagai rasionalisasi dan advokasi jika ada yang complain (eaaa…ini amunisi ceritanya, heheheee). Eh betewe ni ya, emang bener ternyata, menjadi orangtua adalah pelajaran sepanjang hayat. Materinya jauuuuuhhhh lebih berat, banyak berlipat2, dan beraneka rupa dari sekedar materi kuliah sarjana, S2, bahkan S3. Okenya lagi ni, pelajaran menjadi orangtua ni gak boleh berhenti pada teori, langsung harus aplikasi karena di depan kita sudah menanti anak-anak tercinta generasi yang butuh sentuhan pendidikan dan pengasuhan. Karenanya, menjadi orangtua ternyata menuntut kita untuk membeli buku paket juga akhirnya. Parenting books, childhood books, tarbiyah books, etc. Dulu waktu kita mau nikah, aduduuu…ceile kumpulan buku munakahatnya banyak amiirrr, sebagai bekal pernikahan gitu (ya nggak? ya nggak?). Nah giliran mempersiapkan kelahiran, kehadiran, dan tumbuh kembang buah hati…yuk mari kita kumpulin juga buku2nya (dibaca juga maksudnya) sebagai bekal mengemban amanah Allah untuk mengasuh anak2 kita. Jadi ingat kata murobbi (guru ngaji) saya dulu: “Salah satu pertanyaan yang perlu ni kita tanyakan ke ikhwan calon kita: bagaimana konsep mendidik anak? Karena insya Allah kebersamaan kita berdua saja tu nggak lama, paling terhitung bulan.. selanjutnya, kita akan berlama-lama sepanjang hayat menjalani kebersamaan bersama anak. Maka pendidikan anak adalah konsep priority yang harus difahami.” (mbak M***Y)

Oke guys, back to theme! Finally, dengan berbagai diskusi panjang, proses pencarian, pertimbangan, prediksi, seleksi dan eliminasi (gak pake audisi)…saya dan abi Boya sepakat menjatuhkan pilihan pada BLW. Setelah mempertimbangkan banyak faktor, kami cenderung lebih sreg dengan metode ini. Sekali lagi, ini pilihan ya. Toh memang ada beberapa teori tentang MPASI, yang masing2 punya kelebihan dan kekurangan, tinggal kita sebagai orangtua mantap dengan teori yang mana. Mau ngikut panduan WHO apa FC (food combining), mau puree atau BLW…it’s a choice : )

Nah, begitu ceritanya tahapan saya dan abi Boya mencari ilmu di dumay (dunia maya) fesbuk.

Next step..? Apa yaa…?

Oh, perabot makan bagaimana? Mmmm… saya termasuk gak ribet mikirin perabot sich, karena pada dasarnya BLW itu simpel, gak butuh macam2 amunisi semacam mangkok khusus, sendok khusus, botol pure khusus, blender khusus, food pcocessor khusus, saringan khusus, de el el. Kita hanya butuh menyiapkan makanan dalam bentuk finger food (makanan yang bisa dipegang bayi) dan memposisikan bayi dalam keadaan tegak saat proses makan.

High Chair butuh kah? Karena saat 6 bulan Rafa belum bisa duduk sendiri, jadi belum butuh high chair, masih dipangku saja awal2 BLW. Apa nanti selanjutnya butuh HC? Mungkin… dan biasanya, sebelum kami memutuskan beli2 barang mihil buat perabot si Boya, kami biasa fit n proper test dulu dengan menyewa. Seperti dulu kami nyoba sewa stroller, ternyata jarang kepake juga, enakan menggendong aja  lebih fleksibel dan anak lebih akrab dalam dekapan ayah/bunda *kata penelitian, anak yang digendong will be smarter than yang ditaruh di stroller. Nah sampai sekarang (usia 7 bulanan) Rafa masih enjoy makan sambil dipangku, kadang juga duduk sendiri lesehan. Hanya saja godaannya kalau duduk sendiri…dia lebih mudah  tergoda untuk ngeluyur main. hehehe

Mmm, kayaknya itu saja sich persiapan MPASI yang kami lakukan kemarin. Ohya, hampir lupa. Pillow talk juga, ini masuk agenda preparation for MPASI.

Well, saya sudah ngantuk sekarang, mari kita tunaikan hak badan dulu. Besok dilanjut cerita seru BLW Rafa.

Nice to see you : )

4 responses »

      • iya mbak, kemaren udah googling..
        kok kayaknya susah,,ribetan mana sama ndulang mbak? soalnya kan biasa ndulang mendulang gitu nek baby baru mau mpasi? hehe, udah kepikiran aje mpasi mbak aku ini… :D

      • Justru BLW lbh simple menurutku, praktis. Paling resiko teknisnya ya berantakan itu td, tp banyak kelebihan BLW utk prkembangan anak. Tp ya kembali lg, ortu prefer yg mana. Posting atasnya ini ada crita pengalaman BLW sy, ehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s