Ya Nak, bermainlah…

Standard

Umminya sibuk rapi-rapi, si Boya ikut bersemangat juga bantu “rapi-rapi”. Tumpukan buku sudah ditata, dirubuhkan. Mainan2 dimasukkan keranjang, diabsen keluar satu persatu. Kertas2 dimasukkan map, bisa juga di tebar ke lantai lagi. Isi tas umminya juga digeledah. Selanjutnya, jika tidak dipindah, itu baju2 di keranjang akan dilempar2 keluar satu2 sampai keranjangnya kosong song. Dan seterusnya, dan lain2nya. Jadi, kapan bisa RAPI kalau gitu? >.<

Baiklah, ummi online dulu aja ya, sambil ngawasin Boya.

Begitulah kalau punya bocil (bocah kecil). Rumah rasanya sulit untuk bisa rapi jika si bocil belum bobok. Banyak benda bertebaran di tempat yg tidak seharusnya (maka bagi para tamu, harap maklum ya). Ada gayung di karpet ruang tamu. Tutup gelas, kocokan telur, dan cangkir di kasur. Galon kosong di bawah meja. Panci, sendok, kardus, ember di ruang makan. Belum lagi rak buku always menjadi agenda harian Boya, buku2 diambili satu2, dibolak balik, kadang dirobek juga sampai sampulnya lepas2.

Bisa saja sich sebenarnya kujauhkan benda2 itu dr Rafa agar tidak dibuat berantakan. Tapi prinsipku, biarlah dia bermain apa2 yg dia inginkan, selama itu tidak berbahaya baginya. Biar dia menikmati masa bayinya dengan bahagia, memainkan apa saja yg menarik, dan mengexplorasi apapun untuknya belajar. Jadi sengaja kubiarkan dia menjadikan banyak benda sebagai mainan, selama dalam pengawasan dan ditemani. Kalo kata abinya suatu saat, “Ternyata deskripsi mainan itu ada pada mindset kita ya Cint.”
“Maksudnya?” tanyaku.
“Liatlah Rafa, betapa dia sangat pure, polos.. belum terdoktrin tentang apa itu mainan. Dia menjadikan semua benda sebagai mainannya. Itu berarti Rafa mengganggap benda2 itu adalah mainannya, meskipun dalam pengertian kita (orang dewasa) benda2 itu bukan mainan.”
“Oh..iya yaaa..”
“Berarti, nggak ada istilah misalnya ‘ini bukan mainan’, selama itu bukan hal yg dilarang ya. Karena sesuatu yg bisa dibuat mainan, ya itulah mainan menurutnya. Kita lah yg kemudian membuat batasan bahwa mainan itu ya bola ini, mobil2an, boneka, dll. Padahal belum tentu itu menarik bagi anak. Makanya cint, bagiku..math dan fisika itulah mainanku.”
Hahaha..okeh2. Ur toys are my enemy. Wkwkwk

Iya juga sich, aku membenarkan kalimatnya. Nyatanya banyak cerita dari para ibu yg sudah belikan anaknya macam2 mainan, tapi anaknya malah lebih senang memainkan benda2 di rumah. Lebih suka bunyi kresek2 bungkus diapers daripada teether book. Lebih asik sama helm daripada playpad. Lebih tertarik main pintu daripada arena balap. Lebih pengen emut botol minyak telon daripada dikasih gigitan (teether). Lebih enjoy robek2 kertas asli daripada main buku bantal. Intinya, mereka butuh lebih banyak benda untuk diexplor daripada dibatasi dengan benda2 yg kata kita: itu lho mainanmu…

Untunglah dulu aku tidak banyak membeli mainan untuk Rafa. Pertama, karena estimasi dana dan manfaat. Menurutku, saat ini terlalu banyak inovasi mainan dan atribut anak yg menurutku lagi, tidak terlalu penting atau dibutuhkan. Kalau menuruti inovasi, gak ada habisnya nanti kita belanja. Belum tentu juga berguna setelah dibeli. Misalnya, salah satu yg aku tidak tertarik adalah buku bantal, agar anak tidak merobek kertas dan buku. Justru menurutku anak bisa membolak balik kertas dan merobeknya, kan melatih motorik halus tuh. Asal pastikan saja buku2 mana yg boleh dilumatkan, hehe. Lha nanti kertas robekannya ditelan bagaimana? Ya diawasi donk. Tapi btw, Rafa pernah juga dulu nelan kertas, hihihii.. Alhamdulillah tidak apa2, keluar bersama pup. Contoh lain produk untuk ibu, ada bantal menyusui, walking assistant, dan lain2 yang menurutku lagi ni, bermanfaat sich tapi bisa kita siasati dengan sederhana sebenarnya. Seperti ibu2 jaman dulu yg so simple n tradisional. Seringnya malah menjadi kreatif dengan keterbatasan, tidak termanjakan dengan inovasi. So moms, lets be wise for shopping.

Kemudian, alasan keduaku adalah, ya karena sebelumnya aku berprinsip: banyak hal yg bisa dijadikan mainan oleh anak, yg ruang lingkupnya jauh lebih luas untuk belajar. Jadi rata2, mainan Rafa tu banyak yg dikasih orang, sebelum kami sendiri memutuskan untuk membeli. Alhamdulillah kan ya, ehehee.

Rafa sudah 10 bulan sekarang. Nanti, semakin bertambah usianya kubayangkan dia pasti semakin aktif dan pintar. Keberantakan yg sekarang belum apa2, jika dibandingkan dengan nanti.. Nanti, kalau dia sudah mulai passion corat coret tembok. Biarkan lah..baginya kertas dan papan tulis terlalu sempit untuk melukis (empatiku pada anak2 *eh tapi, ini rumah masih ngontrak je..T.T). Nanti, kalau dia mulai bawa2 truk berisi lumpur ke dalam rumah. Nanti, saat dia suka bikin benteng2an dengan sarung, bantal, dan kursi2 *wahaa..aku banget ini dulu waktu kecil rumah2an pake jarik/selendang dengan kursi2, di ruang tamu! Assiikk sekalii…puas rasanya bisa bikin rumah2an, dan pura2 tidur disitu. Bapak ibukku juga membiarkan saja. Yes bangettt kan. wkwkwk. Nantiii…oke, kunantikan saat itu, Nak. Pasti kamu sangat menggemassskannn.

Ohya, aku inget sebuah quote,
“Lebih baik pusing karena banyak pekerjaan, daripada pusing karena gak punya kerjaan.
Lebih baik pusing karena bertengkar sama suami, daripada pusing karena belum bersuami.
Lebih baik pusing karena polah anak, daripada pusing karena tidak punya anak.”
Setuju atau tidak, quote tersebut ada benarnya juga. Maka syukuri dan cintailah apa2 yg kita punya sekarang. Itu adalah anugrah, dan amanah.

Oke Son, tidurlah dengan pulas, ummi mau sholat dulu.

Asar, @Jogja

3 responses »

  1. hahahahaha…. nice… nice… sangat menginspirasi… oke… oke… :D, lebih baik pusing belum dapat suami daripada pusing mikirin pacar, bukan begitu mom? ;D
    Ana membayangkan bagaimana pusingnya, beresin barang di kamar, ke dapur, balik kamar kocar kacir lagi, beresein lagi, tinggal ke tempat lain lagi, balik2 berantakan lagi, aaaaaarrrrggghhh… mungkin ana akan bilang “ku buang kau ke laut naaaak…” :D, tapi begitulah anak, dan begitulah ibu… :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s