Ekspresssi Emosssi

Standard

Teman kerjaku di PAUD n DAYCARE dulu,namanya miss Lala. Dia pernah cerita, bahwa kalau dia lagi emosi or marah or badmood, dia punya kebiasaan unik. Dia mengekspresikan marahnya dengan: mencuci piring. Diam, sambil mencuci piring. Begitu cara dia meredam kesal. Lucu kan? Hihihi. Dari situ aku mendapatkan sebuah pemahaman, begitulah contoh expresi emosi yg produktif, hehe. Suatu ketika saat senggang di sekolah, kudapati dia mencuci piring makan anak2, iseng2 kuhampiri dan tanya,”Miss…miss Lala lagi marah?” Sambil tertawa dia menoleh padaku,”Ya Allah,enggak miss, beneran aku emang pengen nyuci piring..” hahaha, kamipun tertawa bersama.

Nah, lucunya, ternyata setelah menikah aku menemukan bahwa diriku sendiri punya pola perilaku demikian. Kalo sedang ngambek or badmood, aku akan melampiaskan dengan bersih2 rumah. Aku akan cari2 kerjaan, entah ngepel2, nyapu2, beres2, cuci2, apapun… yg bahkan sudah rapi akan kutata ulang. Sebelumnya aku tidak menyadari, sampai suatu saat aku merajuk akan ngambek, suamiku yg suabar itu berkomentar sedikit meledek,”Gakpapa ngambek aja. Kamu kalo ngambek tambah rajin kok. Rumah jadi tambah buersih, hehe..” Arrgggh…! *sebel tapi cinta rasanya* Lantas kupikir2, iya ya…kalo ngambek aku kok semakin rajin..? Membuatku ingat pada miss Lala. Lalu aku merenung, ada bagusnya juga sich marah cara begini, kan useful n produktif jadinya. Hikmahnya, kita jadi bisa menyalurkan emosi dalam bentuk yg positif, sekaligus belajar menahan diri dari perkataan dan perbuatan yg sia2 atau berbahaya dalam hubungan rumah tangga, sekaligus sebagai cara memanfaatkan energi emosi secara konstruktif. Biasanya orang kalo marah energinya banyak kan, buktinya bisa buat teriak2, nangis2, atau banting2 atau mengurung diri n mogok makan..? *na’udzubillah* Nah, daripada begitu, lebih baik kita gunakan saja itu energi dengan diam dan mengerjakan sesuatu yg bermanfaat, dan hasilnya membahagiakan pula: rumah semakin bersih. Dan biasanya setelah semua bersih rapi dan indah, aku tiba2 jadi sumringah kembali, hilang deh ngambeknya, wkwkwk. Pengen ah, nanti2 kalo ngambek larinya nyicil drafting, ehehe (gak keren amat, nunggu ngambek -_-‘)

Itu sich, salah satu tips berdasarkan my own experience in undestanding myself, about how to mengalokasikan energi emosi. Beda cara pula dengan suami yg biasanya akan meredam kesal dengan diam, tilawah, terpekur membaca buku, atau keluar rumah dan setelah kutanya dari mana berlama2…ternyata dari masjid. Oh, so sholih ur way honey *jadi ingat kisah Fatimah dan Ali* So next, perkara penyelesaian masalah, selanjutnya terserah anda lah ya. ciee..hehe.

Dan ini, ada satu cerita serupa, dapat dari status fesbuk temen. This is a very gokilful but meaningful love story. One lesson I get is still the same: constructive emotion.

_BONEKA dan Uang 1 Milyar_
Seorang pria dan wanita telah
menikah selama lebih dari 60
tahun. Mereka saling berbagi
apa saja. Mereka berbincang
tentang apa saja. Mereka tidak
menyimpan rahasia satu dari
yang lain, kecuali bahwa wanita
tua itu mempunyai sebuah kotak
sepatu di lemari pakaiannya
yang dia katakan kepada suaminya untuk tidak sekali2
membukanya atau bahkan
menanyakan tentang barang itu
kepadanya.

Selama bertahun-tahun, si suami
tak peduli tentang kotak itu,
tetapi suatu saat si wanita tua itu
jatuh sakit dan dokter
mengatakan bahwa dia tidak
akan sembuh. Untuk merapikan
seluruh urusan mereka, si suami
mengambil kotak sepatu itu dan
membawanya ke ranjang tidur
isteri yang sedang berbaring
sakit.

Si isteri sepakat bahwa inilah
saatnya untuk si suami
mengetahui apa yang tersimpan
di kotak itu.
Ketika dia membukanya, dia
temukan ada 2 boneka rajut
(crocheted dolls) dan setumpuk
uang sejumlah $ 95,000 (~Rp
1milyar)! Dia segera bertanya kepada isterinya tentang barang
dan uang tersebut.
“Ketika kita menikah,” si isteri
menjelaskan, “nenekku
menceritakan rahasia
kebahagiaan perkawinan, yaitu
jangan membantah. Dia bilang
jika suatu saat saya merasa
marah terhadapmu, saya harus
tetap tinggal diam dan merajut
sebuah boneka.”

Boneka 1 milyar hubungan
suami istri
! Si suami tua itu sungguh
tersentuh hatinya; dia sulit
menahan air matanya. Hanya
ada dua boneka yang indah di
kotak itu, artinya sang istri
marah kepadanya hanya dua
kali selama bertahun-tahun
hidup bersama dan saling
mencintai. Hati suami berbunga-
bunga karena rasa bahagia.
“Sayangku,” dia berkata, “sudah
jelas bagiku tentang boneka itu,
tetapi bagaimana tentang
adanya uang sebanyak itu? Dari
mana kau dapatkan itu?”
“Oh,” isteri menyahut, “Itu
adalah uang hasil penjualanku
dari boneka-boneka itu!”

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s