Monthly Archives: June 2013

Rezekinya Orang Desa

Standard

Ada orang bilang,”Biar wajah ndeso, yang penting rezeki kuto.” Emang wajah ndeso tu yang gimana? Emang rezeki kuto tu yang gimana juga? hihiii. Mungkin rezekinya orang kota tu tinggal di rumah bertingkat di perumahan elite, atau apartemen mewah, dekat dengan mal-mal besar nan megah, bekerja di perkantoran tingkat sekian ratus, pake sepatu mengkilap, berdasi dan duduk di gedung ber-AC, tiap hari naik mobil menyusuri jalanan aspal, dekat dengan fasilitas hiburan, dan lain-lain. Ah ya, tentu saja itu semua patut disyukuri, itu kan nikmat dari Allah juga.

Hanya saja, aku sedang ingin mensyukuri nikmat Allah yang dianugrahkan padaku sebagai anak desa, bocah ndeso. Taukah kamu, inilah sensasi bahagianya aku setiap kali mudik ke kampung halaman. Ayem, lego… Dibandingkan hidup di kota besar, sungguh banyak hal yang patut disyukuri tertakdir menjadi orang desa.

Kamu tau, di desa itu hawanya segar, masih sangat rimbun pepohonan di sekitar rumah2 dan jalanan. Tentu saja tak ada polusi, baik dari hasil cerobong2 asap pabrik2 raksasa atau hembusan knalpot kendaraan yang memadati jalanan. Tentu saja di desa tak ada macet juga, lega rasanya berkendara. Ingat saat di Malang dan Jogja, pusing dah kalo pas macet2nya jalanan. Sudah hawa panas, asap menyesaki nafas.

Di desa itu, rata2 orang punya halaman atau pekarangan yang luas, sangat leluasa untuk anak2 bermain, berlarian, bersepeda, dan juga untuk bercocok tanam. Karena orang di desa biasanya punya tanah yang luas. Di kanan, kiri, depan, atau belakang biasanya selalu ada lahan pekarangan. Itulah pula kenapa rumah2 di desa biasanya modelnya meluas, tidak bertingkat2 seperti rumah kota yang minim tanahnya. Tanah di kota besar sangat mahal, bahkan untuk memakamkan orang mati pun harus beli sepetak tanah.

Orang2 desa juga biasanya punya pekarangan yang ditanami tanaman2 yang bermanfaat untuk kebutuhan sehari2, terutama kebutuhan dapur. Pas mau masak butuh lengkuas, daun salam, kunci, kemangi, serai, jahe, pandan, daun jeruk, dan lain2 tinggal petik di kebun. Cari dedaunan juga gampang, ada daun singkong, daun pepaya, daun ubi jalar, luntas, untuk dibuat sayur ataupun daun pisang untuk membungkus makanan. Jikapun tak ada, biasanya tak perlu sungkan2 untuk minta tetangga, karena di desa satu sama lain terbiasa saling berbagi. Di kota, jika tak punya pekarangan untuk menanam, mulai dari benda simpel macam lengkuas atau daun jeruk yang cuma butuh satu lembar untuk bikin sambel misalnya, kita harus beli, sepaket dengan empon-empon lainnya.

Pemandangan sejuk, rindang, dan hijau adalah nuansa sehari-hari di desa. Sawah hijau yang terbentang, burung-burung berkicau riang, ayam-ayam bersahut-sahutan adalah iramanya. Pagi-pagi para buruh tani bersepeda berangkat ke sawah. Sepedanya usang, pakaiannya lusuh, pekerjaannya berat, dan sepagi itu mereka bersemangat berikhtiar menjemput rezeki Allah, rezeki yang insyaAllah halal. Dan mereka bahagia. as simple as that.

Makanan di desa juga murah meriah. Nasi pecel kesukaanku sejak SD (wow, saya ini orangnya setia ya, bahkan pada kuliner kesukaan saya, wkwk), sekarang bisa didapat hanya dengan harga 2000 rupiah, sudah cukup mengenyangkan perutku. Di jogja mungkin cuma dapat nasi putihnya saja tanpa lauk (kecuali nasi kucing), di desaku uang segitu sudah dapat nasi lengkap dengan sayuran, serundeng, kering tempe, sambal pecel, plus rempeyek atau tempe. Bungkusnya pun pakai daun pisang yang utuh dan lebar. Nikmatnyaaa… :)

Di desa biasanya budaya gotong royong juga masih dijunjung tinggi. Budaya saling menyapa, saling bersosialisasi dengan tetangga, saling mengenal dan peduli. Sedangkan di kota besar, kehidupan cenderung berjalan individualis, bahkan sampai tak tahu siapa nama tetangga depan rumah, anaknya berapa, sekolah dimana (meski tak semuanya begitu ya).

Orang desa katanya nggak fashionable. Ada benarnya juga sich, seringkali para ibu-ibu atau bapak-bapak desa saat berbusana nampak tidak matching. Bawahan motif kotak2, atasan bunga2, pun tabrak warna yang ekstrim, hihi. Namun justru inilah khasnya, ya biarkanlah begitu adanya mereka. Toh dalam paradigma mereka, itu sudah bagus, sudah cantik kok.

Yah begitulah rezekinya orang desa, tentu saja berbeda dengan kota, dengan masing2 kekurangan dan kelebihannya. Yang penting dimana pun kita berada, semoga senantiasa mensyukuri pemberiannya. Tapi kalo mikir2…rasanya pengen deh nanti kalau punya rumah tu yang suasananya desa, rumahnya sederhana tapi elegan, tanahnya luas, tetangganya ramah, ada pemandangan sawah, kebunnya subur, halamannya luas buat main anak2 (macam rumah bapak ibuku inilah) tapi juga nggak jauh2 amat aksesnya ke kota. Jadi yang dekat juga ke ATM, ke bank, pasar besar, ke kampus, atau swalayan. Lengkap kan? hahaha, mauuunya.

Ssstt…sebenarnya nich terinspirasi ini karena pas mudik mesti deh ngiri sama ibuk dan ibu mertua yang kalo masak tuh bisa mengandalkan tetumbuhan di kebun sendiri. Meskipun tak semua bahan, tapi kan rasanya puas gitu kalo bisa memetik dari kebun sendiri, meskipun cuma sejumput kemangi atau secuil kunci (yang kalau aku di Jogja, semua itu harus beli). Seperti halnya kita puas makan mangga hasil panen sendiri daripada makan mangga beli. Kebetulan rumah kontrakan kami di Jogja tak punya lahan. Halaman tak ada, pekarangan pun tak ada. Mepet. Nah, untuk model rumah seperti ini, mungkin bisa disiasati dengan menanam di pot-pot gitu ya, lumayan lah untuk menumbuhkan pohon cabe, tomat, laos, atau kemangi, ihihii. Well, pemirsa, ini baru menjadi ide saya, belum dilaksanakan. Semoga setelah nulis ini saya beneran bikin yah, amin. Itung-itung sebagai salah satu proker Ramadhan :)

Nah, kalau begitu kan gak masyalah kita mau tinggal dimana asal bisa memberdayakan lahan yang kita punya untuk bercocok tanam, dengan kreasi cara yang kita bisa. Jadi kan saya bisa bilang, “Biar wajah kota, rezeki desa” :p

Cara Ibuku mengajak Anak-anak meramaikan mushola

Standard

Adalah keprihatinan tersendiri bagi bapak dan ibuku mendapati bahwa generasi muda di desa terutama di RT kami sangat kurang partisipasinya untuk meramaikan masjid/mushola. Sangat sedikit yang mau istiqomah sholat jama’ah lima waktu, belum lagi perkara adzan dan iqomah, kebanyakan mengandalkan satu dua orang saja. Padahal kelak nantinya mereka juga yang akan menjadi generasi penerus, termasuk menghidupkan mushola.

kartun-masjid-dr-cybermq

Gemas dengan kondisi yang ada, akhirnya ibuku membuat sebuah inisiatif. Pada saat bulan Rojab, ibuku mengambil momen Isra’ Mi’raj untuk mengadakan pengajian special, bukan untuk memperingati Isra’ Mi’raj, hanya saja mengambil momennya untuk me-launching sebuah program. Di arisan PKK ibu-ibu dan anak-anaknya diundang, diadakan semacam acara pengajian special dengan menghadirkan hadrahnya emak-emak (hihihii) kemudian ada tausyiyah dari ibu dan kejutan doorprize untuk tiga anak yang paling aktif ke mushola. Di acara tersebut beliau memberi tausiyah terutama tentang motivasi agar anak-anak bersemangat meramaikan mushola, dan para orangtua juga memberi tauladan dan memberi dukungan. Kemudian beliau melaunching sebuah program untuk anak-anak yang rata2 usia SD dan SMP di RT kami, yaitu: arisan anak.

Jadi acaranya tiap malam minggu mereka (sekitar 20an anak) berkumpul di mushola, dibentuk penugasan bergilir antara lain: MC, tilawah, sari tilawah, kemudian materi tentang adab sehari2, cinta mushola, dan lain2 dari ibuku atau Bupuh Yah, tetangga depan rumah yang sama2 guru agama. Lalu arisan. Alhamdulillah, mushola jadi rame sekali, anak2 pada gembira, apalagi dapat arisan. Sejak itu, anak2 mulai semangat sholat jamaah dan adzan di mushola. Anak2 yang tidak pernah ke mushola setelah diberi penugasan (jadi MC atau ngaji) jadi semangat untuk hadir. Ide yang sederhana, namun sangat inspiratif dan motivatif menumbuhkan kesadaran anak2 untuk cinta mushola.

What a smart idea, that’s my mom, smart mom :’)
*this is it, tarbiyah

K-mie di Jogja

Standard

Saya bukan K-pop lovers, hanya saja malam itu pengen nyobain mie korea deket rumah, Kotagede, Jogja. Ancer-ancernya, kalau dari arah Warungboto ke selatan terus, sampai ketemu perempatan lampu merah jalan gambiran, pas pojok kiri jalan disitu warung K-mie.

Desain warungnya cukup simple tapi elegan, dan bernuansa korea gitu. Menunya diberi nama dengan grup band-grup band korea semacam SNSD mie, DBSK mie, dll. Porsinya ada dua macam: super junior dan big bang, dengan harga kisaran 7000 sampai 13.000. Kemarin kami nyoba yang rasa Hot Spicy dan Black Pepper, ternyata yang Black Pepeer (pilihan suami) lebih enak., aroma dan rasa blackpepper nya krasa banget. Mak nyusss tenan! Memang, dia selalu tepat memilih… *termasuk memilihku, wkwkwk*

Ini dia K-mie…

k-mie jogjaTapi fotonya kurang keren, heheeh.

Na yang ini, artis K-mie nya lagi begaya. eheheehhhh…

artis k mie

Recommended SIOMAY di Madiun

Standard

Ini dia, siomay favorit saya! Sejak si bapak muda penjualnya baru berdagang dengan gerobak kecilnya di pojokan perempatan jalan serayu sampai beliau bisa punya warung sendiri dan buka cabang, sejak aku masih berseragam putih abu-abu, sampai sekarang menikah dan punya satu putra (mungkin juga sampai beranak-cucu nanti? hihii), sejak harganya 4000an (seingatku) sampai sekarang harganya 8000 rupiah, sejak si bapak ikhwan muda alim masih single sampai beliau punya istri (istrinya bercadar lhoooh, hehe) dan 2 anak (atau sudah nambah ya? kemarin tak keliatan) and this is still the most delicious siomay I ever taste. Sejak kuliah sampai sekarang, kalau mudik selalu kuagendakan ke siomay ini, sampai bapaknya hafal, hihi. Hummmm…yummy!

SOMAY

Dulu saat SMA tiap sabtu aku badminton di serayu timur, dan suatu ketika penasaran sama bapak muda penjual siomay ini yang saat aku lewat sering terlihat menunduk seperti menekuri sebuah bacaan. Barulah aku tau saat mendekati si bapak muda untuk membeli siomay, ternyata menunduk membaca buku kecil bertuliskan Al ma’tsurat. Oh…subhanallah, terpesona deh sama si bapak alim yang menunggui dagangannya sambil berdzikir.

Setelah mencoba sekali, ternyata enyakk! Jadilah keterusan kalau pengen jajan siomay larinya kesitu. Selain karena enak, bersih, insyaAllah penjualnya pun amanah, dan gokil ramah juga. Adik, ibu, dan suami saya pun setuju itu siomay enyakk banget. Kalau kamu main2 ke madiun, coba deh. Alamatnya aku lupa, tapi ancer2nya gini: dari perempatan jalan serayu itu ke barat, ada perempatan lagi masih ke barat, sekitar seratus meter kanan jalan ada warung bertuliskan “SIOMAY THOYIBAH”. Sekarang harganya 8000rupiah, dulu aku dan adikku sering tidak habis atau kekenyangan pol satu porsi. Tapi sekarang kok seringnya habis ya. Ini karena porsinya yang agak berkurang atau mungkin kapasitas perut saya yang semakin melar? wahahaa…sepertinya opsi kedua yang benar.wkwkwk. Menu utama di warung itu adalah siomay, selainnya ada es pisang ijo, es teh, es jeruk, dan softdrinks.

Selamat mencoba! (^0^)/

Catatan si Boya: Cerita BLW Selanjutnya

Standard

*ini juga postingan yang tertunda*

 

Hello moms, dads. Okkeh..dilanjut ya cerita tentang BLW Rafa.

Jadi, setelah saya dan abinya menggali ilmu pengetahuan per-MPASI-an dan memutuskan akan menempuh metode BLW, tahap persiapan selanjutnya, jauh-jauh hari sebelum start MPASI saya lakukan juga pillow talk kepada Rafa. Pillow talk itu…ngomong sama bantal? hehehee… Bukan. Pillow talk itu metode hipnosis dalam, bentuk dari metode hypnosleep, semacam sugesti oleh orangtua kepada anak saat tidur. Jadi kan, manusia itu saat-saat hendak tidur, gelombang otaknya akan turun dalam kondisi alpha, theta, dan delta. Sedangkan gelombang otak untuk sugesti hipnosis adalah alpha dan theta, kira-kira pada 1-5 menit pertama saat anak baru mulai tertidur. Kondisi ini merupakan saat-saat dimana alam bawah sadar manusia mudah merekam informasi/sugesti. Simpelnya, kondisi yang tepat untuk menerima sugesti dan diharapkan nantinya termanifestasi dalam bentuk perilaku *ingatkan ya klo teori yang saya pahami kurang tepat, maklum baru belajar. Nah, momen ngeloni si kecil adalah momen pillow talk itu. Sambil nyusui, usap-usap kepalanya, belai lembut, sambil bacakan doa-doa, kemudian ucapkan padanya kalimat-kalimat sugesti kita. Pastikan berupa kalimat positif dan deskriptif.

Pillow Talk untuk Rafa

Menuju hari H MPASI, saya mencoba menerapkan teori di atas. Setiap ngeloni Rafa, selesai membacakan doa-doa, saya mulai ucapkan kalimat2 sugesti tentang BLW. Step by step. Mulanya saya jelaskan tentang apa itu BLW, kenapa saya dan abinya memilih BLW, apa rasioalisasinya, keunggulannya, dll yang teoritis. Memang menyalahi aturan pillow talk ini, kebanyakan kalimat dan complicated, tapi saya pikir…no matter lah, toh sebelum2nya juga kami sering bercerita panjang lebar ke Rafa saat dia sudah tidur sekalipun, hehee. Setelah beberapa hari pillow talk dengan konten teoritis ini, beranjak ke arah teknis. Berubah tema sugesti: tentang apa yang perlu dilakukan Rafa dalam BLW. Antara lain saya ucapkan kalimat2 motivasi: “Mas Rafa anak hebat…suka makanan sehat, main aktif bersemangat, maem mimik lahap…boboknya bobok lelap.” Berlanjut hari-hari berikutnya menambahkan kalimat tentang apa-apa yang perlu dilakukan Rafa saat makan nanti: “Mas Rafa ambil makanan, pegang, masuk mulut…hap! Gigiiiit…trus…kunyah-kunyah-kunyah, kalau sudah lembut…ditelan. Hmmmm…! Kalau ada yang tidak bisa ditelan, mas Rafa lepeh…dikeluarkan, didorong pakai lidah.” Kurang lebih demikian kalimat yang saya ulang-ulang tiap harinya, setiap menidurkan Rafa. Well, mungkin kalimat saya kadang kurang tepat secara teori, karena kadang saya mix antara rasionalisasi, motivasi, dan aplikasi. Jadi panjaaaang sugestinya, hahaha. But see, it really works! Biidznillah, of course :D

Hari Pertama Rafa BLW: GREAT!

This is it! Tau gak sich, rasanya anak mau start MPASI tuh ada rasa deg-degan ternyata di hati ini. Rasanya kayak ngerasain anak kita mau ujian kenaikan gituuuh, antara was-was dan harap-harap bahagia, sukses gak ya…? Gituh!

And the day comes…

Prinsip BLW so simple, manfaatkan sumber daya sekitar, gak perlu repot-repot juga memproses makanan untuk bayi. Nah, karena niat awal nyoba melon buat Rafa gak nemu, adanya pisang ambon…yaudah deh, MPASI sekaligus BLW episode 1 dimulai dengan pisang. Saya potong kulit bagian atas, dan menyisakan kulit bagian bawah supaya tidak licin dipegang. Bismillah, sajikan di depan Rafa. Apa yang terjadi pemirsaaaa…? Dia langsung meraih tuh pisang, dipegang sebentar, lalu langsung masuk mulut. Memang dia dalam masa oral, masa emut2 segala benda dan makhluk. Tapi ini…dia bisa gigit tuh pisang, potongan besar lagi, lalu dikunyah2. Wowww! Impressed laaah. Secara dari sharing mama2 di grup, macem2 polah bayi menghadapi makanan pertamanya. Ada yang cuma dilirik, dipelototin, dilempar2, atau dibejek2 sampai luluh lantak di tangan, tray, dan lantai…ada yang dibuat masker, lulur, dan kramas, ada yang hanya digigit lantas dilepeh2, dan lain2 tingkah lucu bayi2, hihiiii *gemeeessssh! Dan itu variasi, ada yang terjadi di usia 6,7,8, bahkan 9 atau 10 bulan lebih, memperlakukan makanan sedemikian unyu-nya. Nah ini Rafa, di hari pertama dia menghadapi makanan, langsung bisa meraih, memegang, masuk mulut, gigit, dan kunyah. So appreciated! But wait, what happened next…?

Gagging…the first and no more!

Hari pertama Rafa menghadapi makanan pertamanya (non ASI), dia melahap potongan besar sekali di mulutnya. Belum juga halus dikunyah dan ditelan, dia masukkan lagi potongan berikutnya. Dia belum mampu mengontrol kapasitas makanan yang bisa diproses di dalam mulut dan yang bisa ditelan. Nah, saat berusaha menelan kumpulan makanan di mulutnya, terjadilah: gagging alias keselek (bukan tersedak ya, beda itu). Hwuaaaa…Rafa keselek, saking kebesaran makanan yang mau ditelan, lantas nyangkut di tenggorokan. Saya dan abinya stay calm, menepuk pelan punggungnya sambil mengarahkan…ayo, dikeluarkan dek. Dia masih berusaha dan tampak kesulitan, lalu…berlakulah mekanisme alami tubuhnya untuk mendorong makanan keluar: Rafa gumoh, dan meluncur potongan-potongan makanan yang mengganjal tadi. Subhanallah, jujur saya sempat panik dan khawatir, karena Rafa juga agak mewek, yaiyalah…gak enak kan rasanya muntah itu. Setelah baikan, saya gendong dia. Sempat mengajukan opsi ke abinya, “Tak coba suapin ya…” tapi terpatahkan oleh sergahan lembutnya, “Cint, ini hari pertama Rafa, baru saja Rafa mencoba belajar, kita liat sendiri kan dia sudah bisa apa…hanya kurang menelan yang dia belum bisa. Ini sudah bagus sekali…ini hari pertamanya, Cint. Ayolah, yakin Rafa pasti bisa. Jangan patah semangat!! Ya…?” well done, I’m so motivated! Okkeh sayang, i’ll trust you Son :D

Benar saja, alhamdulillah…Rafa sangat cepat belajar. Percaya atau tidak, peristiwa keselek dan gumoh tadi hanya terjadi di hari pertama Rafa BLW. Selanjutnya sampai hari ini, dia selalu berhasil menelan makanan, dan mendorong remah2 yang dia tidak bisa telan. Alhamdulillah, tidak pernah sampai nyangkut apalagi muntah. Dia memperlakukan makanan persis seperti yang saya sugestikan (dan kami doakan), dia langsung mampu mempraktekkan kelima skill makan: meraih, memegang, menggigit, mengunyah, dan menelan, serta mengeluarkan makanan yang tidak bisa ditelan. Benar2 saya dan abinya terkagum dan bersyukur sekali pada Allah yang telah memudahkan. Dan kami memberinya nilai GREAT sebagai pemula BLW. Mungkin saat keselek itu dia mikir, ooh…aku gak boleh gigit terlalu banyak makanan, secukupnya ajja di mulut. Trus aku harus kunyah lembut dulu sampai bisa kutelan, biar engga nyangkut yah… klo gak bisa mending kulepeh ajja maemku… hihihiii, imajinasi saya atas pikirannya. Ohya, pillow talk terus berjalan yaa, seiring perkembangan Rafa. Kami memaknai ini sebagai sebuah ikhtiar : )

Challenge!

Fine, BLW berjalan lancar, alhamdulillah. Tapiiii…sebagai seorang emak2, haduuuh…emak mana sich yang gak gatel pengen nyuapin anaknya. Ini hasil survei saya ya, rata2 ibu2 tuh gemesss banget pengen nyuapin. Saya pun demikian, rasanya kayak enggak sempurna gitu menjadi ibu tanpa menyuapi sang anak *hehey…lebay nggak sich. Namun alhamdulillah, suami saya yang berperan menjadi sosok yang super sabar dan disiplin yang selalu mengingatkan, “Ummi, ingat prinsip2 BLW. Biarkan Rafa belajar dan eksplorasi. Konsisten yaa…” heheee…*malu sendiri* Di saat banyak ibu yang galau karena minim dukungan suami untuk BLW, eh ini suami mendukung penuh, malah saya nya yang rempong, wkwkwk. BLW memang bukan berarti no suap-menyuap sama sekali lhoh, tapi prinsipnya, boleh menyuapi selama si anak yang minta, tanpa pengalihan perhatian, tanpa ada paksaan. Uniknya, Rafa ini malah susah disuapi, banyakan malah mingkem. Jadi cara saya mencoba, misalnya kemarin pas maem nasi plus kuning telur, saya arahkan tangan saya di depannya (tidak ke mulutnya ya), kalau dia memang mau maem, ternyata dia akan menarik tangan saya ke arah mulutnya, dan…nyamm, hap…hap. Begitu sampai selesai makan, saya yang memegang suapan nasi, dia yang mengarahkan tangan saya. Pinter…dia mengambil cara praktis, hehehe. Nah, ada lagi yang wow, ternyata selanjutnya dia punya mekanisme penolakan. Kalau sedang tidak mau disuapi atau tidak mau disajikan makanan, pasti: langsung ditepis tangan saya atau piring yang saya sajikan. Saya ulangi beberapa kali, dia menolak dengan cara yang sama, tidak mengijinkan tangan saya atau piring mendekatinya, wkwkwk.

Tantangan selanjutnya: tentang noda! Inilah efek samping BLW, belepotan dimana2. Di badan Rafa, di baju Rafa (sebenernya dah pake celemek, tapi ya namanya improvisasi bayi begitu lah yaa), di baju saya atau abinya, dan di lantai. Berantakan juga. Messy is always! Okkeh, jadi efek samping berikutnya adalah ibunya bisa langsing karena harus ngepel tiap habis maem, cucian abi tambah banyak dan membandel karena harus ganti baju tiap habis maem, dan butuh stok tissu serta “super pel” yang banyak, hehe. Tapi kami bahagia, kami terkagum dengan progresnya. We’re all very fun. Apalah artinya kotor, noda, dan berantakan, apalah artinya sering ngepel, apalah artinya cucian makin banyak, apalah arti korban banyak tissu dan lap, apalah arti memunguti dan memakan remah2 makananmu di lantai (karena eman terbuang), jika itu demi perkembangan buah hati, jika itu membuatnya mampu dan enjoy bereksplorasi optimal, belajar agar mempunyai attitude makan yang baik dan benar di kemudian hari, serta menguasai kemampuan lainnya yang dia dapat dari proses makan BLW ini. Fine, Son…abi n ummi love every single way you learn.

Tantangan berikutnya adalah mbah2nya Rafa. Ya emang BLW ini adalah metode yang menyelisihi adat leluhur yaaa, hehe. Kalo pada umumnya bayi kan dikenalkan dengan makanan cair, kemudian bubur lembut, bubur kasar, dan seterusnya bertahap. Kalau BLW kan tidak. Jadi saat mbah2nya Rafa tau kami ngasih makan langsung makanan padat, pada heran lah, yang rata2 tanya,”Emang gakpapa?” hehe. Namun seiring perkembangan Rafa yang saya tunjukkan di depan mereka, mereka malah terpesona heran. Rafa bisa pegang dan makan singkong rebus sendiri, menghabiskan beberapa kuntum brokoli, mengunyah dan hisap2 jeruk tanpa keselek, dan lain2. Saat saudara2 kami liat Rafa gigit apel besar2 pun pada heboh mereka, “Awas lho mbak nek keselek” namun saya yakinkan, “Gakpapa Om, Bulik, dek, mas…dll…kalau tidak bisa ditelan pasti dikeluarkan kok,” dan begitulah adanya. Namun saat mbah2 Rafa ingin menyuapi ya saya biarkan saja, toh tidak setiap saat disuapi dan tidak dengan paksaan juga. Dengannya kami dan Rafa belajar tentang menghargai orang lain (menghargai suapan dan kasih sayang embah, hehe).

Dan, kamipun belajar darinya

Sejujurnya, BLW ini menjawab galau saya dulu. Saking seringnya melihat anak2 tetangga yang harus digendong, diajak jalan2, liat ikan atau burung agar mau makan, bahkan yang sudah balita (di atas 3 tahun) pun harus dikejar2 untuk makan, saya jadi mikir: gimana ya caranya biar anak2 tu punya kesadaran untuk makan, tanpa perlu pengalihan perhatian, dan bisa makan dengan duduk (tidak dikejar2 disuapi sambil dia main). Pun sering juga mendengar komentar ibu sang anak “Makannya susah…” Ternyata, jawabannya ada di sini, di BLW ini. Memang secara psikologis, BLW mengajari anak untuk memiliki kesadaran terhadap makanan, tau dan sadar bahwa dia sedang menghadapi makanan, dia perlu untuk makan, dengan keinginannya sendiri, melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Bukan dengan pengalihan atau paksaan. Maka dengan mengenal metode ini, terjawablah galau saya. Oke, kita coba dengan metode ini, semoga ke depannya benar2 tercapai manfaat BLW ini yang antara lain: anak sadar makan, tidak pilih2 makanan, suka makanan sehat, dan mandiri.

Banyak hal yang saya dan abinya justru mengambil pelajaran dari proses belajar makan Rafa ini. Salah satunya, saya yang picky eater ini (suka pilih2 makanan) jadi belajar sama Rafa bahwa makanan itu enak atau nggak enak tergantung mindset dan kebiasaan lidah kita. Soalnya menurut saya, makanan hambar terutama sayur itu nggak enak, apalagi yang tanpa diapa-apain (cuma dikukus atau direbus saja). Saya ini baru doyan banget sama sayur sejak kuliah lho, parah kan *jangan ditiru! Tapi ketika kami membelajarkan Rafa untuk makan sayur2an yang cuma dikukus, otomatis saya dan abinya pun memberi contoh untuk memakannya. Ya…rasanya ya gitu, tapi rasa itu tergantung mindset. Dan Rafa yang masih zero value ini lah yang hendak kami ajari mindset bahwa sayur itu enak, sehat, meski tanpa bumbu. Nyatanya, dia doyan banget. Ya buncis, kacang panjang, sawi, wortel, apalagi brokoli…he like the most. Bahkan saat kami nyoba buah bit kukus, hwaduuuh…rasanya subhanallah *bikin kami nggak doyan* aneh2 gimana gitu, yang kata ibu saya “Ambune koyo tikus berit, Nis” (baunya kayak tikus curucucut, haha#ngakak guling2) padahal khasiatnya handal sekali. But see…my Rafa so enjoy it, suka banget dia. Apalagi waktu dibikin jus campur apel, tambah lahappp. Kami pun terpana… @.@

Kemudian tentang attitude makan. Salah satu manfaat BLW ini kan membiasakan anak untuk mengunyah makanan, makanya sejak pertama kali dikenalkan makanan dia harus berusaha mengolah secara mekanik itu makanan padat meskipun dia belum punya gigi. Dan bayi ternyata hebat lho, bisa mengunyah tanpa gigi. Nah ini kelemahan saya dalam makan, saya tidak bisa (terlanjur tidak biasa) mengunyah dengan optimal (katanya 33 kali ya). Makanya saya tu kalau makan cepat sekali, karena asal telan aja, wkwkwk. Hasil latihan BLW ini sangat terlihat pada Rafa, sampai sekarang Rafa usia 10 bulan alhamdulillah tidak pernah yang namanya ngemut makanan, seperti yang biasanya dialami para bayi. Always dikunyah nyam nyam.

Saya belajar, abinya pun belajar. Tentang awareness. Kalau makan itu ya sadar kita lagi makan, disadari, dinikmati, fokus, dan tidak disambi2. Nah ini, kebiasaan abinya makan sambil ngadep buku atau browsing ngenet via HP, atau nonton bola. Makanya waktu makan jadi lama, karena ter-distruck oleh kegiatan lain. Eh saya juga sering ding gitu, makan sambil ngadep HP. Makanya sekarang kami saling mengingatkan agar kelak jadi teladan waktu makan, “Hayo, anak BLW makan ya makan.” Mungkin untuk orang dewasa seperti kami makan sambil disambi tidak menjadi masalah berarti ya, tapi untuk anak2, hal ini harus dibiasakan sejak dini salah satunya dengan tidak mengalihkan perhatian anak dari makanan, misalnya sambil digendong, “Eh liat tuh ada burung…aa…aaa…hap.” *suapan sendok masuk mulut. Si anak dikelabui dengan burung, mainan, atau hal lain agar mau mangap dan makan. Suasana baru untuk variasi memang perlu, tapi tidak dengan mengalihkan perhatian anak dari makanan yang sedang dihadapinya.

Mmmm, sekian dulu cerita BLW dari saya ya. Ntar2 kalau ada tambahan saya note-kan lagi, sebagai catatan pengalaman. Tentang apa itu BLW, kenapa, bagaimana, dan serba-serbinya, mohon maaf terlalu panjang jika saya paparkan bareng2 disini ya. Jadi silakan gali informasi yang seabreg tentang BLW, bisa join di grup fecebook: Baby Led Weaning Indonesia, atau baca di bukunya Gill Rapley.

Happy MPASI (^_^)/

Catatan si Boya: Memilih BLW

Standard

*Ini adalah posting yang tertunda, karena saya lupa menulis draftnya dimana dan baru ketemu ini, hehe. Padahal sudah ditulis lumayan lama, saat Rafa usia 7 bulanan*

Asiiiikkk…gini nich serunya kalo kita dah berstatus ganda: istri dan ibu. Means that: we have much more story to tell. Dan sekarang saya sedang ingin cerita tentang anak kami, si Boya Rafa.

Akhirnya dia lulus ASIX 6 bulan lho, beranjak naik marhalah dari mihwar ASIX ke mihwar MPASI (bahasanyaaa… -_-). Seiring dengan itu pula, status pipis Boya naik juga tingkatan fiqihnya, dari najis mukhofafah (yang cukup diciprat air saja sudah bisa mensucikan) menjadi najis mutawasithoh (kudu ilang bau, rasa, dan warnanya barulah suci), karena si Boya sudah mulai makan makanan selain ASI.

Eh, ada yang menarik lhoh dari pengertian fiqih najis mukhofafah ini, bahwa yang termasuk najis ini hanya satu: pipisnya bayi laki-laki di bawah usia dua tahun, yang hanya minum air susu ibunya. Nnaaahh…ada satu isyarat menarik di sini, berarti dulu jaman Rosulullah, ada bayi-bayi yang hanya disusui ASI SAJA sampai usia 2 tahun. Maka tak heran ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa bayi di bawah 2 tahun belum butuh MPASI, cukup ASI saja sampai 2 tahun, baru start MPASI. Tapi kalau menurut WHO, bayi usia 6 bulan sudah siap pencernaannya untuk mulai MPASI, sudah butuh supleman makanan tambahan selain ASI, berdasarkan penelitian ilmuwan2 itu.

Terserah sich mau setuju dan mengaplikasikan yang mana, tergantung mana yang kita yakini baik untuk anak kita. Kalau dalam pemahaman saya, pengertian najis mukhofafah “yang hanya minum air susu ibunya” tersebut justru mengindikasikan dua hal: jaman Rosulullah dulu ada bayi2 yang disusui FULL ASI sampai 2 tahun, ada juga yang tidak (mungkin sudah diberi makanan pendamping pada usia tertentu). Wallohua’lam, afwan…belum nemu tafsir haditsnya. Jadi sejauh ini, saya masih memahami dan menerapkan bahwa bayi usia 6 bulan perlu diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI). Emang sich, WHO sendiri berubah2 dalam menetapkan standar start MPASI. Dulu 2 bulan wajib full ASI, kemudian penelitian berikutnya jadi 4 bulan harus full ASI. Lalu, sampai detik ini hasil penelitian yang dipakai: full ASI 6 bulan. Well, jadi kepanjangan cerita kemana-mana. Tadi kan mau ngobrol tentang Boya yang mulai MPASI toh..

Persiapan MPASI, apa saja?

Mencari ilmu. Itu yang kami siapkan sedemikian utamanya, dengan membaca, bertanya, sharing/diskusi. Katanya kan: al ‘ilmu qoblal ‘amal (ilmu dulu baru amal). Nah, salah satu yang asik, menarik, dan seru selain searching2 artikel di web adalah: join grup perMPASIan. Ada dua grup MPASI di facebook yang saya ikuti: Homemade Healthy Baby Food (HHBF) dan Baby Led Weaning (Indonesia). Baca2 dokumen dan sharing ibu2 di grup tersebut…membuka wawasan banget. Apalagi yang menggiurkan adalah tentang resep2 menu MPASI. Awal2 baca diskusi ibu2 di HHBF saya ngrasa minder…secara ngrasa ‘gaptek’ tentang menu2 asik, seru, dan bermutu buat buah hati, apalagi membaca nama2 bahan yang disebutin ibu2. Haduuuh…itu bahan yang kek apa saya gak ngerti…trus belinya dimana, trus cara masak yang bagus n bener gimana…trus itu nama alat yang disebutin kek apa bentuknya, gimana makenya…? Aaaaaa…aku ketinggalan jauh ni sama diskusi2nya. Hiks hiksss. Lalu, ada sesosok pangeran sabar, sholih, dan smart yang setia mendampingi saya belajar, dia berkata menenangkan, “Cint, ya wajar kamu tu belum ngerti, belum paham, belum kenal benda2 itu…kamu tu baru belajar, baru mau nyemplung. Ntar lama2 juga faham…” eaaaa… oke2 *senyum2 cengengesan* emang agak lebay obsesi nich, rasanya pengen ‘mak cling!’ langsung kukuasai ntu smua ilmu2 per-emak-an serta per-anak-an. Baiklah, istrimu kembali bersemangat belajar!! Dan harus sabar yo sinaune!

Mulanya hanya grup HHBF yang saya tengok, sampai kemudian hari…penasaran sama cerita mbak kos, namely: mbak Rike, yang cerita kalau anaknya pake metode BLW. Hah? Apa itu BLW? Saya taunya WBL nih (wisata bahari lamongan, wkwkwk). Ada grupnya juga? Cari aaaahhh… daaaan… wow, I’m totally impressed of the knowledge in that group, it’s really a new one I just know, then I start to learn much more about the theme: BLW (Baby Led-Weaning). Sesungguhnya penasaran adalah salah satu anak tangga menuju pengetahuan. Tertarik sekali dengan metode BLW ini, akhirnya saya bela2in beli bukunya juga. Biar mantap untuk aplikasi. Sekaligus sebagai rasionalisasi dan advokasi jika ada yang complain (eaaa…ini amunisi ceritanya, heheheee). Eh betewe ni ya, emang bener ternyata, menjadi orangtua adalah pelajaran sepanjang hayat. Materinya jauuuuuhhhh lebih berat, banyak berlipat2, dan beraneka rupa dari sekedar materi kuliah sarjana, S2, bahkan S3. Okenya lagi ni, pelajaran menjadi orangtua ni gak boleh berhenti pada teori, langsung harus aplikasi karena di depan kita sudah menanti anak-anak tercinta generasi yang butuh sentuhan pendidikan dan pengasuhan. Karenanya, menjadi orangtua ternyata menuntut kita untuk membeli buku paket juga akhirnya. Parenting books, childhood books, tarbiyah books, etc. Dulu waktu kita mau nikah, aduduuu…ceile kumpulan buku munakahatnya banyak amiirrr, sebagai bekal pernikahan gitu (ya nggak? ya nggak?). Nah giliran mempersiapkan kelahiran, kehadiran, dan tumbuh kembang buah hati…yuk mari kita kumpulin juga buku2nya (dibaca juga maksudnya) sebagai bekal mengemban amanah Allah untuk mengasuh anak2 kita. Jadi ingat kata murobbi (guru ngaji) saya dulu: “Salah satu pertanyaan yang perlu ni kita tanyakan ke ikhwan calon kita: bagaimana konsep mendidik anak? Karena insya Allah kebersamaan kita berdua saja tu nggak lama, paling terhitung bulan.. selanjutnya, kita akan berlama-lama sepanjang hayat menjalani kebersamaan bersama anak. Maka pendidikan anak adalah konsep priority yang harus difahami.” (mbak M***Y)

Oke guys, back to theme! Finally, dengan berbagai diskusi panjang, proses pencarian, pertimbangan, prediksi, seleksi dan eliminasi (gak pake audisi)…saya dan abi Boya sepakat menjatuhkan pilihan pada BLW. Setelah mempertimbangkan banyak faktor, kami cenderung lebih sreg dengan metode ini. Sekali lagi, ini pilihan ya. Toh memang ada beberapa teori tentang MPASI, yang masing2 punya kelebihan dan kekurangan, tinggal kita sebagai orangtua mantap dengan teori yang mana. Mau ngikut panduan WHO apa FC (food combining), mau puree atau BLW…it’s a choice : )

Nah, begitu ceritanya tahapan saya dan abi Boya mencari ilmu di dumay (dunia maya) fesbuk.

Next step..? Apa yaa…?

Oh, perabot makan bagaimana? Mmmm… saya termasuk gak ribet mikirin perabot sich, karena pada dasarnya BLW itu simpel, gak butuh macam2 amunisi semacam mangkok khusus, sendok khusus, botol pure khusus, blender khusus, food pcocessor khusus, saringan khusus, de el el. Kita hanya butuh menyiapkan makanan dalam bentuk finger food (makanan yang bisa dipegang bayi) dan memposisikan bayi dalam keadaan tegak saat proses makan.

High Chair butuh kah? Karena saat 6 bulan Rafa belum bisa duduk sendiri, jadi belum butuh high chair, masih dipangku saja awal2 BLW. Apa nanti selanjutnya butuh HC? Mungkin… dan biasanya, sebelum kami memutuskan beli2 barang mihil buat perabot si Boya, kami biasa fit n proper test dulu dengan menyewa. Seperti dulu kami nyoba sewa stroller, ternyata jarang kepake juga, enakan menggendong aja  lebih fleksibel dan anak lebih akrab dalam dekapan ayah/bunda *kata penelitian, anak yang digendong will be smarter than yang ditaruh di stroller. Nah sampai sekarang (usia 7 bulanan) Rafa masih enjoy makan sambil dipangku, kadang juga duduk sendiri lesehan. Hanya saja godaannya kalau duduk sendiri…dia lebih mudah  tergoda untuk ngeluyur main. hehehe

Mmm, kayaknya itu saja sich persiapan MPASI yang kami lakukan kemarin. Ohya, hampir lupa. Pillow talk juga, ini masuk agenda preparation for MPASI.

Well, saya sudah ngantuk sekarang, mari kita tunaikan hak badan dulu. Besok dilanjut cerita seru BLW Rafa.

Nice to see you : )

Ternyata Begini Rasanya Dipoligami :D

Standard

Sepertinya ini suasana ba’da isya’, sepulang dari mushola. Kita berjalan menaiki sebuah tangga tinggi. Tak tau kenapa rasanya aku lelah sekali menapaki anak-anak tangga ini. Kenapa sih jalannya setinggi ini, pikirku. Aku berjalan di depan mendahuluimu yang masih di anak tangga bawah, kau berjalan perlahan sambil menyapa dan menanggapi sapaan tetangga. Meski aku di di depan, masih bisa kudengar jelas sapaan dan ucapan dari mereka untukmu. Memberi selamat. “Selamat ya ustadz, semoga bahagia..”  “Selamat menempuh hidup baru ustadz..” dan ucapan-ucapan senada, kau pun sibuk mengucap terimakasih dan mengamini. Padahal aku berharap kita cepat sampai rumah. Bersamaan.

Aku yang memasuki pintu rumah terlebih dahulu. Dan terbersitlah ingatan bahwa malam ini akan terjadi hal besar itu. Dadaku mulai sesak, mungkin wajahku juga mulai tampak merengut. Tak bisa kupungkiri sebuah rasa: aku bersedih! Mulai kudengar tapak kakimu memasuki ruangan. Sebenarnya aku tak ingin kau mendapati wajahku yang sekarang. Aku ingin kau bahagia malam ini, pun aku. Aku ingin kita sebahagia dulu saat melalui hal serupa. Berusaha kusenyum-senyum maniskan wajahku, berharap kau akan bahagia malam ini, bukan sebaliknya.

Sedang kutatap cermin besar di dinding, sembari menatap bayanganmu yang mendekatiku dari arah belakang. Kutepis-tepis pilu agar sedikit menyingkir dari batinku, setidaknya tak perlu terukir di wajahku.

Kurasakan kau mendekat memelukku. Dapat tercium jelas olehku aroma wangi melati yang menghiasi gaun hijau muda-mu, yang mengalung indah melengkapi riasanmu malam ini. Harum yang menyesakkanku.

“Malam ini ya?” tanyaku. Jika tak kumulai bicara mungkin air mataku yang akan mendahului.

“Iya.” Singkat jawabmu.

“Cepat sekali.” Datar…sehambar hatiku yang semakin memilu. Kupejamkan mata, sungguh tak mampu menatap matamu, tak kuasa jika harus kau temui mataku yang menyiratkan rasa tak rela.

“Prosesnya sudah dua bulan. Mereka minta disegerakan.” Jelasmu.

Memang tak perlu banyak kata, karena kita sudah sama2 tahu untuk apa ini harus terjadi. Mataku memanas. Teringat janji pernikahan kita: tak boleh ada ‘orang ketiga’. Tapi sekarang? Tiba-tiba kita merubah arah kesepakatan kita. Aku tau ini karena mereka, bukan inginmu sendiri. Atas nama jamaah, demi dakwah, dengan rasionalisasi yang complicated, kau pun menyetujuinya. Dan aku, menyetujuinya pula. Tapi rasanya sekarang meski kuusahakan sekuat hati mengikhlaskan, tapi tetap saja… tak bisa kutahan gejolak rasa yang membuncah. Jelas kurasa tanpa bisa kutepis: aku cemburu! Kupastikan aku tak kan mampu menyaksikan akadmu, dengannya.

Oh Allah…dadaku terasa sesak…sesak sekali. Masih memejam mataku, berharap bisa membendung lelehan air mata. Tapi nyatanya tak bisa. Sembari sesenggukan, meskipun kutahan-tahan tetap saja membuat badanku bergetar. Kita berdua masih berada di depan cermin besar di dinding. Kau hanya diam, mungkin juga dengan campur aduk perasaan. Aku masih yakin, aku masih merasakan, akulah yang kau cinta, tapi ini harus terjadi. Angan dan ingatanku melayang ke berbagai penjuru. Padahal aku berharap bisa tegar, ternyata nihil.

Dalam sekejab aku merasa seperti tak sadarkan diri, hanya sayup-sayup kudengar suaramu dan si kecil. Sepertinya berada di dekatku. Perlahan kubuka mata, masih kurasakan sesak dadaku, panas mataku, terasa seperti habis menangis tersedu-sedu. Sekarang benar-benar terbuka mataku, terkumpul kesadaranku, dan ternyata… kudapati kau sedang bercanda ria dengan si kecil, di sampingku.

Aku terbangun dari tidur. Kau dan si kecil tersenyum manis bersamaan ke arahku.

Ya Allah… ternyata AKU HANYA BERMIMPI!! hahaahaaa… jadinya ketawa2  geli sendiri (ada sebel juga sich).

Huuufffttt, alhamdulillah hanya mimpi. Tapi kenapa pula mimpinya macam itu..?!! Wallohua’lam, tapi setidaknya di dalam mimpi itu aku bisa merasakan hal: ternyata begini rasanya dipoligami. hahaahaaa…

Memang tak pintar, tapi aku mau belajar *memasak macam2

Standard

Salah satu bentuk cinta suami adalah dia senang hati mau makan masakan hasil experimen istrinya yang…lagi2 gagal >_< dengan expresi bahagia, mengapresiasi, dan masih juga memuji “enak kok” meskipun hasilnya jauh di luar rencana. Si Boya pun, nyam nyam makan sambil senyum2 dan tepuk tangan, yg kata abinya “tuh cint, Rafa juga suka”. Yeah, kalian selalu begitu, membesarkan hatiku :’)

Itu cerita kemarin, waktu aku lagi kangenn banget pengen maem apem buatan mbahku dan ibukku. Maka sore2 menjelang maghrib nyoba bikin. Rencananya pake fermipan saja untuk pengembang, karena tak ada tape nasi (lebih enyakk pake tape ni). Adonan dah setengah jalan, eh si fermipan di dapur udah expired ternyata. hiks3..

Yasudah masa bodoh dilanjut saja itu adonan apem dengan sedikit improvisasi. Taraaa…jadilah kue beras (karena terbuat dari tepung beras). Lumayan, bisa dimakan, dan lumayan enak lah buat camilan. Tak ada biskuit, si ‘apem gagal’ pun boleh laah buat teman tea time sore kami. hihi

Kemarinnya lagi, aku buat prol tape. Karena abi dengan daya empatinya membeli tape singkong banyak sekali, cuma 4000 dapat sekresek banyak. Dibikin wedang tape, enak. Selebihnya, kupikir2 pengen coba prol tape. Ternyata gampang resepnya, hasil googling *as u know google adalah sahabat sejati ibu2 jaman hitech. Setelah adonan hampir selesai, wah..baru kuingat aku gak punya loyang. Cling! Nemu ide. Tak ada loyang, tutup panci pun jadi *berpikir asik, alias asal, wkwkwk. Jadi pegangan item tutup panci tu kucopot, dan jadi deh loyang ajaibku. gyahahaaa. Silakan dibayangkan saja, gak bisa tampilkan penampakannya, lagi blogging pake hape soalnya.

Lalu, hasilnya? Alhamdulillah enak…meskipun agak asyem gara2 tapenya kecut. Tapi gakpapa malah enak. Dan agak gosong juga atasnya. Bcoz gosong is adorable for us, memang disengaja. ehehe

My duo Ranu, melihat senyum kalian aku jadi bersemangat untuk berexperimen. Lagi! Sabar ya, atas seringnya olahan gagal selama ini…hohoho

Ya Nak, bermainlah…

Standard

Umminya sibuk rapi-rapi, si Boya ikut bersemangat juga bantu “rapi-rapi”. Tumpukan buku sudah ditata, dirubuhkan. Mainan2 dimasukkan keranjang, diabsen keluar satu persatu. Kertas2 dimasukkan map, bisa juga di tebar ke lantai lagi. Isi tas umminya juga digeledah. Selanjutnya, jika tidak dipindah, itu baju2 di keranjang akan dilempar2 keluar satu2 sampai keranjangnya kosong song. Dan seterusnya, dan lain2nya. Jadi, kapan bisa RAPI kalau gitu? >.<

Baiklah, ummi online dulu aja ya, sambil ngawasin Boya.

Begitulah kalau punya bocil (bocah kecil). Rumah rasanya sulit untuk bisa rapi jika si bocil belum bobok. Banyak benda bertebaran di tempat yg tidak seharusnya (maka bagi para tamu, harap maklum ya). Ada gayung di karpet ruang tamu. Tutup gelas, kocokan telur, dan cangkir di kasur. Galon kosong di bawah meja. Panci, sendok, kardus, ember di ruang makan. Belum lagi rak buku always menjadi agenda harian Boya, buku2 diambili satu2, dibolak balik, kadang dirobek juga sampai sampulnya lepas2.

Bisa saja sich sebenarnya kujauhkan benda2 itu dr Rafa agar tidak dibuat berantakan. Tapi prinsipku, biarlah dia bermain apa2 yg dia inginkan, selama itu tidak berbahaya baginya. Biar dia menikmati masa bayinya dengan bahagia, memainkan apa saja yg menarik, dan mengexplorasi apapun untuknya belajar. Jadi sengaja kubiarkan dia menjadikan banyak benda sebagai mainan, selama dalam pengawasan dan ditemani. Kalo kata abinya suatu saat, “Ternyata deskripsi mainan itu ada pada mindset kita ya Cint.”
“Maksudnya?” tanyaku.
“Liatlah Rafa, betapa dia sangat pure, polos.. belum terdoktrin tentang apa itu mainan. Dia menjadikan semua benda sebagai mainannya. Itu berarti Rafa mengganggap benda2 itu adalah mainannya, meskipun dalam pengertian kita (orang dewasa) benda2 itu bukan mainan.”
“Oh..iya yaaa..”
“Berarti, nggak ada istilah misalnya ‘ini bukan mainan’, selama itu bukan hal yg dilarang ya. Karena sesuatu yg bisa dibuat mainan, ya itulah mainan menurutnya. Kita lah yg kemudian membuat batasan bahwa mainan itu ya bola ini, mobil2an, boneka, dll. Padahal belum tentu itu menarik bagi anak. Makanya cint, bagiku..math dan fisika itulah mainanku.”
Hahaha..okeh2. Ur toys are my enemy. Wkwkwk

Iya juga sich, aku membenarkan kalimatnya. Nyatanya banyak cerita dari para ibu yg sudah belikan anaknya macam2 mainan, tapi anaknya malah lebih senang memainkan benda2 di rumah. Lebih suka bunyi kresek2 bungkus diapers daripada teether book. Lebih asik sama helm daripada playpad. Lebih tertarik main pintu daripada arena balap. Lebih pengen emut botol minyak telon daripada dikasih gigitan (teether). Lebih enjoy robek2 kertas asli daripada main buku bantal. Intinya, mereka butuh lebih banyak benda untuk diexplor daripada dibatasi dengan benda2 yg kata kita: itu lho mainanmu…

Untunglah dulu aku tidak banyak membeli mainan untuk Rafa. Pertama, karena estimasi dana dan manfaat. Menurutku, saat ini terlalu banyak inovasi mainan dan atribut anak yg menurutku lagi, tidak terlalu penting atau dibutuhkan. Kalau menuruti inovasi, gak ada habisnya nanti kita belanja. Belum tentu juga berguna setelah dibeli. Misalnya, salah satu yg aku tidak tertarik adalah buku bantal, agar anak tidak merobek kertas dan buku. Justru menurutku anak bisa membolak balik kertas dan merobeknya, kan melatih motorik halus tuh. Asal pastikan saja buku2 mana yg boleh dilumatkan, hehe. Lha nanti kertas robekannya ditelan bagaimana? Ya diawasi donk. Tapi btw, Rafa pernah juga dulu nelan kertas, hihihii.. Alhamdulillah tidak apa2, keluar bersama pup. Contoh lain produk untuk ibu, ada bantal menyusui, walking assistant, dan lain2 yang menurutku lagi ni, bermanfaat sich tapi bisa kita siasati dengan sederhana sebenarnya. Seperti ibu2 jaman dulu yg so simple n tradisional. Seringnya malah menjadi kreatif dengan keterbatasan, tidak termanjakan dengan inovasi. So moms, lets be wise for shopping.

Kemudian, alasan keduaku adalah, ya karena sebelumnya aku berprinsip: banyak hal yg bisa dijadikan mainan oleh anak, yg ruang lingkupnya jauh lebih luas untuk belajar. Jadi rata2, mainan Rafa tu banyak yg dikasih orang, sebelum kami sendiri memutuskan untuk membeli. Alhamdulillah kan ya, ehehee.

Rafa sudah 10 bulan sekarang. Nanti, semakin bertambah usianya kubayangkan dia pasti semakin aktif dan pintar. Keberantakan yg sekarang belum apa2, jika dibandingkan dengan nanti.. Nanti, kalau dia sudah mulai passion corat coret tembok. Biarkan lah..baginya kertas dan papan tulis terlalu sempit untuk melukis (empatiku pada anak2 *eh tapi, ini rumah masih ngontrak je..T.T). Nanti, kalau dia mulai bawa2 truk berisi lumpur ke dalam rumah. Nanti, saat dia suka bikin benteng2an dengan sarung, bantal, dan kursi2 *wahaa..aku banget ini dulu waktu kecil rumah2an pake jarik/selendang dengan kursi2, di ruang tamu! Assiikk sekalii…puas rasanya bisa bikin rumah2an, dan pura2 tidur disitu. Bapak ibukku juga membiarkan saja. Yes bangettt kan. wkwkwk. Nantiii…oke, kunantikan saat itu, Nak. Pasti kamu sangat menggemassskannn.

Ohya, aku inget sebuah quote,
“Lebih baik pusing karena banyak pekerjaan, daripada pusing karena gak punya kerjaan.
Lebih baik pusing karena bertengkar sama suami, daripada pusing karena belum bersuami.
Lebih baik pusing karena polah anak, daripada pusing karena tidak punya anak.”
Setuju atau tidak, quote tersebut ada benarnya juga. Maka syukuri dan cintailah apa2 yg kita punya sekarang. Itu adalah anugrah, dan amanah.

Oke Son, tidurlah dengan pulas, ummi mau sholat dulu.

Asar, @Jogja

I call it…MIRACLE!

Standard

Allahuakbar!
Baru saja perasaan hatiku sudah sangat ringan dan tentram, kupasrahkan segala daya pada Allah, kutinggalkan jejak di postingan sebelum ini, serta dalam batin melangitkan doa kepadaNYA.

Lalu log out, beralih jalan2 ke web lain. You know what I found? DOAKU TERKABUL! Persis. Dalam sekejab setelah kutinggalkan postingku sebelumnya. Allah menjawabnya seketika. And I call it: MIRACLE.

Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.. Jalanku masih harus kutiti dengan khitmad tawakal padaMU. Wahai Dzat Penggenggam Kuasa.. Yassirlana amruna, wabariklana fi kulli ‘amalina..