Setiap Anak selalu Membawa Cerita Berharga

Standard

Aku punya waktu untuk menulis di sela-sela waktu mengurus Rafa dan melakukan pekerjaan rumah. Tapi ternyata, aku tidak punya waktu (dan kesabaran) untuk menunggu loading internet yang entah kenapa menjadi so much lemot. Mending aku ngapain yang lain daripada nungguin loading lama. Entah apa yang terjadi dengan modemku??!! Tiba-tiba gak mau diajak log in wordpress, always failed. Kadang bisa buat buka fesbuk, itupun lola sekaleee.

Nah, barulah ini aku bisa log in wordpress lagi.

Telah berlalu satu bulan usia Rafa, masa adaptasi yang lumayan menyita tenaga dan konsentrasi. Merawat bebi newborn itu, sungguh sebuah adaptasi besar bagi seorang ibu… apalagi anak pertama. Bagiku, terutama masalah jam tidur. Aku yang ngantuk’an, tidak hobi dan tidak kuat begadang, kadang susah juga dibangunkan, harus menyesuaikan dengan jam tidur  Rafa yang terbangun tiap 2 atau 3 jam atau kadang semaunya dia. Tetapi menjadi ibu adalah tidak bisa egois, ada makhluk mungil yang masih lemah yang sangat banyak bergantung pada kita, ibunya. Walhamdulillah, secapek-capeknya badan plus sambi nahan nyeri dalam masa penyembuhan jahitan, selalu masih bisa (dan rela) jasad ini beranjak dan bekerja (menyusui, menimang, menggendong) di kala Rafa bangun. Hal ini juga demi satu tujuan mulia: ASIX (ASI ekslusif). Kalau pake susu formula (sufor) mungkin lebih gampang, tinggal suruh suami atau siapa untuk membuatkan susu, dimimikkan, beres. Ibunya tinggal terlelap istirahat tidak perlu ikut bangun saat bayinya bangun. Tapi sebagai ibu yang ingin mempersembahkan yang terbaik, tak rela lah Rafa mengkonsumsi sufor selama aku masih mampu. Lebih rela badanku remuk redam menahan lelah daripada enak-enakan istirahat sementara Rafa minum sufor. Kumenyadari sesadar-sadarnya, Allah menitipkan payudara pada wanita adalah disiapkan untuk anak-anak mereka (bukan cuma buat hiasan, kalo seorang bidan). ASI ini hak-nya anak-anak kita :’) maka berikanlah. Eh, lebih tepatnya, BERJUANGLAH untuk ASIX. Karena mayoritas ibu baru mengalami hal yang sama: ASI belum lancar di hari-hari awal. Begitupun aku. Tapi karena sudah pernah membaca tentang ini, santai-santai saja aku menanggapi komentar macam-macam dari beberapa orang, “Kok belum keluar to?… Biyuh, belum bisa nyusui? Blablabla…” aku dan suami selalu cuma senyum-senyum saja, karena kami yakin, nanti lak lama-lama lancar, pokoknya tetap semangat disusukan ke bayi dan terus makan makanan yang menunjang. Kata orang sich macam-macam, ada yang bilang kacang tanah, kacang mete, pepaya, daun pepaya, katuk, mbayung, habatussauda, dll. Halah, pokoknya segala macam makanan yang bernutrisi kutelan juga, yang suka atau tidak suka. Sebagai ikhtiar atas permohonan doa sejak aku hamil, “Ya Allah karuniailah aku ASI yang melimpah, ASI yang cukup untuk anakku.” Alhamdulillah benar hari ke-5 mulai lancar jaya, melimpah ASI untuk Rafa.

Suami, adalah orang kedua yang harus beradaptasi dengan kelahiran si kecil. Meskipun dia tidak menyusui, malam saat aku terbangun dia ikut pula menemani, membantu mengambilkan ini itu, mengganti popok, dan menimang Rafa. Meskipun jelas tampak kadang dia terkantuk-kantuk menemaniku menyusui Rafa. Kadang saat Rafa bangun dia bersedia menimang dan menenangkan Rafa sendiri, membiarkanku beristirahat. Kalimat, “Sudah, aku saja, kamu istirahat…” bagiku adalah sama rasanya dengan kata “I love you” dan lagi dia selalu menyelimutiku dan menatakan bantal untukku saat aku mulai merebahkan diri, agar aku senyaman mungkin. Dukungan dan bantuan yang dia berikan benar-benar sangat membantu, dari urusan merawat Rafa sampai urusan perawatan diri-ku pasca melahirkan yang macam-macam. Masalah ritme tidur, alhamdulillah, lama-lama kami terbiasa. Setiap kali terasa payah, selalu kuingat dan kuucapkan dalam batin, “Ah, hari ini tak akan terulang. Di kemudian hari aku pasti akan merindukan saat-saat ini.” mengingat itu, alhamdulillah bisa membuatku menikmati segala lelah.

Selain itu, adalah wajib bagi orangtua baru untuk belajar memahami bayinya. Bagaimana menemukan style menimang yang sukses untuk menenangkannya, bagaimana posisi yang nyaman menggendong atau menyusuinya, bagaimana menemukan ragam hiburan yang membuatnya tenang dan tertarik memperhatikan, bagaimana mengerti arti tangisnya. Eh, ternyata benar lhoh tangis bayi itu macam-macam, beda antara tangis lapar atau haus, tangis sakit, takut, kesepian ditinggal sendiri, atau sekedar tangis manja minta diperhatikan atau digendong. Alhamdulillah Rafa ini tipikal bocah yang tangisnya ringan, tidak menjerit-jerit atau istilah jawa-nya ‘gero-gero’. Jadi tangisnya tu malah lucu.. hanya seperti rengekan gitu sambil mewek-mewek lucu, kadang intonasi tangisnya terdengar seperti dia ingin mengoceh dengan tangisnya. Lucunya lagi, sejak masih bayi merah Rafa ini sangaaat suka mandi. Dia tidak menangis sama sekali saat dimandikan, ayeeem banget wajahnya. Sampai selesai didandani dia tetep anteng saja menikmati, baru kalau sudah selesai dandan dan dia kerasa kok gak segera diangkat ditimang atau dimimiki, dia akan mulai protes dengan rengekan kecil dan menggerak-gerakkan tangan kakinya. Nyenengin banget pokoknya.

Makhluk ketiga yang tak kalah luar biasa beradaptasi ya si kecil Rafa ini. Menghadapi dunia pertama kalinya tentu ada hal-hal yang membuatnya shock. Dulu waktu di dalam kandungan apa-apa sudah dijamin sama Allah, lapar haus tinggal disuply melalui plasenta, tak perlu mencari-cari puting ibunya dan perlu usaha lagi (ngenyot), bobok tinggal bobok sudah nyaman dan pas hangatnya di dalam rahim, pipis pun tak membuatnya terganggu, kemana-mana dia merasa aman dan nyaman bersama ibundanya, setiap waktu nyaman terayun di dalam ketuban, all is comfortable settled. Tentu kemudian bayi baru lahir masih belajar dan berusaha menyesuaikan dirinya. Di minggu pertama bayi biasanya sukaaa tidur dan susaaah dibangunin, apalagi Rafa kalau habis mandi dan dibedong, biyuh… diapain aja susah banget bangunnya, padahal jadwalnya ngASI. Trus waktu disusui, dia geleng-geleng nyari puting, kalau lama ketemunya, merengeklah dia, hehehe. Itu di minggu pertama, selanjutnya lancar saja dia menyusu. Masa adaptasi ini juga yang menyebabkan berat badan bayi biasanya menyusut di minggu awal kelahirannya.

Oya, ngomong2 bab melahirkan, alhamdulillah lah untuk kelahiran Rafa. Meski mungkin tak cukup disebut sebagai gentle birth, tapi aku sangat bersyukur poin-poin terpenting yang kuharapkan dalam persalinan dapat kesampaian.

Oya, sedikit tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa jihad yang sesungguhnya wanita itu kalau melahirkan normal. Menurutku, sesar atau normal, keduanya sama-sama jihad besar seorang ibu. Kalau persalinan normal merasakan sakit pra melahirkan, bukankah ibu yang sesar juga berjihad merelakan perutnya dibelah, dibedah, dan merasakan sakit pasca melahirkan –yang katanya lebih lama daripada sakit normal. So, tetap hargai setiap detail perjuangan para ibu mengandung dan melahirkan dengan tidak membuat klaim-klaim yang underestimate.

Karena bagiku, ibu hebat bukan yang mabok atau tanpa mabok, yang proses pembukaannya cepat atau hemat, bukan yang normal atau sesar. Ibu hebat adalah yang mencintai setiap proses yang mengantarkannya menjadi seorang ibu dan mempersembahkan yang terbaik untuk sang buah hati. Kalau bisa normal tak perlu minta sesar, kalau harus sesar tak perlu memaksa normal dengan resiko tinggi yang justru membahayakan, kalau bisa ASIX tak perlu sufor. Karena setiap anak selalu membawa cerita berharga, dan pasti berbeda.

 

 

* Salam sayang untuk seluruh ibu dan para ayah ASI di muka bumi :’)

Special thanks for abi Fachri, for the super support!

6 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s