Cerita Kelahiran Rafa

Standard

Ingin kutulis cerita ini, sebagai catatan manis yang akan selalu terkenang mendalam… kelahiran putra kami yang pertama: Muhammad Rafa Ranu Albanna.

Ramadhan kemarin menjadi momen yang sangattt indah dan luar biasa bagiku. Merasai sebuah pengalaman pertama yang sungguh mengesankan: melahirkan, yang mengantarkanku meraih gelar luar biasa: IBU, yang tak akan dialami dan dirasai kecuali oleh seorang WANITA, satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang dalam jasadnya dianugerahi amanah yang serupa asma-Nya: rahim. Rahim yang berarti kasih sayang, memanglah iya begitu adanya rahim wanita, yang disetting dengan sempurna oleh Yang Maha Kuasa sebagai tempat paling nyaman bagi janin, tempatnya beroleh asupan makanan ideal, tempat tumbuh kembang yang kokoh, serta perlindungan yang aman sebagaimana Allah mengatakan “fii qororin makiin” (di tempat yang kokoh) yakni rahim.

Hal kedua yang paling membahagiakan bagi seorang istri selain memiliki suami belahan hati adalah melahirkan buah hati. Dan ternyata melahirkan itu… amazingggg rasanya!! Di usia kehamilan yang sudah cukup matang (40weeks) adalah saat-saat mendebarkan menanti hari H kelahiran si kecil. Seumur-umur baru sekali itu aku menanti-nanti rasa sakit. Biasanya tentu saja tak ada orang yang mengharap-harap sakit. Tapi rasa sakit yang kunanti-nanti itu tentulah bukan sakit penyakit, melainkan sebuah rasa sakit gelombang rahim yang menandakan anak kami akan segera lahir, rasa sakit yang kehadirannya sungguh membahagiakan.

Selasa sore kala itu, 7 agustus 2012, hang out sama suami ke matahari Madiun, jalan2, blanja-blinji (dengan ngerem-ngerem ati biar gak kalap belanja karena lapar mata saja, apalagi liat diskon-diskon lebaran), trus buka puasa di emperan matahari. So swiit deh. Tengah malam menjelang dini hari, kurasakan kontraksi yang rasanya beda kayak biasanya, sepertinya bukan kontraksi braxton hicks. Mulailah tidur rasanya tidak nyenyak, sesekali terbangun karena rasa gelombang rahim.

Rabu 8 agustus, waktu sahur tiba-tiba bapakku memandangi motor revo kami yang sedang parkir manis dan mendapati angka yang menunjukkan tanggal deadline pajak, 9 Agustus. Setelah di cek STNK, benar ternyata, kamis tanggal 9 terakhir pajak motor. Karena STNKnya masih atas nama ibu Ndoro, jadinya ibu datang ke rumah Takeran untuk mengantarkan KTP dan BPKB sebagai syarat pajak, sekalian sorenya mau menemaniku dan suami untuk kontrol, kebetulan hari itu jadwalku kontrol dan merupakan HPL berdasarkan itungan bu bidan desaku (UK 40w3d). Rabu pagi sempet hilang rasa kontraksi semalam, baru siang sampai sore sesekali terasa lagi tiap 10 menit sekali.

Rabu sore kontrol, dicek dalam ternyata sudah bukaan 2. Disuruh pulang lagi sama bu bidan sambil beliau menyiapkan alat-alat katanya. Wawaw… benarkah si boya (panggilan sayang kami buat si bebi) bentar lagi mau lahir??? Sebelum pulang dikasih beberapa wejangan sama bu bidan, diantaranya: kalau pas datang kontraksi, jangan nggeget (merekatkan gigi-gigi dan tegang) karena bisa menyebabkan ketuban pecah dini (kata dokter KPD sering terjadi pada rahim yang selaput ketubannya tipis), ambil nafas aja yang panjang dan usahakan rileks. Trus diberi tips juga biar kontraksi pembukaannya lebih cepet, tapi yang ini cuma beberapa kali kulakukan, hehee. Sampai di rumah, aku semacam dilanda euforia kecil di tengah kontraksi yang datang dan pergi. Sebelum maghrib, kusempatkan masak kerang dari matahari kemarin, mumpung masih sempet, keburu lahiran ntar kelupaan gak dimasak.

Buka puasa bersama rame-rame sekeluarga plus ibu mertua. Semula beliau mau pulang malam ini, eh kok pas juga gara-garanya masalah pajak motor sehingga beliau harus datang dan menemani proses kelahiran si boya. Sembari menunggu orang-orang rumah selesai tarawih, kuiisi waktu di rumah dengan mendengarkan lagi video relaksasi dari bu Yessie (owner bidankita.com), sembari mengajak si boya ngobrol dan mensugesti diri, plus mencatat frekuensi kontraksi (tiap berapa menit sekali dan dengan durasi berapa). Menjelang jam 9 malam, bu bidan SMS gimana perkembangan kontraksinya. Lumayan, antara 5 sampai 6 menit sekali dengan durasi rata-rata 60 detik. Langsung deh diundang untuk mabit (nginep) di rumah beliau. Jam 9 berangkat ke rumah bu bidan, sewa mobil tetangga yang kadang berbunyi glodak-glodak (hehe) saat melewati jalan desa yang bergeronjal. Kebetulan rumah bu bidan beda desa, agak jauh.

Sampai di depan rumah bubid, beliau menyambut, “Lha  sik iso ngguya-ngguyu nho lho…” selanjutnya dicek, bukaan 3, disuruh istirahat. Sementara ibu dan ibu mertua beranjak tidur, aku dan suami masih mengobrol sambil aku jalan-jalan di dalam rumah, sesekali juga pelvic rocking dengan birthing ball. Malam semakin larut, suami mulai mengantuk, plus kontraksi mulai lebih intens. Jadilah mataku tak bisa terpejam. Jam 12 malam, bu bidan mencek lagi, bukaan 4. Wew, ini hemat juga ya pembukaannya, kukira sudah bukaan diatas 5 gitu (kataku dalam hati). Baiklah, menikmati setiap kehadiran gelombang rahim yang mulai membutuhkan relaksasi lebih. Suami menemani terjaga, hanya sesekali dia undur diri minta ijin memejamkan mata. Tapi ya cuma bobok-bobok ayam, istilahku: tidur siaga. Suami siaga, tidurpun siaga, hehe.

Kamis jam 5, bukaan 5. Nah, setelah itulah dimulai kontraksi yang mulai menguat, yakni pembukaan 6 sampai lengkap. Ada suami di sisiku benar-benar hal yang sangat kubutuhkan. Dia selalu di sisiku sambil terus menenangkan dan mengingatkan “Jangan tegang, ambil nafas, rileks… ingat Rafa, dia mau segera ketemu kita… Tenang, itu sinyal cinta dari Rafa, dia bilang Umi, aku mau ketemu Umi… Rafa mau segera ketemu kita… blablabla…” Setiap kali dia menghibur dan memberi sugesti, aku mengangguk sambil mengiyakan “Iya, demi Rafa… sakit sedikit, cuma sebentar. Ayo sayang, kita bisa!!! Bla bla bla…” meng-afirmasi diri sendiri, kuucapkan apapun yang bisa membuatku trenyuh dan bahagia menanggapi gelombang rahim yang semakin menguat. Demikian pula setiap kali kwalahan dan kukatakan padanya bagaimana rasanya, dia pun kembali menenangkan, “Gakpapa, penggugur dosa ya…sabar…sebentar lagi…” haaah… damai rasanya mengiyakan ucapannya. Sebisa mungkin kuusahakan terus mengatur nafas , dzikir, dan rileks, bahkan sejak awal tanganku tak pernah menggenggam kuat, hanya terus menggenggam lembut tangannya. Beberapa kali saat memandang wajahnya memicuku untuk usil, karena mengusilinya membuatku bahagia, dan lumayan lah kebahagiaan itu sedikit mengalihkan perhatian dari kontraksi. hehehe.

Sekitar jam 8an kontraksi semakin heboh. Mulai ngos-ngosan mengatur nafas, hampir kwalahan rasanya, sampai aku meminta suami untuk memberi aba-aba agar nafasku teratur. Jadi dia semacam dirigen gitu memberiku aba-aba dengan tangannya, hehe. Pasca melahirkan dia baru cerita, saat itulah puncak ngantuk melandanya, sebisa mungkin dia menahan kantuk yang sangat, demi aku…istrinya tercinta. Ya Allah… kasiannya… T.T. Seingatku, selama datangnya kontraksi ini, hanya tiga kali aku berhasil rileks se rileks-rileksnya tanpa sedikitpun desahan suara, hanya dengan nafas yang ringan dan memejamkan mata. Hanya tiga kali itu, selebihnya ngos-ngosan bernafas sembari terus melafalkan dzikir setiap datang gelombang rahim yang semakin heboh seperti tak ada jeda. Sekitar jam 9 kurang, pembukaan lengkap, ketuban masih utuh sehingga dipecahkan oleh bu bidan. Ternyata begitu rasanya, benar-benar tanpa diminta atau direncanakan tiba-tiba refleks dorongan mengejan sangat kuat. Subhanallah Allah menciptakan mekanisme alami tubuh wanita saat melahirkan.

Yup, dimulailah tahap puncak melahirkan: mengejan. Bu bidan memberi arahan cara mengejan, dan disuruh baca basmalah serta bertakbir sebelum mengejan, begitupun ibu, mertua, dan suamiku yang membantu di ruang bersalin. Yang terasa sich bener-bener seperti ingin BAB, seperti ingin mengeluarkan pup yang buesar banget. Tapi ternyata aku berkali-kali salah teknik dalam mengejan, ditambah kekurangan tenaga karena dua malam tidak tidur. Uniknya, di saat-saat genting inilah muncul kantuk. Setiap kali beristirahat dari mengejan, rasanya ngantuuukkk banget. Berulang kali mengejan belum berhasil, mencoba beberapa posisi dan menggunakan birthing ball juga belum berhasil. Bu bidan terus memotivasi, “Ayo dheeekkk… pinter kok ngejannya… ayo terus berusaha. Kurang sedikiiit sekali, ujung kepala dan rambutnya sudah keliatan terus lho pas kamu ngejan…” ibu dan ibu mertuaku juga terus menyemangati dengan perasaan dag dig dug. Suami tak ada suara, dia terlalu campur aduk perasaannya antara terpana dan tidak tega. Puluhan menit berlalu sudah, entah berapa kali aku sudah mencoba mengejan dan belum berhasil. Padahal aku mulai faham cara ngejan, yaitu fokus pada perut, mendorong perut seperti mau BAB, tapi dasar aku lelah, tenaga kurang kuat mendorong. Well, bu bidan menawarkan bantuan episiotomi. Kuiyakan saja supaya Rafa cepat lahir, kasian dia jalannya tersendat-sendat karena emaknya gak paham cara ngejan (huhuuu… maafkan umi sayang T.T). Saat terasa lagi dorongan mengejan, kurasakan sebuah sayatan, kupikir akan pedih sekali rasanya, ternyata tidak, hampir tak terasa karena otakku terus berkonsentrasi mengejan. Subhanallah, sudah di epis belum berhasil juga, karena aku semakin kelelahan. Mencoba mengejan yang kedua, belum berhasil juga. Tentulah darah segar mulai banyak keluar. Bu bidan mulai panik. Dan… mengejan yang ketiga setelah diepis, bismillahi Allahuakbar… berhasil! Saat semua berseru Allahuakbar lebih nyaring, kutengok, lhoh…sudah ada kepala kok gak kerasa keluarnya (batinku), langsung aku bersemangat menyambung nafas dan mengejan sekali lagi, daaan…pada jam 09.20 WIB…mak prucul… yang ini terasa keluar badannya, beberapa detik kemudian disusul kelahiran plasenta. Ternyata pas keluarnya ini tidak sakit sama sekali!! Ya Allah… legaaa rasanya, plooong sekali! Dalam sekejab hilang semua rasa sakit selama proses pembukaan. Blas tidak bersisa secuil pun. Pertama kalinya kulihat makhluk kecil suci itu terbaring di atas perutku, dalam beberapa detik si kecil Rafa tenang sekali, wajahnya damai dan belum menangis, baru setelah bu bidan melakukan sesuatu seperti membuka mulutnya (aku tidak tau namanya, mungkin membantu jalan nafas) dia seperti tersedak lalu menangis.

Selanjutnya IMD. Bahagia campur haru tak karuan,takjub memandangi makhluk mungil di pelukanku. Utuh badannya, mungil dan imut kesemuanya. Matanya melek sempurna. Tangan mungilnya putih pucat seperti orang habis kelamaan berendam di air (yaiyalah, dia habis 9 bulan berendam ketuban). Kubisikkan ta’awudz dan syahadat di telinga kanan-kirinya. Setelah beberapa menit dia menangis, dia diam sendiri… hanya kedip-kedip dan bergerak-gerak tangan kakinya, sesekali mengangkat bokong dengan kakinya yang mancat ke perutku. Sekitar setengah jam IMD, Rafa sudah bisa menghisap ASI dengan kuat (meskipun belum ada yang keluar). Bahagia berlipat rasanya. Ajaib sekali anugrah Allah, ketika bayi lahir hilang sudah segala rasa sakit saat kontraksi. Benar-benar sirna. Selama IMD tak henti kupandangi dia, masih seperti mimpi rasanya makhluk mungil imut ini keluar dari rahimku, ini dia yang membersamaiku selama 9 bulan 8 hari. Ya Allah… ini anakku… buah hati kami… dia sudah lahir, melihat dunia untuk pertama kalinya. Baru mengerti, begini ternyata rasanya melahirkan, begini ternyata indahnya menjadi ibu, begini rasanya menatap buah hati… trenyuuuuh sekali atiku :nangis:. Rasa bahagia tak terhingga, hadiah dari Allah yang hanya bisa dirasakan oleh seorang ibu.

Bersama abinya, kami terus mengajaknya bicara, mengalihkan perhatianku dari nyeri jaitan yang masih in process T.T. Bu bidan tampak gugup, tangannya bergetar karena ternyata aku pendarahan deras. Beliau meminta ibuku untuk keluar kamar bersalin mengambil es batu di kulkas (dan kok yo pas tinggal satu tok til. Alhamdulillah). Lalu masing-masing manusia di dalam ruang itu melakukan peran tugasnya. Bu bidan melakukan tugas jahit menjahit, ibuku memegangi es mengompres perutku, ibu mertua diminta memijat perutku, suami mendampingi IMD sambil menyodorkan tangannya untuk kupegangi menahan sakit jahitan. Mungkin biusnya belum terlalu bereaksi karena bu bidan harus segera menjahit untuk mengurangi pendarahan, sehingga rasanya dijahit so WOW banget. Semua yang ada di ruang bersalin serasa sport jantung melihat darah segar mengucur, kecuali aku dan Rafa tentunya. Kami hanya terus diminta bertakbir oleh bu bidan, sampai proses menjahit selesai. Kupikir, seperti apa sich parahnya, sampai ibuku juga berwajah miris mengamati bu bidan menjahit. Kerasa sich darah mengucur, dan lagi aku pernah baca bahwa pendarahan adalah salah satu sebab terbanyak kematian ibu saat melahirkan. Tapi subhanallah, tak ada rasa khawatir sama sekali saat itu, sudah sangat plong aku melahirkan Rafa, sampai aku berpikir, kalau Allah menghendaki matiku, aku hanya berharap syahid… T.T …aku berharap terhitung syahid di sisiMu ya Allah…

Sekitar setengah jam mungkin, prosesi penjahitan selesai. Entah berapa banyak, bu bidan hanya bilang sambil senyum-senyum, “Banyak, gak itung.” Dan lagi beliau komentar setelah usai semuanya, “Termasuk tahan sakit ya kamu, ngeluhnya (waktu kontraksi) cuma begitu.” Hah? Cuma begitu? Kupikir aku sudah heboh. Tapi memang sich awalnya aku sempat mbatin, ternyata rasanya kontraksi prapersalinan begini ya, mirip rasa sakitku waktu kena gastritis (luka lambung) dulu. Tapi pas pembukaan semakin banyak, ya rasanya berlipat-lipat donk. Alhamdulillah aku melewatinya dengan cukup manis(dramatis dan romantis juga, hoho…). Jadi heran, sering dapat cerita orang melahirkan sampai bisa teriak-teriak, memaki, atau memukuli suaminya (yang ini anarkis, hehee), kok ya kuat amat tenaganya. Aku saja buat bernafas rasanya sudah pol ngos-ngosan.

Rafa lahir dengan berat 3,7 kg (pantesan heboh keluarnya) dan tinggi 53 cm. Setelah dibersihkan dan dibedong, Rafa dikumandangkan adzan dan iqomah oleh abinya. Lalu, karena semua pada puasa, jadi aku yang mentahniknya dengan kurma sembari membisikkan doa untuknya, menunaikan sunah Rosul.

Allahumma baarik fiih,

A’udzu bikalimatillaahittaammati min kullisyaithonin wa hammatin wa min kulli ‘ainin laammatin… (HR. Bukhori dari Ibnu Abbas)

Selamat datang sayang, semoga kehadiranmu membawa kebaikan dunia-akhirat :’)

Love you so much, Rafa.

..abi & umi..

10 responses »

  1. Barakallaah yah Say….
    hwaaa…telat bangeeett.. nda apdet soalnyaa… :'(
    Smoga jd anak yang shalih….

    Tak dinyana, aku nangis baca ini…*cengeng, hehe….
    walau kocak, tapi mengharu biru…

    Selamat menjadi ibu yang inspiratif…
    Barakallaahu ‘alaykum….

  2. pas belom lahiran udah baca cerita ini.. ;)
    ternyata tiap anak emang bawa cerita masing2 mbak, n mungkin yg nyampe teriak2 itu juga bawaan bayi kali mbak.. hihi ;P
    alhamdulillaah ya mbak, prosesnya dimudahkan Allaah.. :) jadi ga trauma deh buat lahiran lagi… :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s