Karena Tak Sempurna

Standard

Beberapa bulan yang lalu saya dan suami berikhtiar membantu “proses” seorang teman. Kami tau kami berada dimana dan sepatutnya memulai dengan bagaimana, melibatkan siapa. Well, kami pun menempuh cara itu, tahap permulaan sesuai jalurnya. Tapi apa yang kami temui kemudian bisa dibilang…sedikit mengecewakan. Nama ikhwan yang kami ajukan sama sekali tak tersentuh proses, padahal jelas nama tersebut hadir lebih dulu sebelum nama lain yang diproses dengan teman akhwat saya. Setelah mengambang dan menggantung beberapa bulan (dua bulan-an kalau tidak salah), usai lah proses itu alias tidak berlanjut. Yang membuat kami sedikit penasaran adalah: apa alasannya sehingga nama yang lebih dahulu datang justru diabaikan? Tabayun sudah kami lakukan, namun masih ada ketidakjelasan dalam penjelasannya. Hanya sebuah jawaban ringan kepada teman akhwat saya yang menyudahi ikhtiar itu: afwan, anti belum bisa diproses.

Agak gemes juga saya mengSMS teman saya.

Saya: “Cuma begitu saja? Lha kamu gak tanya apa alasannya?”

Dia: “Nggak, sudah cukup.”

Saya: “Gimana to ‘kotamu’ itu. Oke gakpapalah kalau misalnya gak bisa diproses, tapi setidaknya beri alasan kenapa. Kasian juga si dia, mengambang dan menggantung sekian lama tanpa kejelasan, konfirmasi pun tidak.”

Dia: “Sudahlah Han, gakpapa. Aku tidak perlu mendengar alasan apapun, toh, apapun alasannya itu adalah kata lain dari tidak berjodoh, kan…? Mintakan maaf atas segala hal yang kurang berkenan.”

Nyesss…! Sebuah kalimat yang menyadarkan saya dan seolah menjadi sebongkah es yang mengademkan pikiran dan hati saya: toh, apapun alasannya (yang membatalkan) adalah kata lain dari tidak berjodoh. Nyatanya demikian, dua orang yang dalam pandangan kami sebanding dan unik (karena punya ‘karakter’ genetis yang sama) ini memang belum berjodoh. Baru-baru ini kami mendapat kabar bahwa si ikhwan tengah mempersiapkan pernikahannya dengan gadis lain. Allah memang telah punya skenario-Nya sendiri. Kadang untuk sampai pada suatu episode, seseorang harus melalui episode-eisode pengantar dulu, ada sebab-sebab yang harus dialami dulu. Dan beginilah alur cerita untuk dua teman saya tadi. Ya… memang tak ada yang harus disalahkan tak ada yang layak kecewa jika semua bermuara dengan satu kesimpulan akhir: sudahlah, memang tidak berjodoh, sudah Allah yang ngatur.

Meskipun dalam kejadian ini memang ada andil sebuah ketidakjelasan proses dari pihak-pihak tertentu. Yah, jamaah ini memang tidak sempurna, begitu pula orang-orangnya, seperti sebuah kalimat khas yang sering kami dengar: jamaah ini bukan jamaah malaikat. Tapi justru dengan ketidaksempurnaannya ini kita bisa mengambil makna, pelajaran, dan hikmah dari setiap kejadian di dalamnya. Saya pun bukan satu-satunya orang dan bukan satu atau dua kali pernah sempat kecewa dengan komunitas ini. Bahkan saat berada pada sebuah ‘posisi’ tinggi pun saya pernah sempat menggalau karena futur dan ingin kabur meninggalkannya. Benar-benar ada rasa eneg dan ingin lepas yang nyaris mengantarkan saya pada khilaf. Tapi di sela-sela waktu menggalau itu saya justru mendapat pencerahan. Bahwa ada banyak alasan ternyata kalau dicari-cari, ada banyak kekurangan yang bisa digali, dan ada bertumpuk-tumpuk aib yang layak dijadikan alasan (untuk run away). Tapi sisi lain hati saya selalu masih sempat menepis: ah, ini bukan masalah mereka dan kekurangan mereka, ini hanya masalahku, masalahnya ada di aku: aku yang sedang emosi, aku yang egois, aku yang sedang kurang sabar, aku yang sedang capek, aku yang sedang tidak lurus, dan tentu saja karena aku yang sedang futur hingga azzam untuk istiqomah nyaris meluntur, sehingga apa-apa yang baik pada mereka seakan hanya remang-remang, kekurangan dan aibnya yang lebih menonjol dan menyita fokus, konsentrasi, dan perhatian saya. Tentu saja ini mengajak saya untuk cenderung memperbesar nilai minus pada komunitas ini dan mengantarkan saya pada alasan-alasan untuk meninggalkan. (FYI: ini cerita saya, bisa jadi berbeda dengan cerita mereka yang meninggalkan dengan alasan yang lebih patut –berbeda ‘pandangan’ atau semisalnya)

Alhamdulillah, masa-masa menggalau yang beberapa kali menghampiri saya (jaman kuliah) itu tidak berhasil membuat saya pergi. Saya selalu berpikir: ya, jamaah ini memang tak sempurna, tapi masih selalu banyak sekali baiknya saya berada di sini. Untuk saya, dan untuk orang-orang lainnya (baca: umat). Memang tak sempurna, karena ketika banyak orang berkumpul bersama, bukan hanya kelebihan dan kebaikannya yang terhimpun, tapi juga kelemahan dan kekurangan yang berkumpul. Memang tak sempurna, sehingga wajar jika beberapa kali tersandung kesalahan, wajar ada yang keliru di dalamnya. Bukan untuk meminta pemakluman, tapi sebagai bahan evaluasi dan koreksi di masa depan. Begitulah indahnya watawa shoubil haq watawa shoubis shobr… adanya orang-orang lainnya yang bersedia mengingatkan.

Kabar baiknya (ini gak nyambung sich) September ini insya Allah ada seorang teman saya yang akan menikah dengan teman baik suami (teman dekat sejak awal kuliah). Pertemuan dua insan ini bermula dari “ide” kami (saya dan suami) untuk memperkenalkan dua sosok yang memang sedang masa mencari dan menanti ini. Alhamdulillah, dalam waktu sekitar dua bulan mereka sepakat menikah. Satu catatan, saya dan suami kebetulan ada beda “pendirian” dengan mereka berdua (dua teman yang akan menikah itu). Sehingga so pastilah kami tidak menempuh alur jamaah untuk mempertemukan mereka (tapi yang jelas diusahakan syar’i donk). Berada dalam satu lingkup kelompok tak menghalangi untuk ber-relasi baik dengan kawan dari kelompok lain, bahkan membantu mereka menemukan belahan jiwanya (cieehehee). Tentu saja semua karena Allah yang menjadikan skenario cerita sedemikian ini. Saya dan suami hanya berharap kecipratan berkah dan pahalanya. Katanya kalau orang menjadi perantara menjodohkan sampai menikah tu pahalanya besar, belum cek sich dalilnya gimana, tapi yang jelas insya Allah berpahala lah menjadi perantara bertemunya dua insan dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan (sebut saja: makcomblang, :lol: ).

8 responses »

  1. keluar dari jamaah bukan sesuatu yang buruk untuk saya,…
    islam ini sudah terpecah menjadi golongan2,dan bagi saya rasanya sedih dan menyakitkan jika dalam satu ukhuwah saja masih membedakan..
    saya tekankan sekali lagi,jangan digeneralisir…bukan masalah jamaah atau yg lain,kita berada dilingkungan yg tidak sama.

  2. Subhanallah, mbak. Jazakillah tulisannya :) . Saya juga beberapa waktu lalu futur. Saya berusaha untuk menjadi lebih baik, dan setelah itu futur lagi. Sungguh, betapa sulit mempertahankan keistiqamahan. Ruhiyah saya tidak seperti dulu, perlahan menurun. Saya mulai malas halaqah, tilawah, dan malas melakukan beberapa wajibat yaumiyah yang lainnya.

    Namun, hari ini saya telah kembali berazzam untuk menjadi lebih baik. Saya cemas dan takut dengan kondisi saya yang ‘tidak sehat’ ini. Saya beristighfar dan memohon penjagaan Allah. Alhamdulillah, hari ini Allah mempertemukan kita dan saya semakin bersemangat untuk memperbaiki diri. Saling menasehati ya mbak :) . Jazakillah :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s