REBANA, Pembeda yang Halal dan yang Haram

Standard

Mumpung ingatan sedang bagus, saya lagi ingat penggalan khutbah nikah Ustadz Salim A. Fillah di walimah saya dulu. Alhamdulillah beliau mengisi tausiyah dengan bahasa sederhana, kromo alus yang mudah dipahami oleh hadirin yang rata-rata orang desa yang awam. Kebetulan saat walimah di rumah saya, ada hiburan hadrah rebana (semua personelnya laki-laki, tentu saja). Kemudian nyangkutlah isi tausiyah beliau tentang rebana.

Ini tentang rebana. Tetabuhan yang disunnahkan dalam sebuah pesta pernikahan (walimah).
Tetabuhan rebana ini, yang dalam sebuah hadits dikatakan, adalah pembeda antara yang halal dan yang haram.
“Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan.” (Hadits riwayat Ahmad)

Maksudnya, yang haram adalah jika orang berzina, pasti diam-diam, tidak akan diramaikan, diumumkan di depan khalayak, apalagi diadakan tetabuhan rebana. Beda halnya dengan pernikahan yang halal, Rosulullah menyuruh untuk mengumumkan kepada masyarakat, disunnahkan menabuh rebana, mengadakan walimah semampunya (meski hanya dengan seekor kambing), dan mengundang orang-orang agar pada tau dan menyaksikan bahwa si fulan dan fulanah menikah dalam akad yang halal dan sah.

Jadi lebih indah kan sebuah agenda bahagia yang turut dirasa oleh karib kerabat, tetangga, dan teman-rekan kita. Setidaknya, meskipun mungkin tidak bisa mengundang, dengan sebuah kabar atawa pengumuman, cukuplah menyenangkan. Kata pepatah: adalah hal yang menyedihkan saat kita susah sendirian, tapi lebih menyedihkan saat kita bahagia sendirian tanpa teman. Cieee… Bayangkan, di hari bahagia kita, ada orang-orang yang turut menghadiri dengan mematut diri (berdandan rapi tentu saja bukan pamer yak, setidaknya menghormati acara dan ahlul bait), turut tersenyum dan berwajah ceria (sebuah sugesti bagus lho menatap wajah-wajah tersenyum dan ceria di sekitar kita, trust me), menikmati kesyukuran walimah bersama meski apa adanya, serta jabatan tangan, pelukan erat dan bisikan doa dari mereka…
Begitulah indahnya, dan semoga menjadi barokah untuk semua.

Indah dan tertibnya Islam mengatur pernikahan, sebaiknya pernikahan itu diketahui banyak orang agar tidak menjadi fitnah. Nikah siri tentu saja halal hukumnya, kadang juga memang butuh dilakukan karena alasan tertentu. Selanjutnya akan lebih baik memang untuk diumumkan tak lama setelahnya. Ya itu tadi, agar tak merebak fitnah dan su-udzon. Saya pernah membaca liputan di koran yang temanya tentang maraknya nikah siri, salah satu studi kasusnya diambil dari sebuah daerah di kota X. Di daerah itu mayoritas penduduknya terbiasa nikah siri, hanya secara agama dan tidak dicatatkan di KUA. Bukan hanya itu, penduduknya juga mayoritas malas mengurus akta lahir anaknya. Karena pernikahan macam ini mereka jadi mudah/menggampangkan untuk kawin cerai berkali-kali (karena prosedurnya gampang: ada laki-perempuan, penghulu/wali, dan saksi, sah lah…). Bukan hanya itu, ditemui juga misalnya laki-laki yang beristri lebih dari satu tanpa diketahui oleh pihak lain (bahkan istri sebelumnya). Masalahnya menjadi ruwet di kemudian hari ketika para anak-anak tidak diketahui walinya siapa (tak ada bukti karena tidak punya akta). Kan gawat jika di kemudian hari anak-anak yang sebenarnya masih sedarah kemudian menikah atau parahnya jika ayah ternyata menikahi wanita yang masih sedarah alias anaknya, kemungkinan ini bisa terjadi jika nikah diam-diam menjadi favorit apalagi meluas dalam masyarakat. Bla bla bla. Wah, runyam memang kalau dibayangkan. Naudzubillah.

Ya begitu deh. Cerita rebana nyampe nikah siri.
Oh ya, pesan sponsor: jadi kalau nikah kabar-kabar yaaa… :mrgreen: hehe, agar kebahagiaan yang dirasa meluap pula ke yang lain.

Oh ya lagi, special greets for my nice sister yang surprisingly udah umumin undangan pernikahannya kemarin,

Teteh Anniva Sri Handayani dan A’ Panji,

dan seorang Teteh tersayang lain yang akan akad dan walimah sabtu pekan ini,

Barokallohulaka wa baroka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khoir.

10/03/2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s